
Mendung di wajah keluarga Firdaus tak dapat disingkirkan meski sinar mentari terus menampakkan pesonanya ke seluruh belahan bumi manapun. Hari ini, mantan direktur rumah sakit telah kembali ke sisi Sang Pencipta, meninggalkan dua orang putra dari istri yang berbeda. Satu orang menantu dan tiga orang cucu lucu nan menggemaskan.
Beberapa pegawai rumah sakit Persada International Hospital turut mengantarkan jenazah sang mantan direktur rumah sakit menuju pembaringan terakhir. Suara isak tangis terus bergema hingga semua orang tiba di tempat pemakaman umum di kawasan Jakarta.
Kepergian Firdaus menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, terutama bagi Rayyan. Ia harus menyaksikan kembali bagaimana orang tersayang pergi untuk selamanya. Meskipun tidak ada buliran bening mengalir di sudut matanya yang sipit, namun bukti kesedihan itu terpampang nyata ketika dia memandangi gundukan tanah telah mengubur jasad papa tercinta. Hidung terasa masam, matanya yang memerah tak bisa menyembunyikan dukanya yang mendalam.
Sedangkan Raihan, ia hanya mematung ketika menyaksikan papa tersayang kini telah terbaring di pembaringannya terakhir. Mata pria itu sembab dan memerah. Kini, ia bisa merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang tercinta untuk selamanya.
"Mas, langit sudah mulai mendung. Sebaiknya kita segera pulang ke rumah. Kamu pun harus bergegas membersihkan diri," ucap Arumi seraya mengusap lembut pundak suaminya. Ia dan kedua lelaki tampan sedang berjongkok di samping makam Firdaus.
Gundukan tanah merah yang masih basah, aroma kelopak bunga di atas makam serta mendungnya langit menemai ketiga manusia dewasa tersebut. Siang itu, sinar mentari berubah menjadi mendung seakan dia pun ikut merasakan kesedihan yang tengah menyelimuti keluarga Firdaus.
"Bagaimana hidupku selanjutnya bila tidak ada Papa di sampingku? Sekarang aku sudah menjadi sebatang kara tanpa ada orang tua dan sanak saudara menemani," ucap Rayyan lirih. Tatapan mata terus memandang ke atas batu nisan, bertuliskan nama, tanggal lahir serta tanggal wafat kakek tiga bayi kembar.
Mantan dokter cantik beringsut mendekati sang suami. Ia peluk tubuh pria yang telah menghalalkannya satu tahun lalu, dan mendekapnya dengan erat. "Semua akan baik-baik saja, Mas, sama seperti dulu sebelum Papa meninggalkan dunia fana ini. Masih ada aku, Triplet dan Mama Nyimas yang menemanimu. Jadi, jangan pernah merasa kalau kamu hidup sebatang kara di bumi ini."
Mendengar suara lembut dan menentramkan jiwa, membuat tubuh kekar pria tampan berusia dua puluh delapan tahun mulai bergerak turun naik. Tak lama kemudian, air mata mulai membasahi pipi. Pria itu terisak dalam pelukan hangat istri tercinta.
"Kenapa semua orang yang kusayangi pergi meninggalkanku? Kenapa, Babe? Apakah ... aku memang tak pantas untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang dari kedua orang tua?" tanya Rayyan disela isak tangisnya. Sungguh, ia tak sanggup lagi membendung air mata yang sedari tadi ditahan olehnya.
__ADS_1
"Sst! Jangan bicara begitu. Jangan menyalahkan diri sendiri. Ini semua merupakan suratan takdir dari Tuhan, tak ada sangkut pautnya denganmu." Mengusap lembut punggung suaminya dengan penuh cinta. Ia biarkan lelaki itu menangis, mencurahkan isi hati yang dipendam di dalam dada.
Di saat Rayyan menangis tersedu dalam dekapan istri tercinta, Raihan hanya menatap sendu ke arah sang kakak. Pria itu merasakan separuh jiwanya pergi meninggalkan raga. Dada terasa sesak bagai terhimpit bongkahan batu besar.
