
Setelah kepergian Putra, Rayyan segera melangkah masuk ke dalam kamar utama. Saat berpapasan dengan Arumi, di ruang tamu, pria itu sama sekali tak melirik sedikit pun ke arah wanita itu. Dia meninggalkan sang istri begitu saja.
"Mas, tunggu! Ayo kita bicara." Arumi segera berjalan menyusul Rayyan, menuju kamar mereka dengan perasaan bersalah.
"Mas Rayyan, aku minta maaf," ucap Arumi kala dia berhasil mencekal lengan Rayyan ketika mereka sudah berada di dalam kamar yang selama hampir dua minggu ini menjadi saksi bisu betapa bahagianya dua insan manusia yang dipersatukan dalam ikatan pernikahan sakral. Terlihat bola mata wanita itu mulai berkaca-kaca melihat sikap Rayyan yang terkesan dingin sama seperti awal pertemuan mereka.
"Minta maaf untuk apa? Memangnya kamu berbuat salah hingga meminta maaf kepadaku?" Rayyan menyingkirkan jemari lentik Arumi dari lengannya.
Arumi menggelengkan kepala cepat. Tak tahu harus berkata apa, sikap Rayyan kali ini jauh berbeda dari biasanya. Hati wanita itu bagai ditusuk ribuan jarum, melihat perubahan sikap Rayyan yang seolah menghindar darinya.
"Benar, Mas. A-aku memang bersalah padamu karena tidak meminta izin terlebih dulu saat membukakan pintu untuk pria lain. Meskipun dia adalah mantan mertuaku, tetapi tetap saja Om Putra bukan siapa-siapa lagi bagiku. Jadi kumohon, maafkan aku, Mas." Arumi menangkupkan kedua tangan ke depan dada, berharap agar Rayyan bersedia memaafkan kesalahannya kali ini.
Rayyan menarik sudut bibirnya ke atas, menyeringai sambil menatap sinis ke arah sang istri. "Kamu pikir, aku akan memaafkanmu dengan mudah hanya karena melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata. Begitu?"
"Jangan karena aku terlalu mencintaimu hingga kamu seenaknya saja melakukan kesalahan tuk kesekian kali. Aku memang sangat mencintaimu, bahkan melebihi apa pun di dunia ini. Namun, jangan pernah kamu beranggapan jika diriku ini lemah yang bisa luluh begitu saja setiap kali melihat butiran kristal menggenang di sudut matamu," ujar Rayyan dengan kilat mata tajam ditujukan kepada sang istri.
"Meskipun aku tidak pernah melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga, tapi kesabaranku ada batasnya. Statusmu saat ini adalah istriku, bukan lagi wanita yang bercerai dari suaminya. Jika dulu statusmu masih sendiri dan ingin membukakan pintu untuk mantan mertuamu, silakan. Tapi, statusmu kini sudah berubah. Kamu adalah istriku, istri dari Muhammad Rayyan Firdaus."
Rayyan sengaja menekankan kalimat terakhir, agar Arumi sadar bahwa saat ini dirinya adalah suami Arumi yang wajib untuk dihormati dan dipatuhi perintahnya selama tak bertentangan dengan ajaran agama.
__ADS_1
Pria itu sudah lelah bila terus mengalah. Bila biasanya dia yang terlebih dulu meminta maaf karena merasa telah melukai hati sang istri, tapi hari ini tidak. Dia ingin memberi sedikit pelajaran pada Arumi agar wanita yang berdiri di sampingnya merenungi kesalahannya. Bagi pria yang sebentar lagi merayakan ulang tahun, kesalahan sang istri kali ini sangat fatal dan bisa saja merenggangkan hubungan rumah tangga yang baru berusia satu bulan.
Jika ditanya apakah Rayyan berniat berpisah dari Arumi setelah wanita itu melakukan kesalahan besar selama mereka berumah tangga. Jawabannya, tentu saja tidak! Rayyan akan tetap bersama dengan wanita itu seumur hidup, sebab dia begitu sangat mencintai sang istri. Bagaimana dia menjalani kehidupannya tanpa ada Arumi di sisinya? Sedangkan separuh jiwa pria itu sudah berada dalam diri sang pujaan hati.
Air mata Arumi meluncur begitu saja di antara kedua pipi. Merasa tertampar kala mendengar semua perkataan Rayyan. Dada wanita itu terasa sesak dan napas pun memberat. Dia menyadari jika kesalahannya kali ini sulit dimaafkan, namun terus mencoba siapa tahu Rayyan mau memaafkan.
