
Kediaman Putra Adiguna
Seperti hari biasa, Naila akan melayani keperluan sehari-hari Putra mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Walaupun ia bukan ibu mertua yang baik bagi Arumi dan terkadang lupa akan perannya sebagai ibu dari satu putra yang masih terbaring di rumah sakit, karena wanita itu terlalu asyik bergosip atau hanya sekadar hang out bersama teman geng sosialitanya, tapi wanita paruh baya itu tetap menjalankan perannya sebagai istri dan ibu yang baik bagi Putra dan juga Mahesa.
Pagi ini, ibu dari Mahesa Putra Adiguna tengah menyiapkan sarapan untuk suami tercinta. Dibantu dua orang asisten yang sudah lama bekerja di kediaman Adiguda, wanita itu sibuk menumis semua bumbu masakan dalam sebuah wajan berukuran sedang.
Tumis kacang panjang dicampur tempe yang diiris dadu serta Tamagoyaki atau yang biasa disebut dengan telur dadar ala Jepang-- makanan berbahan dasar telur ayam yang diberi gula dan garam, sehingga rasanya manis dan gurih menjadi menu pagi hari keluarga Putra Adiguna.
"Pa, ayo makan dulu. Aku sudah masakan makanan untuk sarapan pagi." Naila melangkah mendekati Putra yang sedang duduk santai sambil membaca koran di teras belakang rumah dua lantai.
"Memangnya kamu masak apa? Kuperhatikan sejak dari tadi sibuk terus di dapur sampai tidak sempat mengangkat telepon genggam milikmu." Protes Putra karena sedari tadi Naila begitu sibuk dengan pekerjaannya di dapur sehingga tidak memiliki waktu untuk mengangkat telepon yang terus menerus berdering tanpa henti.
"Alah, palingan juga teman-teman geng sosialitaku yang telepon. Biasa, mereka pasti ingin pamer padaku karena baru saja pulang dari luar negeri," jawab Naila. Air muka wanita itu berubah masam.
"Seharusnya aku juga ikut bersama mereka jalan-jalan ke Singapura, sayangnya karena suamiku sudah kere dan anakku masih koma gara-gara pelakor itu jadi rencana yang sudah diagendakan jauh-jauh hari harus gagal. Beruntungnya aku memiliki alasan sehingga teman-teman tidak curiga jika perusahaan suamiku hampir bangkrut!" cibir Naila sinis. Merasa kesal karena Putra sudah tak lagi mampu memberikan banyak uang seperti dulu.
Merasa disindir oleh Naila, Putra menutup koran lalu melemparkannya ke atas meja. Ia bangkit dari kursi, kemudian menatap nyalang ke arah istrinya.
"Jika aku menuruti semua keinginanmu, maka uang yang tersisa akan ludes dalam hitungan menit, Ma! Sementara aku masih membutuhkan uang itu untuk diputar lagi. Kalau tidak begitu, perusahaanku benar-benar gulung tikar!"
"Kamu jangan egois, Ma. Masih ada Mahesa yang juga membutuhkan biaya selama dirawat di rumah sakit. Kita tidak boleh egois, hanya mementingkan urusan pribadi saja." sungut Putra berapi-api. Geram karena Naila tak pernah mengerti kesulitan yang tengah dihadapi oleh keluarga mereka.
Putra nyaris kehilangan kesabaran. Tak mengira jika hingga detik ini Naila masih saja menyalahkan dirinya atas semua kekacauan yang terjadi. Selama hampir lima bulan, pria itu berpikir istrinya sudah ikhlas menerima kenyataan ini, tapi sayangnya dugaannya salah. Naila masih sama seperti dulu, selalu memojokannya kendati dirinya sudah berusaha sebaik mungkin menjadi suami terbaik bagi wanita itu.
__ADS_1
Tak terima dibentak oleh Putra meski pria itu adalah suaminya, Naila menghunuskan tatapan tajam ke arah sang suami.
"Loh, memang benar 'kan kalau kamu itu sudah kere, Mas! Perusahaanmu hampir bangkrut, hutang di mana-mana. Kalau bukan kere, terus sebutan yang pantas untuk mewakili pria tak berguna sepertimu apa heh?" sembur Naila tak kalah emosi.
