Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Pemeriksaan USG


__ADS_3

The University of Tokyo Hospital


"Selamat pagi, Dokter Rayyan," sapa dokter wanita ramah kala melihat Rayyan dan Arumi masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Dokter wanita itu merupakan dokter senior dan cukup terkenal di rumah sakit tersebut.


Arumi sedikit terkejut saat dokter wanita itu menyapa dirinya dan Rayyan menggunakan bahasa Indonesia.


Melihat bola mata Arumi melebar sempurna, Rayyan mendekati istrinya kemudian berbisik. "Beliau adalah Dokter Anin. Asli orang Indonesia. Namun, beliau memutuskan pindah kewarganegaraan setelah menikah dengan suaminya yang merupakan penduduk asli Jepang." Tampak Arumi menganggukan kepala sebagai jawabannya.


"Selamat pagi, Dokter." Rayyan dan Arumi tersenyum ramah seraya duduk di kursi yang telah disediakan.


Hari ini, mereka menjadi pasien pertama sehingga tak perlu menunggu terlalu lama agar dapat melakukan pemeriksaan karena Rayyan telah menghubungi rumah sakit tempatnya dulu bekerja saat masih di Jepang untuk membuatkan janji konsultasi dengan dokter wanita di rumah tersebut.


Mayoritas dokter kandungan di Jepang adalah pria sehingga saat ingin melakukan pemeriksaan kesehatan organ reproduksi dengan dokter wanita maka pasien diharapkan membuat janji terlebih dulu. Oleh karena itu, Rayyan sudah jauh-jauh hari membuat janji dengan salah satu dokter wanita senior dan cukup terkenal di The University of Tokyo Hospital.


"Bagaimana kabar Dokter Rayyan selama hampir lima bulan tinggal di Indonesia?" tanya Dokter Anin basa-basi sambil memeriksa hasil pemeriksaan tanda-tanda vital Arumi.


Biasanya, pasien akan melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital yang meliputi cek suhu tubuh, tekanan darah, berat badan dan tak jarang juga pemeriksaan tinggi badan.


"Baik, Dok. Seperti yang Dokter lihat, keadaan saya baik-baik saja," jawab Rayyan masih dengan tampang dingin. Tidak ada senyuman manis seperti yang biasa diberikan kepada istri tercinta.


Ya, begitulah seorang Muhammad Rayyan Firdaus, selalu bersikap dingin, dan cuek terhadap orang lain namun bersikap lemah lembut, dan hangat terhadap Arumi, sang mertua, anak-anak serta mama-nya Rio.


Setelah membaca hasil pemeriksaan tanda-tanda vital, dokter Anin menggeser buku rekam medis pasien kemudian menatap wajah Arumi seraya tersenyum hangat kepada istri Rayyan.


"Ada keluhan apa hingga pasangan pengantin baru ini menyempatkan diri pergi ke rumah sakit di sela-sela waktu bulan madu?"


Arumi sudah bersiap membuka mulut, ingin menjawab pertanyaan sang dokter, tapi rupanya ia kalah cepat, Rayyan telah lebih dulu bersuara.


"Sama seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya pada Dokter bahwa saya ingin memeriksakan kondisi kesehatan organ reproduksi Arumi." Menjeda sejenak kalimatnya, melirik sekilas ke arah Arumi. Memperhatikan perubahan raut wajah istrinya itu. "Lima tahun istri saya menikah tapi belum juga hamil."


Dokter Anin tidak banyak bertanya, sebab sebelumnya Rayyan memang telah menceritakan semuanya pada dokter senior itu. Beruntungnya dokter Anin berpengalaman menangani kasus seperti ini dan memiliki riwayat yang sama dengan Arumi. Jadi, bisa berbagi sedikit pengalaman agar istri cantik rekan kerjanya itu segera memiliki momongan.


Air muka dokter Anin berubah serius. Menarik napas panjang sebelum melanjutkan pembicaraannya. "Apakah sebelumnya sudah pernah berobat dan mengikuti program hamil?"


Tampak Arumi menganggukan jawaban. "Sudah, Dokter. Tahun kedua pernikahan, saya dan mantan suami mulai mengikuti program hamil. Banyak rumah sakit umum serta rumah sakit khusus ibu dan anak saya datangi untuk berobat, bahkan pengobatan tradisional pun sudah saya lakukan. Mulai dari pijat, akupuntur dan konsumsi obat pahit pernah saya lakukan tapi hasilnya nihil. Hingga akhirnya ... mantan suami saya selingkuh," ucap Arumi lirih. Namun, suara wanita cantik itu masih terdengar oleh indera pendengaran dokter Anin dan Rayyan.

