Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Mau Apa Kamu?


__ADS_3

Rayyan tiba di rumah sakit dan segera masuk ke dalam ruangan. Hari ini kebetulan dia sengaja datang lebih pagi sebab ada tindakan operasi pukul delapan nanti. Namun, untuk operasi kali ini tidak melibatkan Arumi karena tak mau insiden beberapa hari lalu terulang kembali. Ditambah operasi kali ini cukup memakan waktu lama sekitar tiga jam lamanya dan dia khawatir Arumi merasa lelah dan malah membahayakan ketiga janin dalam kandungan sang istri.


Walaupun tenaga Arumi sangat dibutuhkan dalam tindakan operasi kali ini, tetapi Rayyan lebih memilih mencari dokter lain daripada harus mengorbankan istri beserta ketiga buah hatinya. Akan sangat egois bila tetap memaksakan kehendaknya sendiri dan malah membuat istrinya menderita.


Di saat Rayyan tengah sibuk merombak jadwal jaga untuk satu bulan ke depan, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu di seberang sana.


Refleks, Rayyan menoleh ke sumber suara dan meminta orang di luar sana segera masuk. "Masuk!" titah pria itu.


Tak berselang lama, suster Amira berdiri di seberang meja kerja Rayyan. "Permisi, Dokter Rayyan. Saya hanya ingin memberitahukan bahwa semua persiapan sudah selesai. Pasien pun sudah ada di dalam ruang operasi."


Rayyan melirik sekilas ke arah suster Amira, lalu kembali fokus pada layar monitor di hadapannya. "Baiklah. Kamu bisa kembali ke tempat. Sebentar lagi saya menyusul."


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Lantas, perawat senior itu pun undur diri dan melanjutkan kembali pekerjaannya.


Rayyan bangkit dari kursi kebangaannya, lalu meraih kertas yang baru saja dicetak dari alat printer. "Dengan begini, waktu istirahat Arumi lebih banyak dan aku pun tidak perlu cemas karena setiap hari dapat mengawasi istriku." Pria itu memandangi selembar kertas bertinta hitam yang ada di tangan.


Kedatangan Rayyan pagi itu rupanya ada maksud tersendiri yaitu merombak kembali jadwal shift bagi seluruh dokter yang berjaga di bangsal Bougenville. Memang terkesan egois karena menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, namun dia terpaksa melakukan itu semua demi keselamatan Arumi beserta buah cintanya.


***


Sementara Rayyan tengah bersiap melakukan tindakan operasi, Arumi tampak sedang asyik menonton drama Cina di ruang keluarga. Pagi itu dia memang lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya. Entah memang karena Rayyan yang selalu menukar jadwal Arumi dengan dokter lain atau memang karena sejak awal jadwal shift wanita itu saat siang hari, tidak ada yang tahu selain kepala bangsal sekaligus pria yang kini berstatuskan sebagai suami dari dokter cantik itu.


"Bu Arumi, diminum dulu susunya." Mbak Tini meletakkan satu gelas susu khusus ibu hamil ke atas meja bundar terbuat dari kaca. Gelas susu itu mengepul, menguarkan aroma khas rasa vanila.


Arumi yang saat itu sedang sibuk menonton drama Cina di tablet milik sang suami segera menoleh ke sumber suara. Dia memberikan senyuman hangat kepada asisten rumah tangganya.

__ADS_1


"Terima kasih, Mbak. Kamu tahu saja kalau aku sedang ingin minum minuman hangat," kekeh Arumi setengah berkelakar. Pandangan mata kembali dia fokuskan menatap layar benda pipih di hadapannya.


Semenjak Arumi tahu jika dirinya sedang mengandung buah cintanya bersama suami tercinta, dia jadi gemar menonton drama yang diperankan oleh aktris cantik dan aktor tampan asal negeri tirai bambu. Terlebih saat dia menyaksikan bagaimana hebatnya seorang Johnny Huang dalam serial drama yang berjudul The Thunder yang dirilis pada tahun 2019 lalu memberikan kesan mendalam bagi Arumi. Bagi wanita kelahiran dua puluh tujuh tahun lalu, peran aktor tampan itu dalam serial tersebut begitu memukau saat memerankan tokoh sebagai seorang polisi. Dari situlah dia mulai mengikuti semua drama yang diperankan oleh aktor sekaligus model asal Tiongkok.


