
Sudah satu tahun lamanya, Mahesa tinggal di sebuah kota kecil yang sangat jauh dari kota Jakarta. Kondisi kesehatan pria itu sudah mulai membaik meski ia masih duduk di kursi roda, tetapi dokter telah memberikan terapi pada anggota tubuh bagian bawah.
Nadira, wanita cantik yang berprofesi sebagai perawat pribadi mantan suami Arumi masih setia menemani sang pasien walau setiap hari jantung wanita itu terus berdegup tak beraturan. Seperti sekarang ini, wanita berseragam perawat tersebut merasakan gemuruh lembut di dada ketika tanpa sengaja melihat bagian dada Mahesa terekspose begitu saja kala pria itu hendak mengganti pakaian.
Flash back on
Pagi itu, Nadira kembali sibuk mengerjakan segudang pekerjaan sebagai seorang perawat dan juga sebagai single parents dari satu orang anak yang kini berusia lima tahun. Di kota itu, ia tinggal bersama ibunya yang merupakan pensiunan guru SD.
"Bu, aku pamit berangkat kerja dulu. Semua keperluan sekolah Arkanza telah aku siapkan di kamar. Sarapan untuk Ibu dan Arkanza pun telah kusiapkan di atas meja makan. Aku harus pergi sekarang, sebab Pak Putra hendak pergi ke Jakarta, menemui istrinya di rumah sakit," tutur Nadira kepada ibunya.
"Iya, Nak. Kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut! Ingat, keselamatan kita adalah hal yang paling penting dibandingkan dengan ketepatan waktu tiba di rumah pasien. Walaupun sama-sama penting, jangan sampai kamu melakukan tindakan bodoh yang dapat mencelakai dirimu sendiri," pesan Nani, ibunda Nadira.
Nadira tersenyum manis hingga lesung pipi wanita itu tergambar di bibir. "Muhun, Bu," jawabnya. Muhun merupakan bahasa Sunda yang mempunyai arti 'iya, betul atau betul.'
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Assalamu a'laikum." Nadira mencium punggung tangan Nani, lalu melangkah menuju pekarangan rumah. Di depan sana sudah ada tukang ojek langg@n@n Nadira menunggu dengan setia.
Sesampainya di kediaman Putra, ia disambut hangat oleh sang empunya rumah. Tampak pria paruh baya tersenyum lebar melihat perawat pribadi anaknya telah berdiri di ambang pintu.
"Selamat pagi, Pak. Maaf, saya datang terlambat. Tadi saya harus mampir ke bengkel sebentar guna mengisi angin." Nadira memberikan alasan kepada Putra mengapa dirinya datang terlambat. Meskipun terlambat hanya sepuluh menit dari waktu biasanya, ia tetap merasa tidak enak hati karena telah membuat Putra menunggu terlalu lama.
Putra terkekeh pelan ketika mendengar penjelasan Nadira. Entah kenapa saat melihat wanita itu, ia kembali teringat akan sosok Arumi--mantan menantunya. Mempunyai kepribadian polos, lemah lembut dan sangat menghormati orang tua itulah kesan pertama ketika bertemu dengan wanita di hadapannya.
__ADS_1
Pria itu sempat berpikir ingin menjodohkan Mahesa dengan Nadira. Walaupun tahu bahwa hingga detik ini anak semata wayangnya itu belum juga dapat melupakan masa lalunya. Namun, ia akan mencobanya siapa tahu Tuhan memang memberikan kesempatan kepada anak semata wayangnya untuk mengecap kembali manisnya kehidupan bersama orang tercinta.
"Tidak masalah. Itu semua murni kecelakaan, tak bisa diprediksi oleh siapa pun termasuk dirimu sendiri," jawab Putra bijak.
Pria itu melirik sebuah benda bundar melingkar di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi, petanda ia harus bergegas pergi ke Jakarta. "Ra, saya titip Mahesa sebentar. Bila butuh bantuan, jangan sungkan meminta si Mbok untuk membantumu."
Nadira masih mematung di tempat ketika kendaraan roda empat milik Putra melaju dengan kecepatan sedang. Terus menatap hingga mobil itu menghilang dari pandangan. Ia mendesaah kasar. Entah sudah berapa kali ia melakukan tindakan yang sama guna menyingkirkan rasa gugup dalam diri.
"Ayolah, Ra, jangan kamu perlihatkan kegugupanmu di hadapan Pak Mahesa. Bersikaplah profesional dan jangan libatkan perasaanmu ketika sedang bertugas," gumam Nadira, mengingatkan dirinya untuk fokus dalam bekerja. Tidak mau mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan.
