
Beberapa hari kemudian, Arumi dan Rayyan telah selesai mengikuti acara seminar yang diadakan oleh Kementrian Kesehatan. Banyak ilmu yang didapat selama mengikuti acara tersebut. Selain itu, hubungan antara mereka pun semakin dekat. Meski hanya sebatas partner kerja tetapi keduanya sudah tak canggung lagi untuk mengganti kata "saya" menjadi "aku" dan "anda" menjadi "kamu". Sikap Rayyan pun sudah tak sedingin kutub es yang ada di benua selatan.
Tepat pukul enam pagi, Arumi telah bergelut dengan peralatan masak dan bahan makanan yang ada di dalam lemari es. Ia dan Rayyan setuju, membagi tugas selama tinggal di Bali. Wanita itu bertugas mengolah bahan makanan mentah menjadi hidangan siap saji, sementara sang lelaki akan mencuci semua perabotan dapur serta alat makan yang telah digunakan.
Wanita itu menuangkan satu sendok kuah sayur ke dalam mangkok lalu mencicipinya. "Ehm ... rasa kuah sayur ini begitu lezat. Dokter Rayyan pasti menyukainya," gumam Arumi.
Kemudian ia bergegas memindahkan sayuran itu ke dalam sebuah wadah berukuran besar dan meletakkanya di atas meja makan.
Wanita itu tersenyum lebar, menatap hasil karyanya selama satu jam berada di dapur. Satu piring sop iga yang sebelumnya sudah direbus sejak tadi malam, duo diva yang berasal dari bahan kacang-kacangan (tahu dan tempe), serta tak lupa satu toples kecil kerupuk udang sebagai pelengkap.
Rayyan yang baru saja selesai jogging segera menghampiri Arumi. "Aroma masakanmu tercium hingga ke luar vila," puji pria itu. Ia tak menyangka bila jemari lentik wanita yang dulu pernah dibenci olehnya begitu mahir dalam mengolah makanan. Tangan yang biasa digunakan untuk mengobati pasien bisa menyulap bahan makanan mentah berubah menjadi hidangan yang sangat lezat.
Arumi tersenyum hingga memperlihatkan deretan gigi putih miliknya. "Kamu terlalu memujiku, Dok. Mana mungkin aroma masakanku tercium hingga ke luar ruangan."
Pria dalam balutan kaos tanpa lengan dipadu celana pendek selutut terkekeh. "Namun, kenyataannya memang begitu. Dari aromanya saja aku sudah dapat menebak bila masakanmu itu sangat lezat."
Rayyan mengusap peluh yang meluncur di pelipis. "Aku akan mandi dulu, setelah itu kita sarapan bersama!"
***
Arumi dan Rayyan duduk berhadapan. Kedua insan manusia itu sudah terlihat rapi. Suasana hening, hanya terdengar bunyi dentingan sendok beradu dengan piring.
"Seandainya kamu membuka rumah makan yang menjual makanan rumahan seperti ini, aku yakin, usahamu akan ramai oleh pembeli," celetuk Rayyan memecah keheningan. Ia terus memasukan hidangan yang di masak oleh Arumi ke dalam mulut. Semua makanan itu benar-benar lezat. Meski sederhana namun mampu menghentikan cacing di dalam perut untuk tidak berjoged ria.
"Ya ... kamu benar. Namun, sangat disayangkan impian itu tak kan pernah tercapai sebab aku lebih menyukai bekerja di rumah sakit daripada membuka usaha rumah makan. Memasak adalah hobiku tidak bisa dijadikan mata pencaharian."
__ADS_1
Rayyan mengangguk. "Menjadi dokter maupun menjadi pengusaha itu adalah pilihan tapi tidak ada salahnya 'kan bila kamu mencoba." Mencuri pandang ke arah Arumi. "Jangan terpaku dengan masa lalu, kini hidupmu bebas tanpa takut ditegur oleh siapa pun."
Arumi tak menjawab, ia lebih memilih diam. Bagi wanita itu semua perkataan Rayyan benar. Dulu ia takut meminta izin pada Mahesa untuk membuka usaha di bidang kuliner sebab khawatir akan mencoreng nama baik keluarga Adiguna. Namun, kali ini ia bebas menentukan pilihan yang terbaik baginya.
