Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Seburuk Apa Pun, Dia Tetap Ibumu


__ADS_3

Raihan menghela napas dalam kemudian menjawab, "Semuanya bermula saat kedua orang tuaku membesuk Kak Arumi, istri dari ... ehm ... Kak ... Rayyan ...," ucapnya lirih. Ketika ia mengucapkan kata kakak di depan nama Rayyan rasanya canggung sekali. Sudah lama ia tak memanggil putra pertama sang papa dengan sebutan 'kakak'. Terakhir kali saat dirinya duduk di bangku kelas 2 SMP. Sejak kejadian tak terduga, ia tak lagi bersikap ramah terhadap kakak kandungnya bahkan terkesan menjaga jarak dan tak jarang terjadi keributan kecil di antara mereka berdua.


Andika tampak begitu serius mendengarkan untaian kalimat yang terucap di bibir Raihan. Sikap slengean yang sering ditunjukan saat bertemu orang lain, selama beberapa menit menghilang. Ia berubah menjadi sosok pria dewasa, dan penuh perhatian.


"Waktu itu, Mama dan Papa begitu bahagia setelah bertemu dengan ketiga keponakan kembarku. Namun, karena rasa dendam dan benci dalam diri membuat aku sudah tak dapat menahan diri kala mereka terus menyebut nama Kak Rayyan. Aku merasa seluruh tubuh ini seperti dibakar hidup-hidup oleh api cemburu. Aku cemburu pada Kak Rayyan karena dia lebih segalanya dariku."


"Sejak dulu, kedua orang tuaku begitu menyayangi Kak Rayyan bahkan Mama pun terlihat sangat sayang kepadanya. Meskipun Kak Rayyan tak pernah menganggap Mama-ku ada, tetapi kasih sayang, perhatian serta cinta tulus diberikan kepada pria itu," tutur Raihan. Ia mulai menceritakan kronologi yang terjadi hingga membuatnya pergi dari rumah dan tak pernah lagi mengunjungi Lena serta Firdaus. "Saat aku mendengar Mama membela Kak Rayyan, hatiku terasa sakit karena ibu kandungku sendiri lebih membela orang lain daripada aku, anaknya sendiri. Padahal, sikap Kak Rayyan tak pernah sedikitpun menghargai Mama sebagai pengganti Tante Mei Ling."


"Hari itu aku menampakkan sosok lain dalam diriku di hadapan Mama dan Papa. Rasa kecewa, marah, serta cemburu membuatku seperti orang gila yang terus menghina Kak Rayyan. Hingga pada akhirnya sebuah kebenaran terungkap. Sebuah kebenaran yang selama belasan tahun disimpan rapat oleh kedua orang tuaku." Raihan menjeda sejenak kalimatnya. Gemuruh di dalam dada bermunculan bagaikan suara deburan ombak di pinggir pantai yang mengenai karang. Suara tercekat, lidah terasa kelu disertai dada yang mulai kembang kempis.


Keheningan yang panjang mengambang di udara, saat Raihan masih bergeming. Tampak pria itu sedang menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan seraya memejamkan mata. Sesekali ia mencengkeram ujung meja guna menahan emosi.


Sementara Andika masih setia menunggu kelanjutan cerita Raihan. Alis pria itu mengerut, sedang berusaha menebak sendiri sebuah kebenaran apa hingga sahabatnya itu pergi dari rumah dan tak pernah memberikan kabar kepada kedua orang tuanya.


Setelah Raihan dapat mengendalikan emosi dalam dirinya, ia kembali berkata, "Selama ini aku telah salah paham kepada Kak Rayyan. Kupikir, dia membenci Mama tanpa ada alasan jelas. Namun, rupanya ada alasan mendasar kenapa dia tak pernah sekalipun menganggap Mama dan aku ada di rumah itu. Itu semua terjadi karena kesalahan Mama-ku di masa lalu. Mama-ku dulu adalah ... seorang pelakor."


"Apa? P-pelakor!" seru Andika dengan suara tercekat. Mata hazelnya yang indah membulat sempurna, rahangnya pun terbuka lebar.


Raihan menghela napas kasar. Sikap yang ditunjukan oleh Andika sama persis seperti dirinya dulu. Bahkan, jantung pria itu rasanya sudah tak lagi berdekat seperti sedia kala saat mengetahui jika mama-nya adalah orang ketiga yang telah merusak hubungan rumah tangga orang lain.


