Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Tidak Mau Jadi Orang Ketiga


__ADS_3

Setelah menemui Mahesa dan meminta pria itu untuk tidak menemui Arumi lagi, Rayyan memutuskan untuk pergi ke toko roti yang ada di lantai satu. Ia membeli dua buah roti isi cokelat dan dua buah roti isi keju. Dua buah roti untuknya, sedangkan sisanya ia belikan khusus untuk istri tercinta.


Arumi adalah pecinta keju sejati. Aneka ragam olahan berbahan dasar keju sangat ia sukai. Jadi tidak heran jikalau Rayyan sengaja meminta pelayan membungkuskan dua buah roti keju yang kelak akan diberikan sang istri.


Dua sudut bibir tertarik ke atas, membentuk sebuah lengkungan seperti busur panah. Menatap penuh cinta pada sosok wanita yang tengah duduk di sebuah sofa panjang di dekat rak buku. Jemari tangan wanita itu sedang sibuk mengusap permukaan perut yang mulai membesar.


"Apakah kamu merasakan mereka bertiga bergerak lagi dalam perutmu?"


Suara berat seorang pria tak menghentikan kegiatan Arumi mengusap lembut ketiga calon anaknya yang ada dalam kandungan. Ia terus menerus mengelus perutnya yang besar seperti bola seraya tersenyum manis kepada suami tercinta.


"Benar. Tampaknya mereka sedang memperebutkan posisi nyaman agar bisa kembali terlelap kembali seperti sedia kala," jawab Arumi disertai kekehan pelan.


Duduk di sofa yang sama dengan sang istri, lalu mengeluarkan satu bungkus roti isi keju untuk Arumi. "Aku belikan roti ini khusus untukmu. Ayo, buka mulutmu." Sepotong roti kesukaan Arumi berada tepat di depan mulut wanita itu.


Melirik sekilas dengan bola mata berbinar bahagia, karena merasa terharu. Dalam situasi dan kondisi apa pun, Rayyan selalu mengingat dirinya. Membelikan makanan, minuman ataupun segala sesuatu yang disukai oleh wanita itu tanpa pernah lupa sedikit pun.


Lantas, wanita itu segera menuruti perintah Rayyan. Membuka mulutnya lebar, lalu mengunyah roti itu hingga menjadi lumaat. "Terima kasih, Honey. Kamu selalu tahu apa yang kuinginkan." Mengulum senyum hingga wajahnya semakin indah berseri bagaikan sinar rembulan di malam hari.


"Nope! Sudah menjadi tugasku sebagai seorang suami untuk selalu membahagiakan istri. Ya ... walaupun aku tak mampu membelikan berlian dengan harga ratusan juta rupiah dan mobil mewah dengan harga milyaran rupiah, tetapi aku akan terus berusaha menjadi suami yang baik, setia, siaga dan bisa diandalkan dalam situasi apa pun." Sengaja merendah di hadapan Arumi agar tidak dianggap sombong.


Padahal dalam kenyataanya, pria itu bisa saja membelikan satu set berlian serta mobil mewah keluaran terbaru, namun ia dan Arumi sudah sepakat untuk mulai menabung demi masa depan kelima buah cinta mereka berdua. Dua masih dalam tahap rencana, dan mungkin akan terealisasikan saat si triplet berusia sekitar empat hingga lima tahun.


Kembali melirik ke arah Rayyan yang tengah mengunyah roti isi cokelat sambil sesekali menyuapinya. Arumi teringat lagi akan percakapan mereka sebelum pria itu meminta dirinya kembali ke bangsal.

__ADS_1


"Mas, ada hal penting yang mau sampaikan tidak kepadaku?" Arumi membuka suara di saat Rayyan baru saja menghabiskan potongan roti terakhir ke dalam mulut.


Kepala menoleh ke kanan, menimbang-nimbang apakah perlu ia memberitahu Arumi jikalau tadi baru saja menemui Mahesa di ruang perawatan. Ingin pura-pura lupa, tetapi takut Tuhan membuat ia kehilangan akal betulan. Akan tetapi, menyampaikan kejadian barusan kepada Arumi, ia tak sampai hati.


