Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Kamu Cemburu?


__ADS_3

Happy reading 💞


Sepanjang jalan menuju salah satu ruangan paling besar di rumah itu, Arumi mengatur napas karena detak jatung memompa semakin cepat. Berkali-kali menelan saliva dengan susah payah. Untuk mengurai rasa gugup yang singgah dalam diri, ia meremaas bagian sisi dress yang dikenakan.


Debaran di dada semakin bergemuruh tatkala sayup-sayup terdengar suara berat seorang pria tengah berbincang hangat dengan suami dari sahabat Arumi.


"Bersikap biasa saja ketika kamu bertemu dengan Rayyan. Jangan biarkan Mama dan juga Mamanya Rio curiga dengan sikapmu ini." Arumi bermonolog. Berharap dengan cara itu debaran di dada menghilang dan ia bisa bersikap tenang seperti sedia kala.


"Nenek Nyimas, Aunty Rumi!" seru Indah dan Bagus. Dua anak kembar itu berlari kecil mendekati mereka.


"Halo, Sayang. Selama ulang tahun. Semoga panjang umur, sehat selalu dan semakin rajin belajar." Do'a terbaik dari Nyimas untuk Indah dan Bagus. "Ini kado dari Nenek dan Aunty Arumi khusus untuk kalian."


Wanita paruh baya itu menyerahkan dua bingkisan kado berukuran sedang pada sepasang anak kembar yang tengah berbahagia di hari ulang tahun mereka.


"Terima kasih, Nek. Terima kasih, Aunty Arumi." Indah dan Bagus menerima bingkisan itu dan tak lupa mengecup punggung tangan sebagai ucapan terima kasih.


Segurat rona kebahagiaan tercipta di wajah si kembar setelah menerima kado dari orang-orang terdekat. Meskipun acara yang diselenggarakan tidak begitu mewah tetapi Indah dan Bagus tetap bahagia karena bisa berkumpul serta tertawa bersama orang terdekat.


"Aku akan ke dapur, menyiapkan kue ulang tahun untuk Indah dan Bagus. Kamu berkumpulah bersama yang lain." Rini meninggalkan Arumi yang masih membeku di tempat.


Rayyan yang sedang berbincang hangat bersama Rio seketika terpana oleh penampilan sang kekasih. Walaupun mengenakan pakaian sederhana tanpa hiasan make up dan perhiasan menonjol, wanita itu tetap cantik karena pesona kecantikan yang berasal dari dalam hati (inner beauty).


"Seandainya aku bisa mempercepat waktu, mungkin saat ini aku sudah memutarnya ke masa empat bulan mendatang. Masa di mana Arumi telah selesai menjalankan masa iddah dan aku bebas meminang serta menikahi wanita itu." Rayyan terus memandangi Arumi tanpa berkedip sedikit pun.


Rio yang duduk di sisi Rayyan hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya. "Dasar Beruang Kutub! Dulu kamu menolak keras saat aku berencana mengenalkan sahabat istriku. Namun, kini kamu malah seperti ABG yang sedang kasmaran. Makanya, jangan sok jual mahal."

__ADS_1


Dua wanita paruh baya yang sama-sama mengenakan pakaian tertutup lengkap dengan penutup kepala (jilbab) tengah duduk berdua di sofa panjang di ruang tengah. Mereka tengah sibuk membahas rencana kunjungan ke panti asuhan tempat Rini dan Arumi dulu dibesarkan. Sementara Indah dan Bagus sibuk membuka kado, pemberian dari orang terkasih.


"Kalian berdua berbincang-bincanglah. Aku akan ke dapur sebentar, membantu Rini menyiapkan kue ulang tahun kedua anakku," ucap Rio.


Pria itu menepuk pundak Rayyan dengan lembut sambil berkata, "Gunakan waktu sebaik mungkin. Sampaikan yang ingin disampaikan. Selagi Tante Nyimas sedang berbincang dengan Mamaku," bisik Rio di telinga Rayyan. Yang dijawab lewat anggukan.


Dipisahkan oleh jarak sekitar tiga meter tak menghalangi Rayyan untuk menatap lekat manik coklat milik Arumi. Semakin lama, pria itu semakin terpana hingga membuat bumi ini rasanya tak lagi berputar. Keduanya bertatapan, saling melempar senyum satu sama lain, menahan gejolak di dalam dada.


Seandainya saja Arumi telah melewati masa iddah, mungkin saat ini Rayyan akan mendaratkan sebuah ciuman di bibir serta kelopak mata nan indah itu.


Teringat akan ucapan Rio, pria jangkung itu segera memanfaatkan kesempatan. Ia mengedipkan mata ke arah Arumi, memberi isyarat pada wanita itu agar mengikutinya ke teras belakang. Dengan patuh, Arumi mengekori di belakang setelah memastikan jika Nyimas tengah sibuk berbincang dengan Mama Rio.


