Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Tewasnya Ouwyang Sek Dan Suma Hek


__ADS_3

Ternyata Ouwyang Sek merupakan tetua dari sekte Elang Merah, sebuah sekte aliram hitam terbesar kedua setelah sekte Pemuja Iblis. Sedangkan Suma Hek merupakan tetua dari sekte Pedang Hitam, sebuah sekte aliram hitam terbesar setelah sekte Elang Merah.


Keduanya sudah dalam posisi bersiap siaga dan masing-masing dari mereka sudah mengeluarkan senjata pusakanya. Melihat ini, penasihat Mu Ying pun turut siaga, tapi dengan segera Shin Shui mencegahnya.


"Biarkan aku sendiri yang menghadapi mereka penasihat Mu. Kau hanya perlu memastikan bahwa jangan sampai ada yang kabur dari kedua iblis ini," kata Shin Shui dengan tegas.


"Baik pahlawan muda," kata penasihat Mu Ying.


Akhirnya orang tua itu hanya bisa menuruti semua keinginan Shin Shui, tapi tak lama diapun pergi untuk memanggil jenderal dan pendekar tinggi lainnya yang dimiliki oleh istana kekaisaran.


Beberapa saat kemudian, para jenderal dan pendekar istana serta diikuti oleh yang lainnya pun keluar dan berkumpul di halaman yang kini sudah menjadi arena pertarungan antara Shin Shui melawan Ouwyang Sek dan rekannya Suma Hek.


Selang beberapa saat setelah orang-orang itu keluar, Kaisar Wei An pun tiba-tiba kesana bersama ibundanya karena mendengar adanya ribut-ribut. Kaisar kaget ketika mengetahui siapa yang bertarung, tapi setelah penasihat Mu Ying menjelaskan, kaisar itu sedikit banyaknya faham dengan apa yang terjadi.


Pertarungan ketiga pendekar itu berlangsung sengit, dimana kedua orang-orang Raja Iblis Merah itu terus berusaha memojokkan Shin Shui dengan seluruh kemampuan keduanya.


Tapi sayang, yang mereka hadapi adalah Pendekar Halilintar, sebuah gelar yang tentunya bukan omong kosong belaka. Entah berapa banyak nyawa yang sudah melayang ditangan pendekar muda itu.


Sehingga sosoknya begitu ditakuti sekaligus disegani, dan sekarang dua orang pendekar dengan tingkatan Pendekar Dewa tahap empat akhir ingin mencoba membunuhnya? Rasanya itu hanya mimpi.


Terbukti seperti sekarang ini, pertarungan ketiga pendekar itupun sudah lewat dari lima belas jurus, tapi sayang keduanya belum berhasil sedikitpun memberikan luka kepada Shin Shui.


Sebenarnya Shin Shui bisa saja mempercepat pertarungan ini, tapi dia tidak ingin melakukannya karena tidak mau menimbulkan kerusakan berat kepada istana.


Ouwyang Sek dan Suma Hek menyerang dari sisi kanan dan kiri. Pedang dan seruling yang terbuat dari baja itu mengeluarkan kilatan cahaya putih keperakan ketika diayunkan.


Sehingga sinar putih keperakan dan cahaya biru pun nampak meskipun dalam keadaan siang hari. Gerakan kedua tetua itu sangat cepat, tapi tentunya lebih cepat gerakan Shin Shui.

__ADS_1


Selain menyerang jarak dekat, Ouwyang Sek juga sesekali melakukan serangan jarak jauh dengan mengirimkan gelombang suara dari pusaka serulingnya. Tapi sayang, semua itu sia-sia karena tenaga dalamnya masih jauh dibawah Shin Shui.


Karena itulah Ouwyang Sek memutuskan untuk menyerang dengan jarak dekat. Kedua serangan tetua mengandung tenaga dalam tinggi, mereka menyerang kebaikan leher dan dada.


Tapi Shin Shui bisa menangkis semua serangan keduanya tanpa kesulitan sedikitpun. Beberapa kali senjata mereka beradu, dan hasilnya selalu sama. Dimana tangan Ouwyang Sek dan Suma Hek selalu saja bergetar.


Saat ini Shin Shui mulai mengubah posisi yang tadinya bertahan kini mulai menyerang. Kecepatannya sulit dilihat oleh mata telanjang, sehingga kedua musuhnya kerepotan. Padahal baru beberapa gerakan saja.


Di sisi lain, orang-orang istana yang menyaksikan pertarungan ini tentu saja terpukau. Karena gerakan dan kekuatan Shin Shui sangat jauh berbeda ketika terakhir kali dia meninggalkan istana.


