Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Salah Paham


__ADS_3

Cukup lama mereka berdiam diri di ruangan kepala bangsal. Menghirup oksigen yang sama sambil menikmati kebersamaan mereka tanpa mau beranjak dari sofa. Namun, kebersamaan itu harus terhenti tatkala suara ketukan pintu terdengar hingga membuat Arumi terpaksa menjauhi tubuh sang kekasih.


"Bersikaplah sewajarnya. Jangan sampai menunjukan gelagat aneh di hadapan orang lain," perintah Rayyan sebelum mempersilakan orang di balik sana membuka pintu.


Saat ini, baik Rayyan maupun Arumi dengan sengaja menyembunyikan hubungan yang terjalin di antara mereka berdua. Bukan tanpa alasan kedua insan manusia itu menutupi kedekatan mereka. Rayyan ingin menjaga Arumi dari gosip-gosip miring yang mungkin saja akan berembus di sekitar rumah sakit. Ia tidak mau jikalau ada orang lain menghina, mencibir apalagi menuduh wanita itu sebagai wanita murahan karena begitu mudah jatuh hati padahal baru saja bercerai dari sang suami.


Sungguh, Rayyan tidak ingin hal buruk menimpa wanita yang begitu dicintainya. Beruntungnya Arumi menyetujui keputusan Rayyan. Wanita cantik berusia dua puluh tujuh tahun itu pun setuju apabila untuk sementara waktu ini hubungan mereka disembunyikan dari siapa pun termasuk kedua orang tua kedua belah pihak. Oleh sebab itu, hingga detik ini, Arumi belum berani berkata jujur pada Nyimas tentang kehadiran Rayyan di dalam hidupnya.


"Baik." Arumi menangguk patuh. "Sana, kamu duduk di kursimu. Kalau kamu duduk di dekatmu, orang di luar sana bisa curiga." Tangan wanita itu meraih buku kedokteran yang ada di atas meja. Ia pura-pura membaca materi di dalam buku tersebut untuk mengelabui orang lain.


"Masuk!" seru Rayyan pada seseorang di luar sana. Maka tak lama kemudian, kepala perawat masuk ke dalam ruangan. Membawa catatan medis pasien yang diminta oleh pria itu.


"Permisi, Dokter Rayyan. Saya ingin menyerahkan beberapa catatan medis pasien yang telah dan akan dioperasi oleh Anda," ucap kepala perawat. Wanita itu menyodorkan empat buah map ke atas meja.


Pria dingin yang sangat alergi terhadap kaum Hawa langsung menarik keempat mat itu setelah memastikan tangan kepala perawat tidak menyentuh map tersebut. Ia membaca laporan tersebut. Alisnya saling tertaut ketika netranya membaca setiap bait tulisan yang tertuang di sana.


"Oke, saya akan pelajari lebih lanjut. Untuk operasi, tolong kamu pastikan lagi jika pasien sudah puasa selama beberapa jam sebelum dilakukan tindakan operasi. Minta keluarga pasien untuk mengawasinya."


"Baik, Dokter," jawab perawat itu. "Kalau begitu, saya permisi dulu."


Kepala perawat itu menoleh sekilas ke arah Arumi sambil tersenyum ramah. Arumi membalasnya dengan mengulum senyum di wajah.


Rayyan bangkit berdiri dari tempat duduknya, lalu ia melangkah mendekati ranjang pasien yang ada di sudut ruangan. Ranjang yang biasa digunakan oleh Rayyan untuk mengistirahatkan tubuhnya dari segala aktivitas pekerjaan yang sangat melelahkan.


"Kemarilah!" Rayyan menepuk ranjang.


Arumi mendongakan kepala. Menatap ke arah Rayyan yang sedang berdiri di sisi ranjang seraya melepaskan snelli putih yang membaluti tubuh. Tiba-tiba saja, pikiran Arumi berkelana ke mana-mana tatkala melihat sang kekasih melepaskan satu kancing kemeja bagian atas miliknya.


"Mau apa kamu memintaku berbaring di ranjang?" ketus Arumi dengan sorot mata penuh curiga. "Ingat ya, Ray. Aku tidak mau melakukan perbuatan dosa sebelum ada ikatan sah di antara kita berdua."


"Meskipun aku seorang janda tetapi kamu tidak berhak melecehkanku seperti ini!" sungut Arumi berapi-api. Ia merasa kehormatannya sebagai seorang wanita telah diinjak-injak oleh kekasihnya itu.


