Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Kamulah Segalanya Bagiku


__ADS_3

Hari terus berlalu. Detik berubah menjadi menit. Menit berubah menjadi jam dan hari pun berganti menjadi bulan. Tanpa terasa sudah empat bulan berlalu semenjak putusan sidang dijatuhkan. Putusan sidang yang mengatakan bahwa Arumi Salsabila telah resmi menyandang gelar janda kembang karena memiliki paras cantik dan tubuh langsing bak gitar Spanyol.


Selama empat bulan pula, Mahesa tak sadarkan diri. Ia betah tidur di atas ranjang rumah sakit seolah enggan untuk menerima kenyataan bahwa pria itu telah kehilangan cinta suci dari mantan istri tercinta.


Walau di dalam hati Mahesa masih tersimpan nama mantan istri pertamanya dan itu semua membuat Kayla merasa geram karena tidak dapat memiliki hati Mahesa seutuhnya, wanita itu tetap setia mengunjungi sang suami di rumah sakit tanpa sepengetahuan Naila dan Putra.


Lelah? Sudah pasti. Kayla tak menampik itu semua. Terkadang timbul keinginan untuk menyerah dan mengakhiri semua tetapi ia kembali tersadar bahwa cinta itu membutuhkan pengorbanan dan perjuangan. Oleh karena itu, Kayla kembali bersemangat dan yakin bila suatu hari nanti kisah cintanya berakhir bahagia seperti di dalam dongeng.


Suatu hari di sebuah cafe dekat rumah sakit, Rayyan dan Arumi sedang duduk bersama sambil menikmati waktu istirahat. Pria itu sengaja mengajak kekasih tercinta minum kopi sembari membahas urusan pekerjaan.


Urusan pekerjaan telah selesai dibahas, kini tiba saatnya sepasang kekasih itu membicarakan urusan pribadi. Itulah mengapa, Rayyan sengaja memilih tempat yang agak tersembunyi agar tidak banyak orang lalu-lalang, mendengar percakapan mereka.


"Rumi, apakah kamu sudah siap untuk mengatakan pada Mamamu kalau di antara kita bukan hanya terjalin hubungan antara atasan dan bawahan saja?" tanya Rayyan. Tangan pria itu meraih cangkir kopi, menghirup aroma semerbak yang menguar dari cangkir kopi tersebut. Perlahan, ia menyesap setiap cairan pekat yang masuk ke dalam tenggorokan.


Arumi menyendokan sepotong kue kesukaannya ke dalam mulut, mengunyahnya secara perlahan hingga melewati tenggorokan.


Alih-alih menjawab, wanita itu mengajukan pertanyaan yang sama pada Rayyan. "Kamu sendiri, bagaimana? Sudah siap menerima kenyataan bahwa Papa dan Mamamu akan menolak diriku jika tahu akulah wanita yang telah merebut hati putra sulung mereka?"


Kali ini Arumi jauh lebih santai jikalau sedang duduk berdua dengan Rayyan dan menyinggung perihal reaksi yang akan ditunjukan oleh kedua orang tua pria itu.


Sudut bibir pria itu tertarik ke atas. Sebuah senyuman terlukis di wajah tampan nan rupawan. "Tentu saja! Aku sudah siap untuk melawan mereka jika ternyata Papa dan Ja*ang itu menentang pernikahan kita. Aku akan pergi dari rumah yang selama ini banyak menyimpan kenangan manis dan pahit dalam waktu hampir bersamaan."


Arumi memutar bola mata malas. Bibir ranum itu pun mencebik kala mendengar jawaban dari kekasih tercinta. "Aku tak yakin kamu akan mengatakan jawaban yang sama seandainya saja kamu tidak berniat menikahiku. Kamu sudah pasti berat meninggalkan rumah itu 'kan?"


Wanita dalam balutan snelli putih meletakkan sendok, menggeser piring kecil ke sisi kanan. "Jika kamu memang berat meninggalkan rumah yang dipenuhi kenangan bersama Mama Mei Ling, kenapa harus membeli apartemen baru. Kenapa kita tidak tinggal bersama kedua orang tuamu saja?" cecar Arumi.


"Kalaupun memang kamu ingin tetap tinggal di rumah itu, aku bersedia mengalah. Kita berdua akan membina rumah tangga di dalam rumah peninggalan Mamamu." Senyum mengembang di bibir Arumi. Tak ada keraguan sediki pun kala bibir mungil itu mengucapkan kalimat yang beberapa hari ini mengusik pikiran wanita itu.

__ADS_1


Meskipun Arumi belum tahu pasti alasan apa yang menyebabkan Rayyan sangat membenci mama tirinya, tapi satu hal yang pasti cerita kelam di masa lalu begitu sakit untuk dikenang. Sama halnya dengan masa lalu Arumi. Wanita itu pun masih akan merasa sakit jika seseorang tanpa sadar membuka kembali luka lama yang hampir sembuh.


Rayyan menggeleng kepala cepat. Hati pria itu sedikit terharu mendengar untaian kata terucap dari bibir sang wanita. Tak menyangka jika Arumi bersedia tinggal bersama dengannya di rumah yang ia tempati bersama Lena serta adik tirinya.


"Tidak! Kamu tidak perlu berkorban demi aku, Babe. Aku rela pergi dari rumah itu, meninggalkan semua kenangan indah saat Mama masih hidup di dunia ini."


Jemari Rayyan menyentuh tangan Arumi yang ada di atas meja bundar. Menggenggam dengan erat seraya menatap manik coklat milik wanita itu.


