
Melihat Arumi menangis dan air mata itu semakin mengalir deras membuat Nyimas tidak tega. Wanita itu membalik tubuh menghadap putri tercinta, berjalan perlahan mendekatinya.
Nyimas menyentuh bahu Arumi seraya berkata, "Kamu tidak akan pernah hidup sendirian lagi di bumi ini, Nak. Suatu saat nanti, Mama yakin akan ada pria baik yang datang ke rumah untuk melamarmu. Menjadikanmu istri dan ratu di istananya. Seorang pria yang benar-benar tulus mencintaimu tanpa mengharapkan balasan apa pun."
"Tapi, Ma ... aku--"
"Sst!" Nyimas meletakkan jari telunjuk tepat di depan bibir Arumi. "Kemarilah!" Wanita itu merentangkan kedua tangan. Tanpa membuang waktu, Arumi berhambur dalam pelukan. Melingkarkan kedua tangan di punggung mama tercinta. Wanita cantik berparas rupawan itu menangis sesegukan dalam dekapan sang mama.
Lama sudah Arumi menangis dalam pelukan Nyimas. Hingga tubuh wanita cantik itu tak lagi bergetar hebat dan suara isak tangis tak lagi terdengar. Nyimas baru mengurai pelukan. Ia mengusut sisa butiran kristal dari pelupuk mata Arumi.
"Anak Mama kalau menangis terus, cantiknya hilang loh!" goda Nyimas. Gurauan yang sering dilakukan di saat Arumi masih kecil. Kalimat pamungkas yang akan membuat Arumi kecil berhenti menangis.
Wajah wanita itu merah merona bagai tomat yang siap dipetik. Dengan suara manja Arumi berucap, "Mama ...."
Nyimas tersenyum simpul melihat sikap manja putri tercinta. Sikap Arumi jika sudah merajuk begitu menggemaskan membuat siapa saja tak tahan ingin menggoda wanita itu tak terkecuali dirinya dan mendiang Zidan--suami tercinta.
Jari telunjuk wanita itu menowel ujung hidung mancung Arumi sambil berkata, "Dasar manja. Sudah dewasa masih seperti anak kecil."
"Biarkan saja. Pokoknya, aku akan menjadi anak kecil di mata Mama selamanya," ancam wanita itu.
Merasa tak tega melihat Nyimas terus berdiri sedari tadi, Arumi mengambil inisiatif meminta wanita paruh baya itu agar duduk di kursi.
"Ma, sebaiknya duduk saja di sana. Aku akan menyelesaikan semua. Setelah semua buah-buahan ini diblender, Mama berikan komentar bagaimana rasa dari jus yang kubuat. Oke?"
Tanpa menunggu jawaban Nyimas, tangan Arumi terlebih dulu menarik lengan wanita itu. Memapah Nyimas duduk di kursi makan.
"Baik-baik di sini. Jangan nakal!" Kerlingan mata nakal Arumi berikan pada Nyimas sebelum ia kembali melanjutkan kegiatannya.
"Bocah nakal! Mama-nya sendiri digoda," ucap Nyimas lirih disertai senyuman tipis terlukis di wajah.
Saat Arumi sibuk memblender semua buah-buahan itu, netra Nyimas mengarah pada potongan buah yang ada di sebuah wadah putih. Warna buah-buahan itu begitu kontras dengan warna yang digunakan untuk menampung potongan buah yang telah diiris.
Seketika jantung Nyimas rasanya berhenti berdekat. Dada wanita itu terasa sesak setelah ia sadar kalau dalam wadah itu adalah buah mangga segar yang beberapa hari lalu dibeli oleh Arumi di toko buah dekat perumahan.
__ADS_1
"Itu--" Nyimas tak kuasa menyelesaikan kalimat tersebut. Pikiran wanita itu melayang ke mana-mana. Ada rasa khawatir menyelimuti diri apabila dugaan wanita itu benar. Namun, dengan cepat ia menepis semua pikiran negatif yang sempat menghampiri.
Setelah Arumi menyelesaikan semua pekerjaan, ia membawa dua gelas panjang lalu meletakkannya ke atas meja.
"Diminum dulu, Ma! Aku buatkan jus ini khusus untuk wanita yang sangat kusayangi di dunia ini." Terdengar kekehan ringan dari mulut Arumi.
Nyimas mulai menyesap jus yang dibuatkan oleh Arumi sambil sesekali mencuri pandang ke arah sang putri. Wanita cantik itu begitu menikmati setiap tegukan jus mangga yang masuk ke dalam tenggorokan.
"Argh ... segar sekali." Ekspresi wajah Arumi menunjukan kepuasan setelah meneguk buah-buahan yang telah dihaluskan menggunakan blander.
Tak ingin terus menduga-duga, Nyimas mulai membuka suara. Sekali pun jawaban Arumi adalah sebuah jawaban yang tak ingin didengar oleh wanita itu tetapi ia harus berlapang dada. Walaupun jauh di lubuk hati yang terdalam tak ingin memiliki ikatan lagi dengan keluarga Adiguna jikalau memang di dalam rahim Arumi tumbuh benih yang ditanam oleh Mahesa mau tidak mau Nyimas harus ikhlas menerima takdir itu. Bagaimanapun, bayi itu tak berdosa dan memiliki hak untuk lahir ke dunia ini dengan selamat.
"Rumi, Mama mau tanya sesuatu padamu tapi tolong jawab dengan jujur."
