
Satu bulan setelah Lena ditolong oleh Firdaus dan diungsikan ke rumah yang ditinggali oleh Rayyan beserta kedua orang tuanya, ibunda kandung Raihan bekerja sebagai tenaga pembantu di rumah sakit Persada. Wanita itu dan Firdaus bekerjasama mengobati pasien yang datang berobat.
Akibat terlalu sering bertemu, tumbuh rasa cinta di dalam hati masing-masing. Meskipun kedua insan manusia itu tahu jikalau hubungan mereka tidak sepantasnya hadir di saat salah satu dari mereka telah berkeluarga. Walaupun rumah tangga yang dibina oleh orang tua Rayyan tidak ada cinta sama sekali di dalamnya, tetap saja hubungan terlarang itu tak boleh terjadi. Akan tetapi, dorongan untuk terus bersama dan saling memiliki begitu besar hingga Firdaus dan Lena terbuai oleh bujuk rayu setan.
Hingga suatu hari ....
"Ma, malam ini aku akan lembur di rumah sakit. Kemungkinan besar tidak pulang ke rumah. Jadi, kamu dan Rayyan tidur duluan saja, tak perlu menungguku," ucap Firdaus, memberitahu sang istri yang saat itu tengah memasak di dapur.
Mei Ling mematikan kompor, lalu menuangkan sop ceker kesukaan suaminya ke dalam mangkok berukuran besar. Membawa semua hasil masakannya selama satu jam berkutat di dapur, untuk menyajikan menu makan siang bagi keluarganya ke meja makan.
"Apakah Lena juga ikut lembur bersamamu, Pa?" Jemari lentik Mei Ling menggeser piring berisi nasi, lauk pauk ke hadapan Firdaus, dan tidak lupa satu mangkok kecil berisi sop ceker, lalu duduk di sebelah lelaki yang sangat ia cintai. Selalu melayani suaminya dengan baik meski tahu lelaki itu tak 'kan pernah membalas cintanya.
Firdaus melirik sekilas ke arah Mei Ling, kemudian menyantap kembali masakan buatan sang istri. Dengan nada dingin ia menjawab. "Ya, dia ikut menemaniku lembur karena pekerjaan di rumah sakit banyak sekali."
Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Entah mengapa, Mei Ling selalu terbakar api cemburu setiap kali mendengar Firdaus berduaan dengan Lena. Walaupun sudah berusaha menerima kenyataan jikalau cinta pria itu sudah dimiliki oleh Lena, tetapi tetap saja hati kecilnya belum ikhlas apabila lelaki yang dicintainya lebih memilih wanita lain daripada dirinya sendiri.
"Kalau begitu, aku akan membawakan makan malam untukmu sekalian mengajak Rayyan sebentar menemui Papa-nya di rumah sakit. Dia pasti senang karena bisa melihat kamu menolong orang yang membutuhkan pertolongan." Terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung.
"Terserah kamu saja!" sahut Firdaus masih dengan sikap dingin.
Tiga puluh menit berlalu, Firdaus telah menghabiskan masakan yang dimasakan oleh Mei Ling. Istrinya itu memang pandai memasak makanan khas Nusantara. Meskipun terlahir dari keluarga berdarah Tionghoa, wanita bermata sipit dengan kulit kuning langsat tanpa cacat sedikit pun, mampu menyajikan olahan masakan di luar kebiasaannya.
"Kamu hati-hati di jalan, Pa." Mei Ling mengulurkan tangan ke depan, mencium punggung tangan suaminya dengan penuh cinta.
Namun, Firdaus tak memberikan respon apa pun. Ia melenggang begitu saja tanpa mengucapkan kata apa-apa.
'Kamu harus bersabar, Mei, demi Rayyan. Buang jauh egomu dan teruslah berpura-pura tidak tahu, kalau suamimu itu sedang bermain api di belakangmu,' batin Mei Ling.
