Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Bimbang


__ADS_3

Naura tampak berpikir sejenak sebelum menerima atau menolak tawaran bantuan yang diberikan oleh teman sekolahnya itu. Mendapat bantuan dari seseorang yang memang ahli dalam menaklukan hati seorang pria merupakan kesempatan emas bagi Naura, apalagi keahlian Kayla tidak perlu diragukan lagi.


Akan tetapi, haruskah ia berubah menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain? Merampas kebahagiaan teman sejawatnya demi egonya sendiri? Bukankah kedua orang tuanya mendidik ia agar menjadi wanita baik-baik sehingga tidak ada satu orang pun yang dapat merendahkannya? Wanita itu dilema antara menerima bantuan Kayla atau malah menolaknya.


Saat Naura tengah perang batin, Kayla mencoba memprovokasi wanita itu agar menerima tawarannya, sebab ini merupakan kesempatan baik untuk mencari sekutu agar ia dapat menghancurkan kebahagiaan Arumi.


"Ayolah, Naura, apa lagi yang kamu pikirkan. Ini merupakan peluang besar untukmu agar bisa mendapatkan Rayyan. Kapan lagi kamu bisa bersanding dengan pria yang begitu kamu cintai," bujuk Kayla. Wanita itu pantang menyerah, ia terus mengerahkan segala kemampuannya agar Naura turut andil dalam rencana balas dendam yang akan dilakukannya kepada Arumi.


"Aku benar-benar tulus membantumu, Ra. Tak ada niatan untuk meminta imbalan apa pun atas jerih payah yang kan kulakukan padamu." Kayla memasang wajah memelas. Wajah yang biasa ditunjukan pada Mahesa kala ia dan suami sirinya itu masih menjalani masa penjajakan, karena wajah itulah akhirnya mantan suami Arumi terjerumus ke dalam jurang yang bernama sebuah pengkhianatan.


Wanita cantik berhidung mancung mengembuskan napas panjang mendengar ucapan Kayla. Naura yakin, sang model benar-benar tulus ingin membantunya.


Ia menatap lekat manik coklat indah milik teman sekolahnya itu. Dipandanginya wajah teman terbaik semasa sekolah dulu. Salah satu teman yang terpilih untuk mengisi kisah kasihnya selama masa SMA.


"Aku tidak meragukan kebaikanmu sama sekali, Kay. Terlihat dari sorot matamu itu memancarkan ketulusan dan tidak ada sedikit pun niatan lain selain ingin membantuku mendapatkan Dokter Rayyan." Naura menjeda kalimatnya. Lagi-lagi, ia mengembuskan napas panjang berharap beban dalam dirinya segera terlepas. "Akan tetapi, aku tidak berniat merampas sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain."


"Aku tidak mau memaksakan orang lain agar dia menjadi milikku, sebab aku tahu akan ada harga yang dibayar jika nekad melakukan itu. Aku ... takut mendapatkan karma," ucap Naura lirih.


Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Naura, Kayla mendecak kesal.


"Ck! Karma apa, Ra? Kamu kalau jadi orang pintar sedikit dong! Kita hidup di era modern, masih saja percaya hal-hal begituan!"

__ADS_1


Bangkit dari kursi panjang, lalu melangkah maju tiga langkah ke depan. Memandangi pemandangan sekitar dari jendela besar yang ada di lorong rumah sakit. Pemandangan taman belakang rumah sakit yang ditumbuhi pepohonan besar, warna-warni bunga yang ditanam di dalam pot begitu memanjakan indera penglihatan.


"Karma itu tidak ada. Hanya orang-orang bodoh saja yang mempercayai takhayul itu! Buktinya, hingga detik ini Arumi dan orang-orang yang pernah jahat padaku baik-baik saja. Malah, mereka hidup bahagia sementara aku hidup menderita terus. Itu artinya ... karma itu tidak ada di dunia ini."


"Tidak! Karma itu berlaku bagi siapa saja yang berbuat zalim, Kay," sergah Naura cepat.


Ia bangkit mendekati Kayla, lalu berdiri si sisinya. "Jika karma tidak ada, lantas musibah yang menimpamu beberapa bulan lalu itu tergolong apa kalau bukan karma?"


Perlahan, Naura menyentuh pundak Kayla hingga posisi kedua wanita cantik itu saling berhadapan. "Kay, mencintai seseorang memang merupakan fitrah bagi manusia. Tidak ada yang melarangnya sama sekali, tapi cinta itu akan salah bila kita mencintai orang yang telah menjadi milik orang lain."


