Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Berita Kehamilan Arumi untuk Putra dan Kayla


__ADS_3

"Tentu saja istriku datang. Bukankah kita sudah sepakat bahwa hari ini dia akan datang membesuk Mahesa di rumah sakit," jawab Rayyan. Sengaja menekankan kata 'istriku' seolah ia ingin menegaskan bahwa kehadiran sang istri di tempat itu hanya sekadar membantu, tanpa ada niatan untuk kembali bersama jikalau Mahesa telah sadar dari koma. Rayyan tidak mau kalau Putra menganggap bahwa Arumi membantu pria paruh baya itu karena sang istri masih menyimpan rasa terhadap mantan suaminya itu.


Arumi tersenyum dalam hati. Lagi-lagi Rayyan menunjukan sifat posesifnya di hadapan orang lain. Walaupun terkesan lebay, tetapi ia memaklumi sikap yang ditunjukan oleh suaminya itu.


Putra sedikit canggung berada dalam situasi ini. Terlebih saat melihat sorot mata tajam ditujukan kepadanya. Dari tatapan mata itu ia dapat menyimpulkan bahwa Rayyan tidak suka basa-basi, pria itu ingin masalah ini lekas berlalu sesuai dengan harapan semua orang.


Pria itu berdehem, kemudian membalas sapaan Arumi. "Kabar, Om, baik-baik saja, Nak."


Netra mantan mertua Arumi memperhatikan sosok wanita di hadapannya dengan terus mengulum senyum di kedua sudut bibir. Hidung mancung, bibir mungil nan ranum, wajah cantik bagai boneka Barbie hidup, kulit putih bersih tanpa ada cacat sedikit pun. Wanita di hadapannya itu terlihat bagai Bidadari dari Kayangan. Ditambah sikap patuh, taat terhadap suami dan selalu bersikap baik terhadap mertua meski tak jarang Naila bersikap tak adil pada wanita itu, Arumi selalu menghormati ibu kandung dari mantan suaminya itu.


Putra kembali merasakan hatinya remuk redam, mengingat betapa bodohnya ia dulu karena bersikap acuh saat Naila merencanakan menjodohkan Mahesa dengan Kayla padahal Arumi adalah sosok menantu yang nyaris sempurna. Hanya belum dapat memberikan keturunan, ia membiarkan istrinya tercinta berbuat zolim terhadap menantunya sendiri.


"Pak Putra, sebelum Arumi masuk ke dalam ruang ICU, Bapak sudah memastikan bahwa Bu Naila tidak akan berbuat rusuh selama istri saya berada di sini 'kan?" tanya Rayyan untuk memastikan tentang kesepakatan yang telah dibuat bersama sebelum akhirnya pria tampan itu memberikan izin pada Arumi untuk datang membesuk Mahesa di rumah sakit.


Rayyan sengaja mengajukan syarat itu hanya untuk menjamin keselamatan Arumi beserta ketiga calon anaknya yang ada di dalam kandungan sang istri. Walaupun ada dia di sisi wanita itu, tetapi untuk berjaga-jaga agar semua kondusif dan tidak mengganggu pasien lain yang ada di ruangan tersebut.


Suara berat Rayyan mengembalikan kesadaran Putra yang sempat melayang selama beberapa detik. Pria itu mengusap ujung hidungnya yang mancung sebelum menjawab pertanyaan suami dari mantan menantunya. "Dokter Rayyan tenang saja. Saya bisa jamin kalau istri saya tidak akan datang mengganggu saat Arumi tengah bertemu dengan Mahesa."


Rayyan mengangguk puas, setidaknya dapat bernapas lega karena Naila tidak akan menampakkan batang hidungnya kala sang istri sedang berada di dalam ruangan.


"Baguslah kalau begitu. Saya meminta Pak Putra melakukan ini semua karena tidak mau hal buruk menimpa Arumi. Terlebih lagi saat ini istri saya sedang berbadan dua. Jadi, harap maklum ya!" Rayyan sengaja meninggikan satu oktaf suaranya, berharap Putra dan Kayla dapat mendengar berita itu.