Sampai di teras belakang, Rayyan mengajak Arumi duduk di tepian kolam renang. Pria itu membungkukan badan lalu mengulurkan tangan, membantu pujaan hati melepas alas kaki berupa heels dengan model ankle strap heels. Ciri khas jenis heels itu terletak pada strap yang melingkari pergelangan kaki, berfungsi menjaga kestabilan ketika digunakan.


"Aku sudah menunggumu sejak tadi. Selama lima belas menit aku duduk di sofa, menunggu kedatangan seseorang yang sangat kucintai dengan gelisah." Rayyan memulai percakapan malam itu. "Kupikir, kamu ada urusan mendesak hingga memutuskan untuk tidak hadir di acara ulang tahun Indah dan Bagus."


Wanita itu tersimpu malu. Duduk berdua di tepi kolam renang dengan dekorasi taman yang dibuat secantik mungkin serta di temani sinar rembulan malam membuat suasana semakin romantis. Jantung Arumi berdetak semakin cepat. Ia berpikir, mungkinkah Rini dan Rio sengaja menghias taman belakang itu khusus untuk mereka berdua? Entahlah ia pun tak tahu.


Perlahan, Arumi menggelengkan kepala. Dengan lembut ia menjawab, "Mana mungkin tak datang. Rini mengundangku atas permintaan si kembar. Jika aku tidak hadir, Indah dan Bagus akan merajuk. Mereka akan menunjukan aksi protes dengan cara mendiamkan aku selama satu minggu. Tidak akan menegur, berbicara bahkan untuk tersenyum pun tidak mau."


"Mereka keras kepala mirip Rio. Pengacara kondang itu akan berkata tidak pada apa pun yang dianggapnya salah. Sekalipun kamu mengeluarkan uang puluhan milyar, pendiriannya tidak akan pernah goyah," tutur Arumi mencoba memuji suami dari sahabatnya.


"Cih! Untuk apa kamu memuji pria seperti dia!" Rayyan berdecih karena tidak terima bila Arumi memuji pria lain di hadapannya. "Dia tidak sebaik yang kamu pikirkan. Banyak keburukan pria itu yang belum diketahui olehmu."


Kedua kaki Rayyan menjuntai di permukaan air. Merasa kesal wanita yang dicintai malah memuji pria lain, ia menggerakan kaki itu hingga terdengar suara kecipak air di permukaan kolam renang.

__ADS_1


"Ray, apa yang kamu lakukan!" pekik Arumi. Saat tak sengaja cipratan air mengenai wajah cantik tanpa polesan make up.


"Apa kamu tidak sadar jika perkataanmu barusan telah membuatku marah! Aku benci saat kamu memuji pria lain di hadapanku, Rumi," desis Rayyan. Matanya menatap intens manik indah milik Arumi yang sedang duduk di sisinya.


Alis Arumi saling menaut. Ia tak mengerti mengapa tiba-tiba saja emosi Rayyan meledak. Padahal wanita itu merasa tidak berbuat kesalahan selain ... Oh astaga. Mungkinkah pria itu cemburu? Ia cemburu pada Rio.


Detik berikutnya, tawa Arumi pecah. Pundak wanita itu turun naik. Bukan karena menangis melainkan tertawa akibat melihat tingkah Rayyan yang membuat ia pening seketika.


"Kenapa tertawa? Apakah perkataanku barusan patut tuk ditertawakan olehmu?" dengus Rayyan kesal. Pria itu hendak bangkit tetapi tangannya dicekal oleh Arumi.


"Tunggu. Jangan pergi dulu," bujuk wanita itu. "Mari kita selesaikan masalah ini secepat mungkin. Aku tidak mau menjalani sebuah hubungan penuh dengan kesalahpahaman."


"Hm ... baiklah." Rayyan membenarkan posisi duduk. Kini jarak ia dengan Arumi hanya sekitar satu jengkal.


"Kamu marah karena aku telah memuji Rio di hadapanmu? Kamu tidak suka bila aku lebih memuji pria lain dibanding dirimu? Kamu cemburu karena bibir ini terus mengucapkan nama pria lain?" cecar Arumi dengan berbagai pertanyaan. Dan pertanyaan itu dijawab oleh anggukan.


"Betul. Aku tidak terima bila pria lain lebih unggul daripadaku. Aku ini kekasihmu bukan mereka. Jadi--"


"Sst. Jangan diteruskan lagi." Arumi menyentuh bibir Rayyan dengan jari telunjuk. "Aku mengaku salah karena tidak memedulikan perasaanmu. Maafkan aku ya."


TBC


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2