
Hari pun sudah berganti pagi. Shin Shui baru saja selesai sarapan paginya. Hari ini dia berniat melanjutkan perjalanannya lagi untuk mencari Bunga Seribu Khasiat.
Setelah selesai membayar biasa sewanya, pemuda biru itu lalu pergi menuju ke selatan. Shin Shui berjalan santai sambil menikmati keramaian kota Hui-Han dipagi hari ini.
Meskipun masih terbilang sangat pagi, tapi ternyata kota Hui-Han ini sudah ramai dipadati oleh orang-orang. Baik itu pribumi, maupun orang-orang yang sengaja berkunjung ke kota ini.
Sepanjang menyurusi kota, pemuda biru itu memasang telinga tajam. Barangkali ada suatu informasi yang penting tentang dunia persilatan maupun kejadian perang besar beberapa waktu lalu.
Karena tidak juga mendengarkan informasi yang berarti, akhirnya Shin Shui mempercepat langkahnya hingga ketika keluar dari kota Hui-Han, dia langsung berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh.
"Phoenix biru, apakah kau pernah mendengar tentang Bunga Seribu Khasiat dan tahu dimana tempatnya?" tanya Shin Shui kepada burung peliharaannya yang bertengger di pundak kanan.
"Aku seperti pernah mendengar nama itu. Tapi itu sudah lama sekali. Konon kabarnya Bunga Seribu Khasiat berada ditengah-tengah hutan yang sangat luas bahkan sangat berbahaya. Selain itu juga, aku mendapat kabar bahwa disana terdapat kerajaan kecil. Rajanya seorang manusia yang dibesarkan oleh binatang-binatang ataupun siluman yang hidup disana,"
"Hutan itu sangat jarang sekali diinjak oleh manusia biasa. Paling orang-orang disana hanya berani menginjakkan kakinya di pinggir hutan saja. Mereka tidak berani ke tengah hutan, karena entah berapa banyak kejadian orang-orang yang tidak kembali lagi ketika masuk ke hutan itu," kata phoenix biru menjelaskan.
"Lalu, letak Bunga Seribu Khasiatnya dimana?" tanya Shin Shui.
"Menurut sepengetahuanku, Bunga Seribu Khasiat terletak di belakang kerajaan. Bunga itu dipercaya sebagai tanaman pembawa kemakmuran, jadi bunga itu sangat dijadikan pusaka yang harus dijaga dengan taruhan nyawa," kata phoenix biru.
Mendengar penjelasan phoenix biru barusan, Shin Shui langsung tertegun. Dia tidak menyangka bahwa tugasnya yang satu ini juga begiru berat. Bahkan bisa dibilang nyawa taruhannya.
"Berarti, maksudmu kita harus bertarung mengalahkan mereka dulu jika ingin mengambil Bunga Seribu Khasiat itu?" tanya Shin Shui.
"Begitulah. Tidak ada cara lagi selain melalui pertarungan,"
"Hahhh …" Shin Shui menghela nafas berat. "Baiklah, apa boleh buat. Ini semua demi menyelamatkan nyawa orang-orang penting," jawab Shin Shui.
Keduanya pun lalu diam membisu. Tidak ada yang bicara lagi sepanjang perjalannya, hanya suara binatang liar saja yang terdengar karena saat ini Shin Shui sedang beari ditengah hutan.
Beberapa saat kemudian, Shin Shui sebuah desa. Entah apa nama desa itu, karena tidak ada papan nama didepan pintu gapuranya.
__ADS_1
Pemuda biru itu berjalan sambil mengamati setiap sudut desa. Dia sedang mencari-cari sebuah kedai makan, sehingga dirinya bisa mengisi perut dan beristirahat.
Pemuda biru itu merasa kelelahan. Mungkin karena dia berlari dalam kecepatan tinggi tiada hentinya. Tapi hal ini memang sengaja dilakukan Shin Shui, karena waktunya semakin menipis.
Setelah berkala beberapa saat, akhirnya Shin Shui menemukan sebuah kedai makan kecil. Akan tetapi meskipun begitu, disana cukup ramai juga orang-orang yang sedang makan.
Shin Shui memasuki kedai lalu mengambil tempat duduk. Tak lama seorang pelayan tua menghampirinya.
"Mau pesan apa tuan?"
"Berikan aku makanan terenak dan arak wangi," kata Shin Shui.
"Baik tuan, mohon tunggu sebentar," kata pelayan itu lalu tak lama pergi ke belakang lagi untuk menyiapkan pesanan.
