
Malam ini, Rayyan memutuskan untuk membawa Arumi menginap di Mandarin Hotel. Pria itu ingin menghabiskan malam panjang bersama istri tercinta tanpa diganggu oleh siapa pun. Ia sengaja memesan sebuah kamar presidential suite yang mempunyai segala macam fasilitas lengkap dalam satu tempat untuk dihias semenarik mungkin.
Sepanjang jalan menuju kamar tidak ada sepatah kata pun terucap dari bibir Rayyan. Pria itu tengah menahan gejolak emosi dalam diri karena geram melihat istrinya terlalu dekat dengan Lena. Untuk menghindari perselisihan kecil, Rayyan lebih memilih diam seribu bahasa daripada banyak cakap namun akhirnya malah melukai hati Arumi.
Sejujurnya, ia sudah muak melihat wajah Firdaus dan juga istri kedua dari sang mama. Akan tetapi, demi istri tercinta ia rela memendam ego asalkan istrinya itu bahagia.
"Masuklah!" cetus Rayyan dengan nada dingin kala ia dan Arumi telah tiba di dalam kamar.
Melihat sikap dingin dan sorot mata memancarkan kilatan emosi, Arumi tahu betul bahwa saat ini suasana hati Rayyan sedang tak enak. Dan ia juga tahu semua itu disebabkan oleh dirinya sendiri. Tanpa mengucapkan apa-apa, Arumi melangkah masuk ke dalam kamar hotel bintang lima.
Suasana temaram dan sunyi, tidak ada lampu yang menyala hanya ada cahaya lilin aroma terapi, menguarkan aroma lavender. Lilin aroma terapi disusun rapi menyerupai jalan setapak, di sisinya bertebaran kelopak bunga mawar.
Ini sangat romantis. Rasa cinta dalam diri Arumi semakin bertambah berkali-kali lipat. Tak menyangka suaminya akan menyiapkan kejutan di malam pengantin mereka.
Perlahan, ia kembali melangkah. Suara ketukan high heels yang dikenakan olehnya menggema memenuhi ruangan. Saat langkah kaki mendekati ranjang pengantin, ia kembali dikejutkan oleh pemandangan indah di depan sana.
Ranjang pengantin yang sebentar lagi menjadi saksi bisu penyatuan dua insan yang berbeda jenis kelamin itu pun tak luput dari jangkauan petugas layanan kamar hotel. Mereka menyulap ranjang itu menjadi begitu menarik.
Ranjang berukuran king size dikelilingi oleh lilin elektrik dan kelopak bunga mawar yang menyerupai bentuk hati. Di bagian atas headboard, terdapat sebuah bingkai foto pertama yang diambil saat mereka memutuskan menjalin kasih. Di atas sprei terdapat beberapa lilin aroma terapi dan kelopak bunga mawar membentuk tulisan I love you. Selain itu, di atas langit-langit ranjang terdapat beberapa balon kecil berwarna merah yang sengaja ditempel sebagai penghias ruangan.
Arumi benar-benar takjub akan kejutan yang diberikan Rayyan. Kamar hotel itu disulap menjadi sedemikian menarik hingga membuat wanita itu terpana beberapa saat.
Wanita cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna broken white membalikan tubuh, bola mata berkaca-kaca. Bibir mungil itu terbuka hendak berucap. Akan tetapi, suara berat Rayyan menghentikan wanita itu.
"Aku akan mandi terlebih dulu. Selama itu, kamu bisa beristirahat sejenak." Rayyan berlalu begitu saja tanpa menoleh ke arah istrinya.
Menatap nanar ke arah Rayyan, memperhatikan tubuh jangkung pria itu menghilang bersamaan dengan pintu kamar mandi yang tertutup.
__ADS_1
Terdengar embusan napas kasar berasal dari Arumi. "Tampaknya aku melakukan kesalahan besar kali ini. Jika tidak, mana mungkin Rayyan mendiamkanku seperti ini," ucapnya lirih.
"Pokoknya, aku harus melakukan sesuatu agar Rayyan kembali bersikap hangat padaku."
Air shower yang hangat mengguyur tubuh Rayyan yang terasa letih setelah seharian menjalankan serangkaian prosesi pernikahan dan dilanjut menyalami satu per satu tamu undangan yang hadir dalam resepsi pernikahan.
Matanya terpejam kala mengingat betapa jahatnya dirinya terhadap Arumi. Di hari pertama resmi menjadi sepasang suami istri, ia malah bersikap dingin di hadapan istri tercinta. Sungguh, pria itu benar-benar menyesal telah memperlakukan Arumi secara kasar.
Lima belas menit berlalu, kini Rayyan telah keluar dari kamar mandi. Tubuh kekar nan atletis dengan pahatan otot di mana-mana tertutup jubah mandi berwarna putih. Pandangan mata pria itu mengarah pada sosok wanita cantik yang tengah duduk di atas sofa. Wanita itu menatap ke luar jendela besar yang menghadap ke arah jalanan.
Berjalan perlahan mendekati Arumi. Tangan Rayyan terulur ke depan menyentuh bahu istri tercinta.
