
"Rumi ... pria yang sedang mengantri di sana betulan suamimu?" tanya Anne--teman Arumi semasa kuliah dulu. Wanita berhijab itu mengarahkan pandangan matanya ke arah sosok pria jangkung yang tengah mengantri di samping suaminya--Farhan.
Saat ini Arumi-Rayyan, Anne-Farhan sedang berada di salah satu restoran yang berada di mall Suria KLCC (Kuala Lumpur City Center). Lokasinya berada di bawah Menara Kembar Petronas. Sepasang pengantin baru itu sengaja memilih bertemu di pusat perbelanjaan karena Arumi ingin jalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Malaysia. Selain itu, ia pun ini berselfie ria, mengabadikan kebersamaan suami tercinta di depan icon negari jiran tersebut.
Arumi yang tengah duduk di samping Anne hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Tahu betul jika saat ini teman kuliahnya itu sedang kebingungan. Bagaimana tidak bingung, sebab setahu wanita berhijab itu semasa kuliah dulu kekasih Arumi adalah Mahesa bukan Rayyan.
"Ada banyak hal yang terjadi kepadaku selama lima tahun belakangan ini, Ne. Salah satunya adalah hubungan rumah tanggaku yang telah usai bersama Mas Mahes," tutur Arumi terus terang. Menjelaskan masalah pelik yang memutuskan mojang Bandung itu menggugat cerai mantan suaminya.
Zaman kuliah dulu, Anne merupakan teman dekat Arumi. Selain sama-sama mengambil jurusan kedokteran, kedua wanita cantik itu pun masuk organisasi kemahasiswaan yang sering terlibat dalam berbagai kegiatan di kampus salah satunya adalah acara bakti sosial dan pemeriksaan gratis bagi masyarakat tidak mampu.
Anne semakin bingung dengan jawaban Arumi. Ia kembali bertanya pada temannya itu. "K-kalian ... bercerai karena apa? Bukan karena isu perselingkuhan yang tengah marak terjadi di Indonesia 'kan?"
Arumi mengembuskan napas panjang, seraya menguatkan diri jika ia baik-baik saja. Walaupun sudah berusaha melupakan kejadian di masa lalu, tapi tetap saja luka dalam hati wanita itu belum kering dan entah kapan akan sembuh. Beruntungnya ada Rayyan yang selalu berada di sisi wanita cantik itu sehingga sedikit demi sedikit ia dapat mengobati rasa sakit akibat pengkhianatan suami dan mantan sahabatnya.
"Mas Mahes berselingkuh di belakangku. Bahkan, ia memiliki anak dengan wanita itu." Arumi meremas jemarinya menguatkan diri agar air mata tak jatuh membasahi pipi.
"Apa katamu? Mahesa selingkuh!" Anne tercengang. Bola mata bulat semakin melebar sempurna.
Tak menyangka jika pria setia dan baik hati seperti Mahesa tergoda juga oleh wanita lain. Padahal sosok Arumi nyaris sempurna di mata siapa pun. Seandainya Anne adalah pria, maka ia pun akan jatuh cinta kepada dokter cantik itu.
Lagi-lagi Arumi menganggukan kepala. "Benar. Oleh karena itu, aku memutuskan menggugat cerai Mas Mahes. Aku tidak sanggup hidup bersama dengan seorang pria yang tidak bisa setia terhadap pasangannya." Wanita cantik itu menjeda kalimatnya sejenak, lalu melanjutkan kali ucapannya. "Perselingkuhan itu terjadi atas desakan ibu mertuaku."
"Gila! Benar-benar gila!" teriak Anne seraya bangkit dari kursi. Dada kembang kempis dan deru napas memburu. Akibat suara teriakan itu beberapa pengunjung restoran menatap ke arah meja kedua wanita cantik itu.
"Anne, turunkan suaramu!" Arumi tampak gelagapan saat seluruh mata mengarah pada mereka. Jari telunjuk wanita itu menempel di depan bibir, memberi isyarat agar temannya itu mengecilkan volume suara. Ia pun meminta wanita berhijab itu untuk duduk kembali.
Wanita cantik dalam balutan hijab berwarna merah marun itu tersadar jika seluruh mata pengunjung restoran mengarah padanya, lalu ia kembali duduk di kursi.
"Bagaimana bisa, seorang ibu menjerumuskan anaknya ke dalam perbuatan dosa. Oh Tuhan, aku tidak tahu harus berkata apa-apa lagi, Rumi," timpal Anne dengan suara lirih.
__ADS_1
Jemari tangan Anne meraih gelas minuman yang ada di atas meja. Dinginnya AC dalam mall tersebut tidak mampu mengusir rasa panas yang bergejolak dalam diri wanita itu. Ia membutuhkan sesuatu yang dapat mendinginkan perasaannya karena terlalu emosi.
Terjadi keheningan beberapa saat. Anne sibuk menyesap minuman dingin miliknya, sementara Arumi sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Memang gila, tapi itulah kenyataannya. Mantan mertuaku meminta Mas Mahes untuk berselingkuh demi mendapatkan keturunan. Beliau sudah tidak tahan terus menunggu sehingga mengambil jalan pintas."
Anne meletakkan gelas beling itu di atas meja dengan keras sehingga terdengar kedua benda saling berbenturan.
"Apa pun alasannya, tetap saja perselingkuhan tidak dibenarkan oleh agama manapun. Apalagi alasannya cuma gara-gara kamu belum hamil!" Anne berdecak kesal karena tidak terima kaum wanita lagi-lagi disalahkan dalam kasus ini. Padahal bisa saja pihak suami ataupun pihak lain ikut terlibat sehingga membuat kaum Hawa sulit memiliki momongan.