"Seandainya dulu kamu pintar mengatur keuntungan perusahaan, aku tidak mungkin menetap terus di rumah ini! Aku bisa jalan-jalan, berbelanja dengan teman-temanku tanpa memikirkan sisa saldo yang ada di dalam rekening. Tapi, kamu terlalu bodoh sampai perusahaanmu sendiri oleng semenjak Mahesa terbaring di rumah sakit!" Naila semakin meninggikan nada suaranya di hadapan Putra. Seolah pria itu tak memiliki harga diri sebagai seorang suami.
"Naila! Jaga ucapanmu!" bentak Putra.
Akibat terlalu emosi hingga tanpa sadar tangan pria itu terangkat ke udara. Hanya tersisa beberapa jengkal saja telapak tangan itu siap mendarat di pipi mulus sang istri.
Namun, tiba-tiba ....
"Pak ... Bu ... m-maaf." Suara lembut sang asisten rumah tangga menghentikan pertikaian di antara pasangan suami istri itu. Terlihat asisten wanita itu menundukan kepalanya seraya meremaas jemari tangan karena khawatir kena sembur Naila yang terkenal sering memarahi para pekerja di rumah tersebut.
Sementara itu, Naila membuka kelopak matanya secara perlahan. Karena takut ditampar oleh Putra yang saat itu hilang kendali, akhirnya ia memejamkan mata kala tersisa beberapa jengkal lagi telapak tangan sang suami mendarat indah di pipi mulusnya.
Ketika mendengar suara seseorang menginterupsi pertengkaran mereka, Naila menoleh ke belakang. Ia cukup lega, sebab pria yang berdiri di hadapannya tidak jadi menampar dirinya.
"Ada apa?" tanya Naila seraya menggeser tubuhnya menjauh dari Putra.
Seumur hidup baru kali ini melihat pria itu marah. Biasanya Putra diam saja meski ia terus mengoceh, menghina bahkan memaki pria itu. Akan tetapi, kali ini Putra berubah menjadi sosok yang menakutkan.
Sang asisten rumah tangga menelan saliva susah payah. "M-maaf, Bu. S-saya hanya ingin memberitahu kalau ada telepon dari rumah sakit. Seorang perawat memberitahu jika Den Mahesa sudah menunjukan tanda-tanda bahwa ia akan tersadar dari koma."
__ADS_1
"Apa? Anakku telah sadar dari koma?" Raut wajah terkejut mendengar ucapan sang asisten.
"Saya tidak tahu, Apakah Den Mahes sudah tersadar atau belum. Namun yang pasti perawat ICU meminta bapak dan ibu untuk segera datang ke rumah sakit sebab ada beberapa informasi yang ingin disampaikan oleh dokter kepada Pak Putra dan Ibu Naila."
Putra menghembuskan napas panjang. "Jangan banyak bertanya. Sebaiknya kita berangkat ke rumah sakit." Tanpa membuang waktu, pria itu melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan.
"Bi, kamu tata kembali semua makanan yang saya hidangkan di atas meja. Tutup rapat jangan sampai ada lalat hinggap di tudung saji." Kemudian Naila berjalan setengah berlari mengejar suaminya yang telah lebih dulu masuk ke dalam ruangan.
Tak lama kemudian, Naila dan Putra sudah berada di dalam mobil. Pria berusia hampir kepala lima mengendarai sendiri kendaraan roda empat miliknya. Usai perdebatan sengit di antara pasangan suami istri itu, baik Naila maupun Putra sama-sama menutup mulut mereka dengan rapat. Tak ada yang berinisiatif membuka suara.
Hingga tanpa sadar, kendaraan roda empat milik Putra telah memasuki pekarangan rumah sakit. Mantan papa mertua Arumi mematikan mesin mobil, lalu turun begitu saja tanpa membukakan pintu untuk istri tercinta.
"Dasar suami tidak punya akhlak! Sudah kere, belagu! Kalau bukan karena Mahesa, sudah aku layangkan surat gugatan cerai setelah tahu dia jatuh miskin," gerutu Naila seraya turun dari mobil.
Namun, bibir Naila segera bungkam kala melihat sorot mata penuh amarah mengarah kepadanya. Putra menghunuskan tatapan tajam seakan hendak menghabisi Naila saat ini juga.
"M-mas, k-kita masuk ke dalam yu! Dokter pasti sudah menunggu kedatangan kita." Naila mencoba bersikap baik di hadapan Putra, berharap agar emosi dalam diri sang suami cepat mereda.
Kendatipun diselimuti kemarahan yang membara, Putra menuruti perintah Naila. Bagi Putra, saat ini hanya Mahesa yang menjadi prioritas utama. Bukan dirinya apalagi Naila.
.
.
__ADS_1
.