
Naila bergegas turun dari mobil setelah sang sopir menghentikan kendaraan itu tepat di depan pintu masuk lobi rumah sakit. Wanita itu berlari mendekati ruang IGD tetapi tak menemukan keberadaan suami tercinta.
Dengan tangan gemetar serta perasaan campur aduk, Naila mengeluarkan telepon genggam dari dalam tas. Ia menghubungi nomor Putra.
"Pa, kamu di mana? Aku sudah sampai di rumah sakit. Saat ini aku berada di depan ruang IGD tetapi tak menemukan kamu di sini," ujar Naila saat Putra mengangkat panggilan darinya.
Di seberang sana, Putra menjawab, "Mahesa telah dipindahkan ke ruang perawatan. Cepatlah ke sini, jangan mampir ke mana-mana," titah Putra pada sang istri.
"Baik, aku akan ke sana segera!" Setelah mematikan sambungan telepon, Naila langsung berlari menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang perawatan.
Langkah kaki wanita itu terhenti tatkala melihat suami tercinta tengah duduk di kursi berbahan stainless sambil menutup wajah dengan telapak tangan.
"Pa ... apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Naila memberanikan diri. Walaupun jantung berdegup lebih kencang dan wajah memucat tetapi ia harus menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Mahesa, anak kesayangannya.
Putra mendongakan kepala, menatap wajah Naila dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Alih-alih menjawab pertanyaan Naila, Putra malah menyindir sang istri. "Se-begitu pentingkah arti teman-teman sosialitamu itu hingga kamu tak memiliki waktu sedikit pun untuk mengecek adakah panggilan telepon dariku." Menatap sinis ke arah Naila.
"Kamu keterlaluan, Ma! Di saat anakmu kecelakaan, kamu malah asyik berbincang hangat bersama keempat teman-temanmu itu sampai tak sadar kalau ada telepon darurat dari rumah sakit yang ingin mengabarkan bahwa Mahesa kecelakaan. Untung saja saat itu aku segera mengangkat telepon, coba kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada anak dan menantu kita," tutur Putra.
"A-aku ... benar-benar tidak tahu kalau ada telepon masuk, Pa. Sungguh!" Naila mencoba membela diri, mengungkapkan alasannya mengapa ia tak menjawab sambungan telepon dari rumah sakit.
__ADS_1
"Tentu saja kamu tidak tahu karena telepon genggammu itu berada di mode silent, iya kan? Putra menghunuskan tatapan tajam ke arah Naila.
"Ehm ... itu ... aku--"
"Kita sudah menikah selama dua puluh delapan tahun tetapi sikapmu tidak pernah berubah. Di saat genting seperti ini, kamu malah menjadi orang nomor dua yang mengetahui kabar kecelakaan anak kita, Ma. Kamu itu ibunya seharusnya menjadi orang pertama yang ada di sisi Mahesa, bukan aku."
"Kamu tahu, Ma. Saat ini Mahesa tengah berjuang seorang diri di dalam ruangan itu. Dokter mengatakan akibat terjadi benturan keras pada bagian kepala, kemungkinan besar akan ada efek samping dari kecelakaan ini. Kemungkinan dia akan mengalami amnesia walau dokter sendiri tidak begitu yakin dengan pendapatnya, sebab hingga detik ini Mahesa belum juga sadarkan diri."
Naila menggelengkan kepala. Ia tak menduga jika keadaan Mahesa akan separah ini. Sekelebat wajah Mahesa saat masih kecil terpatri indah di memori ingatan, membuat hati wanita itu sakit bagai ditikam oleh sebilah pisah. Tak tega membayangkan tubuh anak tercinta kesakitan, air mata wanita itu mulai berderai membasahi pipi.
Ia terduduk lemas di kursi dengan air mata yang mengalir deras. "Anakku pasti baik-baik saja. Sejak kecil, Mahesa adalah anak yang kuat. Dia tidak pernah menangis meski mengalami luka separah apa pun, ia tetap tersenyum."
Putra mengusap wajahnya dengan kasar. Sejujurnya, ia pun tak tega kalau harus melihat Mahesa terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Berbagai selang terpasang di tubuh anak tercinta.
"Saat ini, kondisi Kayla pun begitu memprihatinkan. Dia mengalami benturan di bagian perut. Akibat benturan itu kandungannya tak bisa diselamatkan dan dokter terpaksa melakukan operasi untuk mengangkat rahim menantu kita, Ma," ucap Putra lirih. Walaupun begitu, Naila dapat mendengar jelas perkataan sang suami.
