Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Shin Shui Vs Pendekar Rantai Hitam I: Rantai Api Hitam Dan Jurus Terlarang


__ADS_3

Tidak mau kehilangan kesempatan, Shin Shui langsung segera menyerang kembali Pendekar Rantai Hitam, dia terus memberikan pukulan beruntun.


Meskipun tidak belajar banyak tentang pertarungan tangan kosong, tapi dia masih bisa mengeluarkan gerakan-gerakan yang mematikan sesuai dengan apa yang diajarkan Kitab Halilintar.


Shin Shui terus menggunakan tangan kosong untuk menyerang Pendekar Rantai Hitam, pendekar itu mulai kewalahan akibat serangan Shin Shui yang tidak ada habisnya. Dia mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak.


Pendekar Rantai Hitam langsung mengibaskan tangannya dan mengeluarkan rantai yang berwarna hitam dari Cincin Ruang. Rantai itu memiliki panjang sekitar satu meter dengan ujung yang tajam.


"Aku akan serius sekarang. Biar aku tunjukkan kehebatan Rantai Hitam milikku ini." ucapnya.


Dia langsung maju menyerang Shin Shui dengan mengibas-ngibaskan rantai miliknya. Rantai itu bergerak meliuk-liuk seperti ular yang menari. Gerakannya lincah dan cepat, seolah rantai itu mempunyai nyawa sendiri.


Kali ini giliran Shin Shui yang kewalahan, dia hanya bisa bertahan dari serangan mematikan Pendekar Rantai Hitam untuk saat ini. Setiap tanganya beradu dengan rantai itu, Shin Shui merasakan sakit yang lumayan.


Hingga pada akhirnya, rantai Pendekar Rantai Hitam berhasil memukul dada Shin Shui cukup keras. "Ughhh .…" Shin Shui mengeluh pendek, sedikit darah keluar dari sudut bibirnya.


"Apakah hanya segini saja kemampuanmu? Tidak kusangka … bocah yang sombong ternyata memang hanya besar mulut saja. Cabut pedangmu, kita bertarung sampai titik akhir." kata Pendekar Rantai Hitam, tangan kanannya terus memutar-mutar rantai miliknya.


"Baiklah … akan aku tunjukan sesuatu yang menarik orang tua. Maafkan aku jika dirimu pergi lebih dulu …" balas Shin Shui sembari mengusap darah yang keluar. Dia langsung mencabut Pedang Naga Emas miliknya.


"SRINGG …"


Cahaya emas mendadak keluar beberapa saat ketika Shin Shui mencabut pedangnya. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu cukup terpana, mereka tidak percaya bahwa pemuda itu mempunyai pusaka tingkat tinggi.


"Mari kita mulai kembali, apakah setelah ini kau masih bisa berkata sombong? Pendekar Rantai 'karatan' …" ejek Shin Shui, sifat gila pemuda itu akhirnya keluar.


"Kauu … bedebah … mati kauu …" Pendekar Rantai Hitam langsung tersulut amarahnya. Dia menyerang Shin Shui lebih ganas daripada sebelumnya.


Rantainya terus meliuk-liuk kesana-kemari, tapi Shin Shui menahan setiap serangannya. Suara beradunya dua pusaka itu menimbulkan bunyi yang terasa sakit di telinga.


"***TINGG …"


"TINGG …"


"WUSHH*** …"


Deru angin yang cukup besar tercipta saat mereka beradu senjata yang dialiri dengan tenaga dalam. Puluhan jurus sudah terlewati, tapi belum ada satupun dari mereka yang terlihat kewalahan saat ini. Mungkin karena keduanya seimbang memakai senjata, berbeda sebelum Shin Shui mengeluarkan Pedang Naga Emas.


Shin Shui mundur ke belakang untuk mengambil jarak, lalu pemuda itu kembali mengeluarkan sifat gilanya supaya Pendekar Rantai Hitam lebih terpancing emosi.


"Hanya seperti ini kemampuanmu? Ternyata gelar Pendekar Rantai Karatan hanya omong kosong. Ehh …… emm … Pendekar Rantai Hitam maksudku, hehehe." Shin Shui tersenyum mengejek kepada lawannya, tapi matanya masih tetap mengawasi gerak-gerik Pendekar Rantai Hitam.


Mendengar ejekan dari pemuda yang jadi lawannya, Pendekar Rantai Hitam semakin tersulut amarahnya. Kali ini pria tua itu menyerang membabi buta. Dia menyerang Shin Shui dari segala sisi.


