
"Katakan saja yang sejujurnya. Aku janji tidak akan memarahimu." Rayyan sengaja mengucapkan kalimat itu agar Arumi lebih leluasa mengutarakan isi hatinya yang terdalam. Meskipun hatinya terasa sakit bila harus menyaksikan interaksi di antara istri tercinta dengan mantan suami dari sang istri, namun ia mencoba untuk ikhlas demi kebaikan bersama.
Lagi-lagi Arumi menatap wajah tampan milik pria yang telah menebarkan benih ke inti tubuhnya sehingga kini hadir tiga calon janin di dalam rahim wanita itu. Kedua alis wanita itu saling bertaut membentuk sebuah lengkungan indah di atas kelopak mata. Tak mengerti dengan perubahan sikap suaminya yang secara tiba-tiba menjadi lebih tenang dan mampu menguasai diri.
'Kesambet jin apaan sih suamiku ini. Kenapa berubah jadi jinak?' batin Arumi. Bingung dengan sikap suaminya.
Akan tetapi, wanita itu segera mengenyahkan pikiran negatif itu dari isi kepalanya. Ia kembali fokus dengan topik pembicaraan yang sedang dibahas.
"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku ingin membesuk Mas Mahes di rumah sakit. Bukan karena nama pria itu masih bertahta dan menduduki singgasana terindah di dalam hati, tapi lebih mengedepankan rasa empati dan rasa kemanusiaan yang kumiliki. Bagaimanapun, aku dan dia pernah memiliki cerita di masa lalu meski hubungan kami akhirnya berakhir di pengadilan agama karena pria itu telah berkhianat namun sebagai makhluk sosial, tidak ada salahnya 'kan bila aku mengunjunginya di rumah sakit."
"Akan tetapi, untuk saat ini aku belum siap bila harus bertemu dan menatap wajah pria yang dulu pernah mengkhianatiku. Hatiku belum siap untuk kembali mengingat kejadian di masa lalu. Ditambah lagi dengan hormon kehamilan yang kualami saat ini. Suasana hatiku sering berubah-ubah dalam hitungan detik. Tiba-tiba saja bahagia, lalu detik berikutnya menangis ataupun marah tanpa sebab."
"Saat ini aku ingin fokus dulu dengan kehamilanku, Mas. Setelah aku siap barulah pergi membesuk Mas Mahes di rumah sakit. Bagaimana menurutmu?" tanya Arumi. Kali ini ia ingin mengetahui pendapat Rayyan. Siapa tahu pria itu mempunyai pendapat lain yang dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi wanita itu dalam mengambil keputusan.
Mendapat pertanyaan itu, Rayyan kembali menatap Arumi. Lalu, dia tersenyum seraya mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh cinta. "Apa pun keputusanmu, aku selalu mendukung. Kalau kamu ingin pergi membesuk mantan suamimu besok, aku akan menghubungi orang tua pasien dan menyiapkan segala keperluanmu selama berada di ruang ICU. Namun, jika kamu memang belum siap dan masih ingin menyiapkan mental serta menyesuaikan dengan suasana hatimu yang sering berubah-ubah, itu adalah hakmu."
"Jangan karena terpaksa hingga kamu mengorbankan diri sendiri dan juga ketiga buah hati kita. Ingat, kesehatan dan keselamatan kalian semua lebih penting dibanding apa pun di dunia ini."
Arumi merasa lebih tenang setelah mendengar pendapat suaminya. Sungguh, ia bahagia sekali karena akhirnya sang suami bisa diajak diskusi tanpa harus ribut dan mengeluarkan energi berlebih hanya untuk mendapat sebuah kesepakatan bersama.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas, karena kamu sudah mau memberikan izin padaku untuk menemui Mas Mahes. Walaupun tidak tahu kapan suasana hatiku baik, tapi setidaknya surat izin membesuk pria itu sudah kukantongi. Jadi, kapan pun aku siap, kita bisa langsung datang ke rumah sakit." Arumi tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putih dan rapi, membuat wanita itu semakin menggemaskan di mata Rayyan.
Rayyan tidak tahan melihat sikap wanita itu. Lantas, kedua tangan menangkup pipi Arumi dan menyatukan kening mereka berdua seraya berkata. "Apa pun akan kulakuan demi kebahagiaanmu, because you're my everything."
