Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Apakah Kamu Memaafkan Wanita Itu?


__ADS_3

Setelah memastikan mobil terparkir rapi dan dalam keadaan terkunci, Rayyan bergegas turun dari kendaraan roda empat miliknya dan berlari masuk ke dalam lift yang ada di lantai basement. Tampak raut wajah pria itu begitu panik dan penuh khawatir. Degup jantung berpacu dengan cepat. Hatinya tak bisa tenang, memikirkan nasib istri beserta ketiga anaknya yang masih dalam kandungan.


Beberapa menit setelah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang dokter, Rayyan membuka salah satu aplikasi berwarna hijau dan membaca sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh asisten rumah tangganya yang mengabarkan bahwa Kayla datang ke apartemen. Akan tetapi, wanita setengah baya itu tidak menjelaskan secara terperinci tujuan dari mantan sahabat Arumi itu datang ke apartemen.


"Pak Rayyan!" seru Mbak Tini sedikit terkejut ketika melihat majikan lelakinya sudah berada di ruang tamu.


Rayyan masuk ke dalam apartemen tanpa menekan bel terlebih dulu, sebab apartemen tempatnya tinggal telah didukung fasilitas digital smart door lock di mana sang empunya tinggal menekan kata sandi dan secara otomatis pintu akan terbuka dengan sendirinya.


"Di mana Arumi?" tanya Rayyan dengan raut wajah penuh kecemasan.


"Bu Arumi ada di kamar. Baru saja selesai minum vitamin, Pak." Lantas, Rayyan langsung melangkah masuk ke dalam kamar tanpa menunggu sang asisten rumah tangga membuka suara lagi.


"Arumi. Babe!" panggil Rayyan setengah berteriak. Semakin khawatir karena tak menemukan keberadaan Arumi di dalam kamar. Melangkah dengan langkah panjang memasuki ruangan khusus yang sengaja dijadikan walk in closet, tempat menyimpan pakaian serta aksesoris milik pasangan suami istri itu. Akan tetapi, istrinya tetap tak ada di sana.


"Arumi, di mana kamu!" Kembali berteriak hingga suara berat itu memenuhi ruangan.


Di saat Rayyan tengah kebingungan mencari keberadaan Arumi, tiba-tiba saja terdengar suara derit pintu kamar mandi terbuka. Refleks, pria itu menoleh ke belakang.


"Babe!" Rayyan berhambur dan memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. Tampak raut wajah penuh kelegaan melihat Arumi berada di hadapannya. "Kamu dari mana saja? Aku sangat mencemaskanmu."


Sepasang iris mata Arumi melebar sempurna. Sedikit terkejut karena Rayyan tiba-tiba saja memeluknya. Semakin lama, pelukan pria itu semakin erat sehingga membuat wanita itu kesulitan bernapas.

__ADS_1


Arumi mendorong dada Rayyan. "Ray, lepaskan. Aku tidak bisa bernapas jika kamu memelukku terlalu erat." Dan pelukan itu pun terurai.


Rayyan memandangi sosok wanita cantik di hadapannya dengan seksama, tidak ada satu bagian tubuh pun terlewatkan. Penyapu setiap inti tubuh sang pujaan hati.


Melihat ekspresi serius bercampur cemas di wajah suaminya, membuat Arumi menyadari bahwa pria itu tengah mencemaskannya. Wanita itu menghela napas dalam dan duduk di tepian tempat tidur.


"Mbak Tini pasti memberitahumu tentang kedatangan Kayla tadi pagi 'kan?" tebak Arumi. Sangat yakin jikalau asistennya telah mengirimkan pesan singkat kepada Rayyan. Kalau tidak, bagaimana mungkin pria itu berada di apartemen sementara jam dinding baru menunjukan pukul satu kurang lima belas menit. Seharusnya Rayyan pulang ke apartemen pukul tiga atau empat sore setelah menghadiri rapat bersama petinggi rumah sakit.


Rayyan terdiam, menatap wanita itu yang tengah mengusap lembut perutnya yang masih datar. Lalu, dia duduk di sofa empuk berwarna coklat. Posisi keduanya saat ini saling berhadapan.


"Ceritakan padaku, mau apa wanita itu datang ke sini? Apakah dia berniat mencelakaimu beserta ketiga calon buah hati kita?" cecar Rayyan dengan berbagai pertanyaan.


Arumi sudah cukup puas mengusap ketiga calon buah hatinya yang masih dalam kandungan. Lantas wanita itu menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kamu tahu alasannya apa sehingga dia nekad menerima tawaran Tante Naila untuk menjalin kasih bersama seorang pria yang jelas-jelas sudah beristri?" tanya Arumi tanpa mengalihkan pandangan ke arah sang suami. Pria di hadapannya hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


Wanita itu tampak frustasi. Rasa sakit di kepala mulai menyerang akibat memori ingatan kejadian tadi pagi kembali menari indah di pelupuk mata. Hanya karena salahpaham, membuat ikatan persahabatan yang dibina selama puluhan tahun kandas begitu saja.


Arumi memejamkan mata singkat, berusaha mengendalikan emosi agar wanita itu kuat menceritakan semua kejadian yang dilaluinya selama Rayyan tidak ada di apartemen. Setelah itu, dia pun mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan sama sekali.


***

__ADS_1


"Gila! Benar-benar gila!" teriak Rayyan seraya bangkit dari sofa. Lantas, pria itu membelakangi tubuh Arumi. Memandangi pemandangan di luar apartemen dari lantai tujuh. "Bagaimana mungkin dia membalaskan dendamnya dengan cara kotor seperti itu? Sungguh, aku tak percaya jika di dunia ini ada tipe manusia seperti mantan sahabatmu itu, Babe."


"Entah sebutan apa lagi yang pantas kuberikan pada wanita rendahan itu selain sebutan Ja--"


"Stop, Mas!" sergah Arumi cepat. Kepala wanita itu menggeleng seraya menatap sang pujaan hati dengan penuh permohonan. "Jangan biasakan mengucapkan kata-kata yang tak pantas untuk diucapkan saat bersamaku. Saat ini aku tengah mengandung buah cinta kita. Bagaimana jika kebiasaan burukmu itu terus berlanjut hingga perutku semakin membesar? Aku tidak mau jika sejak kecil mereka sudah terbiasa mendengar kata itu."


Rayyan terdiam beberapa saat, sadar jika dia nyaris saja membuat sebuah kesalahan yang kelak di masa depan membuat ketiga buah cintanya bersama Arumi terbiasa mendengar kata-kata buruk yang tak pantas diucapkan.


"Maafkan aku, Babe. Tadi aku cuma refleks saja. Terlalu kesal hingga lupa bahwa di dalam perutmu telah hadir buah cinta kita."


Arumi berdecak kesal karena suaminya itu sudah dua kali hampir saja menyebut kata jal*ng di hadapannya. Meskipun dia sangat membenci Kayla karena telah menyakiti hatinya, namun saat dia tengah hamil tak berani sembarangan berbicara sebab khawatir ketiga calon anak dalam kandungan meniru apa yang diucapkan oleh wanita itu.


Tak ingin terjadi keributan karena hal sepele, lantas Rayyan mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Dia beralih ke topik utama, yaitu membahas tentang kedatangan Kayla ke apartemen itu.


"Tadi katamu, Kayla menyesali semua kesalahannya selama ini dan dia juga meminta maaf padamu. Lalu, apakah kamu memaafkan wanita itu?" tanya Rayyan penuh selidik. Manik coklat pria itu menatap lekat manik indah milik istrinya. Kedua netra saling memandang satu sama lain.


"Ehm ... itu ... aku--"


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2