"Yeah, benar. Mama-ku adalah mantan seorang pelakor. Dia hadir di saat kondisi rumah tangga Papa dan mendiang Tante Mei Ling renggang. Akibat sering bertemu membuat benih cinta di antara dua insan manusia itu. Mereka menjalin cinta terlarang di saat Papa-ku sudah beristri. Dan kamu tahu, Dika, jika sebenarnya Mama-ku juga adalah penyebab meninggalnya Tante Mei Ling."


"Apa maksud dengan ucapanmu barusan, Rai. Penyebab? Penyebab kematian apa? Memangnya ... apa yang telah dilakukan oleh Tante Lena sehingga ibu kandung Kakak-mu itu meninggal dunia."

__ADS_1


Lantas, Raihan menceritakan apa yang ia dengar saat dirinya masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Tak ada satu kalimat pun yang terlewatkan. Ia berkata jujur meski kebenaran itu sangat menyakitkan.


Namun, beruntungnya Andika sama sekali tak men-jugde sahabatnya itu. Pria berwajah tampan dengan hidung mancung dan lesung pipi di kedua sudut bibir membungkam mulutnya untuk tak mengucapkan kata-kata yang dapat menyakiti perasaan orang lain.


"Sekarang kamu sudah tahu tentang masa lalu kedua orang tuaku dan asal usulku, Dika. Aku terlahir dari rahim seorang pelakor. Seorang wanita yang tega merebut suami orang lain dengan alasan bahwa dia mencintai pria itu sedangkan kita tahu, sebesar apa pun rasa cinta yang ada di dalam hati jika orang itu telah mempunyai pasangan, tetap saja salah. Di agama manapun, tidak diajarkan untuk merampas sesuatu yang bukan milik kita."


"Kamu, memang benar. Semua agama di belahan dunia manapun tak mengajarkan kita untuk merebut, merampas paksa apa yang telah menjadi milik orang lain," tutur Andika membenarkan perkataan Raihan. "Begitu pun dengan kasus yang menimpa Mama-mu. Aku juga tak membenarkan apa yang telah beliau dan Papa-mu lakukan saat mereka masih muda."


"Jika aku ada di posisimu maka aku pun akan marah karena merasa telah dibohongi selama ini. Belasan tahun membenci orang yang tak bersalah cuma gara-gara salahpaham. Ck! Benar-benar lucu!" Tersenyum kaku sambil mengarahkan pandangan ke arah lain. "Namun, kalau aku boleh jujur, apa yang kamu lakukan terhadap Mama-mu pun bukan merupakan perbuatan terpuji, Rai."


"Kamu meninggalkan rumah dalam keadaan emosi, bahkan hingga detik ini tak sekalipun menghubungi Tante Lena walau sekadar menanyakan kabar. Kamu sungguh keterlaluan dan aku tidak suka sikapmu itu, Raihan!" ucap Andika tegas. "Meskipun kamu membenci Tante Lena dan Om Firdaus, tetapi sebagai anak, kamu berkewajiban menghormati mereka dan tidak diperbolehkan membentak apalagi menghina ibumu sendiri."


"Ingat, Rai, surga itu ada di bawah telapak kaki Ibumu. Seburuk dan sehina apa pun Tante Lena, tetapi beliau tetaplah ibu kandungmu yang telah mengandung serta melahirkanmu. Beliau mengorbankan nyawanya demi membawamu ke dunia ini, agar kamu dapat mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan kepada kita semua. Lalu, setelah kamu dewasa dan dapat berdiri sendiri, seenaknya saja kamu mencaci ibumu sendiri. Apakah itu yang diajarkan oleh guru agamamu, hem?"


Pria bernama lengkap Andika van Amsberg meraih gelas kaca yang ada di hadapannya, lalu menyesap minuman dingin tersebut secara perlahan hingga tersisa setengahnya. Berusaha mengusai diri agar tak semakin emosi.


