
Bagian kiri dan bagian kanan sudah banyak korban yang bergelimpangan. Hal ini terjadi karena penyerangan pada dua bagian ini diisi oleh barisan yang paling lemah. Yang paling kuat hanyalah pemimpin rombongan.
Sedangkan dibagian tengah, pertempuran dibawah cahaya bulan yang remang-remang terlihat begitu sengit. Dimana pada bagian tengah adalah diisi oleh para pendekar yang paling kuat. Pada bagian tengah paling minimal berada pada tahapan Pendekar Dewa tahap tiga.
Tiga orang pendekar menyerang Shin Shui dengan ganas. Sepertinya para pendekar ini yang dia temui saat di restoran Nan-Ping. Ketiga pendekar itu menyerang dari tiga sisi. Masing-masing dari mereka menggunakan sebilah pedang sebagai senjatanya.
Sementara itu, Shin Shui pun tak mau kalah, dia langsung mengeluarkan kekuatan yang sesunguhnya. Pemuda biru itu segera mengeluarkan Pedang Halilintar dari Cincin Ruangnya. Dengan segera, dia langsung menyambut serangan ketiga pendekar yang datang itu.
"TRANGG …"
Empat benda pusaka beradu sehingga menimbulkan suara yang begitu nyaring. Percikan kembang api mulai terlihat bersamaan dengan kilatan cahaya biru dari Pedang Halilintar.
Tanpa basa-basi lagi, Shin Shui langsung menendang bagian dada ketiga lawannya tersebut cukup keras.
"BUKK …"
"BUKK …"
"BUKK …"
Ketiga pendekar itu kaget dan terpental hingga tiga tombak. Mereka tak mengira bahwa musuh akan menendangnya. Tak berhenti sampai disitu, Shin Shui kembali bergerak menyerang lebih ganas lagi.
"Tarian Ekor Naga Halilintar …"
"WUSHH …"
__ADS_1
Gerakan pedang Shin Shui menjadi seperti ekor naga yang meliuk-liuk. Kadang lambat, kadang cepat, tapi tentunya sangat tajam dan mematikan.
Ketiga pendekar itu panik, belum sempat mengambil posisi yang benar, tiba-tiba saja serangan yang begitu sulit dilihat mata sudah datang. Hingga akhirnya mereka tak bisa lagi menghindar dari serangan Shin Shui tersebut. Dan …
"Ahhh …"
"Ahhh …"
"Ahhh …" mati.
Ketiga pendekar itu tewas seketika tanpa kepala. Entah kemana menggelindingnya kepala tersebut. Tiga pendekar yang kira-kira tahapan Pendekar Dewa tahap tiga, tewas ditangan seorang pemuda yang mungkin asing bagi mereka.
Tak berhenti sampai disitu, Shin Shui kembali berlari mengelilingi halaman rumah keluarga bangsawan Chen yang cukup luas dan sekarang sedang jadi medan pertempuran, pemuda biru itu berniat untuk membunuh musuh yang paling lemah yang dia temui.
Dengan jurus Langkah Kilat dan Tarian Ekor Naga Halilintar, hanya beberapa tarikan nafas saja pemuda biru itu sudah membunuh musuh lebih dari tujuh orang.
Pertempuran terus berlanjut hingga sekarang. Shin Shui terus membunuh para pendekar yang paling lemah, hingga akhirnya dialah yang berkontribusi besar dalam pertempuran ini.
Sekarang yang tersisa dari rombongan pendekar walikota Zhao Ping hanyalah pendekar inti, jumlahnya tak kurang dan tak lebih dari sepuluh orang saja.
Termasuk sang walikota sendiri.
Sedangkan rombongan pendekar bangsawan Chen hanya tersisa sekitar enam orang tujuh orang saja termasuk Shin Shui dan Yun Mei.
Masing-masing pendekar dari dua belah pihak sudah berkumpul dihalaman dan sudah saling berhadapan. Semua pendekar itu menyimpan dendamnya tersendiri.
__ADS_1
Terlebih pendekar yang berada di pihak walikota Zhao Ping, mereka teramat dendang terhadap pemuda yang asing bagi mereka itu. Matanya mencorong begitu tajam, wajahnya menggambarkan betapa kesalnya mereka.
"Hei kau bocah … siapa kau sebenarnya? Kenapa ikut campur urusanku. Aku tidak punya urusan denganmu, menyingkirlah sebelum kau menjadi korban keganasan walikota ini," kata walikota Zhao Ping berlagak dengan sombongnya memperingatkan Shin Shui. Tanpa dia sadari yang diingatkan itu adalah monster yang sedang tertidur.
"Kau tidak perlu tahu siapa pemuda ini. Aku memang tidak ada urusan denganmu, tapi aku ada urusan dengan para pendekar iblis yang ada di pihakmu," kata Shin Shui dengan tegas. Matanya langsung mengeluarkan kilatan halilintar yang menggambarkan bahwa dia sudah marah.
"Bocah sombong … baik kalau begitu. Jangan salahkan aku kalau kau mati ditanganku," kata walikota Zhao Ping.
Tak lama walikota itu langsung memberikan tanda untuk menyerang kepada pendekar yang bersamanya. Di sisi lain, para pendekar keluarga bangsawan Chen pun sudah bersiap untuk menyambut serangan yang datang. Pertempuran yang sempat terhenti pun kini dilanjut kembali. Dan pastinya lebih dahsyat daripada sebelumnya.
Sementara itu, gadis yang daritadi diam kini mulai menunjukkan taringnya. Gadis itu tak lain adalah Yun Mei Xiaoruan. Dia mendapat lawan pria tinggi berkumis dengan codet pada pelipis kananya.
"Gadis manis, lebih baik kau ikut saja denganku nanti daripada kau menjadi korban kehebatanku," kata pria tinggi itu dengan senyuman genit.
"Cuihh!!! Kau pikir dirimu siapa heh? Kau pikir kau tampan? Jangan mimpi untuk bisa membawaku," balas Yun Mei dengan garangnya.
Karena terpancing emosinya, gadis cantik itu langsung menyerang lebih dahulu. Pedang bermotif bunga miliknya langsung dicabut dari sarung. Dia menyerang dengan rasa kesal dihatinya.
Di sisi lain, pria tinggi itu pun sama kesalnya karena sudah dihina. Tanpa basa-basi, dia langsung mencabut kapak berwarna hitam yang disimpan di dekat tulang ekornya.
Kini keduanya sudah bertukar serangan satu sama lain. Gerakan mereka sama-sama tajam dan berbahaya. Percikan kembang api dan deru angin mulai menerpa area halaman tersebut.
"Tarian Bunga Sakura Di Musim Semi…"
"WUSHH …"
__ADS_1
Yun Mei langsung mengeluarkan jurus pedang yang dia pelajari dari Kitab Tarian Dewi Pedang. Gerakannya berubah menjadi lembut tapi sangat cepat. Bahkan gadis cantik itu malah terlihat seperti sedang menari dengan indahnya.