Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Sekumpulan Tikus … Ayo Maju! Biar Aku Panggang Kalian …


__ADS_3

Perkiraan phoenix biru memang tepat. Siluman yang dia lepaskan melesat dengan kecepatan tinggi masuk ke hutan yang lebih dalam, tapi dengan jalur yang berbeda.


Shin Shui dan tiga hewan peliharaannya lalu mengikuti siluman yang mungkin mau melaporkan kejadian barusan ke yang lainnya tanpa sepengetahuan siluman itu sendiri.


Mereka mengikuti siluman itu cukup lama juga. Hingga sekitar lima belas menit kemudian, siluman tersebut berhenti didepan sebuah gerbang yang terbuat dari kayu.


Setelah penjaga membuka pintu, siluman itupun segera masuk ke dalam sambil buru-buru.


"Phoenix biru, sepertinya ini kerajaan yang kau maksud itu bukan?" tanya Shin Shui kepada phoenix biru.


"Benar Shui'er. Ini kerajaannya. Dan didalam sanalah letaknya Bunga Seribu Khasiat yang kita cari," jawab phoenix biru.


"Hemmm … sepertinya ini bukanlah perkara mudah. Kita harus mempertahankan nyawa untuk bisa membawa Bunga Seribu Khasiat itu," kata Shin Shui.


"Tuan muda jangan khawatir. Kami berdua rela mati demi membawa Bunga Seribu Khasiat itu. Begitupun jika tuan muda berada dalam ancaman, kami siap bertaruh nyawa," kata Ong san yang dibalas anggukan oleh saudaranya, San ong.


"Terimakasih San ong, Ong san. Aku benar-benar terharu," ucap Shin Shui sambil tersenyum lembut kepada keduanya.


"Phoenix biru, apa kau bisa melihat situasi didalam kerajaan? Supaya kita bisa tahu langkah apa yang harus diambil," tutur Shin Shui.


"Hemmm … bisa. Tapi aku tak yakin bahwa akan semudah yang aku kira. Sepertinya akan sulit, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba," kata phoenix biru lalu mengambil ancang-ancang untuk terbang mengintai.


"WUSHH …"


Burung legenda itu melesat terbang ke atas lalu berkeliling disekitar kerajaan tengah hutan tersebut untuk mengamati. Setelah selesai mengamati, dia lalu kembali kepada Shin Shui untuk memberitahukan hasilnya.


"Bagaimana?" tanya Shin Shui.


"Dibelakang gerbang terdapat sekumpulan prajurit siluman. Jumlahnya sekitar seratus orang dengan tingkat kekuatan setara dengan Pendekar Surgawi tahap empat. Di bagian lebih dalam yang dekat dengan pintu istana, ada sekitar lima belas prajurit siluman. Tingkatan mereka setara dengan Pendekar Surgawi tahap tujuh. Dibagian dalam aku tidak bisa memastikan, tapi paling tidak ada beberapa siluman yang setara dengan Pendekar Dewa tahap dua. Entah untuk rajanya," kata phoenix biru menjelaskan hasil pengintaiannya.


"Hahhh …" Shin Shui menghela nafas sebelum melanjutkan bicaranya. "Andai Kalung Kristal Halilintar tidak hancur dan Zirah Perang Halilintar masih ada. Untuk masalah seperti ini, aku sendiri pun sanggup. Tapi ya sudahlah, harapan tidak selalu sama dengan kenyataan. Jika ada senior Cun Fei, pasti akan lebih baik lagi. Tapi aku rasa kita berempat pun cukup," kata Shin Shui.


Dari raut wajah pemuda biru itu, nampak ada guratan kesedihan atas apa yang sudah terjadi padanya.


"Sudahlah Shui'er, jangan lemah seperti itu. Ada kami yang rela bertaruh nyawa untukmu. Setidaknya, 70% kita akan berhasil membawa Bunga Seribu Khasiat. Asalkan jangan memperlambat waktu, kita harus bisa bergerak dan melawan mereka yang menghalangi secepat mungkin. Tidak ada kata basa-basi lagi. Keluarkan seluruh kemampuan kita, bahkan ketika kita akan begerak kesana sekalipun," ucap phoenix biru.


"Ya … kau benar. Baiklah, mari kita mulai perjuangan kita ini," kata Shin Shui memberikan semangat.


"Baik …" jawab ketiga hewan peliharaannya secara serempak.


Keempatnya lalu berdiri sejajar. Mereka mulai menyalurkan tenaga dalam ke seluruh tubuh. Begitupun Shin Shui, bahkan tenaga sejatinya langsung dia salurkan dan dikeluarkan secara maksimal.

__ADS_1


Udara terasa sesak. Tanah bergetar disekitar tempat mereka. Angin menderu tajam dan langit tiba-tiba saja menjadi mendung.


