
Arumi dan Rayyan jalan bersisiran, menyusuri lorong rumah sakit yang tampak ramai oleh pengunjung. Sesekali terdengar suara kekehan ringan berasal dari bibir masing-masing. Meski sikap mereka biasa saja, tak menunjukan keromantisan layaknya pasangan pada umumnya tapi sukses membuat para dokter serta perawat yang mengenal mereka dihinggapi berjuta pertanyaan dalam benak masing-masing.
Pasalnya, baru kali ini kedua insan manusia itu secara terang-terangan menunjukan kedekatan mereka pada semua orang kendati belum mengumumkan bahwa pria dan wanita dewasa itu sedang menjalani masa penjajakan tapi sikap Rayyan dan Arumi sukses menyedot perhatian seluruh karyawan rumah sakit. Tak terkecuali, Naura--dokter wanita yang terlebih dulu menaruh hati pada Rayyan dan jatuh cinta pada pria itu sejak pertama kali bertemu.
"Dokter Naura, apakah kamu baik-baik saja?" tanya salah satu perawat yang berjaga di IGD rumah sakit.
Naura dan salah satu perawat IGD baru saja selesai makan siang di kantin rumah sakit. Mereka masuk ke dalam gedung itu lewat pintu timur. Kedua wanita itu melangkah masuk dengan santai sambil berbincang tentang banyak hal. Netra Naura tak sengaja melihat sepasang wanita dan pria berjalan keluar lewat pintu utama rumah sakit.
Meski dihinggapi rasa cemburu karena pria idamannya tengah jalan berdua dengan wanita lain, Naura mencoba bersikap biasa saja. Seolah tak pernah melihat pemandangan menyakitkan di depan sana.
"Ehm ... aku baik-baik saja, Sus." Jemari lentik itu meremaas ujung snelli yang dikenakan. Mengurai rasa marah dalam diri.
'Ada hubungan apa antara Dokter Arumi dengan Dokter Rayyan? Mengapa mereka dekat sekali. Bukankah dulu Dokter Arumi bilang tidak terlalu dekat dengan Dokter Rayyan. Lantas mengapa sekarang intim sekali.' Itulah beberapa pertanyaan yang hinggap dalam pikiran Naura.
Tak ingin menerka sesuatu yang tidak pasti, Naura memutuskan menemui seseorang saat itu juga.
"Sus, kamu duluan saja. Aku ingin menemui seseorang." Tanpa menunggu jawaban perawat wanita itu, Naura bergegas meninggalkannya. Ia berjalan setengah berlari menuju benda persegi terbuat dari besi.
***
Mobil yang dikendarai Rayyan melaju dengan kecepatan sedang di sepanjang jalanan ibu kota. Suasana di siang menjelang sore hari cukup lenggang sehingga pria itu sedikit lebih santai saat mengendarai kendaraan roda empat miliknya.
"Besok pagi, kamu minta tolong Pak Burhan mengantarkanmu ke rumah sakit menggunakan mobil lain. Sementara mobilmu menginap di rumah sakit," kata Rayyan di saat ia tengah sibuk mengendarai kendaraan roda empat miliknya.
Arumi yang tengah membuka bungkusan kuaci menoleh sekilas ke arah Rayyan, kemudian melanjutkan kembali kegiatannya.
Dengan santai wanita itu menjawab, "He'em. Besok aku akan minta tolong Pak Burhan," imbuh Arumi. "Lebih baik pandangan matamu menatap lurus ke depan, jangan terus menmandangiku."
Arumi geram sebab tatapan mata Rayyan tak pernah lepas dari dirinya. Jika tidak segera dihentikan, wanita itu khawatir ia akan dilarikan ke rumah sakit. Melakukan pemeriksaan EKG (Eleketrokardiogram) yang biasa digunakan untuk mengukur dan merekam aktivitas listrik jantung karena degup jantung wanita itu semakin tak beraturan. Wajah tampan nan rupawan ditambah hidung mancung serta senyuman manis membuat Arumi tak lagi mampu menahan gejolak dalam dada.
__ADS_1
Rayyan terkekeh pelan. Ia meraih tisu yang ada di dashboard, menyerahkan pada kekasih tercinta.
"Gunakan ini untuk mengumpulkan kulit kuaci yang kamu makan. Setelah itu, baru masukan ke dalam tempat sampah." Wanita itu mengangguk patuh dan menuruti perintah Rayyan.
Hampir satu jam berkendara, akhirnya Rayyan telah tiba di pekarangan rumah Arumi. Ia mematikan mesin mobil, kemudian turun dan membukakan pintu untuk Arumi dengan tangan menjinjing satu kantong belanjaan berisi buah-buahan segar untuk calon mertua.
"Mama di mana, Mbak?" tanya Arumi tatkala Mbak Tini membukakan pintu untuk sang majikan.
Mbak Tini baru saja hendak bersuara, tiba-tiba saja dari ambang pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga, Nyimas berdiri dengan anggun. Mengenakan pakaian rumahan dibalut jilbab langsungan berwarna abu-abu membuat aura kecantikan wanita itu semakin terpancar.
"Ada apa mencari Mama?" Tatapan mata langsung tertuju pada pria jangkung yang berdiri di sisi Arumi.
