
Hari terus berganti, putaran waktu seolah semakin cepat dan semakin cepat lagi. Tak terasa Shin Shui sudah sebulan berlatih di Gunung Siluman. Kini pemuda biru itu sudah terbiasa dengan kedaan disana meskipun awalnya sempat kesulitan.
Saat ini Pendekar Halilintar itu berniat untuk kembali melatih kekuatan fisiknya, naik turun gunung sudah dia lakukan setiap hari. Mengangkat dan menghancurkan batu yang ukurannya beberapa kali lipat dari dia sendiri sudah menjadi kebiasaan.
Sekarang dia sudah bersiap kembali untuk memasuki hutan Gunung Siluman ke bagian yang lebih dalam. Meskipun suara siluman terus mengganggu telinganya, tapi dia tidak menghiraukan lagi karena saking terbiasanya.
Sekarang pemuda itu benar-benar hanya berfokus kepada latihan dan meningkatkan level kekuatannya, tidak ada waktu untuk dia bersantai kecuali mengisi perut dan tidur.
"Aku harus masuk ke bagian yang lebih dalam lagi. Aku ingin mencapai goa yang dimaksud oleh senior Cun Fei." gumam Shin Shui sembari bersiap memasuki hutan.
Tanpa menunggu lama, dia langsung lari ke dalam hutan itu dengan hanya mengandalkan tenaga fisiknya saja. Selama berada disini dia sama sekali tidak pernah menggunakan tenaga dalamnya, kecuali jika keadaan terdesak.
Tapi meskipun begitu, kekuatan fisiknya kini sudah naik beberapa persen dibandingkan sebelum berlatih disini. Otot-ototnya mulai terlihat lebih jelas, setiap dia berlatih tidak pernah memakai baju. Hal ini karena Shin Shui ingin membiasakan tubuhnya dengan segala kondisi dan cuaca.
Hanya berselang beberapa menit, pemuda biru itu sudah sampai ditengah-tengah hutan Gunung Siluman. Kemudian dia berjalan santai dan mulai mencari siluman sebagai bahan latihannya.
Tak lama, Shin Shui berhasil menangkap pergerakan sesuatu, dia merasakan ada sesuatu yang mendekat dari bagian kirinya. Dan benar saja, Pendekar Halilintar itu dikejutkan oleh kedatangan seekor siluman serigala merah.
Serigala merah adalah salahsatu jenis siluman yang terkenal akan ganasnya, ukuran serigala itu hampir menyamai ukuran anak sapi. Seluruh tubuhnya pun berwarna merah darah.
"Hemmm … aku mendapatkan lawan yang cukup sulit sekarang." gumam Shin Shui.
__ADS_1
Tanpa berbasa-basi lagi, dia langsung menyerang siluman serigala merah lebih dulu, pertarungan ditengah hutan yang rimbun akan pepohonan tidak terelakkan lagi. Seorang pemuda dan seekor silumqn serigala merah kini sedang bertarung cukup sengit.
Siluman serigala merah selalu menahan setiap serangan Shin Shui, tak jarang dia juga memberikan serangan cakar dan gigitan yang mematikan kepada pemuda biru tersebut.
Untung saja Shin Shui masih bisa menghindar dari semua serangan serigala merah, puluhan gerakan sudah mereka lalui. Tapi hingga detik ini belum ada yang mengalami luka.
Shin Shui kembali menyerang siluman itu, dia memainkan pedang kayu hitam yang dibuatnya dengan lincah, gerakannya sedikit kasar tapi tajam.
Kadang pemuda itu melompat lalu menendang, dilanjut dengan memukul bagian kepala, menebas memakai pedang kayunya, menghindar, menyerang, terus begitu hingga pada akhirnya serigala itu merasa dirinya terpojok.
Shin Shui tidak mau menyianyiakan kesempatan emas ini, dengan segera dia melompat dan menendang bagian kepala serigala merah tersebut sampai terpental menabrak pohon.
Shin Shui yang sedaritadi sudah siap menerima serangan bisa dengan mudahnya menghindar tanpa kesulitan, pertarungan antara manusia dan siluman terus berlanjut hingga akhirnya …
"Ahhh …"
Shin Shui terkena cakaran siluman serigala merah, cakaran itu cukup dalam mengenai bagian punggungnya. Shin Shui berusaha menahan rasa sakit yang kini sedang melanda tubuhnya, serigala itu tidak diam.
Justru siluman tersebut menyerang dengan jurus yang dia miliki. Serigala itu mengaum dengan sangat keras, bahkan aumannya terdengar hingga ke bagian luar hutan Gunung Siluman.
Suara aumannya membawa deru angin yang kencang, pohon-pohon mendadak doyong terbawa arah angin. Serigala itu berhenti mengaum, tapi siapa sangka? Sekarang justru tercipta sebuah bola merah di mulutnya.
__ADS_1
Shin Shui yang melihat kejadian ini tidak bisa tinggal diam, dia tidak mau mati konyol hanya karena seekor siluman. Tanpa basa basi dia mengeluarkan Pedang Halilintar dari Cincin Ruangnya.
"Langkah Kilat, Tarian Pedang Halilintar …"
"WUSHH …"
Pemuda itu mendadak hilang dari penglihatan sang serigala dan mendadak muncul didepannya. Tanpa berbasa-basi lagi, Shin Shui segera menebas kepalanya tepat sebelum bola merah itu ditembakkan.
"Auuuum …" mati.
Hanya sekali tebasan Pedang Halilintar, siluman serigala merah tewas dengan kepala terpisah dari tubuhnya. Shin Shui segera mendekati bangkai siluman tersebut dan segera mengambil permata siluman yang berada didalamnya lalu memasukan ke Cincin Ruang.
Setelah berhasil membunuh dan mengambil permata siluman serigala merah, Shin Shui segera kembali ke tempat dia tinggal selama di hutan Gunung Siluman.
Sebelumnya memang pemuda biru itu sudah membuat sebuah gubuk sederhana untuk sekedar menghilangkan rasa lelah dan beristirahat dirinya.
"Hahhh …" Shin Shui menghela nafas berat. "Ternyata bertarung tidak menggunakan tenaga dalam memang merepotkan," keluhnya.
Pemuda biru itu kemudian beristirahat di gubuk sederhananya tersebut. Meskipun sudah sebulan terakhir dia bertarung hanya menggunakan tenaga fisik saja, tapi tetap saja dia masih belum terbiasa sepenuhnya. Terlebih karena kekuatan fisik Pendekar Halilintar itu masih terbilang lemah jika menghadapi lawan yang kuat.
Semilir angin menerpa tubuh Shin Shui dengan manja, gesekan suara pohon bambu terdengar seperti alunan yang menentramkan jiwa. Tanpa sadar, akhirnya sang Pendekar Halilintar terbuai hingga akhirnya terbawa ke alam mimpi karena suara-suara tersebut.
__ADS_1