
Di waktu bersamaan, Arumi telah sampai di parkiran rumah sakit. Hari ini ia datang ke rumah sakit untuk menghadiri rapat bersama para petinggi rumah sakit, kebetulan ia masuk dalam struktur organisasi yang ada di tempatnya bekerja.
Akibat luka bakar yang diderita oleh wanita itu menyebabkan ia kesulitan untuk mengendarai mobilnya sendiri. Oleh sebab itu, Arumi sengaja meminta Burhan untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Meski luka bakarnya tidak terlalu serius tetapi tetap saja ia mengalami kesulitan dalam melakukan berbagai aktivitas.
"Pak Burhan, saya akan ada di rumah sakit ini sekitar dua hingga tiga jam. Bapak bisa kembali ke rumah dan menunggu panggilan saya jika sudah selesai bekerja," ujar Arumi saat mobil miliknya berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit.
Pria paruh baya yang cukup lama bekerja di rumah Arumi menganggukan kepala seraya menjawab, "Baik, Bu. Ibu tenang saja. Ketika panggilan telepon dari Ibu berdering maka saya akan tiba di sini dalam waktu secepat mungkin."
Arumi mengulum senyum. Ia bangga sebab Burhan begitu setia dengan pekerjaannya. "Ya sudah, saya masuk dulu. Terima kasih, Pak Burhan." Ia bergegas keluar mobil sambil membawa totebag berisi wadah makanan.
Dengan langkah anggun, Arumi melangkah maju ke dalam bangunan yang selama dua tahun ini menjadi tempat baginya mengais rezeki. Sesekali menyapa beberapa rekan sejawat yang kebetulan berpapasan di lorong rumah sakit.
"Selamat siang, Dokter Arumi." Salah satu perawat yang bekerja di bangsal Bougenville menyapa wanita cantik berambut panjang dicempol ala wanita Korea.
Arumi membalas sapaan itu dengan ramah, "Selamat siang juga, Suster Lina." Senyuman manis ia berikan pada rekan kerjanya itu.
"Oh ya, Dok. Tumben hari Kamis datang ke rumah sakit, biasanya 'kan istirahat di rumah. Apakah diminta lembur oleh Dokter Rayyan?" Seketika jiwa kepo Suster Lina muncul ke permukaan. Perawat wanita itu memang selalu menjadi garda terdepan saat semua orang menggosipkan anak sulung dari direktur rumah sakit.
Arumi menggelengkan kepala sebab ia tahu persis jika perawat wanita itu sering sekali bergosip tentang Rayyan karena mereka pernah terlibat dalam perbincangan yang super hot saat awal Rayyan bekerja di rumah sakit itu.
"Tidak, Sus. Saya ke rumah sakit ini diminta oleh Dokter Firdaus untuk menghadiri rapat membahas tentang rencana standarisasi akreditasi rumah sakit. Bukan diminta Dokter Rayyan untuk lembur," jawab Arumi terkekeh. Wajah wanita itu bersemu merah ketika mengucapkan nama sang kekasih. Suara wanita itu pun terdengar lebih lembut dari biasanya.
Suster Lina memajukan bibir ke depan, membentuk huruf O sempurna. "Saya pikir diminta Dokter Killer itu untuk lembur."
"Hei!" Salah satu perawat jaga yang bertugas menepuk pundah Suster Lina. "Kamu tidak tahu ya, jika saat ini Si Dokter Killer itu sudah jarang sekali menindas Dokter Arumi."
Perawat wanita bernama Intan merapikan beberapa peralatan medis ke tempat semua. Ia baru saja berkeliling sambil melakukan pemeriksaan pada pasien di bangsal tersebut.
Suster Lina cukup terkejut dengan penuturan rekan kerjanya itu. Ia tak menyangka jika hubungan antara Arumi dengan kepala bangsa di tempatnya bekerja telah mengalami kemajuan.