Belum hilang keterkejutan Naila, kini dia mendapatkan kejutan baru tentang kondisi menantu kesayangannya. Wanita itu menggelengkan kepala seraya membekap mulut menggunakan telapak tangan. Hatinya benar-benar hancur mendengar semua berita ini. Baru saja ia memamerkan diri di hadapan teman-temannya tentang kehamilan Kayla tetapi kini calon cucunya itu telah tiada.
"Kenapa semua ini terjadi pada keluarga kita, Pa? Kenapa?" tanya Naila disela suara isak tangis yang menyayat kalbu. "Salah kita apa sehingga Tuhan merampas kembali bayi yang tak berdosa itu?"
"Lima tahun Mama menunggu dan di saat bayi itu hadir, dia malah pergi begitu saja. Kenapa Tuhan jahat sekali pada kita, Pa?" Naila kembali terisak. Kini suara tangisan itu semakin menjadi. Suara tangisan Naila menggema memenuhi lorong sepi rumah sakit.
__ADS_1
Melihat Naila menangis sesegukan membuat Putra tidak tahan lagi. Kendatipun ia masih geram akan sikap wanita yang duduk di sisinya tetapi nalurinya sebagai seorang suami membisikan padanya untuk menghibur Naila.
Perlahan, Putra menarik tubuh Naila dalam dekapan. Memeluk erat tubuh wanita yang telah memberinya seorang anak laki-laki yang begitu hebat dalam segala hal. Tangan pria itu mengusap lembut punggung Naila.
"Sudahlah, Ma. Jangan menangis lagi. Jika kamu menangis terus, kasihan Mahesa di dalam sana. Ia pasti terganggu oleh suara tangisanmu. Biarkan anak kita istirahat dengan tenang," bujuk Putra.
"Tapi, Pa, Mama tidak ikhlas jika bayi itu pergi begitu saja. Mama sudah berharap banyak pada Kayla tapi kenapa wanita itu tidak menjaga kepercayaan Mama dengan baik." Air mata di pipi Naila semakin deras mengalir bagaikan sumber mata air yang tak kan pernah surut.
"Makanya, Mama jangan terlalu banyak berharap pada wanita itu. Andai saja Mama menuruti saran Papa untuk tetap mempertahankan Arumi, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Setidaknya, Arumi masih bisa memberikan cucu untuk kita karena ia masih memiliki rahim sementara Kayla?" cicit Putra disela kegiatannya menghibur Naila.
"Itulah kenapa Papa agak keberatan saat Mama mencetuskan ide gila untuk meminta Mahesa menjalin kasih dengan Kayla sementara status anak kita masih suami sah Arumi."
Naila mengurai pelukan. Ia mendongakan kepala ke atas. Air mata masih mengalir deras di pipi wanita itu. "Jadi, Papa menyalahkan Mama? Bukankah saat itu Papa juga menyarankan hal yang sama Mahesa agar dia lebih memilih Kayla dibanding Arumi. Papa lupa?" Naila kembali membalikan keadaan. Ia tak terima jika Putra menyalahkannya dalam kasus ini. Bagaimanapun, tercetusnya ide perselingkuhan ini berasal dari Putra dan tentunya dari Naila juga sebagai dalang utama dari semua kekacauan ini.
"Loh, bukankah memang begitu? Mama itu terlalu egois hingga tak memberikan kesempatan pada Papa untuk berbicara sebelum kata sepakat terucap di bibir kita saat itu." Putra merapikan pakaiannya yang sedikit kusut lalu menyenderkan punggung ke belakang. "Oleh karena itu, jadi orang jangan terlalu banyak berharap pada orang lain. Agar di kemudian hari tidak kecewa."
Air mata Naila masih belum berhenti mengalir di pipi. Semua perkataan Putra bagaikan sebuah cambuk besar bagi dirinya.
Wanita itu berdecak kesal. "Kamu itu hanya bisa menyalahkan orang lain tanpa mampu mencari solusi bagi keluarga. Kalau memang tidak setuju, kenapa kamu tak mencarikan wanita lain untuk dikenalkan pada Mahesa? Kamu malah sibuk menyantap kue yang diberikan oleh Kayla," sindir Naila.
"Kamu ... berani sekali kamu berkata lancang di hadapaku!" sembur Putra seraya menegakkan posisi duduk.
__ADS_1
"Memang kenyataannya seperti itu. Kenapa? Papa mau menyangkal." Kedua tangan terlipat di dada. "Jadi suami kok plin-plan!"