
Sementara itu, di kediaman Firdaus, Lena tengah duduk di depan meja rias. Menyisir rambut hitam yang sebagian sudah mulai keperakan. Akan tetapi, wanita itu rajin menyemir rambut hingga warna keperakan itu tersamarkan.
Firdaus baru saja selesai berolahraga. Meskipun usianya sudah tak lagi muda, tapi ayah dua orang anak itu selalu menyempatkan diri walau hanya tiga puluh menit tuk berolahraga. Pria itu mengernyitkan dahi petanda bingung melihat istri tercinta sudah rapi mengenakan gaun panjang dengan bagian kerah baju berbentuk V serta tatanan rambut yang disangul rapi membuat penampilan Lena terlihat begitu memesona.
"Ma, kamu mau ke mana? Baru pukul setengah sembilan pagi tapi kamu sudah rapi. Ada janji bertemu teman-teman geng sosialitamu?" tanya Firdaus seraya mendekati istrinya yang sedang duduk di kursi.
Mendengar suara berat seseorang, Lena menatap pria itu lewat pantulan cermin di depannya.
Sambil mengaplikasikan lipstick di bibir, Lena menjawab, "Aku ada arisan di rumah Jeng Mawar pukul sepuluh hingga dua belas siang. Setelah itu, aku akan menemui Arumi di rumah sakit."
Raut wajah Firdaus berubah seketika. Mengingat nama Arumi, ia teringat kembali akan kejadian kemarin sore. Nama itulah yang berhasil meluluhkan hati putra sulungnya bersama mendiang istri pertamanya.
"Kenapa, Pa? Mama boleh 'kan menemui calon menantu kita?" Lena menegaskan kata calon menantu di akhir percakapan.
Wanita itu menyudahi kegiatannya merias diri di depan cermin. Ia bangkit dari kursi, kemudian berjalan mendekati lemari pakaian. Tampak wanita itu tengah mencari sesuatu di dalam sana. Detik berikutnya, mata Lena berbinar bahagia.
"Sekalian aku ingin memberikan ini pada calon istri Rayyan."
Dengan sangat hati-hati, Lena mengeluarkan sebuah cincin emas berlian bermata satu di atasnya. Terlihat sederhana, tapi mampu menyilaukan mata orang yang melihatnya.
Bola mata Firdaus terbelalak tatkala melihat cincin warisan yang pernah diberikan mendiang ibunya kepada Mei Ling telah berada dalam tangan istri keduanya Lena.
Cincin berlian bermata satu itu merupakan warisan turun temurun dari zaman nenek moyang Firdaus. Cincin itu akan diberikan oleh ibu dari calon mempelai pria kepada calon menantu keluarga tersebut.
Dulu, sebelum Firdaus menikahi Mei Ling, nenek Rayyan memberikan cincin itu sebagai simbol bahwa wanita berdarah Tionghoa itulah yang akan menjadi menantu di keluarga Wijaya Kusuma. Selain Mei Ling, tidak ada lagi wanita lain yang dapat menggantikan wanita itu sebagai menantu di keluarga tersebut. Meskipun kini Mei Ling sudah tak ada lagi di dunia ini, tapi posisinya sebagai nyonya muda Wijaya Kusuma tetap kekal abadi sampai Rayyan mempersunting wanita tuk dijadikan istri.
Oleh karena itu, hingga detik ini posisi Lena di keluarga Wijaya Kusuma tidak ada arti apa-apa. Ia hanya istri kedua yang tak diakui keberadaannya oleh keluarga Firdaus yang tinggal di Yogyakarta. Hingga detik ini pun, status pernikahan wanita itu dengan Firdaus hanya sebatas istri siri karena tidak tercatat di pengadilan negeri sipil.
"C-cincin ini, kenapa ada di kamu, Ma? Bukankah cincin itu telah hilang sebelum kecelakaan itu terjadi?" tanya Firdaus antara percaya dan tidak percaya jika warisan keluarga milik nenek moyangnya masih tersimpan rapi, awet dan terawat.
__ADS_1
Lena menggelengkan kepala sambil berkata, "Tidak, Pa. Cincin warisan keluargamu tidak pernah hilang. Mbak Mei Ling sengaja berbohong agar kamu tidak terus memaksanya untuk menyerahkan harta warisan Wijaya Kusuma."
"Saat Mbak Mei Ling meninggalkan rumah dan kecelakaan naas itu terjadi, cincin ini tersemat di jari manis istri pertamamu. Dia sengaja menitipkannya padaku untuk diberikan pada calon istri Rayyan kelak. Dan aku terus menyimpannya dengan rapi hingga waktunya tepat, barulah aku kembalikan pada pemiliknya yang sah," papar Lena panjang lebar.
Kelopak mata Lena berkaca-kaca, penglihatan wanita itu mulai buram. Butiran kristal mulai bergelayut manja di pelupuk mata. Hidung wanita itu terasa masam. Dadanya terasa sesak jika mengingat bagaimana Mei Ling menghadapi sakaratul maut tepat di hadapannya. Ia tak dapat melakukan apa-apa selain membantu istri pertama dari suaminya untuk melafalkan kalimat syahadat sebelum malaikat maut menjemput.
Lena menutup kembali lemari pakaian. Namun, sebelum itu ia terlebih dulu memasukan cincin warisan itu ke dalam tas. Berjalan perlahan mendekati Firdaus.
Dengan sorot mata penuh kekecewaan, Lena menatap manik coklat milik suami tercinta.
