Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Ketuk Palu


__ADS_3

"Pukul berapa kamu akan berangkat ke pengadilan?" tanya Rayyan ketika mereka baru saja keluar dari ruang operasi. Masih berpakaian hijau, ciri khas pakaian yang dikenakan saat operasi lengkap dengan penitip kepala serta masker yang menutupi bagian hidung dan mulut.


Arumi yang saat itu sedang mencuci tangan segera menoleh. Memberikan senyuman indah pada pria itu. Meski tertutup masker tetapi mampu membuat hati Rayyan berdebar-debar.


"Saat jam makan siang. Kenapa? Kamu mau menemaniku datang ke persidangan?" tanya wanita itu santai.


"Jika kamu izinkan, aku akan menemanimu. Siapa tahu kamu membutuhkan bahu untuk bersandar ketika hakim sudah mengetuk palu dan memutuskan bila kamu dan mantan suamimu itu telah resmi bercerai," timpal Rayyan.


Arumi menggelengkan kepala. "Dasar aneh! Mana mungkin aku membutuhkan bahu pria lain, sementara ada bahu sahabat dan Mamaku yang bersedia kusandarkan." Wanita itu melepaskan semua atribut pakaian operasi lalu meletakannya di tempat pakaian kotor.


"Namun, aku serius ingin menemaimu. Boleh?" tanya pria itu dengan penuh harapan.


Wanita itu berdiri di hadapan Rayyan. Menatap manik indah milik pria itu. "Kamu tidak di-cap senagai pebinor karena menemani calon janda dalam acara persidangan?" tanyanya penuh selidik. "Itu akan berpengaruh pada reputasimu sebagai seorang dokter, wakil direktur rumah sakit serta calon pewaris rumah sakit ini."


Seketika tawa Rayya pecah saat mendengar Arumi mengatakan bahwa ia akan mewarisi rumah sakit tempat mereka berpijak saat ini.


"Rumi ... Rumi ... mana mungkin aku menjadi ahli waris rumah sakit ini. Kamu itu kalau bicara tidak pernah disaring." Rayyan menggoda sang partner.


"Untuk urusan pebinor, aku tidak akan memedulikan ucapan mereka. Selama aku tidak terbukti merebutmu dari Mahesa maka untuk apa memusingkan omongan yang tak berfaedah."


"Namun, tetap saja itu akan berimbas pada karirmu nanti, Ray. Bagaimana kalau karirmu sebagai dokter hancur gara-gara gosip itu?" Arumi masih mencemaskan dampak yang akan timbul bila Rayyan bersikeras datang ke acara persidangan.


Perlahan, Rayyan mendekati Arumi. Menyentuh bahu sang wanita lalu berkata, "Kalaupun itu terjadi, aku siap menanggungnya sendiri. Aku masih bisa bekerja serta menafkahimu meski jabatanku bukan seorang dokter."


"Rayyan!" dengus Arumi sambil menepis kedua tangan kekar yang menyentuh bahu. "Hati-hati dengan lisanmu. Jika ada yang dengar maka akan timbul gosip. Aku tidak mau berurusan dengan Dokter Firdaus ataupun petinggi rumah sakit yang lain karena masalah ini."


Lagi dan lagi memasang wajah cemberut. Entah mengapa, saat bersama Rayyan sikap manja dan kekanak-kanakan Arumi muncul. Ia merasa nyaman bila didekat pria yang dulu pernah memperlakukannya dengan buruk.

__ADS_1


Pria itu mengacak rambut Arumi yang diikat cepol ala drama Korea. "Oke. Aku akan lebih menjaga lisanku saat berada di tempat kerja," ucap Rayyan lembut. "Tunggu aku di basement! Kita akan pergi bersama-sama."


***


Arumi yang ditemani Rayyan telah tiba di pengadilan agama. Di sana juga sudah ada Rini dan Rio. Nyimas tidak ikut menemani putri tercinta sebab kondisinya sedang dalam keadaan tidak sehat. Hari ini adalah penentuan sidang putusan perceraian antara Arumi Salsabila dengan Mahesa Putra Adiguna.


Selama proses perceraian, Arumi melimpahkan semua urusan pada pengacaranya yang tak lain adalah suami dari sahabatnya sendiri. Memberikan tanggung jawab penuh para Rio. Bahkan saat mediasi pun, wanita itu sama sekali tak tertarik untuk hadir. Ia lebih memilih menyiapkan mental serta menata kembali hidupnya yang pernah hancur akibat sebuah pengkhiantan.


"Kupikir kamu tidak akan datang." Rini mencium pipi sahabatnya ketika melihat Arumi melangkah masuk ke dalam gedung berwarna putih.