__ADS_1


Lagi-lagi, dokter Anin menarik napas panjang. Menyadari jika posisi wanita selalu menjadi kaum yang tertindas apabila hubungan rumah tangga yang dibina tak kunjung membuahkan hasil. Ia pun pernah merasakan di posisi Arumi, namun beruntungnya suami dokter senior itu setia tidak berbuat macam-macam hingga di tahun kelima pernikahan, Tuhan menitipkan dua orang bayi kembar dalam rahimnya. Dan kini, kedua bayi kembar itu tumbuh sehat dan menjalankan aktivitasnya sama seperti remaja di Tokyo pada umumnya.


Rayyan dengan sigap memberikan sentuhan lembut pada Arumi, berusaha menenangkan wanita itu agar tak kembali teringat akan goresan luka yang ditorehkan oleh Mahesa dan Kayla.


"Babe, tenang ya. Aku akan selalu berada di sisimu. Ada atau tidaknya anak dalam rumah tangga kita, aku kan terus mendampingimu." Memberikan sedikit remasaan pada telapak tangan Arumi.


Mendengar kalimat Rayyan, sontak air mata yang dibendung susah payah oleh Arumi meluncur begitu saja tanpa meminta izin terlebih dulu. Wanita itu menggigit bibir bawah, berusaha agar tangisnya tidak pecah. Bukan karena menangisi nasib buruk yang telah menimpanya di masa lalu, melainkan menangis haru karena Tuhan menggantikan suami bejat seperti Mahesa dengan seorang lelaki baik hati yang bersedia menerima dirinya apa adanya.


Suasana ruang pemeriksaan berubah menjadi haru biru, dokter Anin pun menjadi emosional melihat betapa tulusnya cinta Rayyan terhadap Arumi. Dalam hati bertekad, akan berusaha semaksimal mungkin membantu Arumi agar dapat hamil.


Tangan lembut dokter Anin terangkat ke atas, mengusut butiran kristal yang meluncur di sudut mata.


"Baiklah, kalau begitu kita mulai saja pemeriksaannya. Mari Bu Arumi, silakan berbaring."


Arumi menganggukan kepala. Tampak seorang perawat membantu istri cantik Rayyan naik ke atas ranjang pemeriksaan. Rayyan dengan setia mendampingi sang istri, menggenggam jemari Arumi seolah mengatakan bahwa semua kan baik-baik saja.


Kini, dokter Anin mulai mengoleskan gel ke bagian bawah perut Arumi. Namun, sebelumnya, Arumi telah melepas coat, topi dan sarung tangan yang melindungi tubuh wanita itu dari cuaca dingin di kota tersebut sehingga dokter senior itu dengan mudah melakukan pemeriksaan.


Kegunaan gel yang dioleskan ke seluruh area perut berguna untuk memperlancar stik USG (transduser) juga bermanfaat untuk mencegah udara masuk di antara kulit dan transduser.


Kini, stik USG telah menempel di bagian bawah perut Arumi. Dokter Anin tampak serius memperhatikan kondisi rahim, leher rahim, dan indung telur.


"Lantas, mengapa istri saya sampai tidak bisa hamil selama lima tahun lamanya, Dok?" tanya Rayyan penasaran.


Tatapan mata dokter Anin masih fokus menatap layar USG di hadapannya. Jemari dokter senior itu menari indah di bagian bawah perut Arumi.


"Nanti akan saya jelaskan jika pemeriksaan ini telah selesai."


Tak berselang lama, pemeriksaan pun telah selesai dilakukan. Dokter Anin merapikan kembali peralatannya.


"Bu Arumi, pemeriksaan kita sudah selesai. Setelah Ibu merapikan pakaian, kita akan sedikit berdiskusi di sana." Arumi hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.


Setelah Arumi dan Rayyan duduk kembali di kursi, dokter Anin mulai menjelaskan hasil yang didapat saat melakukan pemeriksaan USG.


"Dari hasil pemeriksaan, saya sama sekali tidak menemukan kekurangan apa pun pada organ reproduksi Bu Arumi. Semuanya dalam keadaan normal dan sehat." Dokter Anin mulai membuka percakapan.