"Cepat habiskan! Pukul sembilan pagi kita harus segera check out. Jangan sampai tertinggal pesawat."
Arumi mengangguk patuh lalu menghabiskan semua makanan yang ada di atas piring.
[Besok adalah sidang penentuan keputusan perceraianmu dengan Mahesa. Kuharap, kamu datang tepat waktu. Aku dan Rini akan menemanimu saat di persidangan nanti. Persiapkan mental dan usahakan jangan sampai kamu mengeluarkan air mata saat hakim mengetuk palu nanti.]
"Siapa? Rio?" tanya Rayyan kala melihat raut wajah Arumi berubah seketika.
Wanita yang duduk di sisi pria itu memasukan kembali benda pipih berukuran 6.5 inci ke dalam tas. "Benar. Ia memberitahu jika besok lusa adalah sidang keputusan gugatan cerai antara aku dan Mas Mahes."
"Apakah kamu sedih karena sebentar lagi berpisah dari pria yang sangat kamu cintai?" Hati Rayyan rasa sakit ketika menanyakan pertanyaan konyol itu tapi jujur, ia membutuhkan jawaban dari Arumi. Level kekepoan pria itu terhadap kehidupan pribadi Arumi semakin mencapai batas tertinggi.
"Aku tidak menyangkal bila hatiku sedih atas perceraian ini. Namun, aku akan semakin terluka jika terus hidup bersama pria yang pernah mengkhianati kesucian sebuah pernikahan."
"Lalu, rencanamu setelah bercerai dari pria itu, apa? Tetap fokus dengan pekerjaan atau langsung mencari suami baru untuk membalas rasa sakit atas pengkhianatan suami dan mertuamu?" celetuk Rayyan.
"Dokter Rayyan!" Wanita itu mendelik ke arah Rayyan. Bersiap memukul pria itu dengan tas yang ada di tangan.
"Hei! Aku hanya bercanda. Jangan dianggap serius semua perkataanku barusan." Rayyan terkekeh tatkala melihat bibir ranum itu mengerucut.
"Tapi aku sedang tidak ingin bercanda," dengus Arumi kesal. Menaruh kembali tas di atas pangkuan.
__ADS_1
Ia tak habis pikir dengan sikap Rayyan akhir-akhir ini. Pria itu berubah hingga membuat Arumi curiga. Jangan-jangan atasannya itu sedang menyiapkan rencana besar untuk mengusirnya dari rumah sakit yang selama ini menjadi ladang baginya untuk mencari nafkah.
"Baiklah. Aku tidak akan berbicara apa pun lagi." Ia menggerakan jarinya di depan bibir. Seolah-olah sedang menguncinya dengan sebuah gembok yang tak kasat mata.
Taxi yang ditumpangi oleh Arumi dan Rayyan, perlahan memasuki bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Sebagai seorang pria, Rayyan membantu rekan kerjanya menurunkan koper dari dalam bagasi.
"Terima kasih, Pak." Rayyan mengeluarkan uang lembaran 50.000 an sebanyak tiga lembar dari dalam dompet kemudian menyerahkannya pada sopir taxi.
"Aku akan menggantinya ketika kita sudah naik pesawat," ucap Arumi saat ia dan Rayyan melangkah masuk ke dalam ruang tunggu.
"Jika kamu ingin menggantinya, ajak aku makan siang di kantin atau minum kopi di sebuah café itu lebih berarti daripada menggantinya dengan lembaran uang yang sama."
"Kamu tidak takut kena tegur Dokter Firdaus karena kedapatan jalan berdua dengan rekan sejawatmu?" Arumi memicingkan mata, menatap aneh ke arah Rayyan.
Rayyan membalas dengan mengerutkan dahi. "Kenapa harus takut. Aku tidak melakukan perbuatan asusila ataupun merugikan rumah sakit. Hanya meminta ditraktir orang lain, apakah itu salah?"
"Kalaupun nanti Dokter Firdaus marah karena kita jalan berdua, aku pastikan, Dokter Arumi Salsabila tidak akan terseret dalam pertikaian yang terjadi antara kami berdua," ucap Rayyan dengan penuh keyakinan.
TBC
.
.
.
__ADS_1
Halo semua, otor mau promosiin karya milik temen otor nih. Cus, langsung dikepoin gaes!