
"Bu, ini masih di lingkungan rumah sakit. Mohon untuk tidak berteriak." Salah seorang security memperingatkan Naila agar menutup mulutnya, sebab sedari tadi wanita itu terus meneriaki Arumi dengan segala macam sumpah serapah hingga membuat beberapa orang yang melintas mengalihkan pandangan ke pos keamanan.
"Apa hak kalian melarang saya? Ini mulut saya, jadi terserah mau mengucapkan apa pun itu urusan saya!" sembur Naila sambil menghunuskan tatapan tajam, mata sinis menatap angkuh kepada dua orang security itu.
Salah satu dari security menghela napas panjang sambil mengelus dada melihat kelakuan Naila. "Apes banget hari ini, bertemu Nenek Lampir modelan begini," ucapnya lirih.
Lalu, ia menarik kursi hingga bersebelahan dengan rekan kerjanya. "Sudah, biarkan saja dia begitu. Nanti juga capek sendiri," bisik pria itu. Rekan kerjanya hanya mengangguk tanda setuju.
Tak berselang lama, seorang pria jangkung melangkah masuk ke dalam pos keamanan. Sebagai anak dari pemilik rumah sakit, tentu saja kedua security tahu siapakah gerangan yang ada di hadapan mereka saat ini.
"Selamat siang, Dokter Rayyan," sapa kedua security hampir bersamaan. Mereka membungkukan kepala secara hormat.
"Hm." Hanya dua kata itu saja yang Rayyan mampu ucapkan pada para security yang berjaga siang hari itu. Tujuannya ke pos keamanan bukan untuk bertegur sapa melainkan ingin memberi sedikit pelajaran sebelum akhirnya menyingkirkan Naila dari kehidupan Arumi selamanya.
Netra Rayyan langsung menangkap sosok wanita yang tengah duduk di sebuah kursi plastik berwarna merah sambil memainkan benda pipih berukuran 6.5 inci. Rupanya Naila kelelahan karena sejak tadi terus berteriak. Oleh karena itu, ia beristirahat sejenak guna mengembalikan lagi energinya yang terkuras.
Pria itu menyeringai lebar. "Rupanya Bu Naila mempunyai nyali yang cukup besar hingga berniat mencelakai Arumi." Rayyan bersedekap, memindai penampilan Naila dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. "Tidak takut bila saya membalas semua perbuatan yang Anda lakukan tadi?"
Suara berat Rayyan mengalihkan perhatian Naila dari layar ponsel. Lantas, wanita itu mendongakan kepala saat mengetahui pria di hadapannya adalah lelaki yang telah memperistri mantan menantunya. Jemari tangan wanita itu memasukan kembali benda elektronik berharga jutaan rupiah ke dalam tas Kremes miliknya.
Wanita itu menarik sudut bibir ke atas. "Takut? Saya takut sama kamu?" Tertawa terbahak karena merasa geli mendengar perkataan Rayyan. "Memangnya kamu bisa apa hem? Cuma gertakan sambal, tidak mempan bagiku."
Rayyan mencibir sinis. "Saya bisa melakukan apa pun bahkan melakukan sesuatu yang tak pernah Bu Naila pikirkan sebelumnya."
Lantas, pria itu menoleh ke belakang sambil tersenyum penuh makna. "Kalian berdua, tolong berjaga di depan pintu dan awasi setiap orang-orang yang mendekati tempat ini!" perintahnya pada security yang berdiri di ambang pintu. Raut wajah calon ayah dari ketiga bayi kembar terlihat begitu menyeramkan dengan aura seperti seorang pembun*h.
Ruangan berukuran 3×3 meter yang dilengkapi pendingin ruangan terasa semakin dingin hingga membuat Naila merinding. Apalagi menatap sorot mata tajam dari sosok pria di hadapannya. Seluruh tubuh wanita itu meremang, degup jantung tak beraturan dan keringat dingin mulai muncuk ke permukaan pori.
__ADS_1
"Kenapa, Bu Naila takut saya melakukan sesuatu pada Anda? Bukankah tadi Anda bilang tidak mungkin takut pada bocah ingusan macam saya?" ujar Rayyan seraya terkekeh. "Kalau tidak takut, seharusnya Bu Naila tak perlu melangkah mundur ke belakang."
