Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Biarkan Arumi Bahagia


__ADS_3

Selang dua hari setelah pertemuan kedua pria tampan di ruang rawat inap VIP, dokter yang bertanggung jawab terhadap Mahesa sudah memberikan lampu hijau pada keluarga pasien untuk membawa si pasien pulang ke rumah. Semua hasil pemeriksaan termasuk pemeriksaan CT scan dalam keadaan baik-baik saja.


Sebagai orang tua dan wali satu-satunya dari Mahesa, Putra sengaja meliburkan diri dari pekerjaannya untuk menjemput anak tersayang pulang ke rumah. Sejak tadi malam, pria paruh baya itu sudah ada di rumah sakit.


"Mulai minggu depan, Pak Mahesa sudah mulai melakukan fisioterapi. Saya akan merekomendasikan terapis terbaik yang kami miliki," ujar dokter pria yang saat itu kebetulan sedang berjaga di bangsal tempat Mahesa dirawat.


"Baik, Dokter. Terima kasih karena selama berada di sini, Dokter dan para suster telah memberikan pelayanan yang memuaskan bagi Mahesa--anak saya," ucap Putra tulus. Kata-kata itu meluncur dari dalam hatinya yang terdalam. Merasa beruntung karena para tenaga medis di rumah sakit begitu sigap saat menangani pasien. Jadi tak heran jikalau banyak pasien yang berobat ke rumah sakit tersebut.


Dokter senior itu terkekeh pelan hingga membuat pundaknya bergerak turun dan naik. "Pak Putra, itu sudah menjadi tugas dan kewajiban kami sebagai tenaga medis. Kami semua disumpah untuk memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh pasien. Jadi, Bapak tidak perlu mengucapkan terima kasih kepada kami." Lalu, dokter itu menatap Mahesa. "Dan untuk Pak Mahesa, jangan lupa konsumsi obat yang rutin dan melakukan fisioterapi tepat waktu agar Bapak bisa berjalan lagi seperti dulu."


"Baik, Dokter," ucap Mahesa singkat. Semenjak kejadian itu, sikap Mahesa berubah. Wajah tampak murung, tak bergair*h dalam melakukan apa pun. Ketika diajak bicara, selalu menjawab dengan jawaban singkat.


"Ya sudah, kalau tidak ada yang mau ditanyakan, saya permisi dulu. Pak Mahesa, semoga lekas sembuh." Dokter senior itu berlalu meninggalkan ruang perawatan. Dua orang perawat berseragam putih mengekori di belakang.


Setelah pintu ruangan tertutup rapat, Putra menarik kursi yang terbuat dari stainless. Kemudian duduk di sebelah ranjang. "Nak, Papa perhatikan sejak dua hari terakhir sikapmu berubah dan wajah tampak lebih murung. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah kamu bertengkar dengan Kayla?"


Alih-alih menjawab pertanyaan, Mahesa malah mengajukan sebua pertanyaa. Tak habis pikir mengapa sang papa bisa menyangkutpautkan perubahan sikapnya dengan Kayla. "Kenapa Papa bisa berpikir kalau aku dan wanita itu bertengkar?"


"Karena Papa pernah muda, Nak. Dulu, saat Papa seusiamu sering bertengkar dengan Mama. Namanya juga hidup berumah tangga, pasti ada kerikil kecil yang menghadang. Kalau kata orang, rumah tangga akan terasa hambar kalau tidak ada cekcok." Mencoba menghangatkan suasana. Secara mendadak, ruangan itu berubah menjadi lebih dingin meski pendingin ruangan sudah dibesarkan.


Mahesa hanya memutar bola mata dengan malas, lalu memalingkan wajah keluar jendela. Kembali menatap langit yang cerah, ditemani awan putih menghiasi angkasa.


"Dua hari lalu, seorang pria datang ke sini dan dia memintaku untuk melupakan Arumi." Mahesa mulai menceritakan semua kejadian yang menyebabkan mengapa sikapnya berubah drastis hanya dalam hitungan menit.