Empat puluh jurus sudah berlalu, tapi Ouwyang Sek dan Suma Hek belum dapat juga memberikan luka kepada Shin Shui. Pasalnya karena setiap serangan keduanya selalu bisa dipatahkan dengan mudah.


Tepat ketika mencapai jurus keempat puluh tiga, Ouwyang Sek dan Suma Hek melompat mundur ke belakang. Keduanya sudah geram dan berniat untuk memberikan jurus pamungkasnya.


Kedua tetua itu lalu menghimpun tenaga dalam dengan jumlah besar yang kemudian disalurkan kepada senjatanya masing-masing. Angin berhembus dan debu mengepul tinggi.


"Elang Menembus Awan…"


"WUSHH …"


Keduanya mengeluarkan jurus andalannya masing-masing, hujan jarum dan juga pedang energi yang beruntun mulai bergerak cepat ke arah Shin Shui.


Pemuda biru itu tak mau kalah, dia menyarungkan Pedang Halilintar lalu turut mengeluarkan jurus tingkat tinggi yang dimilikinya karena Shin Shui tidak ingin berlama-lama.


"Tapak Penolak Badai …"


"WUSHH …"

__ADS_1


Gelombang energi yang besar dan membentuk seperti benteng malesat menyambut kedua jurus yang datang. Sehingga ketika tiga jurus itu bertemu, ledakan cukup besar pun terjadi.


"DUARR …"


Ouwyang Sek dan Suma Hek terpental sampai menabrak benteng istana. Masing-masing dari jurus pamungkas yang mereka kerahkan terpental dan berbalik menyerang keduanya.


Tak ayal lagi, dua tetua itu tewas akibat jurusnya sendiri. Ouwyang Sek tewas dengan seluruh tubuh tertusuk jarum, sedangkan Suma Hek tewas dengan luka tusukan dan sayatan akibat jurus pedang energinya.


Setelah pertarungan berakhir, Kaisar Wei An dan yang lainnya pun langsung menghampiri Shin Shui. Semua orang itu sangat bersyukur, kalau bukan karena pemuda biru itu, tentu mereka tidak akan mengetahui siapa Ouwyang Sek dan juga Suma Hek sebenarnya.


Begitulah, setelah rahasianya terbongkar maka habis pula riwayat dua tetua dan sekutunya itu.


Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga. Sepandai-pandainya kau menyembunyikan sebuah bangkai, suatu saat baunya pasti akan tercium juga.


Seperti halnya dengan kebohongan, mau bagaimanapun kau mengelak, suatu saat juga akan terbongkar. Kebohongan itu hanya akan membuatmu selamat sementara, dan bukan tidak mungkin jika kebohongan itu akan membuatmu menyesal selamanya. Dan itu pasti.


Kehidupan ini adil. Tuhan tidak tidur. Ingat, dengan kekuatan Tuhan yang tiada banding, bukan tidak mungkin jika Dia membongkar rahasiamu sendiri. Berhati-hatilah sebelum terlambat.


Jangan terlalu percaya kepada seseorang, karena orang yang kau anggap benar dan selalu kau percayai, tidak memastikan bahwa orang itu baik-baik. Seperti halnya Ouwyang Sek dan Suma Hek sendiri.


Mereka berpura-pura sebagai pengawal pribadi kaisar dan juga ibunya, bahkan berlaku baik selama ini. Tapi ternyata? Merekalah musuh besar yang sebenarnya.


Hati-hati dalam memberikan kepercayaan besar. Uji dahulu sebelum kau memberikan rasa percaya itu. Setiap manusia sesungguhnya memiliki kedok tersendiri. Ibarat kata ketika banyak orang dia akan selalu bahagia, tapi ketika sendiri, baru dia akan memperlihatkan lukanya. Begitulah manusia.


"Pahlawan muda, terimakasih karena lagi-lagi kau sudah berjasa untuk kekaisaran. Sungguh, aku merasa malu atas kejadian ini. Orang yang aku sangka baik ternyata busuk. Yang aku sangka bisa dijadikan sahabat, ternyata sebenarnya musuhku. Sekali lagi, aku ucapkan terimakasih kepada pahlawan muda. Jika ada permintaan, silahkan katakan saja. Aku pasti akan memenuhinya jika memang sanggup," kata Kaisar Wei An sambil hormat kepada Shin Shui dan diikuti yang lainnya.


"Tidak perlu seperti itu kaisar. Sesama manusia memang seharusnya kita saling membantu. Aku tidak ada permintaan apapun kecuali satu, jangan mudah percaya kepada orang yang belum benar-benar kau kenali," jawab Shin Shui dengan singkat tapi mengandung makna yang dalam.

__ADS_1


__ADS_2