Ketika Naila mundur, di saat itulah Rayyan melangkah maju satu langkah ke depan. Pria itu tersenyum smirk sambil terus menatap ke arah depan. Kelopak mata tak berkedip sedikit pun, demi memastikan wanita di hadapannya itu ketakutan.
"Seharusnya Anda berpikir dua kali sebelum mencoba mencelakai istri dan ketiga calon anak saya yang ada dalam kandungan Arumi. Jika sudah begini, saya tak akan pernah mengampunimu sekalipun kamu bersimpuh dan memohon ampunan kepadaku."
Nyali Naila seketika menciut, melihat bagaimana menyeramkannya sosok lelaki yang statusnya menjadi suami dari Arumi. Hanya menatap matanya saja sudah membuat wanita paruh baya itu ketakutan setengah mati.
"K-kamu ... mau apa?" Mencoba terlihat kuat meski sejujurnya ia begitu takut jikalau Rayyan akan berbuat di luar kendali. Terus melangkah mundur hingga tubuhnya menempel di dinding.
'Sial, tubuhku sudah mentok menyentuh dinding. Kalau begini, tidak ada kesempatan kabur bila suami dari si Mandul benar-benar mencelakaiku!' Naila bermonolog sendiri saat merasakan punggungnya menempel tembokan yang terasa dingin.
"Tentu saja saya ingin membalas semua perbuatan yang pernah kamu lakukan terhadap Arumi!" Tanpa membuang waktu, tangan Rayyan mencengkeram pipi Naila hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.
Cekalan tangan dokter tampan pada rahangnya terasa sangat kuat, keberanian Naila saat itu juga sirna bagai lilin yang ditiup hanya menyisakan kepulan asap menguar ke udara.
"Eugh! L-lepaskan!" erang Naila sambil meronta dan berusaha membesarkan diri dari cengkeraman Rayyan. Walaupun hanya menggunakan satu tangan, tetapi tenaga pria itu sungguh kuat. Dada wanita paruh baya itu bergerak turun dan naik tak beraturan. Terlihat air muka kepanikan terlukis di wajahnya.
Alih-alih melonggarkan cengkeraman, Rayyan semakin mendorong tubuh Naila hingga wanita itu tak bisa berkutik lagi.
"Seandainya saja saya tidak ingat kalau surganya Pria Berengsek itu ada di kakimu, sudah saya habisi nyawamu saat ini juga. Namun, karena saya tidak mau membuat seorang anak kehilangan ladang surganya untuk berbakti kepada sang ibu, maka balasan ini cukup untuk membuatmu efek jera sebelum saya menjeblosakanmu ke penjara."
Sebenarnya ia bisa saja menghabisi wanita jahat itu saat ini jika menggunakan tangannya sendiri, tetapi dokter tampan itu ingat kalau saat ini Arumi sedang mengandung. Tidak mau membuat ketiga anak-anaknya lahir tanpa tahu siapakah gerangan donatur terbesar hingga munculah ketiga kecebong yang berasal dari bibit unggul merk cap super Rayyan Firdaus.
Perkataan Rayyan membuat bola mata Naila membulat sempurna. Mendengar kata penjara, benak wanita itu berkecamuk. Membayangkan tidur di ubin hanya beralaskan tikar, teman satu sel yang super duper rese, ditambah makanan yang tidak enak di lidah dan hukuman berat menanti membuat wanita itu menggelengkan kepala.
"Tidak! Kamu tidak mungkin bersungguh-sungguh," ujar Naila saat merasakan kesakitan yang ia rasakan mulai menjalar ke seluruh tubuh. "Kalau sampai itu terjadi, kamu bersiaplah berhadapan dengan suamiku. Karena dia pasti membalaskan semua tindakan yang kamu lakukan padaku saat ini."
__ADS_1
"Kenapa tidak mungkin? Apakah kamu pikir, aku takut bila suamimu itu menghajarku hingga babak belur. Begitu?" tanya Rayyan seraya menyeringai sinis. "Asal Bu Naila tahu, saya sama sekali tidak takut pada suami, Ibu. Saya ... cuma takut pada Tuhan dan juga Arumi."
