
"Ini anak siapa sih, gemesin banget!" ucap Arumi sambil menyapukan hidungnya ke hidung Zavier. Wanita itu begitu gemas melihat kakak kedua Zahira tertawa riang ketika dirinya sedang menggantikan popok yang terkena pup. Meskipun tubuh lelah seharian menjaga tiga bayi kembar secara bersamaan tapi saat melihat senyuman mengembang di sudut bibir buah cintanya, rasa lelah itu sirna seketika.
Senyuman semakin lebar ketika mata sipit Zavier menangkap sosok seseorang di ambang pintu. Dia hentakkan kedua kaki di atas baby changing diaper table atau dalam bahasa Indonesia meja khusus yang digunakan mengganti popok bayi. Memasukan tangan mungil ke dalam mulut sambil mengoceh (cooing), menyebutkan beberapa huruf vocal seperti 'aaa'. Ia seakan sedang memberitahu Arumi bahwa di balik tubuhnya ada seseorang yang tengah menatap ke arah mereka.
Melihat perkembangan si kecil yang berkembang pesat, muncul rasa haru dalam diri Arumi. Wanita cantik yang pernah berprofesi sebagai dokter bedah tak menyangka jika dia telah menjadi ibu dari bayi kembar yang lucu dan menggemaskan. Mengingat perjuangan serta lika liku kehidupannya di masa lalu selalu membuatnya menjadi lebih emosional.
Lima tahun menikah. Berbagai pengobatan medis maupun non medis telah ia lakukan demi mendapatkan keturunan, namun rupanya Tuhan tak kunjung menitipkan malaikat kecil di dalam rahimnya hingga ia berpisah dan menikah kembali dengan mantan rivalnya saat bekerja di rumah sakit. Di pernikahannya yang kedua inilah, Tuhan banyak memberikan kejutan indah kepada wanita cantik pemilik rambut sebahu.
Bertubi-tubi kenikmatan telah Sang Pencipta berikan kepadanya, terkhusus menitipkan tiga bayi sekaligus ke dalam rahimnya. Sungguh, itu merupakan anugerah terindah yang pernah dia dapatkan selama ini bahkan penghargaan sebagai dokter bedah teladan dan terbaik se-rumah sakit, tak mampu menandinginya.
Maka ketika Arumi memutuskan resign dari pekerjaan, tak ada sedikit pun penyesalam dalam diri, karena dia sudah merasa puas dengan apa yang dimilikinya saat ini. Mendapatkan pendamping hidup baik, setia, dan bertanggung jawab ditambah anak-anak lucu, sehat, dan menggemaskan serta harta yang cukup apa lagi yang diharapkan oleh wanita itu. Ia hanya perlu menjaga agar apa yang dimiliki tidak direbut kembali oleh orang ketiga.
Butiran kristal bening meluncur di kedua pipi. Ia menangis bahagia karena Tuhan begitu baik kepadanya, memberikan yang diinginkan di waktu tepat. "Maafkan Bunda ya, Sayang, karena telah memperlihatkan air mata ini di hadapanmu. Tapi ... kamu harus tahu, Bunda menangis bukan karena bersedih. Buliran ini merupakan ungkapan kebahagiaan atas semua nikmat yang Tuhan berikan kepada Bunda."
"Bunda merasa beruntung karena dipertemukan Ayah kalian. Lelaki yang tulus mencintai Bunda apa adanya. Mau menerima semua kekurangan yang ada dalam diri Bunda. Sangat mencintai, dan menyayangi Bunda hingga akhirnya kalian terlahir ke dunia ini. Kamu, Ghani, dan Zahira adalah bukti nyata ungkapan cinta kami berdua, Nak," ucap Arumi dengan bibir gemetar. Ia membawa tubuh Zavier dalam gendongan. Mendekap bayi gembul itu dengan begitu erat sambil sesekali mendaratkan sebuah kecupan penuh cinta di pipinya yang chubby.
Di belakang sana, seorang lelaki berpakaian kemeja lengan pendek warna biru telur asin terus memperhatikan setiap gerakan istrinya. Tanpa sadar, ia menyunggingkan senyum tipis kala wanita di depannya menyanjung dirinya tanpa diketahui oleh siapa pun. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin dia tega selingkuh dan mencari wanita lain sedangkan di sampingnya ada seorang Bidadari cantik yang merupakan sumber kebahagiaannya. Arumi dan anak-anak adalah salah satu alasannya berdiri kuat hingga detik ini.
Melihat Arumi menangis sambil berbicara sendiri, membuat pria itu tidak tahan lagi. Ia tidak mau istrinya menangis meski tangisan itu adalah ungkapan kebahagiaan. Ia cuma mau sang wanita itu terus tersenyum hingga jantungnya tak lagi berdetak.
Ia memutuskan melangkah dengan sangat hati-hati dan berhenti di belakang Arumi. Melirik sekilas ke arah box baby, melihat Zahira tertidur pulas ada kesempatan baginya untuk bermesraan dengan sang istri.
