
"Jangan sembarangan bicara!" bentak Husni sesaat setelah mendengar Reza menghina dan menyebut Kayla dengan sebutan j*lang. Sumpah demi apa pun, ingin sekali duda beranak satu merobek mulut anak sulung bu Kokom dengan tangannya sendiri.
Seandainya Husni bukan seorang RT dan negara ini bukanlah negara hukum, sudah ia lakukan sedari tadi. Ia tidak terima jika ada satu orang pun menghina serta merendahkan wanita yang telah mencuri hatinya sejak pertama kali bertemu.
"Punya hak apa Nak Reza menghina Bu Kayla dengan sebutan itu!" sambung Husni sambil mengepalkan kedua telapak tangan hingga memperlihatkan otot halus di punggung tangan. Menghunuskan tatapan tajam ke arah Reza.
Ditatapan sedemikian lekat oleh Husni, Reza sama sekali tidak terprovokasi. Pemuda itu bersikap santai seolah tak merasa bersalah atas perbuatan yang baru saja ia lakukan.
"Kenapa Pak RT marah begitu? Memangnya ada hubungan apa antara Bapak dengan wanita ini? Apakah ... Bapak merupakan salah satu customer J*l*ng itu?" Tersenyum sinis seraya menatap Husni dengan sorot mata mengejek.
Kesabaran Husni telah habis. Lagi dan lagi Kayla dihina di depan umum. Lantas, ia bergegas melangkah maju mendekati Reza. Mengulurkan kedua tangan ke depan, mencengkeram kerah baju anak sulung bu Kokom dengan erat. "Berengsek! Hati-hati kalau bicara! Menuduh orang tanpa ada bukti jatuhnya fitnah. Mengerti kamu!"
Alih-alih merasa takut, Reza semakin menjadi-jadi. Pemuda itu kembali berkata, "Fitnah? Saya berkata apa adanya, Pak. Bapak dan pria itu pasti salah satu customer mantan model itu, kan? Kalau tidak, kenapa Bapak bisa semarah ini kepada saya."
"Ehm ... itu, karena ...." Husni tak bisa berkata. Mulut pria itu bungkam seketika. Ia tak bisa mengakui perasaannya di depan semua orang, terlebih saat ini ada Kayla di sebelahnya tengah memangku kepala Alvin yang mulai tak sadarkan diri. Terlalu takut untuk mengungkapkan perasaannya kepada wanita lain. Walaupun ia menyukai Kayla, tetapi sadar bahwa dirinya hanya pria kampung yang berpendidikan rendah dan tak mempunyai masa depan cerah untuk bisa membahagiakan sang mantan model. Jika dibandingkan dengan Mahesa, bagaikan langit dan bumi, sangat berbeda jauh sekali.
Reza kembali menyeringai. Meskipun dalam keadaan genting, ia sama sekali tidak takut sedikit pun. "Kenapa Pak RT diam saja? Takut jika kedok Bapak selama ini terbongkar." Memandang sinis ke arah Husni dan beralih kepada Kayla. "Bapak, bayar berapa untuk bisa mencicipi kemolekan tubuh seorang pelakor?"
Emosi dalam diri Husni membuncah. Tanpa pikir panjang, ia mendaratkan sebuah kepalan keras di wajah Reza hingga membuat tubuh pemuda itu terjerembab ke belakang.
"Sialan! Sudah kukatakan, jangan hina Bu Kayla!" Wajah Husni memerah, kedua tangannya mengepal erat. Sudah tak tahan mendengar hinaan yang terucap di bibir Reza. Ketua RT bersiap mendaratkan bogem mentah lagi, tetapi suara bariton seseorang menghentikan aksinya.
__ADS_1
"Pak Husni, hentikan! Jangan bertindak gegabah!" seru seorang pria yang tak lain adalah Ikbal, paman Husni. Kakak dari ibu kandung Husni menarik tubuh sang keponakan hingga mundur beberapa langkah ke belakang. Sementara bu Kokom membantu anak tercinta bangkit dari posisinya semula.
"Sebenarnya, kalian sedang apa di sini. Kenapa membawa benda tajam serta jirigen segala, hem!" sentak Ikbal. Pria paruh baya itu merupakan ketua RW setempat sekaligus jawara di kampung tersebut. Wajah sangar, tubuh kekar serta mahir pencak silat membuat semua orang yang ada di sana tak berani menjawab pertanyaan pria itu. "Kalian mau jadi jagoan dengan menghajar orang lain dan membakar rumah tetangga, iya?"
"Negara kita ini adalah negara hukum, tidak bisa main hakim sendiri. Apalagi kalian telah memukuli orang lain tanpa tahu kesalahannya apa, bisa masuk penjara. Mengerti tidak!" sambung Ikbal. Para warga menundukan kepala, menyadari kesalahannya karena telah berbuat anarkis hingga menyebabkan seseorang babak belur. Akibat termakan hasutan Reza, mereka lupa jika negara ini tidak dapat bertindak sembarangan.
Ikbal mengendikkan kepala, memberi isyarat kepada anak buahnya maju ke depan. "Bawa pria itu ke dalam rumah. Panggilkan Dokter Adit dan minta datang ke sini untuk mengobati pria itu."
