Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Ghani, Zavier dan Zahira


__ADS_3

"Dokter, bagaimana dengan kondisi istri saya?" tanya Rayyan setelah lampu berwarna merah di bagian atas pintu ruang operasi mati dan sosok wanita paruh baya berpakaian jubah operasi berwarna hijau lengkap dengan penutup kepala dan masker menutupi bagian hidung dan mulut berdiri di ambang pintu.


Dokter Renata melepaskan masker yang menutupi sebagian wajahnya, lalu mengulum senyum kepada Rayyan. "Syukurlah, operasi berjalan dengan lancar. Ibu dan bayinya selamat. Saat ini, Dokter Arumi masih dalam pengaruh obat bius sehingga belum sadarkan diri. Tinggal menunggu waktu siuman. Sementara si triplet, tengah dibawa perawat untuk mendapatkan perawatan."


"Oh ya, satu lagi. Untuk jenis kelamin, dua laki-laki dan satu perempuan. Wajah ketiganya sangat mirip dengan Dokter Rayyan," imbuh Dokter Renata membuat ayah dari tiga orang bayi mungil nyaris membuat tubuhnya terperosok ke lantai karena tungkainya tak mampu menopang berat tubuh akibat terlalu terkejut mendengar kabar membahagiakan tersebut.


Sungguh, Rayyan tak mengira jikalau di hari ini ia diberikan banyak sekali kejutan oleh Tuhan hingga membuatnya tak lagi mampu berkata. Hanya bulir air mata yang terus membasahi pipi. Terus mengalir bagai sumber mata air di pegunungan. Dalam hati mengucap syukur atas nikmat dan karunia yang Tuhan berikan kepada keluarga kecilnya.


"Kalau Dokter Rayyan ingin melihat si kecil, boleh. Sambil menunggu kami memindahkan Dokter Arumi ke ruang perawatan."


"Sudah, sana, kamu azani ketiga anak-anakmu biar Mama tunggu di sini," bisik Nyimas dengan suara parau. Wanita paruh baya itu pun turut menangis haru karena impiannya untuk menimang cucu akhirnya terwujud. Do'anya selama ini dikabulkan oleh Tuhan.


Rayyan mengangguk, lalu ia mengikuti perawat yang sedari tadi berdiri di samping dokter Renata. Menyaksikan bagaimana pemimpin rumah sakit bertaraf internasional meneteskan air mata untuk pertama kali di hadapan orang lain. Sosok pria dingin yang terkenal tak banyak basa basi namun juga tegas berubah menjadi pria berhati Hello Kitty.


Sepanjang jalan menyusuri lorong rumah sakit, ia merasa sangat gugup ketika hendak menjumpai ketiga anaknya. Ada rasa cemas bercampur khawatir menyelimuti diri. Cemas karena ia takut jikalau salah satu atau mungkin ketiganya memiliki sikap arogan dan tempramental seperti dirinya. Kalau sampai terjadi, bagaimana ia dapat mendidik mereka agar tak mengikuti tabiat jelek yang diwariskan olehnya.


'Semoga saja itu hanya ketakutanku saja dan tidak menjadi kenyataan.'


Tanpa sadar, kini Rayyan telah tiba di sebuah ruangan khusus yang banyak terdapat bayi mungil lucu nan menggemaskan berada di dalam box bayi. Tubuh mungil itu terbaring dengan lelap sambil sesekali menggeliat berbalut kain bedong berwarna warni.


Langkah kaki terhenti, kala ia melihat tiga bayi mungil terbaring di dalam inkubator. Kulit tubuh kemerahan tanpa sehelai kain pun menangis seakan mereka tengah mengucapkan selamat datang kepada sang ayah. Suara tangisan itu sahut menyahut laksana grup paduan suara 17 Agustus-an terdengar begitu merdu dan menenangkan jiwa.


"Dokter Rayyan, silakan. Anda bisa masuk sekarang." Perawat wanita itu mempersilakan Rayyan yang kini berstatuskan sebagai pemimpin rumah sakit, menggantikan Firdaus.


Melangkah secara perlahan mendekati tiga buah kotak persegi terbuat dari kaca. Mata tajam menatap tiga makhluk kecil itu secara bergantian. Mata kembali memerah hingga tanpa sadar butiran bening mengalir kembali di pelupuk matanya.


"Ya Tuhan, ini ....? Anak-anakku?" gumamnya dengan suara gemetar. Debaran halus bergemuruh di dada kala melihat ada tiga nyawa di dalam sana. Bentuk nyata dari sebuah kisah cinta penuh liku antara dirinya dengan Arumi. Sembilan bulan lamanya ia menanti, kini mereka telah ada di hadapannya.

__ADS_1


"Dokter Rayyan ingin mengazani mereka?" Perawat wanita itu kembali bersuara hingga membuat sang direktur mengusut air matanya yang sempat mengalir membasahi pipi.


Rayyan menganggukan kepala singkat sebagai jawaban. Lantas, perawat itu mulai membawa si sulung ke hadapan sang lelaki. "Ini si sulung, wajah dan hidungnya mirip sekali dengan Dokter Rayyan."