Sejak tadi, baik Putra maupun Kayla tak menyadari kalau saat ini perut Arumi semakin buncit. Entah memang mereka acuh dan tak peduli apakah Arumi sedang hamil atau tidak, atau mungkin karena pikiran sedang kacau hingga tidak sadar bahwa wanita cantik yang diduga dapat membantu menyadarkan Mahesa dari koma, sedang berbadan dua.

__ADS_1


Bagai disambar petir di siang bolong, tubuh Kayla lemas seketika. Tungkainya tak lagi mampu menopang berat tubuhnya hingga nyaris terjerambab setelah mendengar kabar yang disampaikan oleh Rayyan. Kayla tak menyangka kalau wanita yang dulu dihina mandul, kini tengah mengandung buah cinta dari hasil pernikahannya yang kedua.


Ia berpikir, mana mungkin Arumi bisa hamil sedangkan dulu selama menikah dengan Mahesa, dokter cantik itu sulit mendapatkan momongan hingga pria yang saat ini terbaring tak sadarkan diri setuju berselingkuh dengannya demi untuk mendapatkan keturunan. Lantas, mengapa sekarang mantan model itu mendengar kabar bahwa istri pertama dari suaminya sedang hamil. Mungkinkah ini hanya karangan Rayyan belaka?


Sementara Putra, ia pun tampak terkejut kala mendengar kabar tersebut. Bola mata pria itu membulat sempurna dengan rahang terbuka lebar.


Dulu, ia membuang Arumi karena wanita itu belum juga memberikan pewaris untuk keluarga Adiguna. Namun, setelah sekian lama berlian itu ia buang tiba-tiba sebuah kabar mengejutkan hadir dan mengatakan bahwa mantan menantunya itu tengah mengandung. Sungguh, pria itu tidak tahu harus berkata apa karena lidahnya terasa kelu dan tak mampu berucap apa-apa.


'Rasakan kalian, emang enak kena mental! Makanya, jadi orang jangan suka menghina orang lain. Lihatlah, wanita yang dulu kalian hina rupanya tengah mengandung. Kalau sudah begini, apakah kalian masih bisa menghina istriku?' batin Rayyan.


Walaupun merasa puas karena telah membungkam mulut kedua orang jahat yang pernah menghina Arumi, tetapi ia memendam isi hatinya. Tak berani menyuarakan di hadapan Putra dan Kayla. Ia masih mempunyai hati nurani dan pikirannya masih waras. Mana mungkin berkata demikian di saat mereka tengah dirundung musibah.


Rayyan memang membenci Kayla yang merupakan orang ketiga dalam rumah tangga Arumi. Ia juga membenci Putra karena sebagai kepala keluarga tak mampu mendidik Naila menjadi istri yang patuh dan taat. Namun, bukan berarti ia dapat seenaknya saja membalas perbuatan mereka berdua.


"B-bagaimana mungkin Arumi bisa hamil. B-bukankah dia m--"


"Bu Kayla mau bilang kalau istri saya mandul, begitu?" ucap Rayyan sinis. Ia tahu apa yang ingin dikatakan oleh Kayla.


Rayyan tersenyum smirk, dan merangkul pundak sang istri. "Memangnya kalian mendengar sendiri vonis yang dijatuhkan oleh dokter kepada Arumi saat wanita itu tengah berobat ke rumah sakit? Ataukah itu semua hanya anggapan kalian saja untuk menghalalkan perbuatan salah yang dilakukan di masa lalu?" skak pria itu.


"Seharusnya, kalian semua memberikan dukungan pada Arumi agar ia semangat untuk mengikuti segala treatmen yang dokter berikan selama mengikuti program kehamilan. Bukan malah memberikan tekanan dan membuatnya semakin stress. Apakah Bu Kayla tahu, segala hinaan dan perbuatan kalian dapat mempengaruhi psikis seseorang. Apalagi kalian dengan seenaknya saja mengatakan bahwa Arumi mandul!"