Beberapa kali melakukan check up rutin di rumah sakit Persada International Hospital dan hampir setiap ada kesempatan menghadiri acara di kediaman Rio, Nyimas dan Rayyan bertatap muka. Wanita paruh baya itu sedikit lebih tahu tentang sosok pria yang tak lain adalah atasan di rumah sakit tempat Arumi bekerja.
Telalak tangan Arumi mulai berkeringat saat melihat mamanya berdiri di ambang pintu penghubung. Dari jarak sekitar tiga meter, ia dapat merasakan bagaimana tatapan tajam menghunus ke arahnya. Akan tetapi, Rayyan sama sekali tidak terprovokasi. Pria itu bersikap tenang dan santai.
"Atasanmu. Benar begitu?" sela Nyimas cepat.
Semakin dag dig dug jantung Arumi kala Nyimas menatap tajam ke arahnya. Wanita itu hanya mampu mengangguk lemah serta meremaas jemari lentik miliknya.
"Selamat siang, Tante Nyimas," sapa Rayyan sopan.
Nyimas masih memasang wajah dingin dan tegas kendati demikian, wanita berhijab itu tetap bersikap baik terhadap tamu yang datang berkunjung.
"Mari, silakan duduk!" Nyimas mempersilakan pria itu duduk di sofa panjang. "Mbak Tini, tolong buatkan minuman untuk Dokter Rayyan!" titahnya pada salah seorang ART di rumah itu.
Lantas, mereka semua duduk di sofa. Arumi duduk di dekat Nyimas, sedangkan Rayyan duduk seorang diri di sofa pendek berwarna biru langit.
"Ada apa, tumben Dokter Rayyan datang berkunjung ke rumah kami? Apakah ada hal penting yang ingin disampaikan?" tanya Nyimas yang mulai menaruh curiga pada pria yang duduk di hadapannya.
__ADS_1
Sedari tadi, Nyimas perhatikan kedua insan manusia itu saling melempar tatap. Detik berikutnya Arumi tersenyum simpul lantas menundukan pandangan, menahan rona merah muda di wajah.
Rayyan napas panjang. Tatapan pria itu teralih pada wanita cantik yang sedang tertunduk malu di sisi sang mama. Ia memejamkan mata singkat. Mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur pada calon mertuanya itu.
"Begini, kedatangan saya ke sini bukan sebagai atasan Arumi melainkan sebagai ... kekasih dari putri Tante Nyimas," ucap Rayyan yang sontak membuat Nyimas sedikit terkejut. Akan tetapi, ia mencoba bersikap biasa saja dengan wajah dingin.
Bukan tanpa alasan Nyimas bersikap dingin di hadapan Rayyan, ia hanya tidak mau kejadian di masa lalu terulang lagi menimpa Arumi. Kalaupun memang nanti Rayyan menikahi putri tercinta, ia ingin agar pernikahan itu langgeng seumur hidup. Tidak ada lagi kata perceraian yang akan membuat luka di hati Arumi semakin dalam.
"Teruskan!" titah Nyimas. Rayyan pun meneruskan kalimatnya.
"Sebenarnya, hubungan kami telah terjalin selama kurang lebih empat bulan lamanya. Lebih tepatnya beberapa hari setelah Arumi bercerai, saya meminta putri Tante agar memberikan kesempatan pada saya untuk membantunya mengobati rasa sakit atas pengkhianatan yang dilakukan mantan suami dan mantan sahabatnya."
"Awalnya memang sulit bagi Arumi menerima saya untuk menjadi kekasihnya. Namun, lambat laun ia mulai mencintai saya karena saya selalu menabur pupuk serta menyirami putri Tante dengan ketulusan cinta yang dimiliki." Rayyan mengulas senyum tipis di wajah. Begitu pun dengan Arumi, wanita itu mengatupkan bibir agar tawanya tidak pecah.
Sungguh, Rayyan narsis sekali. Dalam situasi genting begini ia memiliki kesempatan untuk menyombongkan diri di hadapan Nyimas. Ternyata benar kata orang, cinta mampu membuat seseorang berubah dalam hitungan detik.
"Selama menjalani masa penjajakan, kami sepakat untuk menutupi hubungan ini dari banyak orang sebab saya tidak mau ada orang lain menggunjingkan Arumi. Menjelek-jelekan kekasih saya dan meng-cap Arumi sebagai Janda Genit atau sebagainya."
"Tante tahu, ke mana dan dengan siapa Arumi pergi?" tanya Rayyan. Pria itu menelisik manik indah milik calon mertuanya. Hanya gelenggan kepala yang ia dapatkan. "Arumi pergi bersama saya, Tante. Kami pergi berkencan sama seperti pasangan pada umumnya."
"Saya merasa bersalah telah menutupi hubungan kami selama ini. Namun, demi Tuhan, saya sungguh-sungguh mencintai Arumi. Bahkan, kedatangan saya ke sini berniat untuk meminta restu dari Tante karena saya ingin mempersunting Arumi."
"Oleh karena itu, apakah Tante bersedia memberikan restu itu pada saya?" tanya Rayyan bersungguh-sungguh.
.
.
.
__ADS_1