
"Terimakasih pendekar muda …"
"Semoga panjang umur …"
"Semoga bahagia selalu …"
Ucapan terimakasih dan berbagai doa yang baik pun keluar dari mulut orang-orang itu dengan ikhlas dan tanpa disuruh.
Begitulah, jika kau memberikan sebuah kebaikan dalam bentuk apapun kepada orang lain, maka orang itu pula akan membalasnya. Minimal akan membalas dengan sebuah doa dan harapan yang sejuk dihati dan nyaman ditelinga.
Tapi jika kau memberikan keburukan kepada orang lain, maka mereka pun akan membalas dengan ucapan buruk. Bahkan bisa saja mereka membalas lebih buruk dari apa yang sudah kau berikan.
"Terimakasih atas semua doa yang saudara sekalian berikan. Sekarang, aku pamit untuk undur diri karena masih banyak urusan yany harus aku selesaikan," kata Shin Shui lalu mengajak Kwei Moi pergi.
Shin Shui dan Kwei Moi sudah berlalu dari tempat Perguruan Tapak Es yang kini telah hancur. Tak lama semua orang pun turut pergi meninggalkan tempat tersebut.
Kini yang ada disana hanyalah kesunyian dan kesepian. Perguruan yang tadinya ramai, kini tak lebih baik dari sebuah kuburan saja.
"Kwei Moi, dimana ayahmu? Aku ingin bertemu dengannya dan berbicara," kata Shin Shui disela perjalanannya.
"Ayah sudah berada dirumah. Baiklah, ayah juga sangat ingin berterimakasih secara langsung kepadamu. Ayo kita menuju ke rumahku," kata Kwei Moi lalu mempercepat larinya.
Tak berselang lama, Shin Shui dam Kwei Moi sudah tiba ditempat tujuannya. Yaitu dirumah pendekar wanita itu sendiri.
Rumah itu tidaklah megah dan mewah. Bahkan rumahnya terbilang sederhana. Diluarnya dihiasi bunga-bunga yang ditanam didalam sebuah pot bunga. Sehingga rumah sederhana itu tampak lebih indah karenanya.
Kwei Moi pun lalu mengajak Shin Shui masuk ke dalam. Ternyata memang benar, disana ayahnya sedang duduk sambil menunggu dan menahan rasa sakit akibat siksaan yang diberikan oleh Perguruan Tapak Es saat dirinya ditawan.
"Ayah, perkenalkan ini adalah Shin Shui. Dialah orang yang sudah menolongku dan juga menolong ayah. Bahkan pendekar muda ini berhasil membunuh Dewa Es Sesat dan membebaskan kota Qin-Dong dari ketakutan," kata Kwei Moi memperkenalkan Shin Shui kepada ayahnya.
"Salam hormat paman," ucap Shin Shui sambil membungkuk.
Orang tua itu membalasnya dengan membungkuk pula diatas kursi tuanya. Dia tidak bicara karena memang dalam keadaan yang sangat lemah. Shin Shui yang menyadari akan hal ini pun lalu mendekat kepada pria tua itu.
__ADS_1
"Paman, izinkan aku untuk mencoba mengobatimu sedikit," katanya.
Dia mengangguk, lalu Shin Shui duduk bersila dibelakangnya dan mulai menyentuh punggung pria tua itu. Shin Shui lalu mengalirkan tenaga sejatinya dan mencoba mengobati ayah Kwei Moi.
Tak perlu waktu lama, sebuah energi berwarna biru keluar dari telapak tangannya. Perlahan, baik itu luka luar ataupun luka dalam yang diderita ayah Kwei Moi berangsur pulih secara cepat.
Sehingga akhirnya pria tua tersebut merasakan tubuhnya jadi lebih bugar. Tenaganya pulih, bahkan dia sungguh tidak berasa bahwa beberapa saat lalu mengalami sebuah luka yang cukup parah.
"Terimakasih Shui'er. Sungguh, aku tidak mampu untuk membalas semua kebaikanmu ini," kata pria tua itu dengan hormat.
"Tidak perlu sungkan paman. Sudah selayaknya kita harus tolong menolong,"
Orang tua dan pemuda itu pun lalu berbincang-bincang ringan. Sedangkan Kwei Moi sendiri masuk kedalam dan membuatkan minum untuk keduanya.
"Paman, apakah paman tahu dimana letak gunung San-ong yang terletak di Timur perbatasan?" tanya Shin Shui diiringi dengan mimik wajah serius.
"Tentu saja aku tahu. Memangnya, ada apakah kau menanyakan tentang gunung itu Shui'er?"
Setelah Shin Shui berucap demikian, pria tua itu lalu menerangkan dimana letaknya dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menuju kesana.
Shin Shui pun dengan seksama mendengarkan penjelasan pria tua tersebut, tak lama setelah selesai menjelaskan, Kwei Moi pun tiba dengan membawa tiga buah teh hangat.