"Kalian sudah siap?" tanya Shin Shui.


"Siap …"


"Baiklah … ayo maju …" Shin Shui berkata sambil mengepalkan tangan kanannya ke atas.


"KEAKK …"


"ROARR …"


"ROARR …"


"WUSHH …"


Keempatnya lalu melesat dengan kecepatan yang sulit dilihat mata. Mereka langsung menerjang gerbang kayu itu hingga hancur berantakan. Bahkan para penjaga pun langsung tewas disambar San ong dan Ong san.


Keadaan di istana kerajaan hutan tiba-tiba menjadi riuh ketika menyadari ada yang menyerang. Para prajurit siluman yang sedang berkumpul menjadi siaga.


Shin Shui dan tiga hewan peliharaannya berhenti ditengah-tengah halaman istana. Mereka dikepung oleh para prajurit siluman yang berjumlah sekitar seratus orang itu.


Beberapa prajurit siluman memberikan tanda untuk memulai serangan. Diikuti oleh prajurit yang lainnya. Mereka menyerang secara bersamaan dengan cara masing-masing.


Shin Shui dan yang lainnya sudah siap akan hal ini. Mereka berpencar menjadi empat bagian. Masing-masing dari mereka menghadapi sekitar 25 prajurit siluman.


"Sekumpulan tikus … ayo maju! Biar aku panggang kalian …" kata Shin Shui sambil mengejek para prajurit siluman.


Para siluman itu seperti faham akan ucapan Shin Shui. Mereka langsung menerjang dengan amarah yang meluap karena sudah dihina oleh lawannya.


Tanpa basa-basi lagi, Shin Shui langsung mengeluarkan jurus-jurusnya yang mengerikan.


"Pusaran Badai Halilintar …"


"Tapak Gelombang Tsunami …"


"Langkah Bayangan …"


"WUSHH …"


"DUARR …"

__ADS_1


Langit yang tadi diam, mendadak ramai dengan gemuruh halilintar. Kilatan-kilatan sudah menyambar. Shin Shui sengaja mengeluarkan jurus-jurus tingkat tingginya langsung.


Dia memang ingin memberikan efek lebih supaya semua orang istana keluar.


Tiga pusaran badai halilintar sudah melesat. Gelombang tanah bagaikan tsunami mulai bergerak. Sedangkan Shin Shui sendiri, hilang dari pandangan musuh.


Ketiga jurusnya langsung menyambar semua prajurit siluman tersebut. Teriakan demi teriakan menggema. Perlahan tapi pasti, rencana Shin Shui berhasil.


Sebagian istana kerajaan hutan rusak. Prajurit siluman yang menyerangnya tewas bergelimpangan dengan tubuh gosong. Shin Shui benar-benar menjadikan mereka menjadi siluman panggang.


Di sisi lain, phoenix biru dan dua siluman kera bersaudara pun sama 'gila'nya dengan pemuda biru itu. Ketiganya menyerang dengan jurus-jurus mengerikan mereka.


Gelombang energi berwana jingga dan biru mulai terlihat tiada henti-hentinya. Teriakan para siluman terdengar bersahutan.


"Amarah Dua Penguasa Gunung …"


"Amarah Burung Phoenix …"


"WUSHH …"


"DUARR … DUARR …"


Ledakan-ledakan kecil terdengar. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, para prajurit siluman sudah tewas dengan kematian yang beragam.


Hal ini memang seperti mustahil, tapi tidak bagi mereka. Seperti yang diceritakan sebelumnya, dua siluman kera bersaudara itu sudah mencapai tingkatan Pendekar Dewa, begitupun dengan phoenix biru.


Maka jika mereka bisa membunuh musuhnya dengan mudah tidaklah mengherankan. Dengan catatan ketiga siluman tersebut harus menguras tenaga yang tidak sedikit.


Hanya dalam waktu dua puluh menit, halaman luas berubah menjadi tempat kematian. Tapi meskipun begitu, tak urung juga bahwa mereka mendapat luka ringan seperti goresan dan cakaran.


Bertepatan dengan hal itu, para petinggi dari kerajaan hutan sudah keluar semuanya.


Kebencian dan amarah yang memuncak terlihat dari wajah para petinggi tersebut. Terlebih lagi seorang manusia yang memakai mahkota dari akar-akar pohon yang ditengahnya ditaruh benda mirip mustika.


Sepertinya dialah yang dimaksud dengan raja dari kerajaan hutan perbatasan selatan ini. Seorang anak manusia yang dibesarkan oleh binatang dan siluman. Kini mereka sudah berhadapan dengan Shin Shui dan tiga hewan peliharaannya.


###


Hahh … akhirnya lunas ya😁😜udah empat chapter, yang kemarin sama yang sekarang😜jangan lupa likenya akak😁semoga terhibur🙏


Selamat menikmati☕

__ADS_1


__ADS_2