Arumi menatap intens bola mata Rayyan. Dadanya berdebar lembut setiap kali memandangi keindahan ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya. Pria itu benar-benar membuat dirinya seperti gadis remaja yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta. Selalu sukses membawa dirinya terombang ambing di lautan lepas.
Tanpa sadar, Arumi mendekatkan bibirnya ke bibir sang suami, lalu mencium bibir pria itu dengan lembut. Begitu pun dengan Rayyan, dia memperdalam ciuman itu hingga lambat laun ciuman itu berubah menjadi lebih intens. Bibir mereka saling memangut, meluapkan rasa cinta yang paling terdalam di lubuk hati yang terdalam. Cinta yang tak pernah usang meski dimakan waktu.
Bagi Arumi, Rayyan adalah sosok pria baik yang bisa dijadikan sandaran tatkala ia sedang bersedih. Pria itu juga mampu membuatnya tersenyum dan melupakan sedikit demi sedikit rasa sakit hati akibat dikhianati oleh orang terkasih. Inilah salah satu hikmah yang dapat dipetik oleh wanita itu atas kejadian di masa lalu. Ia bisa bertemu dengan pria yang benar-benar tulus mencintainya tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Terlepas dari watak jelek yang ada dalam diri pria itu, Arumi tetap mencintai Rayyan apa adanya.
Sepasang suami istri itu langsung melepaskan pangutan mereka ketika sama-sama merasakan hampir kehabisan oksigen. Deru napas memburu dengan degup jantung tak beraturan.
Arumi terdiam beberapa saat kala mendengar suara berat sang suami. Rayyan memang tidak menjelaskan terperinci ia menginginkan apa darinya, tetapi sebagai orang dewasa dan telah berumah tangga tentu saja dokter cantik itu tahu apa yang diinginkan oleh suaminya. Ingin menolak, takut berdosa. Namun, bila menuruti keinginan pria itu, ia mencemaskan keselamatan ketiga janin dalam kandungannya.
Lantas, Arumi mulai berinisiatif memberikan kepuasan dengan cara lain. Wanita itu mengusap rahang Rayyan dengan lembut seraya berkata. "Kita belum bisa melakukannya, Honey. Usia kandunganku masih sangat muda. Akan tetapi, aku bisa membantumu. Mau coba?"
Wajah Arumi merah padam, menahan gair*h bercampur malu yang menyelimuti diri. Sejujurnya, ia pun menginginkan sesuatu yang lebih daripada hanya sekadar ciuman. Namun, kondisinya tidak memungkinkan untuk saat ini. Ada tiga janin dalam kandungan dan ia tidak mau mereka celaka karena keegosian kedua orang tuanya.
Rayyan tidak melewatkan kesempatan itu, sebab ia sudah benar-benar tidak bisa mengendalikan hawa napsunya. Pria itu menganggukan kepala sebagai jawaban. Lalu, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
Jemari lentik Arumi mulai beraksi, melepaskan ikat pinggang milik Rayyan. Setelah kait besi ikut terlepas, ia pun menurunkan celana kain yang membalut kaki suaminya itu. Sepasang bola mata indah menatap Rayyan dengan intens.
"Seharusnya dengan begini tidak masalah, 'kan?" ucap Arumi dengan nada sesensual mungkin.
Rayyan menelan ludah dengan susah payah. Kedua netranya menatap sepasang manik coklat yang terlihat sayu membuat pria itu kehilangan akal sehat. Pria itu menggeram, suaranya berubah serak kala merasakan jemari mungil itu bergerak lincah di antara pangkal paha membuat napasnya tercekat dan bulu romanya meremang seketika.
Semakin lama gerakan itu semakin cepat hingga membuat Rayyan meracau tak jelas. Napas pria itu tersengal dengan wajah memerah menahan hasr*at yang bergelora.
"Babe ...." Rayyan mengerang sambil menjumput helaian rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Arumi. Mata sayu itu semakin membangkitkan iblis dalam diri Rayyan.
Ketika Rayyan hampir mengalami pelepasan, ia mencengkram sprei dengan sangat erat. Dan ... detik berikutnya gelombang besar itu datang menghadang.
"Aah!" seru Rayyan dengan suara lantang. Pria itu terkapar di atas pembaringan, energinya terkurs habis setelah mendapat pelepasan. Sungguh, ia merasa puas karena Arumi selalu bisa memberikan pelayanan terbaik untuknya meski dalam kondisi hamil tetapi wanita itu tetap bisa memuaskannya.
.
.
.
__ADS_1