Tangan kanan wanita itu menjinjing sebuah tas berisi alat kesehatan yang biasa digunakan oleh tenaga medis untuk memeriksa pasien. Seperti, tensi meter, termometer serta kotak P3K tersedia di dalamnya.
Melangkah dengan anggun memasuki bangunan satu lantai. Ia hendak pergi ke kamar yang biasa digunakan olehnya untuk menaruh barang bawaan dan juga dijadikan tempat beristirahat selama bekerja di rumah sang pasien. Akan tetapi, gerakan wanita itu terhenti saat ia melintas di depan kamar Mahesa. Tanpa sengaja matanya yang suci melihat sebuah pemandangan langka di depan sana. Pasiennya tengah dalam keadaan telanjang dada, dengan menampilkan bagian depan tubuh tanpa ada sehelai kain pun menutupi.
Nadira membeku di tempat sambil terus memandangi seseorang di depan sana tanpa berkedip sedikit pun. Berkali-kali menelan saliva susah payah dan tanpa sadar ia meremas tas jinjing di tangan kanannya dengan keras. Namun, kegiatannya itu harus terhenti saat ia mendengar sesuatu terjatuh dari dalam kamar Mahesa.
Refleks, Nadira berhambur mendekati sumber suara. "Pak Mahesa! Apakah Bapak baik-baik saja?" tanya wanita itu sesaat setelah ia berada di dalam ruangan. Ia cukup terkejut ketika melihat pria tampan itu tengah tergeletak di lantai dengan posisi miring ke kanan.
Walaupun sudah beberapa kali melakukan terapi, tetapi Mahesa belum dapat bangkit sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh sebab itu, saat terjatuh ia tak bisa langsung berdiri melainkan menunggu seseorang untuk memapah tubuhnya yang jangkung ke atas tempat tidur.
"Jangan banyak omong! Cepat bantu saya berdiri!" sembur Mahesa.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Nadira segera membantu Mahesa. Berjongkok di sebelah tubuh pria itu, kemudian meraih tangan kanan pasiennya dan melingkarkan di pundak wanita berseragam perawat. Jantung wanita itu kembali berdegup tak beraturan hingga rasanya mau copot dari tempatnya.
Posisi Nadira dan Mahesa begitu dekat bahkan wanita itu bisa merasakan embusan napas sang lelaki menerpa wajah. Seketika isi kepala ibu satu orang anak kosong melompong. Ia tak bisa berpikir jernih hingga wanita itu pun lupa bagaimana rasanya bernapas.
"Mau sampai kapan kita berdiri seperti ini! Aku sudah lelah dan ingin segera duduk di atas ranjang."
Suara berat Mahesa mengembalikan pikiran Nadira yang sempat tersesat pada sebuah dimensi lain. Lantas, wanita itu mengerjapkan mata berkali-kali dan segera membawa tubuh sang pasien mendekati pembaringan.
Wanita itu menumpuk dua bantal di belakang punggung Mahesa agar pasiennya merasa nyaman. "Pak Mahesa, apakah ada anggota tubuh Anda yang terluka saat terjatuh barusan? Biar saya obati sekarang jika memang ada."
Mahesa menarik selimut yang terlipat rapi di ruang kosong sebelahnya hingga kain berwarna biru langit menutupi bagian bawah tubuh pria itu. "Tidak perlu. Anggota badanku tak terluka sedikit pun," sahutnya ketus. Entah kenapa, ia merasa tidak nyaman berada terlalu dekat dengan wanita lain semenjak tersadar dari koma. "Lebih baik kamu keluar sekarang! Aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun!"
"Tapi, Pak--" sergah Nadira. Masih belum puas dengan jawaban Mahesa. Ingin memastikan sendiri jikalau pasiennya itu memang dalam keadaan baik-baik saja.
Namun, belum usai Nadira berkata, Mahesa telah lebih dulu menginterpusi. "Keluar sekarang, Nadira! Saya bilang keluar, ya keluar! Jangan ngeyel!" semburnya sambil menghunuskan tatapan tajam.
Nadira cukup tersentak mendengar nada bicara Mahesa yang terkesan membentaknya. Hati wanita itu sakit bagai ditusuk oleh sebilah pisau tajam, menusuk hingga ke sumsum tulang belakang. Untuk pertama kali, ia dibentak oleh lelaki yang ... disukai olehnya secara diam-diam.
.
.
__ADS_1
.