Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Rencana Membesuk Mahesa


__ADS_3

Arumi menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan penuh cemas. Untuk kesekian kali ia memperhatikan pakaian yang dikenakan olehnya. Dress khusus ibu hamil berwarna merah jambu motif bunga-bunga dengan lengan sesiku membalut tubuhnya yang kini semakin berisi. Pipi chubby, perut buncit semakin membuat wanita itu terlihat lebih gemoy. Akan tetapi, ia tak memusingkan bentuk tubuhnya saat ini yang terpenting ketiga calon anaknya dalam kandungan sehat walafiat tanpa ada kekurangan apa-apa.


Begitu pun dengan Rayyan, ia tidak menunjukan aksi protes saat timbangan badan Arumi yang setiap hari semakin bertambah. Napsu makan meningkat dari yang biasanya sehari tiga kali, semenjak hamil bisa sampai empat kali dengan porsi yang cukup banyak karena ada tiga janin dalam tubuh istri tercinta. Namun, pria itu tetap memperhatikan kandungan gizi yang dikonsumsi oleh sang istri. Sayuran, buah-buahan yang kaya akan serat selalu diberikan untuk mencegah konstipasi atau susah buang air besar. Keadaan yang sering dialami oleh hampir seluruh ibu hamil di belahan dunia manapun.


"Kamu sudah siap?" tanya Rayyan. Pria itu melangkah masuk ke dalam kamar. Ia baru saja mengambil beberapa laporan pekerjaan yang hendak diberikan kepada Firdaus. Walaupun Firdaus adalah papa kandungnya, tetapi ia berkewajiban menyampaikan laporan kepada sang papa setiap dua minggu sekali.


Arumi menoleh ke samping dan menatap wajah Rayyan. Wanita itu memaksa tersenyum, menyembunyikan kecemasan yang tengah dirasa olehnya. "Sudah, Mas," jawabnya singkat.


Rayyan memicingkan mata, sambil memperhatikan air muka Arumi yang terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Sebagai calon ayah dan suami yang mencintai istri, tentu ia tak mau istrinya memikul beban berat.


"Katakan padaku, apakah ada hal yang mengganjal pikiranmu?" tanya Rayyan penuh selidik.


Arumi melongo dengan pupil mata melebar sempurna. Ah, ia nyaris saja lupa jikalau Rayyan dapat membaca isi pikirannya. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan apa pun dari sang suami.


Menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. Teknik relaksasi yang sering digunakan saat ia sedang melakukan meditasi di atas matras yoga. Teknik relaksasi itu cukup membantu di saat sedang mengalami gugup atau memendam emosi.


"Mas, aku cuma gugup. Bagaimana kalau ternyata usaha kita tak membuahkan hasil? Apakah mereka akan menyalahkanku karena dinilai tak bersungguh-sungguh membantu? Jujur, aku takut jika yang kita lakukan ini tak membuahkan hasil apa-apa," cicit Arumi.


"Jadi maksudmu, kamu tidak yakin kalau cara ini dapat membantu mantan suamimu agar segera tersadar yang koma. Begitu?"


Dokter cantik itu menghela napas kasar. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia pesimis jika kehadirannya dapat membuat Mahesa kembali sadar setelah hampir sepuluh bulan lamanya mengalami koma akibat kecelakaan mobil beberapa bulan lalu.

__ADS_1


Rayyan maju dua langkah ke depan, lalu menangkup kedua tangan di pipi Arumi yang terlihat lebih chubby. Pipi itu terasa lembut bagai mochi, berwarna putih dan sangat lezat.


Pria itu tersenyum menenangkan. "Bukankah kita sudah sepakat apa pun hasilnya nanti, kamu tetap membesuk mantan suamimu? Kalau memang ternyata dia tidak sadarkan diri setelah kamu datang, keluarga pasien tak bisa marah dong apalagi menuntut. Tidak ada sejarahnya seorang relawan disalahkan atas sesuatu yang tak pernah ia lakukan."


"Seharusnya mereka itu berterima kasih karena kamu sudah bersedia meluangkan waktu untuk menemui Mahesa. Bukan perkara mudah membesuk seseorang yang telah melukai hati kita. Butuh keberanian dan mental kuat, sebab di dalam ruang ICU nanti, kamu akan diminta bercerita seolah sedang berkomunikasi dengan seseorang."


