
Alih-alih menjawab pertanyaan Rayyan, Arumi menanyakan pertanyaan yang sama kepada pria itu. "Menurutmu sendiri, bagaimana? Kalau kamu jadi aku, apakah akan memaafkan wanita itu?" tanya wanita cantik sambil menaik turunkan kedua alis.
Percakapan yang awalnya terasa begitu menegangkan berubah santai kala seulas senyum terlukis di wajah Rayyan. Pria itu terkekeh melihat wajah imut sang istri. Di matanya, sosok wanita itu begitu menggemaskan hingga membuat dokter tampan itu ingin sekali menghujani wajah cantik itu dengan sebuah kecupan penuh cinta, bukan kecupan penuh hawa napsu yang mampu membangkitkan jiwa kelelakiannya. Namun, murni kecupan yang menunjukan bahwa dia begitu mencintai istrinya itu.
Tubuh pria itu bersandar di belakang sandaran sofa dengan kedua tangan berada di belakang kepala, menjadi bantalannya. "Kalau aku jadi kamu, tentu saja tidak akan pernah memaafkan wanita itu karena bagiku sebuah pengkhianatan itu merupakan kesalahan besar yang sukar sekali untuk dimaafkan. Banyak orang menjadi korban dari yang namanya sebuah perselingkuhan, salah satunya adalah anak.
"Aku merupakan salah satu korban dari sebuah perselingkuhan. Rumah tangga Mamaku hancur akibat kehadiran orang ketiga, meski pada awalnya memang hubungan antara Papa dan Mama tidak berjalan baik, tapi setidaknya mereka dapat berpura-pura harmonis demi aku. Namun, semenjak dia datang sikap Papa semakin dingin dan lebih memilih meninggalkan kami demi selingkuhannya itu."
Lantas, Rayyan membenarkan posisi duduk dan menyentuh bagian rongga perut kanan bagian atas letak di mana hati berada. "Kamu tahu, di sini tuh rasanya sakit sekali harus melihat orang yang kita cintai menangis tergugu sambil memeluk pakaian seseorang yang jelas-jelas tidak pernah mencintai kita selama ini. Hatiku terluka bagai disayat oleh sebilah pisau. Sakit tapi tak berdarah."
"Oleh karena itu, kemungkinan besar aku tidak bisa menerima permintaan maaf mantan sahabatmu. Berjuta kali dia memohon bahkan bersimpu di hadapanku, keputusanku sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat."
Arumi menghela napas kasar. Entah mengapa mendengar jawaban Rayyan membuatnya sedikit kecewa. Akan tetapi, dia pun tidak dapat menyalahkan suaminya 100% sebab semua kesalahan terletak pada kedua orang dewasa yang saat itu tengah bermain api. Di sini, Rayyan-lah menjadi korban dari keegoisan Firdaus dan Lena. Akibat dendam dan rasa sakit yang mendarah daging, membuat dokter tampan pemilik wajah nan rupawan berubah menjadi sosok pria dingin, pendendam, tempramental namun juga over protective dalam waktu bersamaan.
"Sekarang giliranmu, Babe, untuk menjawab pertanyaanku. Apakah tadi kamu memaafkan wanita itu?" tanya Rayyan yang masih penasaran. Jiwa keponya tiba-tiba bangkit dan menguasai diri.
Suara magnetis itu membuat Arumi kembali tersadar bahwa saat ini dia tengah membicarakan soal kedatangan Kayla ke apartemen yang ditinggali oleh wanita itu beserta suami tercinta.
Arumi mengembuskan napas pelan, lalu menjawab. "Aku memaafkan wanita itu, Mas. Namun, bukan berarti hubungan persahabatan yang pernah kami bina bisa terjalin lagi seperti sedia kala."
__ADS_1
Pandangan mata Arumi mengarah pada sebuah vas bunga yang ada di atas meja rias. Kemudian dia kembali berkata, "Sebuah vas bunga yang jatuh ke lantai dan pecah menjadi beberapa bagian tidak mungkin dapat menyatu kembali, meski diberikan perekat dengan kualitas nomor satu di pasaran tetapi tetap saja bekas pecahan itu masih terlihat. Begitu pun dengan perasaanku. Aku telah memaafkan Kayla, namun untuk menjadi sahabat apalagi perisainya seperti dulu, aku tidak bisa."
"Luka yang ditorehkan wanita itu begitu dalam hingga membuatku tak tahu kapan akan sembuh. Butuh waktu lama untuk benar-benar bisa mengobati luka akibat dari sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh sahabatku sendiri. Mungkin belasan tahun, puluhan tahun atau bahkan seumur hidup luka itu akan terus mengangga hingga terkubur bersama jasadku nanti."
Arumi terdiam beberapa saat. Dia memang tidak tahu pasti kapan luka dalam hatinya benar-benar sembuh meski orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya telah dihukum oleh Tuhan, sebab perasaan wanita itu hancur berkeping-keping saat tahu rumah tangganya dirusak sendiri oleh orang terdekat.