Mendongakan kepala, menatap lekat wajah tampan yang sangat mirip dengannya. "L-lalu ... apa yang kalian bicarakan? Kamu ... tidak melakukan hal konyol, 'kan?" bertanya dengan nada penuh selidik. Sedikit takut kalau di antara Mahesa dan Rayyan terjadi perselisihan.


Mahesa berdecak kesal sambil menatap nanar ke arah bagian tubuhnya yang lumpuh. Mulai dari bagian pinggang ke bawah, hingga ke ujung kaki, ia tidak bisa menggerakan anggota tubuhnya.

__ADS_1


"Memangnya apa yang bisa orang lumpuh sepertiku lakukan? Aku hanya bisa terbaring dan mendengarkan pria itu berceramah panjang lebar. Andaikan anggota tubuhku bisa bergerak seperti dulu, sudah kupastikan wajah pria itu babak belur karena dia telah merebut Arumi dariku."


Suasana kembali hening. Hanya terdengar helaan napas lega berasal dari Putra. Sedikit merasa beruntung karena saat ini Mahesa tengah mengalami kelumpuhan sehingga tak terjadi baku hantam antara dua anak muda yang sedang memperebutkan Arumi. Jika sampai terjadi insiden tidak mengenakan, mau ditaruh di mana muka pria itu?


Ia berhutang budi pada Rayyan karena mengizinkan Arumi menemui Mahesa. Setelah sadar dari koma, malah membalas kebaikan pria itu dengan sebuah kepalan tangan di wajah, apakah itu etis dilakukan kepada seseorang yang telah menolongnya? Tentu saja jawabannya adala tidak! Oleh karena itu, jauh di lubuk hati yang terdalam, merasa bersyukur karena Mahesa saat ini sedang mengalami kelumpuhan.


"Nak, Papa rasa yang dikatakan Dokter Rayyan benar. Sudah saatnya kamu melupakan Arumi. Kini, wanita itu sudah hidup bahagia bersama suaminya yang baru. Seharusnya, kamu pun begitu. Membina kembali rumah tanggamu bersama Kayla. Bagaimanapun, dia adalah istrimu."


"Ya, Papa benar. Kayla istriku tapi istri siri yang tak pernah kucintai!" jawab Mahesa sinis.


Kembali terdengar embusan napas kasar berasal dari Putra. Nada bicara anak kesayangannya berubah ketus setiap kali membahas Kayla.


"Seburuk apa pun wanita itu, dia tetaplah istrimu. Wanita yang menemani, merawat dan menjagamu selama kamu koma." Putra masih berusaha membuka mata Mahesa untuk menengok setitik kebaikan dalam diri sang mantan model.


"Alah! Sudahlah, jangan bahas lagi tentang wanita itu! Aku tidak sudi merusak hariku hanya untuk sekadar mendengarkan nama itu!"


"Sudah banyak air mata kesedihan dan penderitaan yang kita berikan kepada Arumi. Dia sudah sangat menderita selama ini, Nak. Jadi, lepaskan dia. Buang semua kenangan saat kamu masih bersamanya. Cobalah membuka lembaran baru tanpa harus mengingat kembali masa lalu. Biarkan semua terjadi, sebab segala sesuatu di masa lalu tidak mungkin terjadi lagi."


"Tapi, Pa. Aku masih mencintai Arumi. Papa tahu sendiri, dulu aku sampai mengancam meninggalkan rumah asalkan bisa menikah dengan Arumi. Itu artinya, aku benar-benar tulus mencintai dia," kekeuh Mahesa. Bersikeras untuk tetap mencintai Arumi walaupun tahu kini wanita itu telah menikah lagi.


"Kalau kamu masih mencintainya, lalu kenapa dulu setuju untuk selingkuh dengan Kayla?" skak Putra. Semakin lama berbincang dengan Mahesa, ia semakin geram. Berkata soal cinta, tapi ternyata pria itu menduakan Arumi. Apakah itu disebut tulus mencintai seseorang?


Merasa seperti ditampar, Mahesa seketik bungkam. Mulutnya yang hendak membuka, langsung mengatup kembali detik berikutnya.