Emosi dalam diri Anne meluap-luap kala mendengar kisah hidup Arumi selama mereka tak berjumpa. Wanita itu menatap tajam ke arah temannya dengan sorot mata memancarkan kemarahan. Bukan marah pada Arumi melainkan marah pada orang-orang jahat yang tega menusuk temannya itu dari belakang. Tega menyakiti wanita baik seperti Arumi.
"Keputusanmu untuk bercerai dari mantan suamimu itu tepat. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika Abang Farhan berselingkuh di belakangku. Bahkan, aku bisa saja memotong burungnya hingga tak bersisa." Menunjukan ekspresi menyeramkan hingga membuat Arumi yang duduk di sebelahnya merasa takut.
"Tapi ... aku bersyukur di balik semua kejadian itu Tuhan pertemukanku dengan sosok pria baik yang mau menerima semua kekurangan dalam diriku. Dia bersedia hidup bersamaku meski tahu selamanya rumah tangga kami tidak akan dikarunia buah hati." Sorot mata berbinar seraya menatap sosok pria tampan yang tengah melakukan transaksi di kasir.
"Walaupun awal pertemuan kami tidak berkesan, tapi setidaknya hubunganku dengan Rayyan berjalan baik," imbuh Arumi. Mengulum senyum kala mengingat awal pertemuannya dengan Rayyan.
Anne menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. Setidaknya kini ia jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Kamu benar-benar mencintainya atau cuma menjadikan pria itu pelampiasan saja?" Menatap penuh selidik. Ia tahu persis bagaimana perasaan Arumi terhadap Mahesa. Wanita itu begitu mencintai mantan suaminya. Jadi, tidak heran jika Anne bertanya hal privasi seperti itu. Ia hanya ingin memastikan saja bahwa Arumi benar-benar tulus mencintai Rayyan bukan karena pelampiasan sesaat.
Kembali menatap ke Rayyan yang tengah berjalan mendekati meja tempat Arumi dan Anne berada. Memberikan senyuman tulus penuh cinta kepada suami barunya itu.
Tanpa menatap mata Anne, Arumi menjawab. "Aku sangat mencintai suamiku, Ne. Hari ini, esok dan seterusnya hanya dia satu-satunya sosok pria yang layak mendampingiku untuk menghabiskan sisa waktuku di dunia ini."
"Hanya bersama dia-lah, aku ingin membesarkan anak-anak kami. Memberikan mereka cinta dan kasih sayang serta mengajarkan apa artinya sebuah kesetiaan jika telah dewasa nanti agar kelak rumah tangga anak-anakku harmonis tanpa adanya gangguan dari orang ketiga dan aku mau mengajarkan mereka untuk menerima kekurangan pasangan masing-masing," tutur Arumi.
Seketika, seulas senyum tersungging di wajah Anne. Kalau sudah begini, ia tahu jika Arumi benar-benar mencintai suaminya. Bukan untuk dijadikan alat balas dendam, melainkan dijadikan tempat pelabuhan terakhir.
__ADS_1
"Maaf ya, membuat kalian menunggu terlalu lama," ujar Farhan dengan logat melayu. Suami Anne memang berasal dari Negeri Jiran. Kedua orang tuanya asli orang Malaysia.
Pria itu duduk di samping Anne. Lama mengantri membuatnya cukup lelah.
Anne mendongakan kepala, menatap penuh cinta ke arang sang suami. "Tidak masalah, Abang. Selama apa pun Abang mengantri, Anne akan selalu menunggu di sini dengan setia."
Wajah Farhan merah merona mendengar gombalan yang diberikan oleh Anne. Wanita itu memang lebih ekspresif dalam bertindak dan selalu memuji suaminya walau di hadapan orang lain.
Arumi hanya menggelengkan kepala. Rupanya sikap Anne tidaklah berubah meski sudah hampir lima tahun lamanya tidak bertemu.
"Aku memesankan potato salmon salad, ebi tempura dan ice lemon tea with less sugar," tutur Rayyan seraya duduk di samping Arumi.
Arumi melirik ke arah suaminya dengan mengulum senyum di wajah. "Apa pun yang kamu pesankan, pasti aku makan kok."
Kedua insan manusia itu saling menatap dengan tatapan intens. Memberikan senyuman satu sama lain. Sorot mata memancarkan kilatan penuh cinta tulus yang berasal dari dalam lubuk hati yang terdalam.
Melihat keceriaan di wajah Arumi, Anne sekarang yakin bila Rayyan adalah sosok pria baik yang tepat menggantikan posisi Mahesa di hati temannya itu.
"Oh ya, apa yang kalian lakukan selama kami tinggal?" Suara berat Farhan mengalihkan perhatian semua orang.
Arumi memberikan isyarat pada Anne agar menjawab pertanyaan Farhan, sebab wanita cantik itu takut jika Rayyan cemburu karena terlalu dekat dengan pria lain.
Anne mengerti maksud Arumi. Ia segera mendekati telinga suaminya seraya berkata. "Rahasia. Abang tak boleh tahu." Kemudian, ia terkekeh. Membuat suasana hangat tercipta. Terdengar garing, tapi cukup mencairkan suasana yang sempat dingin.
Walaupun suasana masih terasa canggung karena adanya dua orang pria dingin di antara dua wanita yang memiliki kepribadian ceria, tapi pertemuan siang hari itu berjalan cukup lancar. Terbukti dari suara gelak tawa yang sesekali terdengar dari meja tersebut.
Hanya Rayyan satu-satunya pria yang sulit tertawa bahkan sangat jarang tersenyum. Kendati begitu, Anne dan Farhan memaklumi keadaan suami dari Arumi.
.
__ADS_1
.
.