
Setelah melewati drama yang menegangkan, akhirnya Rayyan dan Arumi bisa bernapas lega. Satu masalah telah terselesaikan. Kini, Arumi maupun Rayyan sudah tak perlu lagi sembunyi-sembunyi bila ingin pergi berkencan, sebab Nyimas sudah tahu jika putri dan calon menantunya itu akan menghabiskan waktu bersama sambil menikmati indahnya sinar rembulan dan gemerlap bintang di malam hari.
Rayyan sudah ada di dalam mobil. Usai berbincang hangat bersama calon mertua serta menyampaikan rencananya untuk segera menikahi Arumi, pria itu berpamitan pulang ke rumah. Ada satu hal yang harus dikerjakan olehnya sebelum akhirnya ia benar-benar menikahi kekasih tercinta, yaitu memberitahu Firdaus dan Lena tentang rencana menikahi Arumi. Ia bertekad akan menikahi Arumi dalam waktu dekat.
Dengan kecepatan sedang, kendaraan roda empat itu melaju memecah keramaian ibu kota. Ditemani alunan musik kesukaan, Rayyan menikmati perjalanannya. Mengetuk-ngetukan jari di atas stir mobil seraya bersenandung lirih.
Hari ini hatinya sangat berbunga-bunga hingga tanpa sadar mobil pria itu telah memasuki area perkarangan rumah yang dibeli sebelum ia lahir ke dunia. Walau banyak mengalami renovasi di mana-mana tapi kenangan Rayyan saat bersama mama tercinta masih berdiri kokoh di hunian tersebut.
Kening pria itu mengerut hingga tampak garis halus terlukis di sana tatkala sebuah mobil asing terparkir di depan garasi. Sebuah mobil dengan sticker rumah sakit tempat pria itu bekerja menempel di jendela bagian belakang mobil.
"Tumben sekali Papa membawa rekan kerjanya ke rumah. Biasanya pria tua itu enggan membawa urusan pekerjaan ke rumah tapi mengapa kali ini berbeda. Apakah ada masalah penting hingga memaksanya meminta bawahannya datang ke rumah?" Rayyan bermonolog seraya mengeluarkan satu buah tote bag dari kursi belakang.
"Eh ... Den Rayyan sudah pulang." Bi Elis, ART di rumah itu menyambut ramah kedatangan putra dari sang majikan. Wanita paruh baya itu sedang menyiram tanaman di pot bunga yang berada di depan pintu masuk rumah dua lantai bak istana.
Seperti biasa, Rayyan akan bersikap tanpa ada senyuman terlukis di wajah.
"Sedang ada tamu penting?" tanya Rayyan singkat. "Tumben sekali Papa mengajak bawahannya ke rumah."
Bi Elis tampak kebingungan. Maklum, usianya sudah mengingak kepala lima. Jadi, memori ingatannya sedikit melemah. Ia lupa jika di dalam rumah ada dua orang tamu penting yang sengaja datang ke rumah itu untuk membahas suatu hal penting.
Pria berwajah oriental itu menggeleng kepala seraya memejamkan mata sejenak. 'Sabar, Ray. Jangan emosi.' Ia bergumam dalam hati, mencoba menenangkan diri agar emosinya tak meledak.
Alis Bi Elis mengerut, wanita paruh baya itu sedang berpikir keras. Mengingat kembali pertanyaan yang diucapkan oleh Rayyan. Lalu, tersadar akan sesuatu hal penting.
__ADS_1
"Astaga, Den!" pekik Bi Elis seraya menepuk kening. "Maafin, Bibi." Wanita itu berusaha tersenyum meski dalam hati ia ketakutan setengah mati. Khawatir Rayyan akan marah karena penyakit wanita paruh baya itu kambuh di saat yang tidak tepat.
"Benar, Den. Di dalam ada tamu. Baru sepuluh menit lalu tiba di rumah," papar Bi Elis. "Mereka sedang ada di ruang tamu, berbincang dengan Pak Firdaus dan Bu Lena."
Mendengar nama mama tirinya disebut, Rayyan memutar bola mata dengan malas. "Wanita itu lagi!"
Hari semakin sore, cuaca di luar pun tampak mendung. Awan hitam pekat mulai bermunculan. Suara gemuruh petir saling bersahutan. Embusan angin bertiup dengan kencang, menjadikan Rayyan kedinginan karena desiran angin kencang berembus.