Perlahan, ia ulurkan kedua tangan ke depan kemudian melingkarkannya di pinggang sang istri. "Aku pun merasa beruntung karena telah memilikimu, Babe. Kamu ... dan anak-anak adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan kepadaku. Tidak ada lagi yang kuinginkan di dunia ini selain ingin terus bersama kalian semua. Selamanya, kamu, aku dan anak-anak hidup bahagia." Mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanan sambil terus memeluk tubuh Arumi.
Arumi terkesiap dan tersentak kaget. Ia pikir sedang berhalusinasi mendengar suara Rayyan, sebab tadi sore suaminya berkata akan pulang larut malam karena sedang mempelajari rekam medis pasien penting di rumah sakit milik sang mertua.
Namun, kala hangatnya bibir menyentuh permukaan pipi serta debaran lembut yang ia rasakan setiap kali berada di dekat sang suami, ia yakin bahwa saat ini apa yang didengar olehnya bukanlah sebuah halusinasi melainkan kenyataan.
Rayyan kembali berkata, "Kamu mau 'kan, menua bersamaku hingga akhir hayat?" tanyanya dengan suara serak.
__ADS_1
Arumi mengangguk. Tak banyak kata yang terucap. Ia menikmati alunan musik indah bersumber dari degup jantung yang berdetak beraturan milik suami dan anak keduanya, Zavier.
Cukup lama mereka berpelukan, Zavier pun tampak begitu bahagia karena dialah yang terpilih di antara kakak dan adiknya untuk menjadi saksi keromantisan ayah dan bunyanya. Seandainya saat itu bukan dia, melainkan Zahira mungkin dua sejoli itu tak dapat berpelukan dengan leluasa karena ada sepasang mata sipit yang terus mengawasi gerak gerik kedua orang tuanya.
Rayyan membalikan badan Arumi hingga kini posisi mereka saling berhadapan. "Sst ... jangan menangis lagi. Aku tak mau ketiga anakku melihat butiran kristal ini. Simpanlah air matamu ini hingga saatnya kamu bertemu denganku. Setelah kita berdua duduk bersama di kamar, aku pinjamkan dada ini untuk dijadikan sandaranmu. Luapkan segala kesedihan, kebahagiaan yang kamu rasakan. Aku ... bersedia menjadi pendengar setiamu," ucapnya seraya mengusap air mata istrinya dengan lembut.
Usai mengucapkan kalimat terakhir, Zavier kembali mengoceh. Bayi itu berkata, "Aaaa," sambil menghentakkan kaki dan menggerakan tangan hampir bersamaan.
"Halo, Anak Ayah! Ayah sangat merindukanmu, Nak." Rayyan mengulurkan tangan ke depan, memberikan isyarat pada Arumi agar bergantian menggendong Zavier.
"Kamu belum bobok karena menunggu Ayah ya? Pasti ingin dicium terlebih dulu oleh Ayah?" Rayyan mencium kedua pipi chubby Zavier, menghirup aroma khas bayi yang selama tiga bulan belakangan menjadi aroma favoritnya selain parfum lily of valley milik sang istri.
Rayyan duduk di sofa sambil menggendong Zavier. Ia menyempatkan diri sejenak bermain anak keduanya itu.
"Mas, sebaiknya kamu ganti pakaian dulu biar aku yang menjaga Zavier. Setelah itu baru boleh main lagi dengan anak kita." Arumi menegur Rayyan secara halus. Tak ingin pakaian yang dikenakan oleh suaminya lusuh.
"Baiklah, Bunda cantik, Ayah turuti perintah Yang Mulia Bunda Ratu." Ia menatap Zavier sebelum beranjak dari sofa. "Anak Ayah, kamu digendong Bunda sebentar. Ayah mau ganti pakaian. Jika sudah ganti baju, kita main lagi. Oke?" Tetap mengajak bicara Zavier meski tahu anaknya tak bisa menyahut. Bayi kecil itu hanya dapat menyebutkan huruf vocal seperti a, o, dan e.
Di usia Zavier yang menginjak tiga bulan, bayi ndut itu sudah mulai mengekspresikan perasaannya seperti tertawa dan bersedih. Oleh karena itu, ketika membacakan cerita untuk si kecil, tak jarang Arumi menirukan suara hewan yang sedang ia bacakan bertujuan agar bayi itu dapat mulai mengenal suara hewan dan mengembangkan ekspresinya.
Melihat waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, Arumi hendak pergi ke dapur menyiapkan makan malam untuk suaminya. "Mas, kamu tolong jaga Zavier dulu, aku mau menghangatkan makanan untukmu. Kebetulan, tadi sore aku membuatkan pangsit kuah khusus untukmu."
Direktur rumah sakit itu mengangguk. "Baiklah." Sebelum Arumi bangkit, ia kecup kening istrinya dengan lembut. "Terima kasih, karena Bunda selalu tahu apa yang Ayah inginkan."