Putra kembali menarik napas dalam, sambil mencengkeram tepian ranjang. Mengurai emosi dalam diri yang mulai merambat ke seluruh tubuh.


"Walaupun Papa tahu, ide gila itu tercetus dari Mama-mu sendiri. Akan tetapi, bila kamu mengabaikan keinginan Mama-mu, Papa yakin kejadiannya tidak akan seperti ini. Seandainya pendirianmu teguh sama seperti saat kamu berniat menikahi Arumi tetapi kami menentang, mungkin kini kamu masih hidup berbahagia bersama wanita itu."

__ADS_1


"Namun, kenyataannya kamu luluh dan bersedia menerima tawaran Mama-mu. Lambat laun, kamu malah terbuai hingga akhirnya benihmu hadir di dalam perut Kayla."


Sesak, perih dan sakit saat membuka kembali memori buruk di masa lalu. Orang tua yang seharusnya menegur sang anak ketika khilaf, ia dan Naila malah menjerumuskan anaknya sendiri menuju jurang perselingkuhan. Berbuat zina hingga menghadirkan kehidupan baru tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah. Putra merasa gagal menjadi seorang ayah dan suami yang baik bagi Naila dan juga Mahesa.


"Coba kamu bayangkan, bagaimana sakitnya Arumi saat tahu kamu telah menghamili sahabatnya sendiri. Sakit! Papa yakin hati Arumi sangat sakit sekali, Nak. Perselingkuhan merupakan sebuah kesalahan terbesar yang sangat sulit dimaafkan oleh siapa pun."


"Papa tahu, bagaimana perjuangan Arumi untuk bisa berdiri tegap setelah kandasnya rumah tangga yang dibina selama hampir lima tahun. Susah payah wanita itu menata kembali hatinya yang hancur berkeping-keping. Setelah dia mulai sembuh dari rasa sakit hati atas pengkhianatan kita semua, kamu datang secara tiba-tiba dan meminta Arumi rujuk. Apakah kamu waras?"


"Papa kalau jadi Arumi, tentu tidak akan pernah mau menerima seorang pengkhianat menjadi suaminya kembali. Di luaran sana banyak lelaki baik, yang dapat memberikan Arumi kebahagiaan. Salah satunya adalah Dokter Rayyan."


"Dia selalu ada di saat Arumi terpuruk. Selalu menghibur dan menyemangati mantan istrimu untuk terus melangkah maju ke depan. Hingga akhirnya Arumi dapat menerima kehadiran pria lain dalam hidupnya meskipun saat itu status wanita itu baru saja bercerai darimu."


Putra bangkit dari kursi, sedikit membungkukan punggung dan menyentuh sebelah pundak sang anak. "Biarkan Arumi hidup bahagia bersama Dokter Rayyan dan ketiga anaknya, Nak. Anggap saja, jodohmu dengan wanita itu hanya sampai di sini. Jangan pernah ganggu lagi kehidupan Arumi, Papa mohon."


"Sudah cukup kita menyakiti wanita itu dan kini berikan dia kesempatan untuk menikmati buah dari kesabarannya," ucap Putra dengan mata berkaca-kaca. Pria paruh baya itu tak kuasa membendung air matanya yang menggenang di sudut mata. Sungguh, ia tidak tega jika harus terus menyakiti Arumi 'tuk kedua kali.


Merasakan sesuatu membasahi wajah, Mahesa mendongakan kepala menatap iris coklat milik sang papa. Untuk pertama kalinya ia melihat Putra menangis dan itu disebabkan oleh Arumi.


Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang aneh menerobos masuk ke dalam sanubari. Lagi dan lagi, debaran halus ia rasakan 'tuk kedua kali. Pertama, saat mendengarkan Rayyan berbicara dan kedua saat Putra berbicara sendiri kepadanya.


Apakah mungkin ini petanda kalau ia memang harus melepaskan Arumi selamanya? Membiarkan wanita itu hidup bahagia bersama pria lain. Lantas, bagaimana dengannya. Apakah ia sanggup hidup tanpa adanya Arumi di sisinya?


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2