
Lena menuruni dua buah anak tangga hanya untuk mengejar Raihan, anaknya. Berlari dan terus berlari tanpa memperhatikan langkahnya. Saat hendak menuruni anak tangga selanjutnya, ia terpeleset dan kehilangan keseimbangan hingga menyebabkan tubuh wanita itu menggelinding layaknya sebuah bola.
"Aaaah!" teriak Lena. Wanita itu sudah terguling di tangga dan saat mencapai dasar lantai, kepalanya mendarat terlebih dulu serta bagian tulang ekornya membentur benda keras hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring.
Salah satu asisten rumah tangga berlari tergopoh-gopoh saat mendengar keributan dari dala ruang keluarga. Meskipun tahu jikalau hal itu sering terjadi di rumah tersebut, tetapi entah kenapa ia seperti mendapat firasat buruk akan terjadi hal buruk menimpa keluarga Wijaya Kusuma. Oleh karena itu, ketika tubuh Lena terjatuh, ia sangat terkejut dan langsung berteriak histeris.
"Bu Lena!" pekiknya seraya mendekati, sang nyonya. "Bu ... Bu Lena, bangun!" Asisten rumah tangga itu terlihat panik. Semakin panik saat melihat darah segar mengalir dari kepala sang majikan.
Tak ingin terjadi hal buruk menimpa Lena, asisten rumah tangga itu beranjak dan berlari menyusul Firdaus yang tengah membujuk Raihan agar tak meninggalkan rumah itu.
"Raihan! Jangan pergi!" teriak Firdaus. Akan tetapi, kendaraan roda empat milik Raihan terus melaju dengan kecepatan tinggi, menyisakan kepulan asap menguar di udara. "Jangan tinggalkan, Papa!" ucapnya lirih.
Selepas kepergian Raihan. tubuh Firdaus membeku di tempat menyaksikan bagaimana anak keduanya pergi meninggalkan rumah yang selama belasan tahun ditinggali bersama. Bola mata pria itu berkaca-kaca karena 'tuk kedua kali ia ditingal pergi oleh anak kesayangannya.
Dulu Rayyan pergi meninggalkan rumah karena tidak setuju apabila dijodohkan dengan Naura. Sekarang, Raihan, anak bungsunya pun ikut pergi dari rumah itu karena merasa telah dibohongi akibat kedua orang tua dosen tampan itu menyembunyikan rahasia besar selama belasan tahun lamanya.
"Kenapa jadi begini. Apakah memang ini adalah hukuman atas kesalahanku di masa lalu?" berkata lirih. Sebelah tangan terulur ke depan, menyentuh jantungnya yang terasa sakit.
"Pak ... Pak Firdaus!" teriak asisten rumah tangga berjalan cepat menghampiri Firdaus yang tengah menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"Pak Firdaus. Bu Lena, Pak!" Kali ini asisten rumah tangga itu meninggikan suaranya setelah melihat majikan lelakinya hanya mematung di tempat.
Tampaknya, usaha wanita paruh baya itu berhasil. Firdaus menoleh ke sumber suara. Terlihat jelas raut kepanikan di wajah asistennya itu.
Mendengar nama istrinya disebut, Firdaus segera tersadar. "Ada apa dengan istriku?"
"Bu Lena, terjatuh di tangga, Pak. Banyak darah segar mengalir di bagian kepala dan pelipisnya," ucap asisten itu sontak membuat Firdaus terkejut.
Tanpa membuang waktu, Firdaus segera meninggalkan sang asisten. Ia berjalan setengah berlari masuk ke dalam ruang keluarga.
__ADS_1
Langkah kaki Firdaus terhenti kala melihat tubuh Lena terkulai tak sadarkan diri di atas lantai dalam keadaan banyak darah yang mengalir di bagian kepala wanita itu.
Pria itu membawa kepala Lena di atas pangkuan, menepuk kedua pipi sang istri. "Lena ... kamu bisa mendengarku, Sayang? Lena!" Namun, wanita yang telah dinikahinya secara siri tak kunjung merespon pertanyaan Firdaus.
Firdaus menoleh ke belakang. Melihat sopir di rumah itu berdiri di sampingnya, ia berkata. "Mang Ujang, tolong bantu saya bawa Ibu ke rumah sakit!"
Mang Ujang mengangguk. "Baik, Pak!"
Asisten rumah tangga itu keluar rumah dengan membawa kunci mobil. Firdaus dan Mang Ujang menggendong Lena menuju parkiran. Beruntungnya mobil yang dikendarai oleh Firdaus belum dimasukan ke dalam garasi.
Dengan sangat hati-hati, Firdaus membawa tubuh Lena masuk ke dalam mobil. Mang Ujang duduk di balik kemudi, sementara Firdaus duduk di belakang seraya memangku kepala Lena yang terus mengeluarkan darah segar.
"Jalan sekarang, Mang!" titah Firdaus.
***
Mang Ujang turun dari mobil, membukakan pintu untuk Firdaus. Pria itu juga sudah meminta bantuan para perawat yang berjaga di IGD.