Cukup lama mereka terdiam di samping pusara Firdaus, hingga tanpa terasa gemericik air hujan mulai jatuh perlahan membasahi bumi. Di waktu bersamaan, Rayyan mengurai pelukan. Sekarang ia sudah mulai merasa tenang setelah mencurahkan kesedihan dalam pelukan istri tercinta.
Dengan suara sengau, Rayyan berkata, "Kita pulang ke rumah sekarang. Kasihan anak-anak bila menunggu terlalu lama." Lantas, ia bangkit dari tempatnya kemudian mengulurkan tangan ke depan.
Tanpa segan-segan, Arumi terima uluran tangan sang suami hingga telapak tangan mereka saling bersentuhan. Namun, sebelum meninggalkan pemakanam, wanita itu menoleh ke sebelah kanan.
"Raihan, sebaiknya kamu juga ikut kami pulang sekarang. Tidak baik terus meratapi kepergian Papa Firdaus. Yang ada malah memberatkan beliau bila kita terus menerus menangisi kepergiannya," ucap Arumi lembut.
***
Gerimis hujan di siang hari yang membasahi kota Jakarta secara perlahan mulai reda. Awan mendung masih tampak jelas terlebih di atas langit. Dua anak lelaki Firdaus dan satu orang menantunya melangkah bersama menyusuri jalanan setapak menuju parkiran.
"Kak Rayyan, bisakah kita bicara sebentar? Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu secara empat mata," ucap Raihan ketika mereka hampir mendekati kendaraan roda empat yang terparkir di bawah pohon beringin.
Suara sengau Raihan dengan ampuh menghentikan langkah kaki suami Arumi. Rayyan memicingkan mata, menatap tajam ke arah pria yang berjalan di sebelahnya.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu bicarakan sampai meminta istriku menjauh dariku, hem? Jika memang penting kenapa tidak membiarkan Arumi tetap berada di sisiku? Apa pun yang hendak kamu bicarakan, biarkan dia ikut mendengarnya!" ucapnya dengan nada ketus. Meskipun beberapa saat lalu mereka tampak sangat akur, bukan berarti pria itu bisa dengan mudah menerima Raihan sebagai adik kandungnya.
Intonasi tinggi, membuat wanita bermata indah cukup tersentak. Arumi cukup terkejut mendengar suara sang suami. Melihat raut wajah penuh ketegangan terlukis di depan sana membuat wanita itu mengerutkan kedua alis. Otaknya sedang berpikir keras apa yang hendak disampaikan adik iparnya itu sehingga membuat dirinya harus meninggalkan mereka berdua.
Apakah ini berkaitan dengan wejangan yang disampaikan Firdaus secara khusus kepada Raihan? Atau mungkinkah ada hal lain yang benar-benar penting membuat pria itu ingin dirinya pergi dari tempatnya saat ini?
Sejuta pertanyaan memenuhi isi kepala Arumi. Dalam seketika, ia berubah seperti pemburu berita gosip yang membahas berita selebritis di tahan air. Menatap lekat pada iris coklat milik sang adik ipar.
Raihan yang kebetulan sedang menoleh ke arah Arumi seketika memberikan kode keras kepada wanita itu seakan memohon agar memberikan kesempatan pada lelaki tampan di sampingnya untuk dapat berbicara secara gentlement.
Arumi menarik napas dalam seraya memejamkan mata sejenak. Lewat tatapan mata itu, ia yakin jikalau Raihan memang tak mau diganggu oleh siapa pun meski orang itu adalah ... kakak iparnya sendiri.
"Baiklah, aku akan menunggu kalian di mobil. Apabila telah selesai, segera pergi meninggalkan tempat ini sebelum matahari berubah menjadi senja." Tanpa berkata, Arumi telah meninggalkan kedua pria tampan itu. Ia ayunkan kaki jenjang itu menuju mobil kesayangan Rayyan.
"Kak Rayyan ... sebenarnya aku mau ...."
.
.
__ADS_1
.