***
Shift siang pun dimulai. Firdaus dibantu Lena mengerjakan tugasnya sebagai dokter dan perawat di rumah sakit sederhana berlantai satu yang di kemudian hari menjadi salah satu rumah sakit bertaraf internasional, kemasyhurannya terdengar di seluruh tanah air.
__ADS_1
"Semua rekam medis pasien sudah ada di sini, Dokter Firdaus," ujar Lena. Wanita berseragam perawat menyerahkan beberapa dokumen ke atas meja kerja Firdaus. Ia sama sekali tak menatap mata lawan bicaranya.
Firdaus menghentikan sejenak aktivitasnya, kala mendengar suara merdu sang pujaan hati. Ia mendongakan kepala, menatap wajah kekasihnya.
Wajah cantik yang selalu dipenuhi oleh senyuman berubah murung, bagai langit kelam tanpa adanya sinar mentari yang menyinari bumi.
"Lena, kenapa wajahmu murung. Apa ada yang membuatmu bersedih?" tanya Firdaus pada wanita di seberang meja kerja.
"Tidak ada," sahut Lena singkat. Masih enggan menatap wajah Firdaus.
Merasa ada sesuatu yang janggal, Firdaus bangkit dari kursi kebanggannya. Mendekati Lena yang masih berdiri di depan sana.
"Kamu tidak bisa berbohong padaku, Lena. Aku tahu, kalau saat ini kamu tengah menyembunyikan sesuatu dariku. Cepat katakan, hal apa yang sedang kamu sembunyikan dariku."
Mengumpulkan keberanian di dalam dada. Menatap wajah sang kekasih dengan tatapan sendu. "Aku hanya sedang berpikir, mau sampai kapan kita mempertahankan hubungan ini, Mas. Jujur, aku sudah lelah menjalani hubungan ini secara sembunyi-sembunyi."
"Aku butuh kepastian dari kamu, Mas. Bukan hanya kata-kata manis yang pada akhirnya tidak pernah kamu wujudkan." Lena menjeda sejenak kalimatnya, lalu kembali berkata. "Jika memang kamu tak bisa mengambil keputusan, biarkan aku yang mengalah. Melepaskan dirinya untuk kembali bersama Mbak Mei Ling. Biarkan aku pergi dari kehidupanmu untuk selamanya."
Wanita itu mulai merasa jenuh dengan statusnya sebagai kekasih gelap dari Firdaus. Setiap hari bersama pria itu, tetapi ia tak bisa memproklamirkan diri di hadapan semua orang jikalau dirinya adalah wanita yang dicintai oleh dokter tampan itu. Ia ingin dapat memeluk, mencium dan berjalan bergandengan tangan di hadapan semua orang bukan sebagai rekan kerja melainkan sebagai kekasih dari Muhammad Firdaus Wijaya Kusuma.
Mendorong tubuh Lena hingga membentur dinding. Pikiran Firdaus kalut ketika mendengar wanita yang dicintainya pergi dan tak 'kan pernah kembali lagi. Lena ingin memberontak, tetapi pria itu langsung mencium bibirnya dengan sangat rakus.
Terbuai. Lena pun terbuai akan ciuman Firdaus. Menikmati setiap sentuhan lidah pria itu di dalam rongga mulutnya. Lantas, ia pun membalas ciuman itu. Saling mengul*m dengan li*r dan begitu agres*f.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku, Lena," bisik Firdaus di depan bibir Lena penuh dengan ancaman.
"Kalau begitu, jadikan aku milikmu seutuhnya, Mas." Lantas, mereka pun kembali berciuman, melepaskan hasr*t yang membelenggu di dalam diri.
***
Mei Ling dan Rayyan remaja melangkahkan kakinya menuju sebuah bangunan satu lantai yang tampak sederhana, tetapi kelak bangunan itu akan berdiri kokoh dan megah serta menjadi salah satu rumah sakit bertaraf internasional yang termasyhur di seluruh nusantara.