"Walaupun aku non muslim, tetapi sedikit banyak tahu tentang kewajiban seorang anak terhadap orang tuanya terlebih kepada seorang ibu." Andika menepuk pundak Raihan, lalu kembali berkata, "Saranku, sebaiknya kamu temui Tante Lena dan Om Firdaus. Minta maaf kepada mereka selagi masih diberikan kesempatan untuk bisa melihat kedua orang tuamu. Jangan sampai, kamu menyesal di kemudian hari karena tak punya kesempatan untuk mengucapkan kata maaf pada mereka."


"Umur manusia tidak ada yang tahu. Bisa saja hari ini kita dapat melihat mentari terbit, esok hari tak menjamin seseorang dapat melihat kembali Sang Surya menampakkan pesonanya. Jadi, gunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Perbaiki hubungan yang sempat renggang di antara kamu dan orang tuamu. Juga tidak lupa, kamu temui Kak Rayyan. Minta maaf juga kepadanya, karena selama ini kamu sudah membenci orang yang salah."


Bayangan wajah Lena saat wanita itu meneteskan air mata melintas di hadapan Raihan. Membuat napasnya tercekat.


"Kamu dan dia terlahir dari ayah yang sama. Walaupun ibu kalian berbeda tetapi darah yang mengalir dalam tubuhmu dan Kak Rayyan adalah darah Om Firdaus. Sekeras apa pun kamu menyangkal, namun itulah kenyataannya."

__ADS_1


Raihan terdiam. Ucapan Andika ada benarnya juga. Ia dan Rayyan adalah saudara kandung walau tidak terlahir dari rahim yang sama. Sang kakak terlahir dari rahim wanita terhormat, menantu yang diakui oleh keluarga Wijaya Kusuma. Sementara dirinya terlahir dari rahim seorang mantan pelakor, yang kehadirannya sangat dibenci oleh hampir seluruh kaum Hawa di muka bumi ini.


Dosen tampan itu mendongakan kepala, menatap lekat mata hazel Andika. "Kalau ternyata Kak Rayyan tidak memaafkanku, bagaimana? Haruskan aku bersujud di bawah kakinya sampai dia mau memaafkan dan menerimaku sebagai adiknya?"


Sudut bibir Andika tertarik ke atas, tersenyum sinis ke arah sahabatnya. "Dasar bodoh! Memangnya Kak Rayyan adalah Tuhan sampai kamu ingin bersujud kepadanya. Ingat, ajaran agamamu tidak mengajarkan manusia untuk bersujud di hadapan manusia lain."


Andika kembali menyesap minumannya sambil menatap ke arah Fahmi yang saat ini sedang terlibat perbincangan dengan salah satu anggota keluarga dari pihak mempelai wanita. "Apabila ternyata Kak Rayyan tak dapat memaafkan kesalahanmu, biarkan tangan Tuhan yang bekerja. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Yang penting, kamu sudah meminta maaf dengan tulus dan berusaha menghapus rasa benci, iri, dan dendam kepada Kakak-mu itu."


"Coba kamu bayangkan, sebuah batu besar bila terus menerus dijatuhi air di atasnya maka lama kelamaan akan terdapat cekungan juga. Begitu pun dengan Kak Rayyan. Aku yakin, cepat atau lambat ia dapat memaafkanmu walau untuk bisa menjadi keluarga dekat seperti hubungan kakak dan adik selayaknya sangat mustahil, tapi setidaknya kamu sudah berusaha memperbaiki hubungan yang ada."


Menghela napas panjang. "Ya ... kamu benar, Dika. Sekeras apa pun watak manusia, bila sudah ada campur tangan Tuhan maka dia akan luluh juga. Jadi, sebelum bertempur, aku tidak boleh menyerah terlebih dulu!"


Andika mengangguk. "Betul sekali! Maju terus, pantang mundur!" ujarnya seraya mengepalkan sebelah tangan ke depan dada.


Setelah curhat ala lelaki dewasa versi Raihan dan Andika, kedua pria itu ditambah Fahmi memutuskan menikmati hidangan yang sudah disediakan oleh si pemilik hajat. Sesekali mereka terlibat perbincangan ringan di sela aktivitasnya menyantap makanan yang ada di atas meja.


"Guys, aku harus segera pergi dari sini. Ada hal urgent yang harus dikerjakan!" ucap Raihan kepada Andika dan Fahmi. Ia melangkah meninggalkan ruangan itu dengan tergesa-gesa. Andika dan Fahmi hanya menatap cengo ke arah Raihan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2