"Ya sudah. Kalau begitu saya masuk dulu, Bi." Pria itu melangkah masuk ke dalam rumah. Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke belakang. "Tolong buatkan saya kopi seperti biasa. Sore ini, saya ingin menikmati secangkir kopi hangat ditemani red velvet cake.
***
Sementara itu, tampak Firdaus sedang berbincang hangat bersama dua orang tamu penting yang sengaja datang khusus ke rumah itu. Sikap ayah dari sosok pria tampan yang berprestasi di dunia kesehatan begitu ramah terhadap kedua tamunya. Suasana hangat tercipta meski di luar udara terasa dingin.
"Mari, silakan diminum dulu Dokter Arya dan Dokter Naura!" Firdaus mempersilakan kedua tamunya untuk mencicipi hidangan yang tersedia di atas meja. Ia bersikap ramah terhadap para tamunya tersebut.
"Dokter Firdaus, Dokter Rayyan ke mana? Kok sejak tadi tidak terlihat." Naura, putri dari salah satu dokter di Persada International Hospital menginterupsi kala papanya dan Firdaus tengah terlibat percakapan serius.
Seketika Firdaus menoleh ke arah Lena. Ia baru tersadar jika sedari tadi putra sulungnya bersama mendiang istri pertama tidak ada di rumah.
Pria itu mengusap tengkuk, tersenyum kaku di hadapan Naura dan Arya. "Ehm ... itu ... Rayyan sedang--"
Tak lama berselang, suara derap langkah seseorang dari lorong penghubung antara teras rumah dengan ruang tamu terdengar membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh. Tak terkecuali Naura.
__ADS_1
Mata gadis itu berbinar bahagia kala melihat Rayyan masuk ke dalam rumah dengan gagah berani. Mengenakan kemeja abu-abu tua, bagian lengan dilipat sampai sebatas siku. Celana bahan berwarna hitam serta tatanan rambut pompadour memberikan kesan maskulin tapi tetap keren dan kekinian.
Naura tak bisa lagi menahan senyumannya begitu melihat Rayyan berdiri di hadapannya. Sosok pria dingin yang mampu menggetarkan hati dan mengisi pikirannya selama lima bulan terakhir.
"Nah, itu Rayyan." Firdaus bisa menghela napas lega, sebab putra sulungnya telah tiba di rumah. Sehingga ia tak memiliki alasan untuk berbohong.
Firdaus bangkit dari duduk, melangkah mendekati Rayyan. Menyentuh pundak sang anak, memberikan usapan lembut di sana.
"Duduk dulu, Nak. Ada Dokter Arya dan Dokter Naura sengaja datang ke sini."
Rayyan melirik ke arah Firdaus. Sikap pria itu begitu ramah dibanding sebelumnya. Menghabiskan waktu selama kurang lebih delapan belas tahun tinggal di atas yang sama, membuat Rayyan sadar telah terjadi sesuatu yang tidak beres. Gelagat Firdaus sangat mencurigakan.
"Ada apa, Pa?" tanya Rayyan penuh selidik. Pria itu mengalihkan pandangan ke sekitar. Menatap dokter Arya--salah satu dokter obgyn (dokter spesialis kandungan dan ginekologi). Lalu, beralih menatap Naura secara bergantian.
"Sudah, nanti Papa jelaskan. Sebaiknya kamu duduk dulu di sofa. Kamu pasti capek setelah seharian bekerja 'kan," bujuk Firdaus. Pundak Rayyan didorong agar sang anak mau mendekati sofa. Namun, Rayyan tak buai oleh bujuk rayu papanya.
"Tunggu!" sergah Rayyan cepat. Menepis tangan Firdaus. Kedua tangan ke udara seraya berkata, "Katakan dulu padaku, ada apa sebenarnya ini? Kenapa Dokter Arya dan wanita itu datang ke sini?" Rayyan sengaja menekankan kata 'wanita itu' di hadapan Firdaus, sebab ia tak menyukai ada seorang wanita asing masuk ke dalam rumah peninggalan Mei Ling.
Kehadiran Lena saja sudah membuat Rayyan membenci istri kedua Firdaus setengah mati, ditambah kehadiran Naura ke rumah itu semakin membuat gejolak amarah dalam dirinya semakin memuncak.
"Sebenarnya, kedatangan mereka ke sini ... ingin--"
.
__ADS_1
.
.