
"Aku juga tidak bercanda bodoh. Kalau kau tidak percaya, lihat ini!," kata Shin Shui memperlihatkan sebuah lencana sekte Bukit Halilintar dan ada tanda sebagai kepala tetua.
Kemudian dia membuka topeng yang dipakai. Terlihat wajah tampannya seolah seperti bunga yang baru merekah. Tapi tatapannya begitu tajam seperti burung phoenix biru yang kini bertengger dibahunya.
Kedua pendekar Kakak Beradik Yang Haus Darah tersentak bukan main. Bagaimana mungkin semuda ini? Jelas-jelas bahwa pemuda yang ada dihadapannya kini bahkan belum berumur tiga puluh tahun. Bagaimana mungkin bahwa dia orang yang mereka cari selama ini?
Tapi mau tidak mau, kedua pendekar Kakak Beradik Yang Haus Darah itu harus tetap percaya bahwa pemuda itu memang orang yang selama ini mereka cari-cari. Mereka harus menerima kenyataan ini, meskipun sulit untuk menerimanya.
"Lalu kalau memang kau orangnya, kenapa malah membawa kami ke hutan seperti ini? Oh … atau kau takut mati dihadapan orang-orang tadi? Hahahah …" ejek Tjie Lin dengan riangnya.
"Hahahah … dasar bodoh. Yang ada justru sebaliknya, aku tidak mau menjatuhkan julukan kalian dihadapan orang-orang. Jika kau mati ditanganku lalu disaksikan orang banyak, pasti kau akan menjadi arwah penasaran kan? Hahaha … bukankah aku sudah membuktikan jika bisa menjadi kepala tetua sebuah sekte besar semuda ini, berarti aku hebat bukan?" ucap Shin Shui dengan nada arogan. Seperti biasa, sifat 'gila' sudah mulai merasuki dirinya.
"Bocah sombong. Memang, harus aku akui bahwa kau generasi muda paling berbakat diantara yang berbakat. Tapi sayang, semua itu akan berakhir hari ini juga. Mari kita tentukan siapa yang lebih hebat diantara kita dan siapa yang akan mati. Kau … atau aku," kata Tjie Lin dengan mantap. Sorot matanya langsung berubah menjadi setajam pisau yang bahkan mungkin seolah bisa menembus jantung sekalipun.
"Terimakasih atas pujiannya, tapi aku tidak bangga dengan sebuah pujian. Aku berbeda dengan kalian. Baiklah, aku terima tantanganmu," kata Shin Shui dengan tegas. Wibawa pemimpin yang lebih besar pun kembali keluar.
"Memei, menyingkirlah, biar aku yang membereskan semua ini. Phoenix biru, jaga Memei," ucap Shin Shui kepada keduanya.
Setelah mendapat perintah, phoenix biru itu langsung berpindah tempat. Dia sekarang bertengger dibahu Yun Mei. Gadis itu pun langsung menyingkir sekitar tiga tombak dari Shin Shui. Dia memilih berdiam dibawah pohon besar dan rimbun daunnya.
"siapa yang akan menjadi lawan pertamaku?" tanya Shin Shui.
"Aku …" jawah Tjie Lin dengan penuh keyakinan. Tjie Ai langsung mundur beberapa tombak untuk menunggu giliran.
Keduanya langsung maju selangkah, jarak keduanya sekitar satu tombak saja. Baik Shin Shui maupun Tjie Lin mulai mengeluarkan hawa pembunuhnya masing-masing.
Tak tanggung-tanggung, mereka benar-benar mengeluarkan hawa pembunuh yang begitu kuat. Sehingga udara disana menjadi sesak beberapa saat.
"WUSHH …"
__ADS_1
Deru angin langsung tercipta ketika Tjie Lin menyerang Shin Shui. Dia langsung mengeluarkan ilmu silat tingkat tingginya. Gerakannya begitu cepat dan tajam. Tangannya berkelebat kesana kemari, lalu menyerang ke bagian wajah Shin Shui.
Di sisi lain, pemuda biru itu pun menangkis setiap serangan yang datang dengan begitu cekatan. Debu-debu dan daun kering mulai beterbangan akibat dari gerakan keduanya yang sangat cepat.
Merasa serangannya tidak mampu memojokkan lawan, Tjie Lin mulai mengganti gerakannya. Kali ini kedua kakinya pun ikut menyerang. Tendangannya begitu kuat, beberapa kali Shin Shui hampir terkena serangannya. Untung saja dia bisa menghindar dengan tepat waktu.
