Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Ada Apa Mencari Saya?


__ADS_3

Putra berhasil menjauhkan Naila dari Mahesa selama tiga hari. Pria itu meminta bantuan Aldo memesankan tiket berlibur selama dua malam tiga hari di Singapura. Meskipun harus menggelontorkan uang yang cukup banyak agar sumber masalah yang menimpa keluarga Adiguna menjauh selama beberapa hari, tidak membuat pria paruh baya itu menyesal sama sekali. Ia malah merasa bersyukur karena kepergian Naila bisa membuat Arumi kembali masuk ke dalam kehidupan Mahesa walau hanya sesaat saja.


Naila masih dengan gayanya yang sok kece badai, mengenakan perhiasan, barang branded meski sebagian dari yang ia miliki merupakan barang imitasi dan produk KW. Jaringan pertemanan luas, tak menyulitkan wanita paruh baya itu untuk mendapatkan apa yang diinginkan olehnya. Meski tak jarang ia harus berdebat dengan sang suami karena beberapa barang berharga di rumah serta saldo rekening yang berkurang akibat gaya hidup hedonisme, ibu kandung Mahesa tetap dengan kebiasaannya dulu.


"Ck! Dasar suami pelit! Menyuruhku berlibur ke Singapura hanya tiga hari dua malam. Selain itu, aku cuma bisa berbelanja dua item doang di sana! Kalau pada dasarnya pelit, ya tetap saja pelit!" gerutu Naila sambil mendorong koper kecil miliknya. Tidak pernah merasa bersyukur atas apa yang diberikan Putra kepadanya.


Wanita yang sebentar lagi menginjak usia kepala lima baru saja mendaratkan kaki di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Ia pergi seorang diri tanpa ditemani oleh siapa pun, termasuk teman-teman geng sosialitanya. Memang sengaja karena tidak ingin waktu liburannya diganggu oleh orang-orang tidak jelas seperti teman-temannya itu.


Jemari tangan Naila melambai ke depan, menghentikan taxi online yang dipesan oleh wanita itu sebelumnya. Seorang sopir taxi berjenis kelamin laki-laki memasukan koper ke dalam bagasi mobil. Sementara Naila, ia membuka pintu, lalu duduk di kursi belakang.


"Kita ke rumah sakit Persada International Hospital," titah Naila pada sang sopir. Kembali mengingatkan pria di balik kemudi bahwa dirinya hendak pergi ke rumah sakit membesuk anak tercinta.


Meninggalkan Indonesia selama tiga hari dua malam membuat Naila sedikit merindukan Mahesa, meski ia jarang menemani anak lelakinya itu karena sibuk bergosip sana-sini sambil menggungjingkan Lena yang kini statusnya sebagai ibu mertua dari Arumi. Rasa rindu terhadap anak semata wayangnya begitu besar hingga tak terbendung lagi.


Memakan waktu selama kurang lebih satu jam, akhirnya taxi online yang ditumpangi oleh Naila tiba di depan pintu masuk lobi utama.


Sebelum menapakan kaki di lantai rumah sakit, Naila terlebih dulu membayar ongkos taxi. Mengeluarkan uang lembaran seratus ribuan dua lembar kepada sopir itu.


"Kembaliannya ambil saja. Saya tahu kamu pasti orang susah, 'kan? Lumayan uangnya bisa kamu belikan pengharum mobil agar kendaraanmu ini tidak bau." Tanpa menunggu balasan dari sopir taxi, Naila melengos begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih.


"Ya Tuhan, baru kali ini aku bertemu penumpang yang super sombong seperti wanita itu." Sopir taxi online itu mengelus dada karena tak mengira akan mendapatkan penumpang dengan tingkat kesombongan di atas level rata-rata, bahkan mengalahkan pencipta situs jejaring sosial 'buku muka'.


Tak mau mood-nya berubah, sopir taxi itu melajukan kembali kendaraannya, meninggalkan kepulan asap yang menguar di udara.


Melangkah perlahan menuju pintu otomatis rumah sakit sambil mendorong koper kecil miliknya. Naila berjalan dengan sangat angkuh. Kacamata hitam bertengger di hidung, kalung berlian asli pemberian Putra sebagai kado pernikahan yang ke-25 tahun berbentuk hati biru melingkar di leher dan tak lupa tas merk Kremes tersalip di antara pundak dan ketiak, memberikan kesan glamour bagi siapa saja yang melihat.


Kini, wanita paruh baya itu sudah tiba di depan pintu masuk ruang ICU. Seorang perawat wanita menyapa Naila. "Selamat pagi, Bu Naila." Senyum terlukis di wajah. Sebuah senyuman tulus berasal dari lubuk hati yang terdalam.


Akan tetapi, Naila tidak membalas sapaan perawat wanita itu. "Aku ingin membesuk anakku!" ucapnya ketus seraya melepaskan kacamata hitam dan memasukannya ke dalam tas branded sisa peninggalan dari masa kejayaan keluarga Adiguna.

__ADS_1


Kedua alis saling menaut satu sama lain. Senyuman manis yang perawat itu berikan pada Naila semakin memudar. "Loh, memangnya Bu Naila tidak diberikan kabar oleh Pak Putra?"


"Kabar apa?" Alih-alih menjawab pertanyaan perawat itu, Naila malah membalasnya dengan sebuah pertanyaan.


"Kabar tentang Pak Mahesa yang tersadar dari koma. Kemarin pagi, Dokter Arumi datang ke sini bersama Dokter Rayyan, mereka membesuk Pak Mahesa bersama-sama," tutur perawat wanita itu.