Harumnya begitu menggoda. Dalam keadaan dingin, sungguh nikmat sekali rasanya jika menikmati secangkir teh hangat. Apalagi jika ditemani seorang wanita cantik seperti Kwei Moi ini. Ah sudahlah, nanti malah panjang jika membayangkannya.
Ketiganya pun lalu meneguk teh itu secara bersamaan. Setelah itu, mereka lalu melanjutkan kembali pembicaraan hingga akhirnya Kwei Moi berkata.
"Shin Shui, kapan kau akan menuju ke gunung San-ong yang terletak di Timur perbatasan itu?" tanya Kwei Moi.
"Mungkin sebentar lagi aku melanjutkan perjalanan kembali. Aku tidak bisa bersantai lagi karena waktunya semakin menipis," kata Shin Shui.
"Ah … kenapa kau begitu buru-buru Shui'er? Tidakkah kau perlu istirahat dan menginap disini walau semalam saja?" tanya ayah Kwei Moi.
"Terimakasih paman. Bukan maksud tidak menghargai, tapi waktuku tersisa sedikit," kata Shin Shui tetap pada pendiriannya.
__ADS_1
Pria tua itu tak mampu menjawab, dia hanya bisa menghela nafas. Sedangkan Kwei Moi, wajah yang tadinya ceria kini berubah muram. Entah kenapa, Shin Shui pun tak mengerti.
"Kwei Moi, kau kenapa? Apa yang membuatmu muram seperti itu?" tanya Shin Shui.
Pendekar wanita itu tidak langsung menjawab. Dia malah menundukkan kepalanya. Tak terasa ada butiran air mata yang perlahan turun membasahi pipinya.
Ada perasaan sedih dan sakit dihatinya ketika Shin Shui berucap akan pergi. Entah perasaan apa itu. Dia sendiri tidak mengerti. Yang jelas, rasanya sungguh tidak ikhlas jika Shin Shui pergi. Tapi bagaimana lagi, dia tidak ada hak untuk melarangnya.
"Kwei Moi, bicaralah! Apakah ada kesalahanku kepadamu sehingga membuat dirimu sedih?"
Kwei Moi menghela nafas panjang. "Tidak Shin Shui. Aku hanya merasa sedih, baru saja aku mendapatkan 'sahabat' sepertimu, kini kita harus berpisah lagi. Apakah kita akan bertemu kembali suati saat nanti?" tanya Kwei Moi dengan mata memerah. Terlihat masih ada genangan air mata pada pelupuknya.
"Pasti Kwei Moi. Suatu saat kita pasti akan bertemu kembali, dan aku harap kau tidak pernah melupakanku. Beginilah hidup, setiap ada pertemuan, pastilah ada perpisahan," kata Shin Shui dengan senyuman.
Agaknya pemuda biru itupun sedikit merasa sedih. Terlihat dari senyumannya yang mengandung makna. Harus dia akui, bahwa pendekar wanita itu memang memiliki perangai yang baik dan berbudi luhur.
Kecantikannya memang jauh dibandingkan Yun Mei. Tapi kebaikan dan ketulusan hatinya, begitu mirip dengannya. Tak terasa pemuda biru itu pun merasa rindu kepada Yun Mei.
Waktu yang ditentukan telah tiba. Shin Shui berniat untuk melanjutkan perjalanannya menuju gunung San-ong yang terletak di Timur perbatasan. Dengan berat hati dia berdiri dan pamit.
"Paman, Kwei Moi, aku pamit undur diri. Jaga diri kalian baik-baik. Pergunakanlah harta rampasan untuk sesuatu yang berguna. Terimakasih untuk semuanya," kata Shin Shui sambil membungkuk hormat lalu dibalas oleh ayah dan anak tersebut.
"Shin Shui … jaga dirimu baik-baik. Jangan lupakan aku," kata Kwei Moi tak terasa air matanya kembali mengalir. Dan dengan gerakan tiba-tiba, pendekar wanita itu lalu memeluk Shin Shui.
Mau tak mau Shin Shui pun membalas pelukan tersebut. Ada perasaan hangat dihati keduanya. Setelah melihat Kwei Moi tenang, Shin Shui lalu melepaskan pelukan itu dan langsung pergi dari sana.
###
Sedikit penjelasan, perjalanan Shin Shui sebentar lagi memang akan berakhir. Tapi pastinya akan diselesaikan semuanya. Tidak digantung, karena digantung itu sakit bukan😁pasti sampai klimaks kok.
Dan untuk kedepannya, jika konsep sudah tertuang kembali, mungkin akan segera dilanjutkan kembali ya. Btw, novel baru akan berlatar china juga. Tapi bergenre wuxia ya, jadi semua kejadiannya lebih condong ke dunia nyata. Dan jurus yang digunakan pun masih terbilang wajar dan masuk akal.
Terimakasih🙏
__ADS_1