"K-kamu ... serius Suster Intan? Kenapa aku tidak tahu tentang kabar baik itu?" Bola mata Suster Lina melebar serta mulut pun terbuka.
"Dua rius malah. Untuk apa juga saya berbohong. Kalau tidak percaya, coba kamu tanyakan pada Dokter Arumi selagi mantan musuh Bos kita ada di sini." Suster Intan menunjuk Arumi dengan ujung dagu.
Arumi menjadi salah tingkah. Apalagi sorot mata Suster Intan seolah mengandung makna tersendiri.
"Eh ... itu ... iya, sekarang Dokter Rayyan tidak terlalu kejam padaku, Sus." Akhirnya Arumi mengatakan yang sejujurnya karena kedua perawat wanita itu menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Akhirnya Tom dan Jerry bisa berdamai. Itu artinya, aku bisa bekerja dengan tenang tanpa harus mendengar Dokter Rayyan membentak atau memarahi Dokter Arumi tanpa alasan."
"Suster Lina, ada-ada saja," sahut Arumi.
Mereka pun berbincang sambil tertawa. Terlalu sibuk bergosip, ia hampir saja lupa tujuan kedatangannya ke rumah sakit itu apa. Wanita itu baru tersadar ketika Rayyan melintas. Sorot mata pria itu begitu tajam hingga membuat bulu roma Arumi berdiri.
"Selamat siang, Dokter Rayyan," sapa Suster Lina dan Suster Intan hampir bersamaan. Sementara Arumi hanya tersenyum kaku pada pria itu.
"He'em!" sahut Rayyan sekadarnya. Pria itu memang irit bicara. Ia baru akan bercakap panjang lebar saat membahas pekerjaan.
Ketika melewati Arumi, Rayyan hanya meliriknya sekilas tanpa membalas senyuman apalagi memberikan kode pada wanita itu. Biasanya Rayyan akan menowel tubuhnya dari belakang secara sembunyi-sembunyi. Mengisyaratkan agar wanita itu ke ruangannya.
"Apakah Rayyan masih marah soal kejadian semalam? Aduh, benar masih marah, aku harus melakukan apa?" batin Arumi setelah Rayyan melintas begitu saja di hadapan mereka. Pria itu tidak tersenyum sama sekali kepadanya.
"Kalau di buku novel yang biasa aku baca, si tokoh wanita akan merayu kekasihnya itu. Memberikan ciuman, memberikan pijatan di pundak kekasihnya. Sedangkan aku saja masih dalam masa iddah, tidak bisa sembarangan berduaan dengan lawan jenis."
"Tuh kan, baru diomongin, eh malah nonggol," celetuk Suster Lina. "Panjang umurnya Dokter Rayyan."
"Kecilkan suaramu, Suster Lina! Jangan sampai didengar Dokter Rayyan jika tak mau nasibmu berakhir dengan kata pemecatan." Suster Intan mencoba mengingatkan. Tangan wanita itu meraih buku rekam medis pasien, mencatat informasi yang berkaitan dengan tindakan medis yang telah dilakukan.
Sejujurnya, Arumi mulai ketergantungan pada Rayyan. Setiap malam selalu menantikan pesan singkat yang dikirimkan oleh sang kekasih. Rasanya, hidup wanita itu hampa bila tak ada kabar dari pujaan hati.
Semua pesan singkat dan pesan suara yang dikirim oleh Rayyan menjadi candu tersendiri bagi dirinya. Terkadang ia berpikir, mungkinkah saat ini Arumi mulai ketergantungan pada Rayyan? Apakah mungkin benih-benih cinta telah tumbuh tanpa ia sadari? Entahlah, ia sendiri pun tak tahu. Namun, yang pasti, saat ini Arumi ingin selalu berada di dekat kekasih tercinta.
"Suster Intan dan Suster Lina. Saya pamit dulu. Ada hal yang ingin didiskusikan dengan Dokter Rayyan." Tanpa menunggu jawaban dari dua perawat itu, Arumi segera berlari menuju ruangan Rayyan.