Dengan sorot mata penuh kemarahan, Arumi meletakan buku tebal yang ada di tangan. Sedikit membanting hingga terdengar bunyi menggema memenuhi ruangan.


"Aku menerimamu sebagai kekasih bukan berarti kamu bebas memintaku melayanimu di atas ranjang. Demi Tuhan, Ray, aku bukanlah wanita murahan yang akan suka rela menyerahkan kehormatanku pada seorang pria sembarangan."

__ADS_1


"Selama bertahun-tahun menjalin kasih bersama mantan suamiku, aku selalu menjaga kesucianku. Tidak pernah kami melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama. Aku dan Si Berengsek itu hanya sebatas pegangan tangan dan ciuman di pipi, tidak lebih."


"Dan kini, kamu mau memintaku memuaskan hasratmu di atas ranjang sementara hubungan kita baru berjalan beberapa hari. Cih! Jangan mimpi!" sungut Arumi. Wanita itu menghunuskan tatapan tajam. Terlihat jelas raut kekecewaan bercampur kemarahan di wajah Arumi.


Rayyan menghembuskan napas jengah mendengar omong kosong yang terucap dari bibir ranum sang kekasih. Bibir mungil Arumi semakin menggoda ketika wanita itu terus menerus berbicara tanpa henti. Membuat pelipis Rayyan semakin sakit. Perpaduan antara jengkel, geram dan dipenuhi hasrat yang menggebu.


Kesabaran Rayyan semakin menipis, ketika Arumi dengan teganya membandingkan dirinya dengan Mahesa. Sungguh, pria itu tidak mau apabila dibandingkan dengan pria berengsek dan tukang selingkuh seperti mantan suami Arumi.


Dada Rayyan kembang kempis. Ia membalas tatapan mata Arumi dengan nyalang. Berjalan dengan langkah panjang mendekati wanita itu.


Arumi semakin ketakutan ketika tangan Rayyan terulur ke depan. Ia menarik wanita itu dengan kasar. Tangan kekasih itu bergerak mendekati pakaian Arumi.


Arumi sudah melakukan ancang-ancang, memberikan sebuah pukulan telak pada bagian intim pria itu apabila Rayyan memaksa dirinya untuk melakukan hubungan layaknya suami istri.


Namun, dugaan Arumi salah. Tangan pria itu tidak menyentuh pakaian yang dikenakan olehnya. Jemari kekar itu perlahan berpindah ke bagian kening, lalu ia menjentikan ibu jari dan jari kelingking di keningnya.


Pletak!


"Aw, sakit!" pekik Arumi kala kedua jari Rayyan mendarat dengan sempurna.


"Dasar bodoh!" ketus Rayyan. "Aku bukan pria berengsek seperti mantan suamimu yang akan langsung meniduri seorang wanita. Aku masih memiliki iman untuk tidak melakukan perbuatan dosa."


"Lantas, tadi kamu memintaku tiduran di sana untuk apa?" jawab Arumi. Wanita itu tetap memasang sikap siaga karena khawatir Rayyan akan menerkamnya secara tiba-tiba.


Rahang pria itu mengeras. Deru napas tersengal-sengal. Kesabaran Rayyan sudah benar-benar habis. Andai saja Arumi bukanlah kekasihnya mungkin saat ini ia sudah melayangkan sebuah tamparan keras di wajah, sebab seumur hidup baru kali ini pria berwajah oriental itu dituduh akan melakukan tindakan asusila pada seorang wanita.


Jangankan melakukan tindakan asusila, bersentuhan dengan lawan jenis saja seluruh tubuhnya akan ruam dan terasa gatal. Jadi, mana mungkin Rayyan akan melakukan perbuatan dosa itu. Sekalipun bersama Arumi ia baik-baik saja, tetapi pria itu ingin menjaga kesucian hubungan mereka sampai hari bahagia itu tiba.


"Tadi aku memintamu untuk berbaring karena ingin memeriksa lukamu bukan meminta jatah 'nana nini'!" Rayyan mendengus kesal. "Aku hanya ingin memastikan lukamu itu baik-baik saja. Tidak lebih."


Ucapan Rayyan seketika membuat kedua bola mata Arumi terbelalak sempurna. Demi apa pun, ingin rasanya saat ini Arumi menghilang dari hadapan Rayyan.


Bagaimana bisa ia berpikir jika pria itu akan meminta dirinya memuaskan hasrat yang terpendam selama kekasihnya itu menjomblo. Oh astaga, Arumi benar-benar merasa bodoh.