Pendekar Rantai Hitam terus menyerang tanpa henti, gerakannya dari waktu ke waktu semakin bertambah cepat. Tapi dari semua gerakan itu tidak ada yang bisa membuat Shin Shui terluka parah, dia hanya mendapat luka ringan saja.


'Bocah ini hebat juga ternyata. Cihhh … tak kusangka aku harus mengeluarkan salah satu jurus pamungkas saat menghadapi bocah kemarin sore.' batin Pendekar Rantai Hitam. Dia tidak menyangka bahwa pemuda yang menjadi lawannya saat ini ternyata cukup kuat.


Saat ini Shin Shui tidak bergerak menyerang, dia lebih memilih untuk mengawasi dan menunggu serangan dari Pendekar Rantai Hitam.

__ADS_1


Pendekar Rantai Hitam mulai melakukan gerakan, dia memutar-mutarkan rantainya. Rantai yang tadinya hitam legam itu mendadak berubah menjadi merah membara.


"Rantai Api Hitam …"


"WUSHH …"


Deru angin yang menimbulkan hawa panas mendadak keluar. Orang-orang yang berkerumun disana sedikit menjauh, bagaimanapun juga mereka mengetahui bahwa ini salah satu jurus andalan Pendekar Rantai Hitam.


Shin Shui pun merasakan hal yang sama, dia merasakan tubuhnya seperti dibakar. Keringat mulai membasahi punggung Pendekar Halilintar itu. "Celaka …" gumam Shin Shui.


Pendekar Rantai Hitam terus memutar-mutarkan rantainya tanpa henti, sontak saja hawa panas yang tercipta semakin menjadi. "Matii kauu …" ucapnya sembari berlari ke arah Shin Shui sambil terus memutarkan senjatanya.


###


Pendekar Rantai Hitam mulai menyerang Shin Shui kembali. Serangannya semakin ganas dan mematikan.


Shin Shui sedikit panik saat ini, ditengah hawa panas yang semakin menjadi, dia terus berusaha untuk menahan semua serangan yang datang kearahnya. "Ughhh … panas sekali." keluh Shin Shui saat rantai itu lewat beberapa cm dari wajahnya.


Shin Shui sedikit mundur dan berusaha mengambil jarak untuk mendapatkan posisi yang aman. Sayang, prediksi Shin Shui tidak sesuai apa yang diharapkan.


Bukannya mendapatkan posisi yang aman, dia malah berada pada posisi sebaliknya. Rantai yang saat ini berwarna merah membara terus mengejar Shin Shui. "Cihhh … ternyata rantai itu bisa memanjang sendiri." ucapnya kesal.


Melihat pemuda dihadapannya belum terluka, Pendekar Rantai Hitam semakin menggila, kali ini serangannya menjadi lebih dan lebih cepat lagi.


Yang terlihat saat ini hanyalah bayangan warna merah, Shin Shui dipaksa terus menghindar. Hingga akhirnya dia terpojok, tak lama setelah itu, rantai yang merah membara dengan telak mengenai perutnya.


"Ahhh …"


"Ahhh …"


Shin Shui terpental cukup jauh dan memuntahkan darah segar kehitaman. Dadanya terasa remuk, dia kesulitan bernafas. Keringat semakin membasahi tubuhnya karena hawa panas semakin menjadi.


"Tidak ada cara lain, aku harus menggunakan Pedang Halilintar," gumamnya pelan. Dia sudah tidak peduli dengan rasa sakitnya saat ini.


Shin Shui kembali menyarungkan Pedang Naga Emas, menurutnya pedang itu bukan lawan yang cocok untuk menghadapi Pendekar Rantai Hitam.


Shin Shui mengibaskan tanganya, seketika itu sebuah pedang berwarna biru dan mengeluarkan kilatan halilintar mendadak muncul di genggaman tangannya.


"Mari kita bertarung dengan serius orang tua." Shin Shui langsung berlari menyerang Pendekar Rantai Hitam.


Dua pendekar itu mulai beradu serangan dengan sengit, keduanya sama-sama lihai dalam memainkan senjatanya. Gerakan mereka pun sangat cepat, hawa panas dari rantai hitam dan rasa ngeri dari kilatan halilintar Shin Shui mulai dirasakan kembali oleh orang-orang.


"***TRANGG …"


"TRANGG*** …"


Senjata mereka terus beradu dan menimbulkan suara yang nyaring tanpa henti. Saat Pendekar Rantai Hitam beradu senjata dengan Shin Shui, tangannya selalu mati rasa. Begitupun Shin Shui, tangannya terasa panas jika pedangnya beradu dengan rantai hitam yang kini merah membara.