"Aku memang begitu mencintai Dokter Rayyan, jauh sebelum pria itu dekat dengan Dokter Arumi. Akan tetapi, tidak sedikit pun terbesit dalam pikiranku untuk merampas apa yang telah menjadi orang lain. Aku sakit hati kala pria itu menolak lamaranku, namun aku sadar jika cinta tak harus memiliki. Mungkin, banyak kelebihan Dokter Arumi yang tak dimiliki olehku sehingga Dokter Rayyan lebih memilih sahabatmu itu."


Jemari lentik itu mengusap lembut pundak Kayla, kemudian berucap, "Dan ... soal karma, ada atau tidaknya itu tergantung pemikiranmu saja. Aku tak dapat memaksakan pemikiranku terhadapmu karena kita memiliki pendapat masing-masing. Namun, yang harus kamu tahu, kecelakaan yang menimpamu beberapa bulan lalu bisa jadi merupakan sebuah teguran dari Sang Pencipta atas semua perbuatanmu terhadap Arumi."


"Seandainya saja kamu tidak tega merampas apa yang sudah menjadi milik sahabatmu, mungkin, Tuhan pun tidak akan tega memberikan cobaan hidup yang begitu berat terhadapmu. Namun, ada kalanya Tuhan memberikan cobaan berat kepada ummat-Nya untuk menguji batas kesabaran seseorang. Lagi pula, bukankah Tuhan itu tidak mungkin memberikan cobaan berat pada seseorang apabila orang tersebut tidak kuat menghadapinya?"


"Kayla, temanku tersayang. Kamu selamat dari kecelakaan itu merupakan sebuah mukjizat dari Tuhan. Dia telah memberikanmu kesempatan hidup tuk kedua kalinya," ucap Naura penuh kelembutan. "Oleh karena itu, selagi Tuhan masih memberikanmu kesehatan dan umur panjang, segera bertaubat. Mohon ampun pada-Nya dan minta maaflah pada Arumi."


"Aku yakin, setelah kamu melakukan itu semua, hidupmu akan terasa lapang tanpa rasa dendam dan penyakit hati lainnya." Naura berucap lembut, berusaha membantu Kayla agar temannya itu kembali ke jalan yang lurus. Agar hatinya terasa lapang tanpa rasa dendam sedikit pun.


Sebagai seorang teman yang tahu persis bagaimana kehidupan Kayla dulu, ia sangat mengerti mengapa model itu begitu membenci Arumi. Penderitaan yang dialami oleh Kayla sewaktu remaja dulu telah membuat wanita itu berubah menjadi wanita yang penuh ambisi dan diselimuti oleh rasa dendam yang setiap hari tumbuh bersemi dalam dirinya. Oleh karena itu, ia ingin agar teman baiknya bertaubat selagi tubuh masih bernapas dan jantung masih berdegup, Kayla berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi.

__ADS_1


Kayla menatap lekat Naura. "Kenapa aku harus meminta maaf pada Arumi, bukankah seharusnya dia yang meminta maaf padaku? Karena dia-lah hidupku menderita selama ini. Dia hidup bahagia, banyak mendapatkan cinta dan kasih sayang dari semua orang. Sementara aku? Hanya penderitaan dan air mata yang kutemui selama ini."


Naura terdiam sejenak, mencari jawaban yang tepat agar Kayla menyadari kesalahannya selama ini.


"Kamu lupa, apa yang telah guru agama kita ajarkan sewaktu sekolah dulu. Pak Bambang selalu mengajarkan kita untuk selalu meminta maaf pada orang lain meskipun kita merasa tak pernah berbuat salah, tapi kita cuma manusia yang tak pernah luput dari dosa dan khilaf. Apalagi kamu telah merebut suami Dokter Arumi dan membuat mereka sampai bercerai. Bukankah itu merupakan sebuah kesalahan terbesar bagi seorang manusia?"


"Dan ... alasan mengapa kamu hidup menderita selama ini karena bisa jadi ada satu hal dalam diri kamu yang menurut Tuhan perlu diluruskan atau mungkin karena Dia ingin menguji sampai mana batas kesabaranmu. Ingat, Kay, Tuhan tidak akan memberikan suatu cobaan di luar batas kemampuan setiap ummat-Nya."


Kayla terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Naura. Hati Kayla mulai goyah, antara melanjutkan balas dendam atau malah menghentikan sebelum tujuannya tercapai. Sungguh, ia tak menyangka akan mendapatkan nasihat dari teman sekolahnya dulu. Niat hati mengajak wanita itu bersekutu, bekerjasama membalas dendam pada Arumi. Akan tetapi, ia malah diberikan nasihat oleh Naura.


"Maafkan aku, jika terkesan mengguruimu. Namun, demi Tuhan, aku tidak ada maksud lain selain ingin mengajakmu untuk kembali ke jalan yang lurus. Hanya itu yang kuinginkan, Bestie." Naura terkekeh pelan seraya menatap hangat Kayla.


"Kita hidup di dunia hanya sekali. Jadi, manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya."


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2