Arumi yang saat itu tengah asyik meneguk jus mangga segar segera menoleh ke sumber suara. Wanita itu memincingkan mata kala melihat raut wajah serius terlukis di wajah.
"Tanya apa, Ma? Kok kelihatannya serius sekali?" tanya Arumi penasaran. "Apakah jus buatanku tidak enak rasanya? Apakah terlalu manis? Atau malah buahnya tidak lagi segar." Bibir wanita itu terus mencecar Nyimas dengan berbagai pertanyaan.
Hingga akhirnya Nyimas terpaksa menginterupsi Arumi dengan mengangkat tangan ke udara agar wanita itu berhenti berbicara dan memberikan ia kesempatan untuk bertanya.
"Hentikan, Rumi!" seru Nyimas. "Kenapa malah kamu yang mencecar Mama padahal 'kan Mama yang ingin bertanya padamu."
Detik itu juga Arumi bungkam. Ia mengatupkan kedua bibir, mengunci rapat benda kenyal yang selama ini menjadi pusat perhatian putra sulung pemilik rumah sakit Persada International Hospital.
Nyimas terdiam sebentar, menarik napas dalam sebelum menanyakan suatu hal yang mengganjal pikiran wanita itu.
Ia menatap wajah Arumi lekat hingga membuat sang putri menelan saliva susah payah. "Mama mau tanya, apakah ... kamu tengah mengandung anak Mahesa?"
Seketika bola mata Arumi membulat sempurna. Ia sangat terkejut dengan pertanyaan Nyimas. Wanita itu sama sekali tidak menyangka sang mama akan menanyakan sebuah pertanyaan konyol yang sangat menggelitik hingga membuat Arumi ingin tertawa terbahak. Andainya saja wanita yang duduk di hadapannya bukan Nyimas, sudah pasti ia melakukan itu semua.
Arumi mencengkram ujung meja makan dengan tangan kanan, berusaha bersikap tenang walau diri ini ingin sekali menyemburkan suara gelak tawa yang mampu membuat seiri ruangan ramai seketika.
Wanita itu mencondongkan wajah ke depan Nyimas. Memasang raut wajah serius sambil membalas tatapan mama tercinta.
__ADS_1
Mulut Arumi terbuka, kemudian ia berkata, "Mana mungkin aku hamil anak Mas Mahes, Ma. Lah wong saat ini aku tengah datang bulan," jawabnya santai. Lalu wanita itu meraih kembali gelas berisi jus yang ada di sisinya.
Terdengar helaan napas panjang berasal dari Nyimas. Tangan wanita itu mengusap dada dengan lembut. Kini ia dapat bernapas lega karena dugaannya salah.
"Oh astaga, Mama pikir kamu hamil, Nak," lirih Nyimas. Di dalam hati ia mengucap syukur karena dugaannya ternyata salah. Arumi, putri tercinta tidak dalam keadaan hamil.
"Kenapa Mama bisa bertanya hal itu?" tanya Arumi disela-sela kegiatannya meneguk jus yang kaya akan vitamin dan juga mengandung karbohidrat tinggi.
"Itu karena kamu tidak biasanya meminum jus mangga. Seingat Mama, kamu tidak terlalu suka buah mangga tapi hari ini sikapmu beda sekali hingga membuat Mama dan para pembaca menduga kalau kamu tengah berbadan dua."
"Kamu tahu, akibat sikap anehmu ini sampai menuai banyak komentar dari para pembaca hingga membuat author bingung mengapa sampai mereka berpikir kalau kamu sedang hamil."
Pecah sudah tawa yang ditahan oleh Arumi sedari tadi. Ia tak kuasa menahan rasa geli yang menggelitik perut. Suara gelak tawa wanita itu menggema memenuhi seisi ruangan. Ia menyentuh perut yang terasa menggelitik.
"Ya ampun. Jadi, gara-gara buah mangga Mama dan para pembaca menduga aku hamil anak Mas Mahes?" tanya Arumi untuk memastikan. Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan oleh Nyimas.
"Aduh ... Mama itu lucu deh. Mana mungkin aku hamil anak Mas Mahes. Sudah jelas-jelas aku diselingkuhi karena tak kunjung hamil. Eh ... Mama malah menduga aku tengah mengandung benih pria berengsek itu.
"Ada-ada saja," timpal Arumi. Wanita itu menggeserkan kembali gelas panjang itu dari hadapannya. Lalu, beringsut mendekati kursi Nyimas.
"Kalaupun nanti aku hamil, aku ingin benih yang tertanam di rahimku ini adalah benih yang berasal dari pria baik, setia dan menghormatiku sebagai seorang istri. Pria yang selalu menjaga diri dan cintanya hanya untuk aku seorang. Tidak mudah tergoda oleh wanita di luaran sana."
'Dan aku ingin, pria itu adalah Rayyan, kekasihku tercinta.' Namun, Arumi tak menyuarakan kalimat terakhir sebab ia sepakat akan merahasiakan hubungan mereka hingga masa iddah wanita itu selesai.
Senyum manis merekah di wajah Nyimas disertai bola mata mulai berkaca-kaca. Mendengar untaian kata berasal dari bibir Arumi membuat wanita itu terharu. Tak menyangka jika gadis imut nan menggemaskan telah tumbuh menjadi wanita kuat dan mampu membuatnya bangga.
"Mama yakin, cepat atau lambat do'a-mu akan terkabul."
.
.
.
__ADS_1