Saat tiba di depan ruangan kepala bangsal, Arumi berhenti sejenak. Ia menghela napas panjang seraya mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan Rayyan.
"Duh, aku kok gugup sekali," gumam Arumi disela-sela kegiatannya menghirup oksigen. Ia mengulangi kegiatannya itu sebanyak tiga kali.
Setelah keberaniannya terkumpul, Arumi mencoba memberanikan diri masuk ke ruangan itu.
Tangan Arumi menempel di daun pintu. Ia mengetuk pintu hingga terdengar suara berat seorang pria mempersilakan masuk.
"Permisi, Dokter," ucap Arumi lirih. Perlahan, ia melangkah masuk ke dalam ruangan.
Sorot mata tajam menjadi pemandangan pertama yang dilihat oleh Arumi. Seketika ruangan itu berubah dingin meski cuaca di luar sangat panas.
__ADS_1
"Ray ... maaf kalau aku mengganggu." Arumi mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung.
Rayyan masih bergeming. Ia tetap dengan pekerjaan. Menggerakan mouse dengan tatapan mengarah ke layar monitor.
"Tuh kan, Rayyan masih merajuk. Biasanya ia menyambutku dengan hangat. Ini malah acuh dan seolah-olah menganggapku tak ada."
"Tidak! Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku harus meluluhkan hati Rayyan. Ya ... ayo, Arumi. Kamu pasti bisa!"
Tanpa dipersilakan duduk, Arumi menarik kursi yang ada di hadapan Rayyan. Mendudukan bokong secara perlahan.
"Ray ... aku datang ke sini untuk memberikan camilan. Aku membuatnya khusus untukmu." Arumi menyodorkan wadah makan berwarna biru cerah ke hadapan pria itu. "Kamu cicipi sebentar. Kalau ada kekurangan dalam rasa masakan ini, aku bersedia menerima kritik dan masukan darimu."
Pria berwajah oriental itu memicingkan mata ke arah Arumi, lalu mengalihkan pandangan pada sebuah wadah makan persegi 2 susun yang ada di atas meja.
"Aku membuat bakwan jagung serta pangsit. Bukankah kamu pernah bilang padaku, jikalau kedua makanan itu adalah makanan kesukaannmu!"
"Ini pertama kalinya aku membuat pangsit. Jadi, seandainya ada kekurangan dalam masakanku, tolong dimaklumi," ucap Arumi lirih. Ia menundukan pandangan. Tak berani menatap wajah dingin kekasihnya itu.
Tanpa diperintah untuk kedua kali, Rayyan membuka tutup wadah makan tersebut. Aroma lezat menguar menggugah selera. Melihat dua jenis makanan kesukaan terhidang di atas meja, membuat bola mata pria itu berbinar bahagia.
Selama ini hanya Mei Ling saja yang memperhatikan dirinya. Memasakan makanan kesukaan di kala hujan mengguyur ibu kota. Cuaca dingin membuat perut mudah lapar. Di saat bersamaan, wanita yang telah melahirkan Rayyan ke dunia ini begitu bersemangat membuatkan camilan untuk putra tersayang.
Ia meraih sumpit yang ada di sisi wadah makan. Mencuil sedikit pangsit hangat yang dibuat khusus oleh sang kekasih.
Pada gigitan pertama, Rayyan langsung menyukai masakan Arumi. Bahkan ia sampai memejamkan mata karena terlalu nikmat menikmati camilan yang dibuat oleh mantan musuhnya itu.
"Enak. Rasanya pas. Tidak terlalu asin dan bumbu-bumbunya pun diolah dengan sempurna," ucap Rayyan tanpa berhenti mengunyah makanan itu.
Mendengar pujian yang diucapkan oleh Rayyan, Arumi mendongakan kepala. Memperhatikan betapa lahapnya pria itu saat mengunyah makanan yang dimasak sendiri olehnya.
TBC
.
.
.
__ADS_1