"Yang penting, aku bisa hidup berdua denganmu. Menghabiskan waktu bersama hingga maut memisahkan. Aku yakin, Mama pasti memaafkanku karena lebih memilih pergi dari rumah itu agar dapat hidup bersama orang yang kucintai."


Arumi melirik Rayyan sebentar, lantas menundukan kepala seraya menggigit bibir bawah. Dada wanita itu berdebar lembut. Kalimat itu mampu membuat ribuan kupu-kupu terbang dari dalam tubuhnya. Menari indah di udara dengan warna-warni yang memukau.


"Karena kamu adalah segalanya bagiku, Rumi. Kamulah hal terindah yang pernah kumiliki selama ini." Mengangkat jemari Arumi ke udara. Menatap lekat wajah itu seraya mencium punggung tangan Arumi. "I love you, Arumi Salsabila."


***


Setelah selesai memeriksa kondisi seluruh pasien yang dirawat di bangsal Bougenville, Arumi akan menghabiskan waktu untuk membaca buku kedokteran, membaca novel online ataupun hanya sekadar menonton film secara streaming sambil menunggu pesan singkat dari Rayyan. Sebuah pesan yang meminta wanita itu agar dapat ke ruangan. Sebagai kekasih yang baik, tentu saja ia bersedia datang menemui kekasihnya itu, sebab Arumi pun merindukan Rayyan.


"Tumben, Rayyan belum mengirimkan pesan. Biasanya ia akan menanyakan apakah aku sudah keluar dari ruangan atau belum. Namun, mengapa hingga detik ini ia belum juga mengirimkan pesan padaku," gumam Arumi lirih. Ia menyingkap lengan blouse yang dikenakan. Melihat benda bundar melingkar di pergelangan tangan. Jarum panjang mengarah pada angka enam sementara jarum pendek mengarah pada angka dua (02.30 siang).


"Apakah mungkin ia masih ada pekerjaan hingga belum sempat mengirimkan pesan?" Tak ingin menunggu terlalu lama dan pikiran bercabang ke mana-mana, Arumi memutuskan untuk menemui Rayyan di ruangan pria itu.


Di ruangan kepala bangsal, Rayyan tengah membahas rencana operasi yang akan dilakukan pada seorang pasien mengalami gagal ginjal yang berencana melakukan cangkok ginjal esok pagi. Operasi kali ini tidak melibatkan Arumi, sebab wanita itu telah lebih dulu menangani operasi lainnya.


"Selalu pastikan kondisi pasien dalam keadaan siap untuk menjalankan operasi esok pagi. Pantangan selama hendak di operasi, komplikasi serta kemungkinan buruk yang akan terjadi pasca cangkok ginjal harus kamu sampaikan kembali pada keluarga pasien. Jangan sampai pihak keluarga merasa dirugikan dan malah menganggap kita melakukan malpraktek," tutur Rayyan pada rekan kerjanya yang bertugas menjadi dokter pendamping dalam operasi besok pagi.


Dokter pria itu mengangguk cepat. "Baik, Dokter. Saya akan kembali mengingatkan mereka."

__ADS_1


Saat kedua dokter muda itu tengah berdiskusi, terdengar suara ketukan pintu yang menginterupsi kegiatan mereka. Rayyan tahu jika di luar sana adalah Arumi, bergegas meminta wanita itu untuk masuk ke dalam ruangan.


"Permisi, Dokter Rayyan," ucap Arumi sopan. Di hadapan orang lain, ia akan bersikap layaknya seorang bawahan dan atasan pada umumnya. Memanggil Rayyan sopan dengan menyertakan gelar di depan nama pria itu.


Dokter pria yang bersama Rayyan barusan, berinisiatif meninggalkan ruangan itu, sebab urusannya dengan atasannya telah selesai.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Dokter Rayyan." Membungkuk hormat dan melangkah meninggalkan ruangan. Namun, ketika ia melewati Arumi, tak lupa pria itu tersenyum hangat kemudian melanjutkan kembali langkahnya.


Rayyan tertawa, melihat sikap formal yang ditunjukan oleh wanita itu padanya. "Kamu terlihat kaku saat bersikap formal di hadapanku barusan. Gerak-gerikmu memunculkan berbagai spekulasi orang lain."


Pria itu memasukan semua barang bawaan ke dalam tas jinjing berwarna hitam. Lalu, menggantung snelli di gantungan pakaian.


"Lantas, sikapku harus bagaimana jika ada orang lain di hadapan kita?" sungut Arumi. "Bersikap seolah-olah kita berdua ada hubungan spesial? Memanggilmu dengan panggilan kesayangan? Bersikap manja dengan suara mendayu-dayu?"


"Bukan ide yang buruk." Rayyan mengerlingkan sebelah mata. Menggoda Arumi dalam mode ngambek begini menjadi hiburan tersendiri bagi pria itu.


"Cih! Emang maunya kamu begitu!" Arumi berdecak kesal karena Rayyan selalu menggoda dirinya.


Pria itu mengulum senyum hangat. Merangkul pundak Arumi dengan lembut. "Kita akan segera mengumumkan hubungan di antara kita ke khalayak luas. Namun, sebelum itu, aku harus menemui Tante Nyimas dulu. Memberitahu padanya sekaligus minta maaf karena selama ini kita telah banyak membohongi beliau."


"Kamu setuju 'kan, seandainya hari ini aku menemui Mamamu dan meminta restu padanya?" Arumi hanya menganggukan kepala sebagai respon atas jawaban sang kekasih.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2