Rayyan menarik napas panjang. Ia sudah memutuskan untuk memberitahu Arumi tentang apa yang telah terjadi barusan. Bagi pria itu, kejujuran lebih penting dibanding apa pun di dunia ini. Terlebih, ia dan Arumi telah sama-sama berjanji untuk saling terbuka. Tidak menanam kebohongan dalam pernikahan yang tengah dibina bersama.


"Kamu masih ingat, apa yang aku lakukan kepadamu saat kita sedang menunggu lift?"


Arumi tersimpu malu mendengar pertanyaan Rayyan. Wajah merah merona, bagai kepiting rebus. Sambil menundukan wajah, wanita itu menjawab, "Iya. Aku masih ingat, Mas."


"Itu semua aku lakukan karena ada sebabnya, Rumi."


"Maksudmu, apa sih, Mas? Kok aku semakin tidak mengerti."


"Posisi Mahesa memang terhalangi sebuah pilar sehingga kamu sulit melihatnya. Akan tetapi, tidak bagiku. Dari posisiku berdiri, bisa dengan jelas melihat bahwa saat itu kita tengah diperhatikan oleh seseorang."


"Apa? Jadi ... saat aku membalas ciumanmu, di saat iu pulalah Mas Mahesa mengamati tingkah laku kita berdua. Begitu?" tanya Arumi untuk memastikan.


Menganggukan kepala cepat, menjawab pertanyaan Arumi. "Benar, Babe."


Rahang Arumi terbuka lebar. Semakin terkejut dengan fakta yang baru saja ia dapatkan. Pantas saja sikap Mas Rayyan alay, mirip ABG yang baru jatuh cinta. Rupanya ia sedang memanas-manasi mantan suamiku,  batinnya.


Menundukan kepala, mata tertutup, kedua tangan saling meremaas satu sama lain. Merasa bersalah karena telah memanfaatkan Arumi untuk membuat Mahesa cemburu. Namun, mau bagaimana lagi, pria itu benar-benar tidak rela jikalau Mahesa merebut Arumi dari sisinya.

__ADS_1


Ia tidak mau, kalau harus kehilangan wanita yang dicintainya 'tuk kedua kali. Cukup Mei Ling saja yang meninggalkan dirinya, Arumi beserta ketiga calon anaknya dalam kandungan sang istri harus terus berada di dekatnya untuk selamanya.


Menarik napa panjang sambil terus menatap dengan tatapan mengintimidasi. "Lalu, apa lagi yang kamu sembunyikan dariku?"


Masih dalam posisi menunduk, Rayyan berkata. "Aku ... tadi sengaja menemui pria itu untuk meluruskan sesuatu. Kamu ... mau dengar apa yang aku ucapkan pada Mahesa?" Mengumpulkan keberanian di dalam dada. Membuka mata secara sedikit demi sedikit.


Lalu, ia mendongakan kepala dengan perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit netranya menghadap pada sosok wanita yang tengah menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


"Tidak. Aku tidak mau dengar. Biarlah itu menjadi rahasia kalian berdua. Aku tidak mau terlibat dalam permasalahanmu dengan Mas Mahesa." Arumi telah mengambil keputusan untuk tidak menjadi orang ketiga yang tahu percakapan apa yang telah mereka bahas.


Suasana kembali menjadi hening. Hanya terdengar suara helaan napas panjang memenuhi ruangan. Arumi tengah menguatkan diri kala mendengar nama itu kembali diungkit. Sungguh, ia masih belum bisa terbiasa lagi dengan nama-nama orang yang pernah menyakitinya.


Beringsut mendekati Arumi. Mengulurkan tangan, lalu membawa tubuh ringkih itu dalam pelukan. Mendekapnya dengan erat, seolah ingin menyampaikan kalau pria itu tidak mungkin membiarkan dirinya tersakiti untuk kedua kali.


Tangan kekar dengan otot biceps di bagian lengan mengusap lembut punggung sang wanita. "Aku berjanji, setelah ini mereka 'kan lagi hadir di hadapanmu. Mereka hanya akan menjadi bagian dari kisahmu di masa lalu."


Dalam dekapan suaminya. Arumi menganguk pasrah. Ia yakin kalau Rayyan akan menepati semua janji yang pernah diucapkan olehnya.




*

__ADS_1


__ADS_2