"Babe, mandilah! Sebelum malam semakin larut," ucap Rayyan seraya berdiri di belakang istrinya.
Tangan kekar pria itu merangkul dan memeluk istri tercinta dari belakang. Dada Rayyan menempel di punggung wanita itu.
Dari pantulan jendela di depan sana, Arumi dapat melihat betapa menyesalnya Rayyan karena telah memperlakukan dirinya dengan buruk di malaam pengantin mereka. Seulas senyum samar terlukis di wajah kala merasakan debaran jantung pria itu berdebar tak beraturan.
Arumi mengurai pelukan, lalu memutar tubuhnya sehingga kini posisinya berhadapan dengan Rayyan. Jemari lentik nan lembut menangkup pipi suami tercinta.
"Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri." Menggerakan perlahan jari jemari di rahang Rayyan. "Seharusnya yang meminta maaf itu aku bukan kamu. Aku terlalu memaksakan kehendakku sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu saat itu."
"Karena ketidakpedulianku sehingga dirimu harus menahan emosi selama acara berlangsung. Selain itu, aku pun memanggil istri kedua Papamu dengan sebutan Mama tanpa mendiskusikan terlebih dulu. Sangat wajar jika kamu marah padaku dan bersikap dingin sama seperti saat pertama kali kita bertemu."
Wanita cantik itu bangkit dari sofa, lalu berdiri berhadapan dengan suami tercinta. Kini, giliran Arumi yang melingkarkan tangan di leher pria itu.
"Maafkan aku ya, Honey karena telah membuatmu marah. Namun, aku janji ke depannya tidak akan melakukan hal yang sama."
__ADS_1
Kedua netra saling memandang satu sama lain. Menatap lekat manik coklat masing-masing. Suasana temaram hanya diterangi cahaya lilin aroma terapi serta kelopak mawar merah menguarkan aroma wangi perpaduan antara bunga mawar dan lavender menggelitik indera penciuman sepasang suami istri tersebut.
Rayyan maju satu langkah, merapatkan tubuhnya ke tubuh sang istri sehingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Pria itu menyentuh ujung dagu menggunakan ibu jari dan jari telunjuk sehingga wanita itu mendongakan kepala.
Dengan lembut, pria itu berkata. "Aku memaafkanmu, wahai istriku tercinta--dan calon ibu bagi anak-anakku nanti."
Wajah Arumi merah merona mendengar ucapan manis yang terucap dari bibir pria itu. Sikap Rayyan hari ini begitu manis dan romantis. Ia merasa sangat beruntung menjadi satu-satunya wanita yang disentuh oleh Rayyan.
Lagi-lagi, netra dua insan manusia itu saling bersitatap, menelisik hingga ke dalam sanubari yang terdalam. Di mata Rayyan, malam ini Arumi begitu memesona. Begitu pun dengan Arumi, malam ini Rayyan terlihat begitu menawan.
Berada dalam satu ruangan dengan istri tercinta, tubuh keduanya saling menempel membuat hasr*t dalam diri Rayyan bergejolak. Deru napas pria itu semakin memburu kala menyadari dua benda mirip squishy menempel di dadanya hingga membuat jiwa kelelakiannya bangkit.
'Sial! Mengapa dia bangkit di saat yang tidak tepat,' rutuk Rayyan dalam hati. Posisi intiim ini benar-benar telah membangkitkan sesuatu yang telah lama bersemayam dalam diri pria itu.
Semakin lama, tubuh Rayyan semakin memanas. Lembutnya kulit Arumi memberikan getaran kecil menjalar ke seluruh tubuh. Apalagi tatapan matanya tanpa sengaja melirik sesuatu yang terbungkus gaun pengantin. Ia sudah tidak tahan lagi. Seluruh tubuh pria itu telah diselimuti gejolak hasr*t yang membara hingga membuatnya hilang akal.
"Bolehkah aku meminta hakku sebagai suamimu, Babe?" tanya Rayyan dengan suara berat dan sorot mata yang dipenuhi kabut ga*rah.
Pupil mata Arumi membulat, seluruh tubuhnya meremang kala mendengar kalimat permintaan dari suaminya. Ini memang bukanlah pengalaman pertama bagi wanita itu, tapi tetap saja membuat Arumi merasa gugup. Ingin rasanya Arumi menolak permintaan Rayyan, namun wanita itu sadar, Tuhan akan murka padanya bila ia tak melayani keinginan sang suami. Lagi pula, bukankah kini Rayyan berhak atas dirinya dan juga tubuhnya?
Setelah terjadi perang batin dalam diri Arumi, akhirnya wanita itu mengambil keputusan tepat demi kebaikan bersama. Toh, ia pun sebenarnya sudah mendambakan sentuhan lembut penuh kasih sayang dari suami tercinta.
Dengan suara yang dibuat sesensual mungkin, ia menjawab. "Lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan kepadaku, Honey. I'm yours!" Lalu, ia berinisiatif memberikan kecupan di benda kenyal nan seksi itu.
.
.
__ADS_1
.