Selang beberapa menit kemudian, pelayan tadi sudah kembali sambil membawa pesanan Shin Shui.
"Silahkan tuan …"
Pemuda biru itu pun langsung bersiap untuk menyantap makanannya selagi masih hangat. Bau makanan itu harum dan menggugah selera. Sehingga perutnya yang memang sudah lapar, menjadi semakin lapar.
Ketika dia sedang asyik makan, tiba-tiba dari luat tercium wangi yang sangat menyegarkan. Bahkan semua orang yang ada di kedai pun mencium bau itu.
Tak lama … terlihat ada dua orang orang-orang wanita yang sangat cantik memasuki kedai. Pakaian mereka hijau muda, wajahnya begitu putih bagaikan salju.
Ketika masuk, keduanya memberikan senyum. Senyuman yang dapat membuat pria bergelora. Bahkan sebagian pengunjung pria ada yang sampai menelan ludahnya karena saking tak tahan melihat keindahan dua wanita tersebut.
"Paman, kami pesan dua porsi makanan ya …" kata salah seorang wanita yang terlihat sedikit lebih tua dari yang satunya.
"Baik nona. Mohon tunggu sebentar," ucap pelayan tadi yang sama mengagumi kedua wanita tersebut.
Kedua bidadari itu lalu mengambil tempat duduk tak jauh didepan Shin Shui. Sambil menunggu makanan datang, keduanya bercerita dan berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas beberapa kali keduanya tertawa.
__ADS_1
Shin Shui pun merasakan apa yang orang lain rasakan. Maklum, dia juga seorang pria sejati. Jika melihat wanita cantik seperti ini, tentunya jiwa muda sebagai pria bergejolak hebat. Tapi dia terus menahan godaan itu, dia masih teringat ada Yun Mei yang sudah menunggu.
Apalagi ketika salahsatu bidadari itu melirik dan memberikan senyuman manisnya kepada Shin Shui. Ah … rasanya siapapun takkan tahan melihat senyuman memikat ini.
Shin Shui menganggukkan kepalanya dan balas tersenyum. Tapi pipinya mendadak memerah tomat, detak jantungnya berpacu semakin tidak karuan.
"Nona cantik, bolehkah kami menemani makanmu?" kata seseorang menghampiri dan berpakaian seperti pendekar bersama dua orang temannya. Orang yang bicara itu pendek dan ada bekas cakar pada pipi kirinya.
"Terimakasih, tapi kami hanya ingin makan berdua saja," jawab wanita yang lebih muda, dan tentunya lebih cantik.
"Ahhh … jangan malu-malu. Biarkan aku yang mentraktir kalian berdua. Kalian pesan saja sepuasnya," kata orang itu.
Ketiga pria tersebut mengambil kursi lalu duduk didepan kedua wanita itu meskipun tidak ada persetujuan. Melihat ini, Shin Shui tak bisa tinggal diam.
Tiba-tiba dia mengambil tiga batu kerikil kecil lalu dilemparkan kepada ketiga orang tersebut hingga mereka meringis sedikit kesakitan.
"Hehhh … siapa yang berani melemparku?" tanya pria tadi sambil memandang berkeliling. Tapi tidak ada jawaban.
Ketiganya lalu kembali menggoda dua wanita itu. Bahkan lebih tidak sopan, Shin Shui sudah tidak bisa menahan diri lagi kali ini.
"BRAGG …" pemuda biru itu menggebrak meja. Semua orang sampai terkaget-kaget.
"Manusia-manusia jahanam!!! Otak-otak binatang. Tidak memiliki sopan santun. Mereka datang kesini mau makan, dan mereka juga tidak mau berkenalan dengan kalian. Tapi kenapa kalian memaksa heh?" ucap Shin Shui dengan geram. Sontak isi kedai menjadi sunyi.
"Jaga mulutmu. Kau pikir kau siapa? Suami mereka? Jika bukan, jangan ikut campur. Ini urusanku," jawab orang tadi dengan suara menantang.
"Cihhh … manusia rendahan. Jika kalian tidak bertingkah semena-mena, tentu aku takkan ikut campur," ucap Shin Shui sambil melemparkan sumpit makannya.
"Huppp …"
Orang itu berhasil menangkap sumpit lalu meremasnya hingga hancur.
__ADS_1
"Manusia sombong. Kau pikir aku orang lemah?" kata pria itu sambil menghampiri Shin Shui dengan golok yang sudah dicabut.