Perkataan Rayyan membuat Naila tersenyum mengejek. Tak menduga jikalau Arumi menjadi salah satu sosok yang ditakuti oleh pria itu. Andai saja saat ini ia tidak berada dalam cengkeraman anak tiri dari teman geng sosialitanya mungkin ruangan itu sudah dipenuhi oleh suara gelak tawa membahana ke seluruh penjuru. Sungguh, perkataan Rayyan barusan sangat membuat perut Naila seperti digelitik oleh ratusan tangan tak kasat mata.
"Kamu takut karena wanita itu pembawa sial, begitu?" Naila terkekeh, kedua pundaknya bergerak turun dan naik. "Jika kamu sudah tahu, kenapa tidak tinggalkan saja dia. Selain pembawa sial, dia juga adalah wanita mandul. Percuma mempertahankan rumah tangga bersama wanita itu, yang ada kamu malah hidup menderita karena tidak akan pernah bisa merasakan bagaimana menjadi orang tua bagi anakmu sendiri."
"Jadi ... sebaiknya tinggalkan dia dan nikahi wanita lain. Saya jamin, hidupmu lebih bahagia bila berpisah dengan wanita sialan itu!" sambung Naila. Wanita itu terus memprovokasi Rayyan agar meninggalkan Arumi.
Cara licik yang pernah dilakukan kepada Mahesa dulu. Namun, karena Mahesa teringat akan janjinya kepada mendiang Zidan sehingga ia tidak dapat bercerai dari Arumi. Anak tunggal dari pasangan Putra dan Naila lebih memilih mempertahankan rumah tangganya namun ia juga berselingkuh dengan wanita lain di belakang istri tercinta.
Ah ... benar-benar biadab. Tak bisa ditolerir. Bagaimana mungkin Mahesa berselingkuh sementara Arumi adalah wanita yang nyaris mendekati kata sempurna. Memiliki paras cantik, karir gemilang, tubuh bagai gitar Spanyol dan juga istri yang berbakti kepada suami serta keluarga. Hanya karena belum bisa memberikan keturunan, orang-orang jahat itu tega membuat rencana licik agar Arumi pergi dari keluarga Adiguna, selamanya.
Rahang Rayyan semakin mengeras. Kesabaran pria itu telah habis. Ia tidak terima jikalau mulut sampah Naila menghina wanita yang saat ini sedang susah payah mengandung ketiga anak buah cintanya. Wajah pria itu semakin memerah, menandakan level kemarahan telah mencapai batas maksimal dan bersiap untuk melampiaskannya pada Naila, deru napas memburu tak beraturan dengan dada kembang kempis.
"Beraninya kamu menghina istriku! Rasakan ini! Sebaiknya kamu mati di tanganku!" teriak Rayyan seraya mencengkeram lebih erat lagi rahang Naila. Sebelah tangannya pun tidak tinggal diam. Ia menekan pangkal tenggorokan wanita paruh baya itu hingga kepalanya mendongak ke atas. Seringai bengis muncul di wajahnya, penuh dengan keinginan untuk melenyapkan Naila selamanya.
"Aah! S-sakit!" pekik Naila. Wanita itu mulai meronta, kedua tangannya mencoba melepaskan cekalan di leher. Ia mulai merasa sesak akibat tak dapat bernapas dengan baik. Cekalan tangan itu begitu kuat bagaikan bangunan kokoh berusia ratusan tahun lalu. Meskipun sudah mulai menampakkan tanda-tanda kemerahan akibat alergi yang diderita oleh Rayyan, pria itu sama sekali tak memedulikan keadaannya saat ini.
Wanita paruh baya itu mencoba mencari cara lain dengan mengulurkan tangan ke samping, berusaha meraih sesuatu untuk dijadikan senjata melawan Rayyan yang sudah seperti orang kesetanan. Akan tetapi, tidak ada satu benda pun yang ia raih. Semua benda-benda itu raib seakan memang sengaja disembunyikan oleh seseorang.
'Sial. Benar-benar sial. Aku bisa mati konyol di tangan pria ini!' oceh Naila dalam hati.
"Sebentar lagi kamu akan mati, Nyonya Besar Adiguna," desis Rayyan disertai sebuah seringai menakutkan.
.
.
__ADS_1
.