Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Sampai Jumpa Lagi


__ADS_3

Hari pun sudah pagi, beberapa hari juga sudah berlalu. Rombongan kaisar dari istana kekaisaran Wei yang mewah akan segera kembali ke istana kekaisaran. Padahal masih pagi-pagi buta, tapi mereka sudah bersiap-siap dan mengemas barang-barang bawaannya.


Keadaan sekte Bukit Halilintar pun sudah ramai. Para murid sudah bangun, para tetua pun sudah berkumpul di ruangan biasanya. Seduhan teh hijau, udara yang sejuk, matahari yang sebentar lagi akan terbit, menjadi suatu hal yang selalu para tetua itu tunggu-tunggu dibawah Bukit Awan.


Sembari menikmati seduhan teh hijau yang manis meski tanpa gula, para tetua selalu setia untuk menyaksikan matahari terbit atau matahari terbenam. Entah kenapa, rasanya nyaman sekali ketika melihat pemandangan yang luar biasa itu.


Rasanya jika meneguk teh dengan menikmati keindahan pemandangan alam bisa beberapa kali lipat nikmatnya. Sungguh, berteman dengan alam itu sangat asyik karena alam bisa menyuguhkan keindahannya jika kau mau mengerti tentangnya.


Disaat mereka sedang menikmati pagi hari yang cerah, tiba-tiba saja kaisar Wei An bicara kepada mereka setelah sedaritadi ikut menikmati pemandangan indah itu.


"Kepala tetua dan para tetua sekalian, sebentar lagi aku berniat untuk segera kembali ke istana kekaisaran. Terimakasih atas jamuan dan juga apa sudah kalian berikan kepadaku," kata kaisar Wei An dengan melemparkan senyum selembut sutera.


"Baiklah kaisar, biarkan kami ikut mengantarkan kaisar. Ahh … harusnya aku yang mengucapkan terimakasih karena kaisar sudah sudi berkunjung kepada sekte Bukit Halilintar ini, padahal jaraknya sangat jauh sekali," ucap Shin Shui sembari membalas senyuman kaisar itu.

__ADS_1


"Ahh … pahlawan muda tidak perlu sungkan. Tidak perlu pahlawan muda, aku tidak ingin merepotkan kalian. Lain kali jika diperbolehkan mungkin aku akan berkunjung lagi kesini, aku suka tempat disini. Sangat sejuk dan menenangkan jiwa," ucap kaisar Wei An lalu meneguk tehnya.


"Tempat ini selalu terbuka kapan saja untuk anda kaisar." kata Shin Shui memberi hormat.


###


Matahari pagi sudah menampakkan dan memberikan sinar cahayanya ke bumi dengan indah. Sinarnya begitu terasa seperti belaian lembut, begitu hangat dan memenangkan jiwa.


Di sekte Bukit Halilintar, Kaisar Wei an dan rombongan sudah siap-siap menaiki kereta kuda mewah mereka masing-masing. Mereka akan segera memulai perjalanan untuk kembali pulang ke istana kekaisaran.


"Shui'er, kapan-kapan kau berkunjunglah ke tempatku dulu. Desa itu sudah bukan bernama Desa Miskin, sekarang desa itu diberi nama Desa Shin Shui. Sesuai namamu, warga disana sangat menghormati dan mengagumi dirimu. Bahkan lukisan dirimu pun terpampang cukup besar disebuah altar pusat desa sebagai tanda penghormatan dan rasa terimakasihnya kepada dirimu," kata Chang Lee sebelum menaiki kereta kuda mewahnya.


"Aishhh … sebenarnya aku kurang suka jika disanjung-sanjung sampai seperti itu. Tapi semuanya sudah terlambat. Hahhh … baiklah senior, suatu saat aku pasti akan berkunjung kesana kembali. Terimakasih sudah menjadi pemimpin yang baik bagi rakyatmu," kata Shin Shui sembari memeluk Chang Lee.

__ADS_1


"Desaku dan rakyatku selalu menunggu kedatangan dirimu Shui'er. Sampai jumpa kembali," kata Chang Lee. Lalu dia masuk ke dalam kereta kuda mewah yang akan dinaikinya.


"Sampai jumpa lagi …"


"Nanti aku akan berkunjung lagi …"


Kaisar Wei An dan rombongan pun kembali dengan rasa bahagia dihatinya. Sambil melambaikan tangan, bibirnya tak lepas untuk memberi senyuman kepada orang-orang sekte Bukit Halilintar.


Bahkan, Chang Lee tak terasa meneteskan air matanya ketika dia mulai keluar dari gerbang sekte Bukit Halilintar. Entah kenapa dia bisa merasakan sesuatu yang lain terhadap Shin Shui, bahkan dirinya menaruh harapan besar kepada pemuda itu.


Rombongan kaisar sudah jauh dari gerbang sekte Bukit Halilintar. Sebentar lagi bahkan mereka akan sampai di Desa Perbatasan. Hal ini terjadi karena kuda mereka berlari cukup cepat. Tentu saja, kuda mereka sekarang sudah pulih seperti sedia kala, derap langkahnya pun terdengar begitu semangatnya.


Ketika sampai di Desa Perbatasan, warga disana langsung memberi hormat seperti beberapa hari lalu saat kaisar melewati desa ini. Tak lupa kaisar bijaksana itu melambaikan tangannya sembari melemparkan senyuman yang mampu membius orang-orang. Setelah melewati Desa Perbatasan, kuda-kuda kembali berlali cukup kencangnya.

__ADS_1


Beberapa jam sudah berlalu, rombongan kereta kuda mewah kaisar kini sudah tiba di hutan yang dulu sempat dijadikan tempat istirahat bagi mereka. Sekarang pun mereka berniat untuk beristirahat disana.


Hutannya memang cukup luas, bahkan sesekali terdengar suara-suara binatang buas ataupun siluman. Tapi hal itu bukanlah sebuah ketakutan, apalagi kaisar itu dikawal oleh lima orang Pendekar Dewa tahap dua. Meskipun masih terbilang muda, tapi kekuatannya patut di perhitungankan.


__ADS_2