Dengan bibir gemetar, Arumi berucap. "A-aku ... hanya merasa kasihan pada Om Putra, Mas. Oleh sebab itu, aku membukakan pintu apartemen kita dan mempersilakan beliau masuk ke dalam." Air mata Arumi semakin lama semakin mengalir deras. Di saat dia mencoba diam, butiran kristal itu terus mengalir bagai mata air di pegunungan yang tak pernah kering.
Rayyan menatap Arumi dengan sorot mata tak terbaca. Ingin sekali memeluk tubuh rapuh itu dalam dekapan, mengusap lembut puncak kepala sang istri serta menciumnya. Akan tetapi, jika dirinya terus luluh oleh air mata Arumi mau sampai kapan wanita itu terus mengulangi kesalahan yang sama.
Seharusnya Arumi tahu, mana hal yang disukai oleh Rayyan dan mana yang tidak disukai pria itu. Bukan malah melakukan sesuatu yang tidak disukai, kemudian dengan mudahnya meminta maaf. Sebagai seorang suami, Rayyan merasa jika dirinya tak dihargai sebagai kepala rumah tangga.
"Hapus air matamu saat ini juga karena aku tidak mau jika orang lain beranggapan bila dirimu telah kusakiti. Padahal nyatanya akulah korban di sini, bukan kamu."
Di saat Arumi tengah sibuk menghapus air matanya, Rayyan berbalik dan hendak meninggalkan kamar itu setelah mendapatkan apa yang dicari. Akan tetapi, dengan cepat Arumi menahan tangan suaminya, tak memberikan izin pada pria itu untuk beranjak dari tempatnya berpijak.
"Mas, kamu mau 'kan memaafkanku?" Arumi mendongakan dan menatap Rayyan dengan penuh pengharapan.
"Honey ...." panggil Arumi lirih. "Please, forgive me." Perlahan, wanita itu meraih tangan Rayyan kemudian meletakkannya di pipi. Mengusap wajahnya menggunakan punggung tangan sang suami.
__ADS_1
Setiap sentuhan menimbulkan gelenyar aneh yang membuat tubuh Rayyan seperti tersengat aliran listrik dengan daya ratusan volt.
Tak mau terbuai oleh bujuk rayu Arumi, Rayyan mengembuskan napas kasar dan mengendalikan getaran lembut dalam dadanya. "Kesalahanmu kali ini sulit kumaafkan, Rumi. Kamu telah mengecewakanku."
Pria itu melepaskan tangan dari tangan Arumi. Dia menatap nanar ke arah sang istri. "Sementara waktu, aku ingin kamu merenungi semua kesalahanmu. Jika kamu memang merasa menyesal, tunjukan padaku keseriusanmu kalau dirimu tak kan mengulangi kesalahan yang sama."
"Aku tidak membutuhkan janji yang mana kamu langgar kembali. Sudah banyak janji yang terucap, tapi nyatanya tak ada satu pun terealisasikan." Rayyan kembali berucap. Setelah itu, dia melangkah keluar kamar meninggalkan Arumi yang masih terpaku dan membisu di tempat.
Rayyan berjalan meninggalkan kamar dengan perasaan campur aduk. Rasa sakit bercampur kecewa menyelimuti relung hati yang terdalam. Melihat Arumi menangis membuat hati pria itu terasa sakit. Namun, dia sudah membulatkan tekad untuk memberikan sedikit pelajaran pada sang istri agar wanita itu menjadi istri yang lebih baik lagi di kemudian hari.
"Mbak Tini, tolong kamu awasi Arumi selama saya tidak ada di rumah. Jika ada pria lain yang mencari saya ataupun Arumi, jangan pernah kamu bukakan pintu. Sekalipun di luar sana adalah Papa saya dan juga Rio, minta mereka pergi dari apartemen ini," pinta Rayyan kepada sang asisten kala dia berpapasan dengan Tini yang saat itu baru saja selesai menjemur pakaian.
Walaupun tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi di antara kedua majikannya, Tini tetap mematuhi perintah Rayyan. Wanita itu menganggukan kepala seraya berkata, "Baik, Pak Rayyan."
Lantas, Rayyan kembali melangkah maju keluar apartemen. Dia masuk ke dalam kotak persegi terbuat dari besi. Walaupun suasana hati sedang kacau, namun tugasnya sebagai seorang dokter menanti. Ada banyak pasien di rumah sakit yang menunggu uluran tangan dari pria bermata sipit itu.
"Semoga kali ini kamu berubah, Rumi, dan tak mengulangi kesalahan yang sama. Kalau sampai terjadi untuk kedua kali, entah dengan cara apa lagi aku mendidikmu agar menjadi istri yang patuh dan taat terhadap suami," gumam Rayyan seraya menyalakan mesin kendaraannya.
.
__ADS_1
.
.