Naila seketika terhenyak dari posisinya berdiri saat ini. Jantung wanita itu rasanya mau copot, bola mata melebar sempurna dengan rahang terbuka lebar.


"K-kamu, jangan bercanda!" ucap Naila terbata-bata. Ia masih belum percaya jikalau Arumi kembali hadir dalam kehidupan Mahesa. "Mana mungkin si Mandul itu datang ke sini!"


Perawat wanita itu memandangi Naila dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah mengapa, ia sedikit geram mendengar orang tua dari mantan pasiennya seenaknya saja menghina wanita lain. Jelas-jelas wanita yang dihina olehnya merupakan mantan menantunya sendiri.


'Pantas saja Dokter Arumi menggugat cerai Pak Mahesa. Punya mertua julid model Bu Naila, auto sakit hati setiap hari,' batin perawat itu.


Tidak mau dipanggil dan berhadapan langsung dengan HRD ruma sakit dan berujung pada pemecatan secara sepihak, secara terpaksa perawat wanita itu meminta otak dan mulutnya terkunci rapat agar tak mengucapkan kata-kata buruk di hadapan Naila.


"Namun, memang itu kenyataannya, Bu. Dokter Arumi datang ke sini. Bahkan, beliau-lah yang membantu Pak Mahesa sehingga kembali sadar dari koma," ucapnya tanpa ada rasa beban.


"Benar, Bu."


Naila pun segera menarik kopernya seraya berjalan setengah berlari meninggalkan perawat berseragam putih itu. Sementara perawat wanita bertubuh tinggi memampai hanya menatap cengo sambil memandangi punggung Naila dari belakang.


"Emak-emak aneh!" gumamnya lirih.


Tiba di depan pintu lift, Naila segera masuk ke dalam kotak persegi terbuat dari besi. Menekan tombol menuju lantai untuk bertemu dengan seseorang.


"Dasar Mandul! Berani-benarinya dia menemui anakku lagi!" sungut Naila berapi-api. Tubuhnya terasa panas bagai dilahap hidup-hidup oleh si jago merah. Dada wanita itu kembang kempis dengan cuping hidung bergerak sendiri. "Akan kutampar, kujambak dan kupermalukan dia di depan semua orang!"


Perlahan, benda persegi itu membawa tubuh Naila turun ke lantai tiga. Sepanjang jalan, wanita itu terus mencengkram koper yang dibawa olehnya. Napas wanita itu terus memburu seakan bom waktu dalam dirinya hendak meluluhlantakan semua yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


Ketika lift berdenting dan terbuka, Naila keluar dari benda persegi itu. Akan tetapi roda koper milik wanita itu tersangkut hingga menyebabkan ibu kandung Mahesa terpaksa menghentikan langkahnya. Namun, naasnya di waktu bersamaan seorang wanita muda menggendong anaknya berusia tiga tahun menyerobot masuk dan tanpa sengaja menabrak Naila.


"Maaf, Bu, saya tidak sengaja," ucap wanita muda itu. Ia tampak terkejut karena tubuh sang anak tidak sengaja menyenggol koper milik Naila.


Akibat terbujuk oleh hasutan iblis untuk terus mengobarkan api kemarahan dalam dirinya, Naila semakin emosi karena ada seseorang yang mengganggu wanita itu.


"Kalau jalan itu pakai mata dong! Tidak lihat kalau ada orang sedang kesusahan!" sentak Naila dengan suara menggelegar. Semua orang yang ada di dalam lift bungkam seketika. Pandangan mata menatap tajam ke arah Naila.


"Kamu buta, ya, sampai tidak melihat orang masih berdiri di depan pintu lift! Budayakan menunggu, jangan seenak jidatnya saja masuk ke dalam lift dengan tergesa-gesa!" Tangan Naila masih terus berusaha mengeluarkan roda koper yang terselip di antara pintu lift sambil meluapkan kemarahannya pada wanita muda di hadapannya.


Wanita muda itu menundukan pandangan, merasa bersalah karena bagian kaki anaknya menabrak koper milik Naila. "Maaf, Bu," ucapnya lirih.


Tampaknya, usaha Naila mengeluarkan roda koper tersebut berhasil. Benda berbentuk bundaran kecil itu dapat menggelinding seperti sedia kala.


"Menyebalkan!" Naila kembali menarik koper miliknya, lalu melangkah begitu saja meninggalkan semua orang yang masih tampak terkejut akan kejadian tadi.


Kembali mengayunkan kaki menuju bangsal Bougenville, tempat di mana mantan menantunya mencari nafkah selama tiga tahun terakhir. Dengan gerakan cepat melangkah menuju meja resepsionis.


"Di mana Arumi?" tanya Naila seraya menggebrak meja, yang bagian depan meja lebih tinggi daripada bagian belakangnya.


Sontak, ketiga perawat yang bekerja di balik meja terlonjak dari tempatnya duduk. Mereka berdiri seraya menatap aneh ke arah Naila. Beruntungnya salah satu dari perawat itu adalah Amira, suster senior yang sudah lama bekerja di rumah sakit tersebut.


"Memangnya Ibu ada urusan apa dengan Dokter Arumi?" tanya suster Amira memberanikan diri. Meskipun usianya tak terpaut jauh dengan Naila, ia masih memiliki keberanian untuk melawan mantan mertua Arumi.


"Bukan urusanmu! Cepat katakan, di mana dia!" Suara menggelengar kembali terdengar hingga membuat jendela di bangsal itu bergoyang.


Arumi yang kebetulan saat itu baru saja pergi dari toilet dan mendengar namanya disebut, refleks melangkah mendekati sumber suara. "Ada apa mencari saya?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2