Pendekar Rantai Hitam mundur dan mengambil jarak, nafasnya terengah-engah. Keringat sudah membasahi punggungnya.

__ADS_1


'Anak ini ternyata tidak bisa diremehkan, walaupun aku sudah memakai Rantai Api Hitam, tapi dia masih belum terluka.' batin Pendekar Rantai Hitam.


Dia sudah kembali bersiap untuk melanjutkan pertarungan, Shin Shui segera menyerang kembali pendekar tua itu. Gerakannya semakin sulit dibaca oleh lawan. Shin Shui diam-diam menggunakan jurus Tarian Pedang Halilintar miliknya.


Pendekar Rantai Hitam semakin terpojok, beberapa luka sayatan pedang mulai terlukis ditubuhnya. Segera saja pendekar tua itu menotok dan menghentikan aliran darahnya.


Melihat lawannya sudah terluka cukup parah akibat jurus Tarian Pedang Halilintar, Shin Shui berniat untuk menghabisinya langsung. Tapi sebelum itu terjadi, langkah kaki Shin Shui tiba-tiba berhenti. Tubuhnya tidak bisa digerakkan.


Langit yang cerah mendadak gelap gulita. Angin berhembus kencang, angin itu membawa rasa ngeri yang menyayat hati.


Orang-orang yang sedaritadi berkerumun perlahan mulai berlarian membubarkan diri, mereka semua sudah tahu apa yang akan terjadi.


Saat ini orang lain yang ada disana hanyalah Pendekar Kipas Angin. Dia tidak beranjak pergi seperti yang lainnya, Pendekar Kipas Maut masih terdiam menyaksikan pertarungan Shin Shui. Hanya saja dia berada dalam jarak yang cukup jauh.


Shin Shui semakin merasakan tubuhnya tidak bisa bergerak, kakinya mendadak lemas. Bahkan saat ini pemuda itu tidak mampu berdiri. 'Apa yang terjadi, ada apa dengan tubuhku.' batinnya kebingungan terhadap situasi saat ini.


Saat ini suasana menjadi benar-benar mencekam. Kerikil dan debu-debu mulai beterbangan, berbarengan dengan itu, Pendekar Rantai Hitam mendadak berdiri dengan tegak. Luka-luka yang diberikan Shin Shui hilang tanpa sisa.


"Tidak kusangka aku harus menggunakan jurus terlarang untuk membunuh bocah sepertimu," kata Pendekar Rantai Hitam dengan sorot mata tajam mengarah ke Shin Shui.


Shin Shui hanya bisa menerima tatapan tajam Pendekar Rantai Hitam tanpa bisa membalasnya. Dia masih belum bisa berdiri, gravitasi disekitarnya seolah menjadi berat beberapa kali lipat.


"Jurus Terlarang Iblis Hitam Neraka"


"WUSHH …"


"Arghh … Roarr …"


Suara-suara yang menyeramkan tiba-tiba terdengar. Pusaran rantai berasap dan berwarna hitam terbentuk didepan pendekar tua itu. Pusaran rantai tersebut kira-kira berdiameter 50 meter, pusaran itu mirip seperti angin topan.


Kepulan asap hitam yang sangat pekat mulai menutupi Pendekar Rantai Hitam. Seolah menggambarkan bahwa dia ditelan asap tersebut. Tapi tak lama … asap itu menghilang dan kini … dibalik asap itu muncul iblis berwarna hitam dengan satu mata.


"Ada apa kau memanggilku pria tua," kata iblis tersebut. Shin Shui kaget melihat kejadian ini, hatinya sedikit gentar.


"Aku membutuhkan bantuanmu, habisi bocah itu segera. Aku akan membayar kompensasinya nanti." ucap Pendekar Rantai Hitam sembari menyuruh iblis neraka untuk membunuh Shin Shui.


"Celaka … apa yang harus aku lakukan." gumam Shin Shui. Dia benar-benar tidak tahu langkah apa yang harus dilakukan.


Iblis neraka mulai maju untuk membunuh Shin Shui. Pusaran rantai hitam terus berputar-putar disebelah kanan iblis neraka. Hanya satu kata yang bisa menggambarkannya, 'mengerikan'.


I



(Ilustrasi Shin Shui)


###


Sejauh ini apa yang kurang dari LPH? Supaya author bisa memperbaikinya🙏🙏mohon maaf jika masih banyak kekurangan🙏

__ADS_1


__ADS_2