
"Sudahlah Shui'er, jangan bersedih lagi. Aku faham apa yang kau rasakan, tapi kau juga harus ingat bahwa apa yang dilakukan senior itu demi kebaikan kita semua." kata Cun Fei sembari mengusap-usap pundak Shin Shui.
Mungkin ini adalah kejadian memalukan, seorang pendekar yang kuat dan kejam ternyata bisa menangis. Tapi Shin Shui tidak perduli dengan hal itu, siapapun jika dalam posisi seperti dirinya pasti akan menangis, pikir Shin Shui.
Setelah beberapa saat menangis, akhirnya pemuda itu bisa menghentikan air matanya. Tapi raut wajah Shin Shui masih menggambarkan kesedihan yang mendalam.
"Berhentilah bersedih Shui'er. 'Tidak ada gunanya kau terlalu larut dalam kesedihan, karena semua tidak akan merubah yang sudah terjadi'. Lebih baik sekarang buktikan bahwa kau bisa menjadi apa yang senior harapkan. Bahkan jauh lebih dan lebih baik lagi," kata Cun Fei
"Kau benar senior. Terimakasih sudah mengingatkanku, aku berjanji akan menjadi lebih baik daripada sekarang. Aku akan membuat guru bangga kepadaku jika suatu saat bertemu kembali," balas Shin Shui.
Akhirnya Cun Fei bisa lega setelah Shin Shui mengerti tentang semuanya. Walaupun ekspresi kesedihan belum menghilang dari wajah tampannya, tapi setidaknya kesedihan itu bisa dihiasi dengan sedikit senyuman, pikir Cun Fei.
"Itu baru namanya Pendekar Halilintar murid dari Pendekar Guntur dan pemilik Pedang Naga Emas. Hahaha …" Cun Fei berusaha mencairkan suasana yang canggung itu.
Shin Shui membalas dengan senyuman penuh makna, setelah melihat tuannya bisa tersenyum, Cun Fei segera kembali merubah wujudnya menjadi sebilah pedang.
Shin Shui sudah merasa tenang sekarang, dia akan segera melanjutkan perjalanannya yang tadi sempat tertunda. 'Guru, murid berjanji akan menjadi orang yang guru harapkan. Sekalipun kita tidak bisa bertemu, tapi nama guru akan selalu tercatat dalam hati dan sejarah hidup murid.' batin Shin Shui sembari melangkahkan kakinya.
Tak terasa, pemuda itu sudah berjalan beberapa jam lamanya. Hari sudah sore, Shin Shui sudah berjalan melewati beberapa desa. Sejauh ini tidak ada halangan yang berarti baginya.
"Hemmm … hari sudah sore, perutku sudah merengek minta diisi. Aku harus mencari restoran sekarang, aku yakin didepan sana ada restoran." gumam Shin Shui sembari berjalan perlahan.
Shin Shui berhenti sejenak, dia membaca tulisan yang ada di sebuah gapura. Tanpa Shin Shui sadari, pemuda itu sudah berjalan lebih jauh lagi dan sekarang sudah memasuki Kota yang baru. Di gapura itu tertulis nama "Kota Kayu Besi".
__ADS_1
"Hemmm … Kota Kayu Besi? Nama yang menarik, aku akan mencoba menelusuri desa ini…" ucap Shin Shui.
Dia sedikit heran saat membaca papan nama di gapura tersebut. Menurut Shin Shui nama desa itu sedikit unik, tapi tanpa berfikir panjang pemuda itu langsung segera memasuki ke Kota Kayu Besi.
Suasana disana sangat ramai, di pinggir jalan banyak sekali orang-orang yang berdagang. Lampu-lampu penghias jalan nampak indah berwarna-warni, terlihat seorang pemuda mengenakan pakaian serba biru sedang berjalan santai sembari menikmati suasana.
Tepat, pemuda tersebut adalah Shin Shui sang Pendekar Halilintar. Dia sedang mencari-cari sebuah restoran ataupun penginapan. 'Kota ini ramai sekali. Walaupun sudah malam hari tapi masih banyak para pedagang disini. Apakah ada acara hiburan saat ini?" kata Shin Shui pelan.
Menurut Shin Shui, suasana seperti ini biasanya diakibatkan karena ada sebuah acara ataupun perayaan yang sedang berlangsung di tempat tersebut.