Lena sudah berada di atas brankar. Wanita itu sudah dibawa menuju IGD rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Firdaus tampak mencemaskan sang istri. Ia takut kehilangan istrinya itu.
Bayangan saat Mei Ling mengembuskan napas terakhir kali, masih membekas di memori ingatannya dan ia tidak mau hal itu menimpa Lena. Mantan direktur rumah sakit Persada International Hospital, tak sanggup jikalau wanita yang dicintainya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Sudah cukup ia merasa kehilangan atas meninggalnya Mei Ling dan tidak ingin Lena ikut menyusul istri pertamanya ke hadapan Sang Pencipta.
"Dokter, tolong istri saya," ujar Firdaus pada wanita yang mengenakan snelli putih dengan stetoskop menggantung di leher.
Naura, dokter wanita yang berjaga di IGD tersenyum manis kepada Firdaus. "Dokter Firdaus tenang saja. Kami akan berusaha menolong Bu Lena," ucapnya lembut. Senyuman tulus terpancar dari wajah wanita itu.
Sebelum berlalu, Naura berkata. "Jangan terlalu cemas. Teruslah berdo'a dan selebihnya serahkan pada kami. Permisi."
Setelah kepergian Naura, Firdaus terduduk di kursi panjang terbuat dari stainless. Mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Terlihat frustasi bercampur cemas menyelimuti wajah yang mulai berkeriput.
__ADS_1
"Tuhan, aku sadar telah melakukan kesalahan besar di masa lalu. Aku telah menzalimi istriku hingga dia kembali kehadapan Mu dengan membawa rasa sakit di dalam hati. Namun, kumohon, untuk kali ini saja selamatkan Lena. Jangan ambil dia, Tuhan." Berdoa di dalam hati dengan penuh pengharapan. Berharap semoga Tuhan berbelas kasih dan menyelamatkan sang istri.
Beberapa saat kemudian, Naura keluar dari ruang pemeriksaan. Firdaus segera menghampiri putri dari rekan kerjanya itu. "Dokter Naura, bagaimana keadaan istri saya? Apakah ... dia bisa diselamatkan?"
"Syukurlah, Bu Lena bisa segera dibawa ke rumah sakit tepat waktu sehingga tak banyak darah yang keluar dari tubuh beliau. Namun, ada kabar buruk yang harus saya sampaikan pada Anda, Dok."
Alis Firdaus saling tertaut satu sama lain, menatap tajam ke arah Naura. "Kabar buruk apa, Dokter Naura?" tanyanya penuh selidik.
Naura menghela napas panjang, seraya memejamkan mata. Ia mengumpulkan keberanian dalam diri untuk menyampaikan kondisi istri dari mantan direktur rumah sakit tempatnya bekerja.
"Begini, Dokter Firdaus. Akibat terkena benturan yang sangat keras pada bagian kepala dan tulang ekor, kemungkinan besar, Bu Lena akan mengalami kelumpuhan. Beliau tak bisa lagi berjalan maupun melakukan aktivitas seperti biasanya. Maafkan saya, Dokter. Saya sudah berusaha, tetapi Tuhan-lah yang berkehendak."
"Saya harap, Anda bisa bersabar dan menerima ujian ini dengan lapang dada," lanjut Naura.
Bagai tersambar petir. Firdaus tak percaya atas kabar yang disampaikan oleh Naura. Baru beberapa jam lalu ia masih berjalan berduaan seraya bergandengan tangan dengan istri sirinya itu, kini malapetaka datang menghampiri. Lena, wanita yang di-cap sebagai pelakor atau perusak rumah tangga orang dinyatakan mengalami kelumpuhan secara permanen. Kemungkinan besar wanita itu akan menghabiskan sisa waktunya di atas kursi roda.
Sudah ditinggal pergi oleh dua orang anak lelakinya, sekarang ia harus mengurusi istrinya yang lumpuh ditambah kondisi jantung yang terkadang terasa nyeri, Firdaus merasa hidupnya telah hancur. Kebahagiaan yang selama ini ia rasakan telah berubah menjadi kesedihan akibat perbuatan di masa lalu. Buah dari hasil yang ditanam kepada Mei Ling dulu, kini secara perlahan sedang ia tuai.
Menyesal sekali pun, tidak dapat merubah segalanya, sebab nasi sudah menjadi bubur. Mei Ling sudah meninggal, terkubur bersama rasa sakit hati yang dipendamnya selama berbulan-bulan. Kebencian dalam diri Rayyan telah mendarah daging. Raihan pun sudah terlanjur kecewa karena merasa dibohongi oleh kedua orang tuanya.
Perselingkuhan, pengkhianatan hanya akan membawa kebahagiaan sesaat. Setelah itu, hanya akan ada penyesalan dan hukuman atas segala perbuatan yang telah dilakukan. Ingat, Tuhan itu Maha Melihat dan Maha Mengetahui atas apa yang dilakukan oleh makhluk ciptaan-Nya.
.
.
.
__ADS_1