
Putra terpaku dan membeku di tempat, langkah kaki terhenti ketika suara berat Rayyan terdengar membahana hingga membuat seisi ruangan bergetar. Pria paruh baya itu menarik napas dalam guna mengendalikan emosi dalam diri yang secara tiba-tiba muncul ke permukaan.
Sebagai pria yang telah lanjut usia ketika ada anak muda berbicara dengan nada tinggi kepadanya, tentu saja timbul rasa kesal karena seolah dirinya tidak dihormati oleh orang tersebut. Akan tetapi, dia dapat memaklumi mengapa Rayyan bersikap sinis kepadanya.
Sedangkan Rayyan mempercepat langkah kakinya mendekati daun pintu. Ketika dokter tampan itu telah berada di ambang pintu, dia segera mendorong pintu tersebut hingga terdengar bunyi dentuman yang cukup keras.
Sontak, Arumi terkesiap dan melompat kaget. Pundaknya sampai bergoncang akibat terkejut mendengar pintu ditendang dengan sangat keras. Rayyan menatap tajam ke arah istrinya hingga membuat wanita itu seakan hendak ditelan hidup-hidup oleh pria yang kini berstatuskan sebagai suaminya. Namun, beruntungnya pria itu tidak melakukan tindakan kekerasan apa pun terhadap sang istri. Hanya mendelik lalu mengalihkan pandangan pada sosok pria yang berdiri sekitar tiga langkah di depannya.
"Ada urusan apa Pak Putra datang ke apartemen ini? Jika tujuan Bapak datang ke sini berniat ingin menyakiti Arumi lagi, saya tidak segan-segan membuat perhitungan pada Anda dan juga keluarga Adiguna!" Meskipum geram, tetapi Rayyan tetap menanyakan maksud dan tujuan Putra datang ke apartemennya.
Putra membalikan badan, kini posisi mantan mertua Arumi saling berhadapan dengan Rayyan. Detik berikutnya dia tersenyum hangat kepada pria yang kini statusnya sebagai suami dari seorang Arumi Salsabila.
"Maafkan saya, Dokter Rayyan. Jika kedatangan saya ke sini telah mengganggu ketenangan rumah tangga kalian berdua. Namun, saya terpaksa menemui Arumi karena ada hal penting yang ingin dibicarakan dengannya."
"Hal penting apa yang ingin dibicarakan sehingga Pak Putra repot-repot datang ke istana saya? Bahkan memasang wajah memelas agar Arumi luluh dan membukakan pintu untuk Anda!" sembur Rayyan tanpa mengalihkan pandangan dari sosok pria paruh baya di hadapannya.
"Apakah Pak Putra tahu, akibat perbuatan Anda, Arumi sampai membiarkan pria lain masuk ke apartemen kami tanpa meminta izin terlebih dulu kepada saya! Dia sampai lupa bagaimana bersikap layaknya seorang istri yang taat terhadap agama!" Rayyan kembali berucap, namun kali ini setiap kalimat yang terucap mengandung kemarahan dan kekecewaan bercampur menjadi satu.
Ya ... kali ini Rayyan benar-benar kecewa atas sikap Arumi yang seenaknya saja mempersilakan pria lain masuk ke dalam istana mereka sementara dirinya saat itu sedang tidak ada di apartemen. Jika kemarin dia diam saja, tapi tidak kali ini. Dia akan membuat perhitungan pada Arumi agar wanita itu jera dan tak lagi membuat kesalahan fatal yang membuat rumah tangga mereka hancur.
Mata sipit Rayyan bersitatap dengan bola mata indah Arumi. Kedua manik coklat itu saling menatap satu sama lain. Detik berikutnya, sang wanita menundukan kepala. Dia merasa bersalah karena telah membiarkan pria lain masuk ke dalam apartemen tanpa seizin dari suaminya.
Putra menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Kini dia sadar, akibat keegoisannya telah menarik Arumi ke dalam sebuah kubangan dosa besar yang nyaris menjerumuskan wanita itu ke depan pintu neraka. Sungguh, dia sama sekali tak menyadari itu semua. Terlalu memikirkan nasib Mahesa hingga lupa jika kini statusnya dengan Arumi hanya sebatas mantan mertua dan mantan menantu.
"Maafkan saya, Dokter Rayyan." Hanya kalimat itu yang mampu terucap dari bibir Putra.
__ADS_1
"Ini pertama dan terakhir kalinya saya melihat Pak Putra berada di apartemen ini. Jika di kemudian hari Anda datang kembali ke kediaman kami, sekalipun Bapak bersimpu di depan pintu sambil memasang wajah memelas, saya tidak akan memberikan izin pada Arumi untuk mempersilakan Anda masuk ke dalam!" Rayyan menatap dingin dan tajam ke arah Putra, kemudian melirik sekilas ke arah Arumi yang masih menundukan pandangan.
Rayyan menghela napas untuk mengurai emosi yang tengah bergejolak di dalam dada. Dulu, ia sempat berharap kelak rumah tangganya harmonis bersama istri tercinta tanpa ada cekcok sedikit pun. Namun, rupanya itu semua hanya ada dalam angan-angannya saja. Kenyataannya, ada saja kerikil kecil menghadang, menguji kesabaran serta kekuatan cinta mereka berdua.