Karena Kota Kayu Besi adalah kota besar, jadi Shin Shui tidak kesulitan untuk mencari tempat makan ataupun penginapan. Di depan sekitar jarak 50 meter dari posisinya sekarang, Shin Shui menemukan restoran yang dipadati pengunjung. Tanpa menunggu lama, dia langsung menuju kesana.
"Selamat datang di Restoran Kayu Hitam tuan muda. Silahkan masuk."
Salah seorang wanita menyambut kedatangan Shin Shui. Pemuda itu segera masuk kedalamnya. Suasan Restoran Kayu Hitam sangat ramai, hampir seluruh meja terisi penuh. Hanya beberapa saja yang terlihat masih kosong.
Pelayan tersebut segera pergi untuk menyiapkan apa yang dipesan oleh Shin Shui. Sekitar lima belas menit kemudian, makanan dan arak yang dia pesan sudah sampai.
"Silahkan tuan muda. Ini makanan terbaik di restoran ini." kata pelayan tersebut.
Makanan itu dipenuhi bumbu rempah-rempah, aroma wangi segera tercium dari makanan tersebut. Karena merasa lapar, Shin Shui segera saja menyantapnya.
Hanya beberapa menit saja, makanan itu sudah habis disantap. Sekarang Shun Shui sedang bersantai seperti biasanya ditemani dengan seguci arak.
__ADS_1
Meskipun dalam keadaan bersantai, tapi tetap saja katanya mengawasi keadaan disekitar. Karena bagi Shin Shui, kejahatan tidaklah mengenal tempat ataupun waktu.
Selang beberapa saat, seorang pria paruh bayah menghampiri Shin Shui untuk ikut duduk bersamanya, sebab kursi yang lain sudah terisi penuh.
"Bolehkah orang tua ini duduk?" tanya pria paruh baya kepada Shin Shui.
"Tentu senior, silahkan duduk. Mari kita minum bersama," balas Shin Shui dibarengi dengan senyuman lembut.
Pria tua itu segera duduk setelah mendapatkan izin dari Shin Shui. Karena Shin Shui sedaritadi penasaran dengan keramaian, dia segera menanyakan hal tersebut kepada pria tua yang kini duduk didekatnya.
"Maaf senior, kalau boleh tahu ada acara apa sebenarnya disini? Kenapa ada banyak sekali orang-orang. Padahal hari sudah malam," tanya Shin Shui.
"Oh ini … kau bukan berasal dari sini ternyata, sehingga tidak tahu acara penting yang akan berlangsung. Baiklah biar orang tua ini jelaskan, alasan kenapa banyak orang-orang meskipun hari sudah malam karena akan ada perayaan penyambutan gerhana bulan."
"Disini khususnya di kota Kayu Besi, setiap gerhana bulan warga setempat pasti akan mengadakan penyambutan seperti ini. Acara penyambutan gerhana bulan sudah berlangsung sekitar dua tahun lalu. Hal ini bertujuan untuk menolak bala, acara pembukaan biasanya para warga akan menyalakan kembang api. Sedangkan acara terakhir adalah memberikan persembahan beberapa anak gadis."
"Oh begitu … eh tu-tunggu, persembahan anak gadis? Untuk apa? Bukankah itu tindakan yang salah?" tanya Shin Shui. Dia sedikit merasa keanehan saat pria tua menjelaskan diakhir acara akan diadakan penyembahan gadis.
"Benar, para warga akan memberikan persembahan gadis. Biasanya gadis yang akan disembahkan adalah gadis yang dibeli dari kota lain. Jika saat gerhana bulan tidak ada acara seperti ini, maka kota Kayu Besi akan mendapatkan bencana. Beberapa waktu lalu para warga tidak melakukan hal seperti ini, akibatnya adalah ratusan warga tewas secara mengenaskan." jelas pria paruh baya itu lagi.
"Hemmm … aku merasakan ada sesuatu yang ganjil. Dimana tempat acara penyembahan akan dilakukan?" tanya Shin Shui lagi.
"Di alun-alun Kota Kayu Besi, disana ada sebuah altar yang cukup besar sebagai tempat persembahannya." jawab pria tua.
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih senior sudah mau menjelaskan. Nanti aku juga akan mengikuti acara penyambutan gerhana bulan itu." kata Shin Shui.
Sebenarnya dia masih keheranan dengan apa yang dijelaskan pria tua tersebut, tapi Shin Shui memilih untuk tidak bertanya lebih jauh lagi.