__ADS_1


"Mengenai pertanyaan Dokter Rayyan, ada banyak faktor yang menyebabkan seorang wanita sulit mengandung. Salah satunya adalah faktor stres. Stres merupakan pemicu utama bagi seorang wanita yang telah menikah mengalami kesulitan hamil. Jika seluruh pemeriksaan normal, maka harus dilihat bagaimana kondisi psikis wanita itu."


Dokter Anin sedikit memajukan tubuhnya ke depan, menopang dagu menggunakan punggung tangan.


"Biasanya, tekanan dari berbagai arah mampu memicu seorang wanita mengalami stres. Selain faktor banyaknya pekerjaan, lingkungan sekitar pun turun andil memberikan tekanan pada seseorang. Jika menelisik dari kasus yang Bu Arumi alami, saya sangat yakin faktor inilah menjadi pemicu utama istri Dokter Rayyan sulit hamil," tutur Dokter Anin panjang lebar.


Dokter Anin mendesaah kasar. "Kita semua tahu, bagaimana lisan warga +62 saat berkomentar. Begitu tajam bahkan lebih tajam dari sebilah pisau. Ucapan sekecil apa pun mampu membuat hati seseorang terluka."


"Sudah mendapat tekanan dari luar, ditambah tekanan dari keluarga sendiri semakin menambah beban hidup bagi seseorang khususnya Bu Arumi sendiri."


"Saran saya jika memang Dokter Rayyan ingin istri tercinta lekas hamil, jangan bebani pikiran dengan menanyakan "bagaimana, hamil test pack-nya positif tidak? Kok kamu belum juga hamil sih." Apalagi sampai membandingkan istri sendiri dengan istri orang lain. Sungguh, pertanyaan itu semua malah semakin membuat mental Bu Arumi down dan semakin sulit hamil."


"Jika Bu Arumi menjalani kehidupan sehari-hari penuh suka cita tanpa ada beban sedikit pun, saya yakin dalam waktu dekat kabar baik akan datang menghampiri keluarga kecil kalian. Seorang malaikat kecil hadir di dalam rahim Bu Arumi."


Seketika, hati Arumi merasa tenang setelah mendengar ucapan dokter Anin. Dokter wanita itu bukan hanya memeriksa kesehatan Arumi namun juga memberikan nasihat kepada pasangan suami istri itu.


Kini, tatapan mata dokter Anin beralih pada dua lembar kertas yang merangkap jadi satu. Surat keterangan hasil lab sp*rma milik Rayyan tergeletak di atas meja kerja. Bola mata wanita itu bergerak kala membaca tiap kalimat yang tertulis di kertas tersebut.


"Ditambah hasil lab Dokter Rayyan tidak menunjukan masalah apa pun. Seharusnya dalam waktu dekat Bu Arumi dapat hamil."


Dokter Anin menatap Arumi, lalu bertanya. "Terakhir kali menstuasi, kapan?"


Ada sedikit rasa canggung menyelimuti hati Arumi kala dokter Anin bertanya soal pribadi di hadapan sang suami. Wajah wanita itu merah merona, kedua tangan saling meremaas satu sama lain.


Dengan gugup Arumi menjawab, "Ehm ... dua hari sebelum akad nikah, saya sudah bersih, Dok."


Sontak, jawaban Arumi membuat Rayyan tersenyum simpul. Wajah pria itu bersinar bahagia. Rupanya keputusannya tuk meminta haknya sebagai suami di malam pertamaa setelah pernikahan adalah keputusan tepat.


Dokter Anin yang kebetulan menoleh ke arah Rayyan sedikit terpana melihat dokter muda itu tersenyum sambil menatap wajah istrinya. Dari senyuman itu ia mengetahui jika secercah harapan bagi sepasang suami istri itu memiliki keturunan begitu besar.


"Baiklah. Kalau begitu saya akan memberikan resep vitamin yang bisa dikonsumsi oleh Bu Arumi." Dokter Anin menuliskan catatan di secarik kertas, lalu memberikannya pada dua insan manusia yang duduk di hadapannya.


"Kita tunggu hingga akhir bulan. Semoga saja, kerjakeras kalian selama berada di sini bisa membuahkan hasil," tutur Dokter Anin setengah berkelakar. "Jangan lupa diminum vitaminnya. Dan ... selalu berdo'a, memohon pada Tuhan semoga Dia menitipkan bayi mungil nan menggemaskan yang kelak menjadi pelita dalam hidup berrumah tangga. Do'a terbaik untuk kalian berdua."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2