Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Seandainya


__ADS_3

Di depan ruang IGD, seorang pria paruh baya tengah duduk dengan gelisah di kursi yang terbuat dari stainless steel. Sudah hampir dua puluh menit ia menunggu dokter keluar dari ruangan yang digunakan untuk menangani pasien gawat darurat dan membutuhkan penanganan segera. Terakhir kali pintu ruangan itu terbuka saat salah satu perawat menghampiri untuk menyampaikan kondisi Kayla, menantu baru di keluarga Adiguna. Setelah itu, tidak ada satu orang pun datang menghampiri.


Flashback on


Beberapa menit setelah kejadian kecelakaan, pihak rumah sakit mencoba menghubungi nomor keluarga atau orang terdekat pasien. Saat itu, seorang perawat mencoba menghubungi Naila tetapi wanita yang merupakan ibu kandung dari Mahesa tak kunjung menjawab panggilan telepon hingga akhirnya membuat perawat laki-laki itu membatalkan panggilan telepon dan beralih menghubungi Putra.


"Halo, selamat siang. Saya dari Rumah Sakit Persada International Hospital ingin memberitahukan bahwa telah terjadi kecelakaan lalu lintas di Jln. Patimura. Dari kecelakaan tersebut ada dua korban yang saat ini sedang kritis, bernama Pak Mahesa Putra Adiguna dan Ibu Kayla Lestari. Apakah Bapak mengenal kedua korban tersebut?" tanya perawat itu untuk memastikan jika pria di seberang sana merupakan ayah dari salah satu korban kecelakaan.


Putra yang saat itu tengah berada di sebuah hotel bergegas bangkit dari tidur. Meski nyawanya belum terkumpul semua tetapi ia masih dapat mendengar jelas jikalau saat ini anak tercinta berada di rumah sakit.


"Apa? Anak saya masuk rumah sakit karena kecelakaan?" pekik Putra histeris. Saking terkejutnya, ia nyaris terjatuh dari ranjang. Beruntungnya pria itu bisa menyeimbangkan diri sehingga tubuhnya tidak oleng.


"Benar, Pak. Kami dari pihak rumah sakit meminta Anda untuk segera datang ke rumah sakit karena ada beberapa informasi yang ingin Dokter sampaikan pada Anda terkait kondisi pasien," timpal perawat itu.


"B-baik. Saya akan segera kesana." Maka, Putra segera turun dari ranjang. Ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai.


Setelah memastikan penampilannya rapi, barulah pria itu turun ke basement dan melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.


Flashback off


Untuk mengurai rasa cemas, Putra mengetuk-ngetukan jemari tangan di atas paha. Pandangan mata pria itu tak lepas dari arah pintu ruang IGD rumah sakit.


Tak lama berselang, pria berbalut snelli putih keluar dari ruangan IGD. "Keluarga pasien?" seru dokter itu.


Putra bangkit dari kursi lalu melangkah mendekati dokter. "Saya, adalah Ayah korban, Dok."


"Begini, Pak, akibat benturan yang cukup keras menyebabkan Pak Mahes mengalami luka di bagian kepala. Saya sarankan agar pasien melakukan pemeriksaan radiologi untuk memastikan adakah cidera serius di bagian kepala," tutur dokter itu. "Setelah itu, baru kita akan melakukan pengobatan pada pasien seraya mengobservasi kondisi pasien."


"Dalam beberapa menit ke depan, pasien masih akan berada di ruang IGD selama masa observasi. Setelah itu baru akan dipindahkan ke ruang perawatan."

__ADS_1


"Apakah ada kemungkinan anak saya mengalami amnesia, Dok?"


"Kemungkinan mengarah kesitu ada, Pak. Beberapa komplikasi yang sering terjadi pada pasien dengan cidera kepala salah satunya adalah penyakit degenerasi otak seperti, demensia, penyakit Alzheimer dan penyakit Parkinson," jelas dokter itu panjang lebar.


"Namun, kami belum bisa memastikan apakah pasien akan mengalami komplikasi atau tidak sebab sampai detik ini pasien masih belum sadar."


Putra merasakan lemas pada tungkai kakinya. Jantungnya berpacu dengan cepat. Ia tak menyangka jika rencana Mahesa menemui klien akan berakhir tragis. Anak samata wayang yang begitu disayanginya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


"Kalau tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, saya permisi dulu, Pak." Dokter itu menganggukan kepala hormat sambil meninggalkan Putra yang masih bergeming di tempat.


Akan tetapi saat ia melewati Putra, dokter berambut keperakan itu menepuk pundak Putra dengan lembut seraya berucap, "Perbanyak berdo'a, mohon pada Tuhan semoga anak dan menantu Bapak bisa melewati masa kritis."