Dengan terbata-bata, wanita itu berkata, "Kalau memang ingin memeriksa lukaku, kenapa harus memintaku merebahkan diri di atas ranjang itu?" Ia memalingkan wajah, menyembunyikan rasa malu yang menjalar dalam tubuh.

__ADS_1


"Itu karena aku ingin kamu mengistirahatkan sejenak tubuhmu di atas ranjang. Aku yakin, kamu pasti lelah karena sejak tadi pagi belum merebahkan diri akibat terlalu sibuk menyiapkan camilan untukku. Benar 'kan tebakanku?"


Arumi bergeming. Ia menyembunyikan wajahnya yang semakin bersemu merah akibat menahan malu.


Terdengar helaan napas panjang. Rayyan mengurai emosi yang sempat menguasai diri. Perlahan, ia menyentuh ujung dagu Arumi dengan ibu jari dan jari telunjuk hingga kini sepasang kekasih itu saling berhadapan.


"Aku tidak mungkin menyentuhmu sebelum kita sah menjadi sepasang suami istri, Rumi. Kendatipun rasa itu pernah ada dalam diri namun aku berusaha menahan gejolak di dalam dada," jujur Rayyan tanpa menyembunyikan rahasia apa pun dari kekasihnya.


"Kita berdua sama-sama orang dewasa dan paham betul kebutuhan biologis masing-masing. Akan tetapi, bukan berarti kita bebas melakukan hubungan intim tanpa adanya sebuah ikatan sakral di antara kamu dan aku."


"Aku ingin menggapai kenikmatan dunia bersamamu. Namun, bukan sekarang. Tunggu hingga Pak Penghulu dan para saksi mengatakan sah, baru aku akan meminta hakku sebagai seorang suami."


Bola mata Arumi berkaca-kaca. Sikap Rayyan yang lembut dan penuh pengertian, membuat wanita itu tersentuh. Sudah sekian lama ia mendambakan kehangatan serta kelembutan seorang pria dan kini Tuhan telah menghadirkan Rayyan dalam hidupnya.


"Maafkan aku, Ray. Sungguh, aku tidak bermaksud melukai hatimu. Aku hanya kaget, sebab tiba-tiba saja kamu memintaku rebahan di ranjang itu." Arumi menundukan wajah. Ia merasa bersalah karena telah menyalahartikan sikap pria itu.


Rayyan tersenyum simpul. Ia sadar jika kejadian tadi bukanlah murni kesalahan Arumi. Ada orang lain yang lebih bersalah yaitu dirinya sendiri, sebab tanpa permisi ia meminta Arumi berbaring di atas ranjang.


"Sudahlah. Jangan meminta maaf padaku. Lebih baik, aku periksa dulu lukamu. Memastikan luka bakar ini tidak bermasalah di kemudian hari."


"Ayo, aku bantu kamu rebahan di sana!" Rayyan meraih tangan Arumi menuju ranjang. Arumi tidak menolak. Ia menuruti perintah sang kekasih dengan patuh.


"Untung saja lukamu ini tidak serius," ucap Rayyan setelah Arumi terbaring di atas ranjang. Aroma parfum pria itu masih menempel di sana, menyeruak ke indera penciumannya.


Pria itu membalut kembali luka Arumi menggunakan kassa yang baru. Menutupi luka tersebut hingga tak terlihat lagi. "Untuk sementara waktu, kamu istirahat dulu di rumah. Aku akan menuliskan resep obat dan membuat surat cuti selama tiga hingga satu minggu ke depan," pungkas Rayyan.


"Kok lama sekali, Ray. Aku tidak bisa berdiam diri di rumah sementara kamu dan rekan yang lain sibuk dengan pekerjaan kalian," protes Arumi. Ia tak terima jika Rayyan meminta dirinya mengambil cuti selama lebih dari dua hari.


"Anggap saja ini sebagai hadiah ucapan terima kasih karena kamu telah bersedia memasakan makanan kesukaanku," balas Rayyan seraya tersenyum. "Untuk urusan pekerjaan, aku masih sanggup menanganinya. Penting, kamu istirahat di rumah dan jangan protes. Kalau sampai aku melihatmu berkeliaran di rumah sakit maka aku akan meminta hakku sebagai kekasihmu." Pria itu mengerlingkan mata nakal ke arah Arumi.


"Dasar mesum!" cebik Arumi sambil memukul Rayyan menggunakan bantal.


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2