
Waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang. Sesuai rencana, Arumi akan pergi ke mall yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah sakit. Ia sengaja memilih mall terdekat sebab pukul dua siang nanti akan ada rapat bersama beberapa petinggi rumah sakit untuk menyambut mahasiswa keperawatan yang akan melakukan praktek kerja di rumah sakit tersebut.
"Kamu mau makan siang di mana, Dokter Rumi?" Kali ini Rayyan menyematkan kata dokter di depan nama Arumi sebab mereka berada di lingkungan rumah sakit. Kebetulan, suasana di sekitar pun cukup ramai.
Arumi melepaskan jas putih miliknya di gantungan pakaian, kemudian menyampirkan sling bag di antara pundak dan ketiak. "Aku akan pergi ke mall di dekat sini. Kemungkinan sekalian makan siang di sana. Kenapa? Mau ikut makan bareng?" tanyanya basa-basi.
Tanpa berpikir panjang, pria itu menganggukan kepala. "Boleh, tapi kamu traktir ya? Aku ingin menagih janji atas hutangmu beberapa hari lalu."
Arumi menghela napas panjang. Niat hati hanya sekadar basa-basi akan tetapi pria di sisinya itu menganggap serius perkataannya.
"Oke. Aku akan mengajakmu makan di restoran all you can eat. Bagaimana? Kamu tidak keberatan kan?"
"Sip! Tidak masalah." Pria itu mengangkat ibu jari ke udara. "Pakai mobilku saja untuk menghemat BBM."
'Bagus, Rayyan. Pepet terus jangan kasih kendor,' batin Rayyan.
Maka, berangkatlah keduanya menaiki mobil yang akan membawa ke sebuah mall terdekat.
Sepanjang perjalanan, tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir keduanya. Rayyan fokus mengendarai kendaraan roda empat itu, sementara Arumi yang duduk di sebelah pria itu menatap keluar jendela.
Turun dari mobil, Rayyan kembali melancarkan modusnya untuk mendekati Arumi. Ia jadi semakin bersemangat ketika Rio dan Rini memberikan lampu hijau untuk dapat meluluhkan sang janda.
Pria itu menggandeng tangan Arumi dengan sangat posesif. Seakan-akan ia takut ada orang yang merebut wanita incarannya.
"Kamu mau cuci mata dulu atau langsung makan siang?" tanya Rayyan ketika ia dan Arumi berdiri di depan pintu lift.
"Rencananya sih aku ingin membeli sesuatu sebelum makan siang. Namun, jika kamu sudah lapar maka sebaiknya kita langsung pergi ke restoran. Aku tidak mau dipecat dari rumah sakit karena disalahkan atas tuduhan menelantarkan anak orang yang sedang kelaparan," canda Arumi.
Tawa Rayyan kencang melesak. Untung saja saat itu hanya ada dia dan Arumi yang sedang menunggu lift bergerak ke lantai bawah. Sehingga tingkah mereka tidak jadi bahan tontonan pengunjung lain.
"Hanya menunggu satu hingga dua jam saja tidak akan membuatku mati kelaparan. Dulu, aku dan mendiang Mama pernah kelaparan selama dua hari karena tak memiliki uang akibat si tua bangka itu terlalu sibuk bermesraan dengan wanita sialan sehingga pria itu melupakan anak dan istri yang sedang menunggu di rumah."
__ADS_1
"W-wanita sialan. Maksud kamu, siapa Ray?" Arumi tergagap, sama sekali tak mengerti arah pembicaraan Rayyan.
Semakin lama mengenal Rayyan, Arumi semakin merasa ada sebuah rahasia yang disembunyikan oleh pria itu. Namun, ia tak memiliki keberanian untuk menanyakan secara langsung pada partner kerjanya itu. Kalaupun nanti rahasia itu terbongkar, Arumi ingin Rayyan sendiri yang menceritakan padanya.
"Lupakan saja. Anggap aku tak pernah berbicara apa pun." Lalu Rayyan menarik tangan Arumi ketika pintu lift terbuka dengan sempurna. Ia menekan tombol angka tiga, tempat menjual aneka ragam pakaian, sepatu, tas serta koleksi parfum.
Pria itu membawa Arumi masuk ke sebuah toko yang menjual khusus produk kecantikan serta menjual aneka ragam parfum merk terkenal.
Seorang SPG berpakaian rapi menyapa Rayyan dan Arumi. "Halo, selamat siang, Bapak dan Ibu, ada yang bisa dibantu." Tersenyum ramah ke arah dua insan manusia tersebut.