"Namun, setidaknya dengan aku memaafkan semua kesalahan mereka, membuat hidupku terasa lebih damai dan tentram. Tidak lagi ada rasa sesak di dada setiap kali mengingat kejadian itu. Akan terkesan sombong bila aku tidak memaafkan wanita itu, karena di dunia ini setiap insan manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Begitu pun dengan Kayla."
"Lagi pula, aku cuma manusia yang diciptakan dari tanah tanpa memiliki kehebatan apa pun. Akan terkesan sombong apabila aku tidak memaafkan mantan sahabatku itu. Sedangkan Tuhan saja mau memaafkan semua kesalahan seluruh insan manusia di bumi ini asalkan mereka benar-benar berjanji untuk tidak mengulangnya lagi."
"Walaupun sakit, tetapi aku mencoba mengikhlaskan semua yang telah terjadi kepadaku. Mengambil hikmah atas kejadian di masa lalu. Dengan begitu, aku berharap hatiku lebih lapang karena tidak terus menerus digerogoti rasa dendam atas pengkhianatan yang dilakukan oleh Kayla dan Mas Mahes."
"Kita di dunia ini hanya hidup satu kali. Jadi ... untuk apa menghabiskan waktu hanya sekadar memikirkan dendam, amarah dan menumbuhkan bibit kebencian di dalam diri. Itu semua tidak ada gunanya, Mas. Malah membuat hidup kita tidak tenang."
Rayyan terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Arumi. Dia meras tertampar kala wanita yang teramat dicintainya secara tidak langsung menyampaikan isi hati yang terdalam lewat sebuah isyarat yang hanya dapat dimengerti di saat seseorang itu menjernihkan pikiran serta menyingkirkan ego dalam diri. Debaran aneh secara diam-diam menelisik ke dalam diri, ada rasa menyesal karena selama ini hidup dalam sebuah kebencian yang telah tumbuh bersemi setiap hari.
Tanpa sadar, bola mata pria itu berkaca-kaca kala mengingat kenangan manis saat dia masih kecil. Dulu, Firdaus begitu menyayangi, mencintai dan memanjakannya meski hubungan pria itu dengan sang mama tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya. Namun, pria paruh baya yang telah menyumbangkan setetes cairan kenikmatan ke dalam inti tubuh mama tercinta tetap menjalankan perannya sebagai ayah yang baik hingga dirinya beranjak dewasa. Pun begitu dengan Lena, wanita itu menggantikan peran Mei Ling di saat beliau sudah kembali ke hadapan Sang Pencipta.
Rayyan menatap hangat ke arah Arumi. Pria itu tak menyangka kalau wanita cantik yang ada di hadapannya mempunyai hati emas yang bisa memaafkan kesalahan orang lain. Sungguh, dia merasa beruntung karena bisa bersanding dan menjadikan mantan musuhnya itu sebagai istrinya.
__ADS_1
"Mas, selain niatan Kayla datang ke sini untuk meminta maaf, dia pun ingin meminta bantuanku agar bersedia membesuk Mas Mahesa di rumah sakit," ucap Arumi lirih setelah terjadi keheningan beberapa saat.
"Lalu, apakah kamu bersedia menemui pria berengsek itu?" tanya Rayyan.
Arumi menggelengkan kepala. "Aku belum memberikan jawaban pada wanita itu, sebab ini merupakan masalah penting yang wajib kudiskusikan dulu bersamamu. Aku tidak mau gegabah dalam bertindak. Cukup dua kali kena semburan hawa panas dari seorang naga jantan yang saat itu sedang marah karena tahu sang betina mengambil keputusan secara sepihak," sindirnya seraya mencebikkan bibir.
Alih-alih kesal, Rayyan malah tersenyum gemas melihat sikap istrinya. Wanita itu sukses membuat pria berwajah oriental mengulum senyum di wajah.
"Ya ... ya ... aku tahu saat itu sudah keterlaluan padamu. Namun, demi Tuhan, itu hanya emosi sesaat karena aku kesal atas sikapmu yang seakan tidak menghormatiku sebagai kepala keluarga di apartemen ini."
Rayyan melangkah maju mendekati ranjang, lalu berjongkok di hadapan sang istri. Telapak tangan meraih jemari lentik wanita itu, kemudian mengecup punggung tangan dengan mesra. "Apakah kamu ingin menemui mantan suamimu itu?"
Arumi sedikit terkejut mendengar pertanyaan Rayyan. Nada suara pria itu terdengar sangat lembut tanpa ada kemarahan di setiap kalimat yang terucap. Dengan ragu-ragu, dia mendongakan kepala menatap manik coklat indah milik sang suami.
"Ehm ... sebetulnya aku--"
.
.
__ADS_1
.