Puluhan jurus silat sudah keluar, tapi belum ada yang terpojok diantara mereka. Shin Shui mulai mengeluarkan ilmu silat yang lebih tinggi. Hingga akhirnya sebuah celah tercipta ditengah-tengah dada Tjie Lin. Tanpa menunggu lama, pemuda biru itu langsung memberikan pukulan yang begitu kuat.
"Pukulan Halilintar …"
"**WUSHH …"
"*DUARR*** …"
"Ughhh …" Tjie Lin terpental beberapa tombak hingga menabrak sebuah pohon sehingga pohon itu tumbang. Darah segar keluar dari ujung bibirnya.
"Cihhh … baru beberapa saat sudah keluar darah? Hahaha … pergilah sebelum aku serius melawanmu. Jika kau sudah mencapai setidaknya Pendekar Dewa tahap enam, datanglah kembali padaku. Percuma sekarang kau bertarung denganku, sedangkan sekarang saja kau masih Pendekar Dewa tahap lima. Bagaimana mungkin kau bisa mengalahkanku?" kata Shin Shui dengan nada sombong dan berniat untuk membuat Tjie Lin semakin emosi.
"Kau pikir aku takut padamu? Jangan sebut aku Tjie Lin jika takut kepada bocah sepertimu," ucapnya dengan marah. Dia langsung mencabut Pedang Meteor yang menjadi senjata pusakanya.
"Meteor Menghantam Bumi …"
"WUSHH …"
Dia langsung melesat bagai meteor yang benar-benar jatuh ke bumi. Gerakan pedangnya sangat cepat, bahkan sangat kuat. Setiap ayunan pedangnya selalu memberikan hawa yang sangat panas.
Awalnya Shin Shui hanya menghindar dan menangkis serangan pedang itu dengan tangan kosong. Tapi karena semakin lama semakin merepotkan, dia langsung mengeluarkan Pedang Halilintarnya dari Cincin Ruang.
Sebuah pedang berwarna biru disertai kilatan halilintar sudah dipegang Shin Shui. Tanpa basa-basi lagi, dia langsung menyambut serangan Tjie Lin yang akan datang.
__ADS_1
"**TRANGG …"
"*TRANGG*** …"
Dua buah pusaka tingkat tinggi dan jurus pedang tingkat tinggi pula mulai beradu. Masing-masing dari mereka mempunyai kelebihan tersendiri. Kilatan-kilatan dan suara senjata beradu mulai terlihat dan terdengar begitu nyaring.
"Tarian Ekor Naga Halilintar …"
"WUSHH …"
Shin Shui langsung mengeluarkan ilmu pedang terkuat yang dia miliki sekaligus dia ciptakan sendiri. Dimana Tarian Ekor Naga Halilintar adalah gabungan dari dua jurus pedang tingkat tinggi.
Dia langsung menyerang Tjie Lin dengan ganasnya. Gerakan pedangnya meliuk-liuk bagaikan ekor naga, tapi disisi lain kecepatannya bagaikan kilat. Dia terus mengayunkan pedangnya ke Tjie Lin. Ke samping, atas, bawah, tengah, hingga akhirnya …
"Ahhh …"
Sebuah sayatan tercipta dibagian perut Tjie Lin. Buru-buru dia mundur dua tombak untuk menghentikan darah yang mulai mengalir keluar. Tapi tanpa disadari, Shin Shui sudah siap memburu Tjie Lin kemanapun dia pergi.
"Langkah Kilat … Tebasan Halilintar …"
"WUSHH …"
Pemuda biru itu langsung melesat ke arah Tjie Lin dengan sangat cepat. Bahkan dia terlihat bagaikan angin, dan …
"Ahhh …" mati.
Pada akhirnya Tjie Lin tewas dengan tanpa kepala. Kepalanya bahkan menggelinding ke arah Tjie Ai yang sedaritadi terdiam dengan ketegangan.
"Ti-tidak mungkin …" Tjie Ai membuka mulutnya seakan tak percaya bahwa saudara satu-satunya tewas didepan matanya sendiri.
__ADS_1
Perlahan tubuh Tjie Lin mulai ambruk ke tanah. Karena tadi, saking cepatnya serangan Shin Shui sehingga hanya kepalanya saja yang menggelinding. Sedangkan badannya masih berdiri dan bahkan masih memegangi Pedang Meteor.
"Kau … berani sekali kau bocah. Aku akan membunuhmu …" Tjie Ai langsung menyerang dengan amarah yang sudah tak bisa dibendung lagi. Siapapun orangnya, pasti tidak akan terima jika melihat saudura kandung tewas didepan mata.