"Apakah kalian tahu, kata mandul itu sangat keramat dan bisa menjatuhkan mental seorang wanita yang sudah lama menanti kehadiran sang buah hati? Ada perasaan sakit hati jika sebutan itu telah tersemat pada diri seseorang. Membuat wanita itu tak percaya diri, dan selalu dihantui pikiran-pikiran negatif yang malah memberikan dampak buruk bagi kesehatan."

__ADS_1


Rayyan menjeda kalimatnya sejenak, lalu kembali menatap tajam ke arah Putra dan Kayla. "Beruntungnya mental Arumi tidak lemah, sehingga ia kuat dan tak melakukan perbuatan konyol. Andai saja saat itu ia tak memiliki mental yang kuat dan mendapatkan dukungan dari Mama Nyimas serta Rini--sahabat sejatinya mungkin saat ini istriku sudah mendekam di rumah sakit jiwa karena mentalnya terganggu. Atau lebih mirisnya lagi, bisa saja saat ini jasad istriku terbaring di bawah gundukan tanah merah akibat tak tahan atas perlakuan yang kalian lakukan terhadapnya."


"Namun, rupanya Tuhan masih menyayangi Arumi sehingga istriku ini bisa berdiri tegak meski hinaan dan cacian datang silih berganti. Ia tetap menjadi istri setia, patuh dan taat terhadap suami walau ternyata apa pun yang dilakukannya tak memiliki arti apa-apa di mata kedua mertuanya." Rayyan tersenyum masam, dan bulir air mata menggenang di sudut mata. Memposisikan diri berada di posisi Arumi, tidaklah mudah. Bertahan di tengah badai menerpa, terus diterjang ombak dan gelombang besar namun wanita itu terus tegar hanya demi satu kata yaitu, atas nama cinta.


Arumi mengerjapkan mata berkali-kali, menghalau agar butiran kristal tak jatuh membasahi pipi. Ia terharu, karena Rayyan membela dirinya di hadapan orang-orang yang pernah menghinanya dulu. Pria itu memasang badannya untuk melindungi dirinya. Merasa bersyukur meski sikap Rayyan terkesan egois, arogan dan tempramental namun ia bisa bersikap gentleman saat membela wanita yang dicintainya.


Suasana hening kembali tercipta, tak ada satu orang pun mampu berkata-kata. Putra sedari tadi terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Sedangkan Kayla masih sedikit terkejut akan berita kehamilan Arumi.


Rayyan mendesaah kasar, lalu menatap wajah sendu Arumi. Tahu kalau suasana hati istrinya saat ini sedang melow.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi masuk dulu. Tidak baik kalau membuang waktu terlalu lama untuk membahas hal tidak penting seperti ini."


"Kita masuk sekarang, Babe!" ucap Rayyan lembut. Pria itu membimbing Arumi masuk ke dalam ruang ICU.


'Tuhan, atas izin dari-Mu, tolong sadarkan Mahesa dari koma.' Do'a Rayyan dalam hati. Memohon dengan tulus semoga Tuhan berbelas kasih dan membantu Arumi menyadarkan kembali Mahesa dari tidurnya yang panjang.


Arumi hanya menuruti perintah Rayyan dengan patuh, tidak menunjukan aksi protes ataupun menegur pria itu karena telah berucap panjang lebar di hadapan Putra dan Kayla.


Di dalam sana sudah ada satu orang perawat dan dokter Samuel, selaku dokter yang bertanggung jawab selama Mahesa di rawat di rumah sakit.


"Dokter Arumi dan Dokter Rayyan, sebelum kalian masuk ke dalam ruangan, tolong kenakan pakaian ini terlebih dulu." Salah satu wanita berseragam perawat menyodorkan dua buah pakaian khusus yang biasa dikenakan oleh pengunjung yang ingin membesuk pasien di ruang ICU.


Tangan Arumi terulur ke depan, menerima dua buah pakaian itu dan memberikannya satu untuk Rayyan.

__ADS_1


"Kalian bisa memakainya di sana. Jika sudah siap, Dokter Samuel dan saya akan menemani kalian masuk ke dalam," imbuhnya lagi. Lantas, pasangan suami istri itu masuk ke dalam ruang ganti dan mengenakan pakaian yang diberikan oleh perawat tadi.


__ADS_2