"Tentu saja saya tahu apa yang diinginkan oleh Bu Arumi. Saya 'kan sudah lama bekerja dengan Ibu. Jadi, sedikit banyak tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh bu Arumi."


Arumi mengangguk sambil tersenyum. Dalam hati bersyukur karena dipertemukan dengan salah satu pekerja setia dan jujur seperti mbak Tini.


Tanpa membuang waktu terlalu lama, Arumi segera menyesap susu hangat khusus ibu hamil itu secara perlahan. Menikmati setiap tegukan yang masuk melalui tenggorokan wanita itu hingga tanpa terasa hanya tersisa setengah gelas saja susu itu telah habis.


Di waktu bersamaan, terdengar suara bel pintu apartemen Arumi berbunyi. Mbak Tini yang saat itu sedang membersihkan dapur segera mencuci tangan dan bergegas mendekati daun pintu berwarna coklat.


Sebelum membuka pintu, wanita setengah baya itu mengintip dari door view dan alangkah terkejutnya dia kala melihat sosok Kayla tengah berdiri di seberang sana. Bola mata wanita itu membulat sempurna.


"Bu ... Bu Arumi!" seru Mbak Tini dengan napas tersengal-sengal. Wajah wanita itu berubah pucat disertai keringat dingin yang mulai muncul di permukaan pori.


"Mbak Tini? Kamu kenapa berteriak begitu." Refleks Arumi mengecilkan volume suara tablet yang ada di depannya, lalu memandangi mbak Tini dengan sorot mata penuh tanda tanya.


Mbak Tini tampak gelisah, tak tahu harus menjawab apa. Sementara suara bel terus berbunyi di luar sana.


"Mbak Tini, jawab pertanyaanku dengan jujur. Siapa yang menekan bel apartemenku?" Arumi menatap Mbak Tini dengan tatapan mengintimidasi.


"Di luar ... ada Bu Kayla." Terlihat wanita setengah baya itu menundukan pandangan, tak berani menatap wajah sang majikan.


Arumi menelan saliva susah payah. Seketika raut wajah wanita itu berubah kala mendengar nama Kayla disebut. Sebuah nama yang sukses membuat suasana hatinya berubah dalam hitungan detik.

__ADS_1


Tubuh wanita itu terasa lemas seketika. Dia merasa seluruh isi bumi ini menimpa dirinya. Dokter cantik itu menyenderkan punggung di sandaran sofa seraya mengatur degup jantung yang tak beraturan.


"M-mau apa dia kesini, Mbak?" tanyanya lirih.


Mbak Tini menggelengkan kepala sambil menjawab, "Saya tidak tahu, Bu Rumi." Dia pun tak tahu alasannya kenapa Kayla bisa datang menemui sang majikan di apartemen yang baru empat minggu ditinggali oleh Arumi beserta suami barunya itu.


"Apa perlu saya panggilkan satpam dan memintanya mengusir Bu Kayla dari sini?" tawar Mbak Tini mencari solusi dari masalah yang sedang datang menghadang.


Arumi segera menegakkan tubuh seraya berkata. "Jangan! Kalau diusir, aku tidak tahu maksud kedatangan dia ke sini mau apa. Aku akan menanyakan langsung kepada wanita itu sebenarnya dia mau apa kesini. Dan kamu, Mbak. Hubungi Pak Burhan agar segera naik ke lantai tujuh. Jadi, semisal wanita itu berniat jahat, sudah ada Pak Burhan menjaga kita di luar ruangan."


Mbak Tini menurut. Lantas wanita setengah baya itu berlari menuju sambungan telepon dan menghubungi nomor sopir pribadi Arumi. Beruntungnya hari ini Burhan stand by di kamar kosan yang disewa khusus oleh Rayyan di dekat apartemen yang ditinggalinya bersama sang istri sehingga tak membutuhkan waktu lama bagi pria itu untuk datang menemui Arumi.


Sementara itu, Arumi melangkah secara perlahan mendekati pintu. Dia mengintip dari lubang intip atau door view yang terdapat di daun pintu. Dan benar saja, sosok mantan sahabatnya itulah yang berada di seberang sana.


"K-kamu ... mau apa kesini Kayla?" tanya Arumi dengan perasaan gelisah dan tubuh gemetaran.


.


.


.


Penampakan door view di apartemen Arumi.


__ADS_1


__ADS_2