"Saat kamu bercerita, secara tidak langsung memori ingatanmu kembali tergali. Pikiranmu seakan terbang ke sebuah dimensi di masa lalu. Sedangkan di masa lalu, bukan hanya kenangan indah yang kalian lalui bersama, tetapi juga kenangan pahit yang mampu membuatmu kembali teringat betapa sakitnya hatimu saat melihat pria itu memadu kasih bersama wanita lain."


"Jadi, mereka tidak punyak hak untuk memarahimu karena tak berhasil membangunkan Mahesa dari koma." Rayyan membelai wajah Arumi dengan lembut. "Namun, kalau kamu memang masih ragu dan enggan menemui Mahesa, kita batalkan saja. Aku akan menghubungi Pak Putra dan memberitahu jika kita bisa membantunya."


Arumi menggeleng kepala cepat. "Jangan! Aku tidak mau mengecewakan Om Putra. Beliau sudah menunggu hari ini sejak lama, setelah hari yang dinanti tiba mana mungkin kita membatalkan janji yang telah disepakati bersama."


Dengan bibir gemetar disertai napas tertahan, wanita itu berucap lirih. "Kita temui Mas Mahes di rumah sakit sekarang. Tidak ada salahnya mencoba. Kalau memang percobaan pertama gagal, aku akan mencobanya kembali sampai pria itu kembali sadar."


Rayyan tersenyum bangga, karena istrinya itu memiliki hati bersih tanpa noda sedikit pun. Bersedia membantu orang yang pernah menorehkan luka di dalam hati.


Pria itu mengecup puncak kepala Arumi, menghirup aroma khas rosemary dan gingseng favoritnya. Keharuman shampo yang selalu membuat hari-harinya terasa lebih berwarna.


Seandainya dulu Mahesa tidak berselingkuh, mungkin saat ini ia masih hidup melajang. Menjalani kehidupan sehari-hari dengan sangat membosankan. Melakukan pekerjaan yang terkadang menguras tenaga dan pikirannya sebagai seorang dokter.


Akan tetapi, kini hidupnya jauh lebih bermakna semenjak bertemu dengan Arumi. Bersama wanita itu, ia bisa merasakan arti cinta yang sesungguhnya. Walaupun wanita itu pernah membina rumah tangga sebelumnya, tetapi ia tetap mencintai dan menyayangi sang istri.

__ADS_1


Rayyan membawa tubuh Arumi ke dalam pelukan. Perut buncit sedikit menghalangi tubuh mereka agar semakin merapat. "Semoga usaha kita membuahkan hasil, dan kamu bisa secepatnya terlepas dari keluarga Adiguna."


"Aamiin. Semoga saja ya, Mas." Arumi membalas pelukan Rayyan. Mengusap lembut punggung pria itu.


***


Di sisi lain, tampak Putra dan Kayla sedang menunggu kedatangan Arumi. Hubungan antara menantu dan mertua itu semakin dekat. Putra bahkan memberikan akses pada mantan model itu untuk bisa bertemu dengan Mahesa tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi dan tentunya secara gratis.


Ia sengaja menyembunyikan kebenaran itu dari Naila, sebab tak mau jika istrinya itu tahu kalau menantu yang dulu sangat diharapkan dapat memberikan keturunan pada keluarga Adiguna. Namun, karena sebuah kecelakaan membuat mantan model itu dibuang begitu saja layaknya barang rongsok. Kini Kayla dapat dengan leluasa bebas keluar masuk ruangan ICU.


"Om, kira-kira Arumi akan datang ke sini tidak ya?" tanya Kayla lirih. Wanita itu tengah mondar mandir di sepanjang lorong rumah sakit yang tampak sepi dari pengunjung.


Pria paruh baya itu menghela napas panjang. Tak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya, ia pun tak begitu yakin kalau mantan menantunya bersedia datang membesuk Mahesa di rumah sakit. Terlebih mengingat perlakuan yang pernah dilakukan kepada Arumi di masa lalu, membuatnya ragu apakah mungkin dokter cantik itu memenuhi janjinya.


"Kita berdo'a saja, semoga Arumi memang datang ke sini dan menetapi janjinya kepada kita."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2