"Mana mungkin tidak hadir. Hari ini adalah hari yang sangat penting bagiku. Di mana sebentar lagi status janda akan tersemat di depan namaku." Arumi mencoba tersenyum meski hatinya sedih tetapi keputusannya sudah bulat untuk bercerai dari Mahesa.


Rini melirik sekilas ke arah Rayyan. "Jangan lupa, sediakan satu meja khusus untuk keluargaku jika kamu menikah dengan sahabat suamiku," goda wanita itu disertai kerlingan mata nakal.


"Maksudmu, apa?" Arumi mengerutkan kening. Tak mengerti arah pembicaraan sahabatnya.


"Kamu gila! Hakim saja belum mengetuk palu, mana mungkin aku melakukan pendekatan dengan lawan jenis. Terlebih pria itu adalah atasanku sendiri," sungut Arumi.


"Memangnya kenapa bila dia adalah atasanmu? Selagi pria itu baik, setia dan tentunya tidak suka selingkuh, why not!"


Tak tahan dengan ocehan Rini yang semakin membuat wajah Arumi tersipu malu, ia menyenggol bahu sahabatnya. "Bocah Gendeng!" pekik wanita itu yang disusul kekehan Rini.


Di sisi lain, Mahesa pun baru saja tiba. Ia ditemani Kayla dan juga mama tercinta berjalan dengan angkuh menuju ruang persidangan.


Melihat Arumi datang ditemani pria asing yang pernah bertemu dengannya di sebuah cafe di Bali, sekujur tubuh Mahesa diselimuti percikan api cemburu. Apalagi wanita yang telah menemaninya selama tujuh tahun tersenyum bahagia kala berbincang dengan Rayyan, membuat Mahesa semakin emosi.


"Brengsek!" maki Mahesa. Tanganya terkepal sempurna serta menatap Rayyan dengan sorot mata permusuhan.

__ADS_1


Bersiap melayangkan bogem mentah di wajah Rayyan tetapi seseorang sudah lebih dulu menahan pergerakan Mahesa.


"Hentikan, Sayang! Bila kamu maju selangkah saja maka aku akan pergi meninggalkanmu serta membawa anak ini pergi jauh dari kehidupan Adiguna. Kupastikan, kamu tidak akan bertemu dengan anak ini selamanya," ancam Kayla.


Akhirnya Mahesa hanya mampu memedam kemarahannya. Tidak dapat berbuat apa-apa sebab kini Kayla telah mengendalikan pria itu.


Hakim mulai melakukan sidang. Rio benar-benar membuktikan ucapannya. Di hadapan semua orang, pria berdarah Timur Tengah mengeluarkan bukti-bukti yang dapat memberatkan Mahesa. Ia tidak takut bila hubungan kekeluargaan antara dirinya dengan Mahesa retak karena memang pada awalnya ikatan persaudaraan di antara mereka sudah renggang setelah mendiang Adiguna tewas dalam kecelakaan.


"Ini adalah bukti di mana tergugat melakukan perselingkuhan dan perzinahan dengan wanita lain sedangkan saat itu statusnya masih suami dari Nyonya Arumi Salsabila." Rio mengeluarkan beberapa foto di hadapan hakim. "Pak Hakim bisa lihat sendiri, bagaimana perlakuan tergugat terhadap klien saya. Maka dari itu, saya mohon agar Pak Hakim bisa bersikap adil terhadap Nyonya Arumi."


"Melihat semua bukti yang diberikan oleh penggugat, maka dengan ini saya memutuskan bahwa Arumi Salsabila dengan Mahesa Putra Adiguna, telah resmi bercerai." Ketukan palu pun terdengar. Menandakan bahwa pernikahan Arumi dan Mahesa telah berakhir.


"Selamat ya, Kayla, akhirnya kamu-lah pemenangnya," bisik Naila. Wanita paruh baya itu tak dapat menutupi kebahagiaannya. Seulas senyuma selalu terlukis di wajah.


"Terima kasih, Ma. Tidak sia-sia aku menuruti permintaan, Mama. Kini akulah satu-satunya istri Mas Mahes."


Mahesa yang duduk di kursi depan menatap nanar ke arah Arumi. Ia masih belum rela bila harus berpisah dengan cinta pertamanya itu. 'Tidak adakah secuil cinta di hatimu untukku lagi, Rumi?' batinnya.


Menatap penuh kebencian ke arah Rayyan. 'Ini pasti gara-gara pria itu sehingga Arumi bersikeras berpisah denganku. Awas kamu, akan kubuat perhitungan karena telah merebut Arumi dari sisiku!'


TBC


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2