Tangisan si sulung secara perlahan terdiam, kala Rayyan menjalankan tugasnya yang pertama sebagai seorang ayah. Tubuh mungil itu hanya menggeliat dalam dekapan ayahnya. Setelah selesai dengan si sulung, Rayyan kembali melakukan hal yang sama pada bayi kedua dan terakhir si cantik jelita, berjenis kelamin perempuan yang bibirnya begitu mirip dengan Arumi.


"Halo, Sayang, selamat datang ke dunia. Ayah berjanji, akan berusaha menjadi orang tua yang baik bagi kalian bertiga. Ayah, sayang kalian bertiga," ucapnya lirih seraya mengusap box inkubator. Memperhatikan tubuh mungil itu yang mulai terlelap kembali.


***


Beberapa saat setelah dipindahkan ke ruang perawatan, akhirnya Arumi tersadar dari pengaruh obat bius yang diberikan oleh rekan sejawatnya. Kelopak mata dengan bulu mata lentik bergerak secara perlahan, kala mendengar suara Nyimas tengah berbincang dengan seorang wanita yang begitu familiar di telinga.


"Selamat ya, Jeng Nyimas, akhirnya kesampaian juga menimang cucu kembar," kekeh Mama Rio. Mertua dari sahabat Arumi segera datang ke ruang perawatan setelah mendengar kabar kelahiran si triplet.


"Iya, Jeng. Alhamdulillah. Do'a dan harapan kami semua dikabulkan. Sungguh, saya tidak menyangka jika ternyata Tuhan memberikan cucu kepada sekaligus tiga loh!" Ikut terkekeh karena merasa bahagia campur haru.


"Begitulah, Jeng. Kita tidak pernah tahu akan nikmat yang Tuhan berikan. Wanita yang dulu dihina karena belum hamil, rupanya kini melahirkan tiga bayi sekaligus. Apa tidak bungkam mulut semua orang-orang julid itu ketika mendengar kabar ini."


Nyimas tersenyum simpul sambil menggelengkan kepala. "Mungkin saja, Jeng."


Percakapan mereka terhenti ketika mendengar suara lirih berasal dari seseorang yang tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


"Mas ...."


Sontak, kedua wanita paruh baya itu menoleh ke sumber suara. Rayyan yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar sang istri tersadar, bergegas berjalan setengah berlari mendekati istrinya.


"Babe, kamu sudah sadar, Sayang. Kamu ... apa ada bagian yang terasa sakit? Mau aku panggilkan Dokter Renata?"

__ADS_1


Arumi menggelengkan kepala lemah. Tubuhnya memang masih terasa sakit akibat luka sayatan pada area sekitar bagian perut bawah. "Tidak perlu panggilkan Dokter, aku cuma ingin tahu keadaan Triplet."


Rayyan mengusap lembut wajah istrinya menggunakan punggung tangan jari telunjuk. "Ketiga anak kita baik-baik saja. Mereka sedang berada di dalam inkubator."


"Kamu tidak perlu mencemaskan ketiga anak-anakmu, Nak. Mereka akan aman selama ada Nak Rayyan dan Mama di sini." Nyimas ikut menimpali.


"Yang penting saat ini adalah kesehatanmu, Rumi. Kamu harus lekas sembuh demi ketiga buah hatimu." Mama Rio ikut bersuara, agar Arumi tahu jikalau wanita paruh baya yang telah menganggap dokter cantik itu seperti anak kandungnya sendiri turut hadir di hari yang berbahagia ini.


"Terima kasih, Tante Aira, karena sudah bersedia datang membesukku."


Mama Rio mengusap pundak Arumi seraya berkata, "Jangan sungkan, Nak. Kebetulan Tante memang tidak sibuk jadi bisa segera datang ke sini. Rini menitipkan salam padamu. Maaf, belum bisa membesuk karena ia pun baru saja melahirkan tadi dini hari."


Arumi tersenyum samar, mendengar sahabat sejatinya ikut melahirkan di waktu yang hampir bersamaan.


Tak lama berselang, tiga orang perawat mendorong box bayi masuk ke dalam ruangan. Seketika ruangan perawatan itu dipadati banyak orang. Beruntungnya Arumi berada di dalam ruang VVIP, ukuran ruangannya cukup luas sehingga si pasien masih dapat menghirup oksigen banyak tanpa harus berebut dengan orang lain.


"Dokter Arumi, saatnya melakukan IMD pada ketiga bayi Anda," ujar salah satu perawat.


Perawat itu menyerahkan si sulung dalam gendongan Arumi. Tampak Arumi dan Rayyan begitu haru bahagia kala anak pertama mereka mulai mencari keberadaan pabrik, sumber kehidupannya.


"Nak Rayyan, apakah kamu sudah mencari nama untuk ketiga anak-anakmu?" tanya Nyimas yang saat itu tengah berdiri di samping ranjang. Tersenyum lebar melihat cucu pertamanya tampak begitu rakus saat meminum ASI dari ibunya.


"Sudah, Ma. Aku akan memberi nama Muhammad Ghani Hanan, Muhammad Zavier Abimana dan Najma Zahira," ucap Rayyan seraya menatap ketiga buah hatinya dengan tatapan penuh cinta. Terselip do'a dan harapan dari kedua orang tua untuk tiga bayi mungil yang baru saja terlahir ke dunia ini.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2