"Saya sedang mencari parfum untuk wanita ini, Mbak. Tolong bantu dia pilihkan aroma yang pas sesuai dengan karakternya. Berapa pun harganya tidak masalah," ujar Rayyan.
Arumi mengerutkan alis sambil menatap kebingungan ke arah Rayyan.
Pria itu seolah mengerti dengan tatapan mata itu. "Aku akan membelikan parfum khusus untukmu sebagai tanda kalau hubungan kita semakin dekat," bisiknya.
Kalimat itu terdengar ambigu di telinga Arumi. Maksud pria itu apa? Kenapa perkataan itu syarat akan makna tersembunyi di dalamnya. Ingin rasanya ia menyuarakan isi hatinya tetapi Rayyan keburu mendorong tubuh Arumi mengekori SPG toko.
"Di toko kami banyak merk serta aroma parfum yang berbeda-beda. Namun, jika melihat dari karakter dan kepribadian Anda, aroma parfum ini sangat cocok sekali bila digunakan oleh Ibu." SPG wanita itu meletakkan satu botol parfum sebagai tester.
"Aroma parfum ini mencerminkan wanita lembut dan feminin tetapi terkesan elegan. Biasanya jenis aroma ini banyak disukai para kaum Adam."
"Ehm ... saya yakin, suami Ibu yang duduk di sana pasti akan menyukainya," timpal SPG itu sambil melirik ke arah Rayyan.
Sontak, perkataan SPG itu membuat Arumi tersedak salivanya sendiri. Ia tak menyangka wanita di sisinya dapat mengira jika dirinya dengan Rayyan adalah sepasang suami istri. Sungguh, sangat tidak masuk akal. Pikir Arumi.
Arumi enggan berkomentar. Ia lebih memilih melanjutkan kegiatannya. Mencoba beberapa botol minyak wangi yang ditawarkan pada wanita itu.
"Saya mau yang ini saja, Mbak. Tolong dibungkus." Arumi menyodorkan satu botol parfum ke hadapan SPG.
Setelah hampir lima belas menit menimbang serta memilih aroma parfum yang disuguhkan padanya, pilihan Arumi jatuh pada aroma parfum lily of the valley.
__ADS_1
"Akan saya bungkus. Ibu bisa langsung ke kasir untuk melakukan transaksi."
Rayyan yang tengah duduk di sofa tunggu, langsung memasukan telepon genggam miliknya ke dalam saku celana.
"Sudah dapat barang yang kamu butuhkan?" Pria itu beranjak dari sofa lalu merapikan penampilan Arumi yang sedikit berantakan.
Deg!
Lagi-lagi Arumi merasakan jantungnya berhenti detak saat Rayyan memberikan perhatian lebih padanya. Bentuk perhatian kecil itu membuat Arumi menjadi salah tingkah.
'Pantas saja SPG itu mengira Rayyan suamiku. Lah wong sikap pria itu begitu perhatian. Dia memperlakukanku sepeeti kekasihnya. Padahal di antara kami hamya sebatas teman biasa,' batin Arumi.
Arumi mengangguk sambil menutupi raut wajah kemerahan akibat perhatian yang diberikan oleh pria itu.
Usai melakukan transaksi, Rayyan kembali menggandeng tangan Arumi. Sebelah tangan menggenggam erat jemari lentik sang wanita, tangan yang lain membawa paper bag berisi botol minyak wangi milik Arumi.
"Ray, terima kasih banyak karena kamu sudah membelikan barang yang kubutuhkan. Namun, aku benar-benar merasa tidak enak hati padamu. Kesannya seperti aku ini cewek matre yang memanfaatkan orang lain demi kepentinganku sendiri."
Rayyan menghentikan langkah. Menyentuh bahu Arumi lalu berkata, "Jangan pernah beranggap seperti itu. Aku sama sekali tidak merasa telah dimanfaatkan olehmu. Jikalau nanti ada orang yang beranggapan bahwa kamu memanfaatkanku, katakan saja padaku maka aku akan memberikan mereka pelajaran."
Arumi mengangguk. "Oke. Aku pegang kata-katamu."
Di sudut lain, sepasang mata tengah menatap penuh kebencian ke arah Arumi dan Rayyan. Tangan mengepal sempurna hingga memperlihatkan urat-urat di sana.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia," ujar orang itu.
TBC
.
.
__ADS_1
.