Sepeninggal Arumi, Rayyan mulai membacakan buku. Pria itu menunjukan ekspresi yang sesuai dengan cerita di buku. Saat bahagia, dia tertawa, namun apabila bersedih ia pun menunjukan ekspresi sedih. Tujuannya agar Zavier dapat belajar mengenali ekspresi yang ditunjukan oleh orang tuanya.
Lama kelamaan, mata sipit Zavier mengerjap dan mulai mengantuk hingga tertidur di atas tempat tidur utama. Rayyan menggendong tubuh anaknya, lalu membaringkannya ke dalam baby box, bersama kedua saudaranya. Memberikan kecupan sebagai ucapan selamat malam kepada Triplet.
Setelah memastikan selumut menutupi bagian kaki hingga dada ketiga anaknya serta alat pembunuh nyamuk dalam keadaan on, Rayyan melangkah menuju ruang makan di sana sudah ada Arumi yang sedang menyiapkan makan malam. Tubuh istrinya berbalut gaun tidur berbahan sutra dengan belahan dada rendah. Ia tersenyum menyambut kedatangan suaminya.
__ADS_1
"Duduk dulu, Mas, sebentar lagi bakmi serta pangsit kuah kesukaanmu jadi." Tanpa membantah, Rayyan menuruti perintah Arumi. Ia menarik satu kursi ke belakang lalu duduk sambil memandangi punggung istrinya yang tengah sibuk menyiapkan makanan.
"Oh ya, Mama dan Mbak Tini, ke mana? Tumben sekali rumah ini sepi," tanya Rayyan saat ia dan Arumi telah duduk berhadapan di kursi makan.
Arumi menuangkan pangsit beserta kuahnya ke dalam mangkuk milik Rayyan. "Mama sedang di kamar ditemani Mbak Tini. Selepas azan maghrib, Mama mengeluh badanya pegal-pegal semua dan meminta Mbak Tini memij@tnya. Maklum, sudah sepuh jadi badan sering mengalami pegal." Terkekeh ringan sambil meletakkan mangkuk beserta piring ke hadapan Rayyan.
"Kenapa tidak kamu tawari pergi ke salon saja untuk melakukan treatment! Di sana banyak tenaga profesional dan berpengalaman. Selain itu, banyak serangkaian perawatan yang bisa Mama nikmati sambil me time," ucap Rayyan dengan nada dingin. Pria itu selalu bersikap begitu jika tahu Arumi tak memperlakukan Nyimas dengan baik.
Rayyan sudah menganggap Nyimas seperti ibu kandungnya sendiri. Jadi, saat mengetahui bahwa wanita paruh baya itu sedang tidak enak badan tetapi Arumi tak melakukan apa-apa, ia sedikit kesal karena menganggap istrinya telah menelantarkan ibu angkatnya.
Arumi mendengkus kesal. "Aku sudah menawarinya, Mas, tapi Mama menolak. Lalu, kalau sudah begitu, aku harus bagaimana? Tidak mungkin memaksanya, 'kan?" Wanita itu mencebikan bibir menjadikan bibir ranum nan tipis semakin menggoda iman.
Sadar jika dirinya telah melakukan kesalahan, Rayyan mencoba membujuk Arumi agar tak merajuk. Mengulurkan tangan ke depan, kemudian mencium punggung tangan istrinya sambil berkata, "Maafkan aku ya, karena sudah membuatmu kesal."
Arumi cuma memutar bola matanya malas. "Kamu itu pria yang sangat menyebalkan! Aku sebal sama kamu, Mas!"
Rayyan terkekeh kala melihat istrinya merajuk. Bibir ranum semakin menggoda, wajah memerah terlihat begitu menggemaskan. "Meskipun menyebalkan, tapi ... kamu tetap mencintaiku, 'kan?" godanya seraya menaik turunkan kedua alis.
Seketika wajah Arumi merah merona bagai tomat segar yang telah siap untuk dipetik di perkebunan. Ia tak memungkiri, jika dirinya memang sangat mencintai Rayyan terlepas dari semua kekurangan serta sikap buruk dalam diri pria itu, sang wanita tetap mencintai suaminya.
Setelah menyantap semua makanan yang dimasak oleh Arumi, pasangan suami istri itu duduk berdua di ruang keluarga. Mereka tengah menonton film bersama sambil mencerikan kegiatan apa saja yang dilakukan seharian ini. Akan tetapi, kegiatan pasangan suami istri itu harus terhenti saat dering ponsel milik Rayyan berbunyi dan menginterupsi mereka.
Deg!
Tiba-tiba saja jantung Rayyan rasanya berhenti berdetak ketika membaca sebuah pesan yang dikirimkan oleh nomor asing. Tulisan itu begitu mencolok mata tetapi juga sukses membuatnya gelisah.
"I-ini ... tidak mungkin!"
.
__ADS_1
.
.