__ADS_1
"Mama, Papa pasti senang melihat kita membawakan nasi goreng kesukaannya." Anak lelaki berusia remaja mengulum senyum di wajah. Meskipun senyuman itu dipaksakan, tapi ia mencoba terlihat bahagia di depan sang mama.
Mei Ling tersenyum hangat. "Tentu saja. Apalagi kalau Papa lihat kamu yang membawa sendiri makanan itu untuk Papa." Mengusap lembut rambut anaknya tercinta.
Kaki jenjang itu terus melangkah, hingga tiba di depan pintu ruangan Firdaus. Melihat pintu tak tertutup rapat, dan mendengar suara di dalam, wanita itu membukanya hingga terbuka lebar.
Akan tetapi, ketika pintu berwarna putih itu terbuka, tubuh Mei Ling menegang melihat Firdaus tengah berciuman dengan Lena. Bahkan bagian atas tubuh sang suami sudah telanj*ng dan hanya menyisakan celana bahan saja. Sedangkan tiga buah kancing seragam Lena terbuka dan memperlihatkan kacamata berenda berwarna hitam miliknya terekspos begitu saja dengan rok pendek yang dikenakan sudah terangkat sebagian.
"Mas Firdaus! Kamu ...." Mei Ling tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dada wanita itu terasa sesak luar biasa. Seandainya saja tak menggenggam jemari tangan Rayyan, mungkin wanita itu sudah terkulai di lantai.
"Mei Ling?" Firdaus menjauhkan dirinya dari tubuh Lena kala melihat sang istri berdiri di ambang pintu memandanginya dengan tatapan nanar.
Tanpa pikir panjang, Mei Ling berlari meninggalkan ruangan itu dengan sekuat tenaga. Buliran air mata meluncur membasahi pipi, pikiran wanita itu kosong hingga melupakan keberadaan Rayyan yang masih membeku di tempat, menyaksikan papa tercintanya tengah memadu kasih dengan wanita lain. Penampilan kedua orang dewasa itu begitu menjijikan di mata Rayyan hingga membuatnya bergidik dan seluruh tubuhnya terasa gatal-gatal.
Firdaus mengejar Mei Ling disusul Lena dan Rayyan yang mengekori di belakang.
"Mei Ling, tunggu!" teriak Firdaus, berharap agar istrinya itu mau berhenti. Namun, Mei Ling tak mengindahkan suara suaminya. Ia terus berlari, menerobos guyuran air hujan yang terus membasahi bumi.
Dinginnya malam hari tak membuat Mei Ling menghentikan langkahnya, ia semakin kencang berlari melewati zebra cross tanpa menoleh ke kanan dan kiri hingga tanpa disadari sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi dan menabrak tubuh wanita itu hingga terpental beberapa kilo meter di depan sana.
"Mei Ling!" seru Firdaus ketika melihat tubuh sang istri melayang di udara, dan membentuk mobil berwarna hitam kemudian terjatuh mengenai aspal jalan.
"Mbak Mei Ling!" Lena ikut berteriak histeris.
Sedangkan Rayyan hanya bergeming, menyaksikan cinta pertamanya tergeletak di aspal dengan bersimbah darah. Tanpa disadari, air mata anak remaja itu jatuh membasahi wajahnya yang tampan. Butiran kristal itu nyaris tak terlihat karena lebatnya guyuran air hujan yang mengguyur kota Jakarta.
Mei Ling dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak bisa tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia beberapa menit setelah mendapatkan pertolongan dari tim medis. Namun, sebelum meninggal, ia sempat menitipkan sebuah cincin warisan keluarga milik Wijaya Kusuma agar diberikan kepada calon istri Rayyan. Dan meminta Lena untuk menjaga, merawat serta mencintai Rayyan dengan sepenuh hati.
.
.
__ADS_1
.