"Lantas, hal penting apa yang ingin Pak Putra bicarakan pada istri saya?" imbuh Rayyan setelah ingat jikalau mantan mertua dari Arumi datang ke sini hendak membicarakan sesuatu.
"Kedatangan saya ke sini untuk ... membahas tentang Mahesa, putra saya yang saat ini masih terbaring di rumah sakit. Rencananya, saya ingin meminta bantuan Arumi agar bersedia datang ke rumah sakit membesuk Mahesa."
Suasana ruangan yang cukup hening seketika berubah ramai oleh suara tawa Rayyan. Pria itu terbahak-bahak hingga rasanya jendela apartemen bergetar hebat. Perutnya seperti digelitik oleh ribuan tangan tak kasat mata, terasa geli hingga membuat pria itu ingin terus tertawa tanpa henti.
Bola mata sipit semakin mengecil akibat tak mampu menahan keinginan untuk tertawa. Ini pertama kalinya dia kembali tertawa lepas setelah kepergian Mei Ling dari dunia fana ini. Dia menertawakan suatu hal yang menurutkan sangat konyol.
Rayyan menggelengkan kepala seraya memegangi perutnya yang terasa geli. Perlahan, suara tawa pria itu semakin mengecil dan menghilang bersamaan dengan terdengarnya embusan napas kasar berasal dari pria berdarah setengah Tionghoa.
Suara derap langkah Rayyan menggema bersamaan dengan degup jantung Arumi yang tak beraturan. Dia mencemaskan suaminya yang terlihat begitu murka akan kedatangan Putra ke apartemen mereka.
Akan tetapi, Rayyan seperti orang yang telah kehilangan akal sehat. Dia menepis tangan sang istri, kemudian menatap sengit ke arah Putra.
Pria berwajah oriental dengan bola mata sipit tersenyum smirk pada lelaki yang berdiri di hadapannya. "Yakin sekali Pak Putra kalau hanya Arumi-lah satu-satunya orang yang bisa mengembalikan lagi kesadaran Mahesa. Pak Putra seorang paranormal? Ahli Nujum? Atau ... itu hanya karangan kalian saja untuk menyakiti Arumi untuk kedua kali?"
"Kalian menyusun rencana untuk mencelakai Arumi karena saat ini dia hidup bahagia setelah lepas dari cengkraman keluarga iblis seperti kalian semua!" teriak Rayyan hingga membuat Putra dan Arumi memejamkan mata. Bahkan Mbak Tini yang berniat mengepel lantai terpaksa menghentikan langkah kala mendengar suara teriakan berasal dari ruang tamu.
Tidak percaya jika wanita yang dicintai Rayyan adalah satu-satunya obat mujarab untuk membantu Mahesa agar segera terbangun dari tidurnya yang panjang. Dia tidak terima jika ada nama Arumi bersemayam di dalam hati pria lain. Dia teramat takut kalau ternyata di kemudian hari istri tercintanya direbut oleh pria yang dulu pernah membuang wanita itu.
Putra menelan salivanya susah payah. Semua kejadian ini di luar skenario yang telah disusunnya secara rapi. Dia pikir akan dengan mudah meminta bantuan Arumi, tapi nyatanya semuanya tak berjalan mulus terlebih kehadiran Rayyan di apartemen itu membuat rencananya berantakan.
__ADS_1
"Demi Tuhan, saya tidak ada niatan sama sekali menyakiti istri Anda. Sungguh," ucap Putra bersungguh-sungguh. "Kedatangan saya cuma ingin memintan bantuan Arumi. Itu saja."
"Beberapa hari lalu Dokter Samuel--"
"Stop! Saya tidak mau dengar alasan apa pun!" sergah Rayyan sebelum Putra menyelesaikan kalimatnya. "Jadi, sebaiknya Anda keluar dari sini sebelum kesabaran saya habis!"
"Tapi--"
"Keluar!" bentak Rayyan. Kesabaran pria itu sudah berada di ambang batas, tak dapat lagi menahan emosi yang terus menerus bergejolak. Deru napasnya memburu, dada kembang kempis dan sorot mata memerah menahan amarah yang siap meledak jika tak segera dihentikan.
Tak ingin terjadi hal buruk menimpa Putra dan malah merugikan dirinya sendiri, Rayyan melangkah cepat mendekati daun pintu. Memutar handle seraya berucap. "Silakan keluar sebelum saya panggilkan security!"
Putra memandangi wajah Arumi dengan tatapan sendu, kemudian beralih melihat ke arah Rayyan. Walaupun kecewa karena rencananya membawa Arumi ke rumah sakit tak berhasil, tapi setidaknya dia sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk Mahesa.
Sebelum pergi meninggalkan apartemen mewah itu, Putra berkata. "Maafkan Om, karena tidak bisa menjadi ayah mertua yang baik selama kamu menjadi menantu di keluarga Adiguna. Namun, demi Tuhan, Rumi. Om benar-benar tak ada niatan sama sekali untuk menyakitimu lagi."
Setelah itu, barulah Putra melangka maju ke depan mendekati pintu yang telah terbuka lebar. Saat berada persis di dekat Rayyan, pria paruh baya itu kembali membuka suara.
"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga rumah tangga kalian kekal abadi selamanya." Setelah itu, Putra kembali melangkah meninggalkan apartemen milik Arumi.
Brak!
Rayyan segera membanting daun pintu dengan keras hingga membuat jendela apartemen bergetar hebat.
.
__ADS_1
.
.