Untuk beberapa saat, Putra seperti kehilangan kemampuannya untuk berpikir dengan jernih. Ia merutuki kebodohannya. Andai saja saat itu ia tak memberikan izin pada Mahesa untuk bertemu dengan Ilham mungkin kecelakaan itu tidak mungkin terjadi. Mungkin saat ini Mahesa masih bekerja di kantor, berkutat dengan beberapa laporan pekerjaan bukan malah berada di rumah sakit dengan kondisi tubuh yang memprihatinkan.


Setelah ia dapat menguasai diri, Putra kembali teringat sesuatu. Pria itu merogoh saku celana lalu menghubungi nomor seseorang.


Semenjak menikah, wanita yang super julid dan bermulut pedas seperti sambalado, tidak pernah meminta izin jika hendak bepergian keluar rumah. Ia selalu keluyuran dan baru pulang saat sinar matahari telah berganti dengan sinar rembulan. Walaupun begitu Naila tetap menjalankan tugasnya dengan baik sebagai seorang istri dan ibu yang baik pula bagi Mahesa. Namun, bukan mertua yang baik bagi Arumi.


Kembali lagi ke restoran mewah tempat Naila dan teman-teman sosialitanya, wanita itu sedang merasakan berada di atas angkasa atas pujian yang diberikan oleh teman-temannya.


"Wah, Jeng Naila hebat ya memiliki menantu seorang model. Selain itu, langsung diberi cucu pula." Wanita berkacamata yang memiliki mulut pedas seperti Naila begitu antusias menimpali setiap kalimat yang diucapkan oleh temannya itu. "Benar tidak, teman-teman."


"Benar sekali," timpal ketiga teman-teman sosialita Naila hampir bersamaan. Ketiga wanita paruh baya itu ikut berbahagia sebab akhirnya Naila bisa memiliki cucu sama seperti mereka.


Lena yang saat itu masih duduk di kursi hanya menggelengkan kepala seraya menyesap minuman dingin. Andaikan saja ia boleh memilih lebih baik wanita itu keluar dari geng ibu-ibu sosialita yang kerjaannya hanya bergosip dan mengghibah. Hampir setiap kali bertemu mereka selalu membuka aib Arumi hingga membuat wanita itu kehilangan kesabaran.


Awalnya geng sosialita itu dibentuk untuk menggadakan bakti sosial atau membantu anak-anak di yayasan panti asuhan. Akan tetapi, semenjak kehadiran Naila, geng yang awalnya beranggotakan tiga orang itu berubah menjadi wadah bergosip serta mengghibah seseorang. Naasnya lagi, orang yang digunjingkan oleh mereka adalah Arumi. Wanita yang saat ini tengah dekat dengan anak tiri Lena.


"Tentu saja, saya hebat. Kan saya memang dilahirkan agar selalu lebih unggul dari kalian semua." Sifat jumawa yang bersemayam dalam diri Naila kini bangkit. Di hadapan semua orang ia bersikap angkuh dan sombong. Padahal, di dunia ini tidak ada satu orang pun yang berhak sombong sebab segala sesuatu di bumi ini hanyalah titipan semata. Suatu saat akan diambil kembali oleh Tuhan.

__ADS_1


"Ih ... Jeng Naila terlalu memuji diri sendiri," celetuk salah satu dari mereka. Ia menepuk pundak Naila dengan lembut.


"Benar. Jangan terlalu memuji diri sendiri loh, Jeng. Tidak baik," sambar yang lain.


"Loh, memangnya kenapa tidak boleh?" sanggah wanita berkacamata. Jemari tangan wanita itu melambai ke depan, kedua alis naik turun dan mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh penekanan. "Sejauh ini Jeng Naila memang lebih unggul daripada kita semua."


"Apalagi sekarang, dia mempunyai menantu baru yang merupakan seorang model terkenal. Beberapa kali terpilih menjadi wakil negara kita dalam ajang peragaan busana di Paris. Bukankah itu merupakan sebuah prestasi yang patut dibanggakan?"


"Coba menantu kita, mana ada yang seperti Kayla. Betul tidak?"


"Betul juga ya!" Wanita yang duduk di sisi Naila ikut menimpali. Ia menganggukan kepala. Merasa apa yang dikatakan oleh teman geng sosialitanya benar adanya. Naila acap kali lebih terdepan dalam segala hal dibanding mereka.


"Makanya itu, kita patut mencontoh Jeng Naila. Jika ada kesempatan, kita berbincang bersama. Membahas kiat-kiat agar bisa memiliki menantu hebat dan perhatian seperti Kayla."


"Iya, benar. Ayo, kapan?"


Naila tampak berpikir sejenak. Jemari wanita itu mengetuk-ngetuk di dagu. "Gampang. Nanti saya kabari."


"Oke deh. Jangan lupa langsung buat agenda loh, Jeng."


"Siap. Kalau sudah ada waktu, akan saya kabari lewat WhatsApp," ujar Naila.


TBC


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2