"Kenapa Papa memaksa Mbak Mei Ling untuk menyerahkan cincin ini Papa 'kan tahu, cincin ini adalah simbol pengakuan dari keluargamu terhadap menantu wanita di keluarga Wijaya Kusuma tapi kenapa Papa malah mendesak Mbak Mei Ling untuk mengembalikannya."
"Apa ... karena Papa ingin Mama memakai cincin tersebut?" Lena menatap sendu pria itu. "Papa ingin Mama menggantikan posisi Mbak Mei Ling di keluarga Wijaya Kusuma?"
Firdaus bergeming. Ia sama sekali tak merespon semua ucapan istrinya. Pikiran pria itu kosong, entah ke mana perginya semua kepintaran yang ia miliki selama ini. Biasanya ia akan menyangkal apabila ucapan sang lawan tak sesuai dengan hati nuraninya namun kali ini pria itu membisu, diam seribu bahasa.
"Mama tidak menyangka Papa akan sekejam itu pada Mbak Mei Ling. Mama benar-benar kecewa, Pa."
Air mata wanita itu jatuh berderai. Tubuhnya bergetar hebat. Ia tidak tahan lagi menahan butiran kristal itu agar tak jatuh membasahi pipi.
"Perselingkuhan kita saja sudah menorehkan luka di hati wanita itu. Dan Papa dengan tak berprikemanusiaan mendesak Mbak Mei Ling menyerahkan cincin itu untuk diberikan padaku."
"Papa kejam! Sungguh, Mama tidak mengira Papa akan kehilangan akan sehat hanya demi memberikan sebuah pengakuan pada Mama di depan seluruh keluarga Wijaya Kusuma."
"Jika saat itu Mbak Mei Ling tidak kecelakaan, apakah Papa akan tetap memaksa dia menyerahkan sesuatu barang yang sudah menjadi haknya?" tanya Lena lirih, hampir menyerupai desau angin di musim gugur.
Lena tahu, di masa lalu ia pun begitu jahat terhadap Mei Ling karena telah merusak rumah tangga yang dipertahankan susah payah oleh wanita itu. Namun, ia tak menyangka jika pria yang begitu dicintainya tega melakukan sesuatu hal di luar akal sehat hanya karena ingin agar Lena diakui oleh seluruh keluarga Wijaya Kusuma sebagai istri kedua dari Firdaus.
"Cukup, Ma. Jangan diteruskan lagi," pinta Firdaus. Ia pun tak kalah sedih bila mengingat perbuatan yang dilakukannya di masa lalu.
__ADS_1
Dulu ia begitu bodoh karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik Mei Ling. Seorang istri setia, penuh perhatian dan tulus mencintainya. Karena keegoisannya, ia mengorbankan istri pilihan kedua orang tuanya padahal wanita itu telah menjalankan tugasnya sebagai istri yang baik bahkan memberikannya seorang putra. Namun, cinta itu tak kunjung hadir di dalam hati.
Lena berjalan perlahan mendekati ranjang, mendudukan bokong di tepian ranjang empuk yang selama bertahun-tahun menjadi saksi bisu penyatuan dua insan itu.
"Kita sudah banyak melakukan dosa terhadap Mbak Mei Ling dan Rayyan, Pa. Apa Papa tidak ingin memperbaiki hubungan yang sudah renggang ini? Papa tidak ingin Rayyan kembali menjadi anak periang dan sangat mengagumi Papa sebagai seorang super hero-nya?"
Firdaus menatap sendu ke arah istrinya. Bola mata pria itu memerah karena menahan butiran kristal agar tak meluncur di kedua pipi.
"M-maksud, Mama?" tanya Firdaus dengan suara parau.
Lena membalas tatapan mata suaminya dengan sorot mata yang tak terbaca.
"Kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta maaf pada Rayyan dengan cara memberikan restu padanya untuk menikahi Arumi. Mama tahu, kesalahan kita di masa lalu sulit untuk dimanfaatkan bahkan sampai ajal menjemput pun kesalahan kita tak kan bisa dimaafkan."
Lena menjeda kalimatnya. Ia menarik napas panjang, guna mengisi pasokan oksigen di dalam paru. "Setidaknya, kita berusaha agar Rayyan kembali menjadi Rayyan yang dulu. Seorang anak periang, mudah tersenyum dan sangat menyayangi Papa-nya. Meskipun dia tidak bisa memaafkan kita, tapi tidak ada salahnya kita mencoba."
Firdaus mengerjapkan kedua mata. Menghembuskan napas secara kasar. Berbaikan dengan anak sulungnya merupakan sebuah impian terbesar dalam hidupnya. Walaupun kehadiran Rayyan di dunia ini karena sebuah keterpaksaan, tapi rasa cinta dan kasih sayang sebagai seorang ayah terhadap anaknya tumbuh bersemi dalam hati pria itu.
Akan tetapi, untuk menerima Arumi sebagai menantunya, ia merasa belum siap. Banyak hal yang membuat pria paruh baya itu sulit menerima Arumi meskipun dia adalah salah satu dokter berprestasi di rumah sakit, tetap saja itu tidaklah cukup tuk menjadikan Arumi sebagai calon menantunya.
"Papa sangat ingin berbaikan dengan Rayyan, tapi untuk menerima Arumi sebagai calon menantu keluarga ini, rasanya Papa tidak setuju, sebab--"
.
.
.
__ADS_1