Ketika anak buahnya yang berjumlah tiga orang, bekerjasama membawa tubuh Alvin masuk ke dalam rumah, Ikbal menggelengkan kepala sambil menatap nanar pada sosok pria tersebut. Kali ini perbuatan warganya sudah tak bisa dimaafkan. Mereka berbuat sesuka hati tanpa mempedulikan orang lain.
Masih berada di pelataran rumah Kayla, Ikbal kembali bersuara, "Jelaskan pada saya, kronologinya bagaimana sehingga tamu Bu Kayla bisa babak belur. Saya minta, jelaskan secara terperinci tanpa ada satu kata pun terlewatkan. Ingat, jangan ada kebohongan dari setiap kata yang terucap dari bibir Bapak-Ibu sekalian, sebab saya bisa tahu mana orang yang sedang berbohong dan berkata jujur."
Salah seorang warga dipilih secara acak oleh Ikbal, memberikan penjelasan secara detail kepadanya. Pria setengah baya tampak fokus mendengarkan cerita yang disampaikan oleh warganya.
Kayla menggelengkan kepala cepat. "Demi Tuhan, Pak RW, saya tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan oleh mereka. Kami hanya berbincang saja dan itu pun ditemani oleh Mona." Wanita itu menunduk menahan air matanya. Dengan lirih kembali berkata, "Walaupun dulu saya adalah seorang pelakor dan pernah melakukan suatu kesalahan besar sehingga mengandung anak di luar nikah, bukan berarti saya akan melakukan kesalahan yang sama, Pak RW. Terlebih saat ini saya sudah bertaubat dan berusaha memperbaiki diri jadi mana mungkin kesalahan itu terulang lagi 'tuk kedua kali. Hanya orang bodoh saja yang terjatuh di lubang sama."
"Alah, paling itu cuma karangan saja, Pak RW. Kalau ngaku, penjara penuh donk!" celetuk Reza. Masih berusaha memprovokasi warga agar terus bertindak kekerasan.
Kayla mendongakan kepala. Kali ini, butiran kristal kembali meluncur di sudut mata wanita itu. "Saya bersumpah demi apa pun, Pak RW, itu semua hanya fitnah keji yang sengaja disebar untuk menjatuhkan nama baik saya dan Alvin. Kalau Bapak tidak percaya, silakan tanyakan kepada Mona dan suaminya. Suami Mona-lah yang menjemput Alvin dari lokasi pemotretan dan mengantarkannya ke sini."
Mantan model menghunuskan tatapan tajam ke arah Reza sambil berucap, "Saya yakin, fitnah ini sengaja disebar oleh pemuda itu! Dia sakit hati karena beberapa waktu lalu pernyataan cintanya saya tolak!" Jemari telunjuk wanita itu mengarah kepada anak sulung bu Kokom.
__ADS_1
"Dasar wanita murahan. Berani sekali kamu memfitnahku!" sergah Reza seraya bangkit dari kursi. Cuping hidung kembang kempis dengan kilatan kemarahan terpancar jelas di netra pria itu.
Dengan sigap, Husni pun ikut bangkit dari kursi dan berdiri di depan Reza. Kini, posisi dua pria itu saling berhadapan.
Ikbal menatap keponakannya dengan intens. Tak lama kemudian, seulas senyum samar terlukis di wajah. Mengerti kenapa anak dari sang kakak bersikeras membela Kayla yang notabene merupakan mantan model terkenal tanah air.
Menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. Ikbal menatap iris coklat Kayla dan Reza secara bergantian. "Sejauh ini, saya sudah tahu penyebab dari semua kejadian yang terjadi. Hanya karena sakit hati Nak Reza tega memfitnah Bu Kayla dan menyebabkan tamu kampung kita babak belur. Oleh karena itu, saya harus bertindak tegas menyikapi masalah ini."
"Nak Reza dan beberapa warga yang terlibat pengeroyokan harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian. Namun, kita tunggu hingga Pak Alvin sadar. Setelah itu, tergantung beliau apakah masalah ini hendak dibawa ke jalur hukum atau tidak."
Bu Kokom membelalakan mata sempurna, tidak menduga kalau masalah ini akan naik ke jalur hukum. "Pak RW, apa tidak sebaiknya diselesaikan secara kekeluargaan saja? Saya rasa, luka pria itu tak terlalu serius."
Ikbal berdecih kesal. "Ibu takut kalau Nak Reza masuk penjara? Kalau iya, lalu kenapa tidak dipikirkan secara matang sebelum melakukan perbuatan tersebut. Sudah terjadi, Ibu malah meminta jalan damai. Ada-ada saja."
"Tapi, Pak. Masalah ini terjadi bukan murni kesalahan anak saya melainkan ada andil dari Kayla juga. Seharusnya dia diusir dari kampung ini agar tak menimbulkan masalah baru."
"Warga yang seharusnya diusir dari kampung ini adalah Bu Kokom sendiri karena sudah banyak meresahkan tetangga dengan menyebarkan fitnah kepada orang lain." Meninggikan suara bernada sinis.
Detik itu juga, bibir bu Kokom bungkam seketika.
.
__ADS_1
.
.