Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Kegundahan Hati Rayyan


__ADS_3

Rayyan duduk termenung di sebuah gazebo di dekat kolam renang. Usai menemani Arumi menjalani sidang putusan perceraian, ia diajak Rio dan juga Rini untuk singgah ke rumah sebab orang tua Rio ingin sekali bertemu lagi dengan sahabat karib sang putra tercinta.


Sejak tiba di rumah, Rio memperhatikan perubahan sikap sahabatnya itu. Melihat tatapan mata Rayyan terhadap Arumi serta tutur kata pria berwajah oriental itu membuat Rio berspekulasi, mungkinkah Rayyan menaruh hati pada Arumi? Jika itu benar maka ia berkewajiban untuk membantu Rayyan mendapatkan Arumi.


Tak ingin menduga-duga sesuatu yang belum pasti, ia menghampiri Rayyan lalu duduk di sisi pria itu. "Rey!" Rio menepuk pundak sahabatnya. "Sejak tadi, kuperhatikan kamu termenung terus. Ada apa?"


Rayyan terlonjak kaget karena tiba-tiba saja dari arah belakang Rio menepuk pundaknya. "Kamu mengagetkanku saja!" pekik pria itu.


Kening Rio mengerut, tanda banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan pada Rayyan. "Aku memang sengaja melakukannya sebab kuperhatikan sejak tadi kamu termenung terus. Ada apa?" Ia kembali menanyakan pertanyaan yang sama pada Rayyan.


"Ehm ... apakah ... soal Arumi?" tanya Rio penuh selidik.


Pria tampan bermata sipit itu tak menjawab. Ia kembali menatap ke arah depan. Memperhatikan dua bocah kecil berusia lima tahun yang tengah bermain kembang api di pinggir kolam renang.


Rio kembali menatap Rayyan dengan tatapan yang sulit diperhatikan.


"Kita bersahabat sudah lama, Rey. Kebohongan sebesar upil yang kamu sembunyikan dariku tak kan pernah luput dari jangkauan," celetuk Rio.


"Kamu sudah tahu isi pikiranku tetapi kenapa masih bertanya," ucap Rayyan datar.


"Aku hanya memastikan saja jika dugaanku benar." Rio mengeluarkan satu batang rokok lalu menghisap benda itu kemudian mengembuskannya sehingga asap putih mengepul ke udara. "Kamu mau mundur, setelah tahu Arumi itu janda?"

__ADS_1


"Setelah kamu tahu jika ia dituduh mandul oleh suami dan mertuanya." Menyadari bila ia salah bicara, Rio meralatnya segera. "Maksudku, mantan suami dan mantan mertua."


Rayyan tersenyum kecut. "Sangat tidak gentle bila aku mundur sebelum berperang."


Pria berdarah Timur Tengah itu mengetuk-ngetukan abu rokok di atas asbak. "Lalu, apa yang membuatmu ragu? Jikalau kamu memang ada rasa pada sahabat istriku, tunjukan agar ia tahu tentang perasaanmu yang sebenarnya, Ray. Jangan kamu kehilangan wanita yang begitu berarti dalam hidupmu."


"Apa kamu mau selamanya menjadi bujang lapuk? Tidur sendiri, makan sendiri bahkan saat ajal menjemput, kamu akan sendirian. Tidak ada keluarga yang menangisimu," sindir Rio. Pria itu geram melihat sikap Rayyan yang terkesan plin plan dengan perasaannya.


"Tentu saja tidak mau!" sergah Rayyan cepat. "Aku juga ingin merasakan indahnya berkeluarga. Merasakan kehangatan cinta dan kasih sayang dari istri serta anak-anakku. Hanya saja, aku khawatir Arumi akan menjaga jarak bila ia tahu jika aku mulai menyukai wanita itu."


Sontak, perkataan Rayyan barusan membuat tawa Rio pecah seketika. Untung saja batang rokok yang masih menempel di bibir seksi pria itu tidak tersedak masuk ke dalam mulutnya.


"Astaga, Ray! Jadi karena hal itu kamu dari tadi termenung sendirian di sini? Tidak menikmati jamuan makan malam yang sengaja khusus disiapkan oleh Mamaku heh?"


Rio menarik napas panjang. Ia mengerti dengan kecemasan yang menyelimuti diri sahabatnya. "Ya, kamu benar. Satu atau dua tahun belum tentu luka di hati Arumi terobati. Belum tentu ia percaya dengan namanya cinta sejati sebab selama ini wanita itu benar-benar tulus mencintai Mahesa. Bagi Arumi, mantan suaminya itu adalah cinta pertama dan terakhir dalam hidupnya."


"Aku menjalin cinta dengan Rini sudah begitu lama. Istriku dengan Arumi bersahabat sejak mereka masih kecil. Tentu saja aku tahu, bagaimana lika-liku perjalanan cinta Mahesa dan Arumi. Banyak rintangan yang dihadapi hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri perjalanan cinta dengan sebuah kata pernikahan."


"Dari sekian banyak pria yang mendekati Arumi hanya Mahesa-lah satu-satunya pria yang mampu meluluhkan hati wanita itu. Jadi, kamu harus mengerahkan semua tenagamu agar bisa menggantikan posisi Mahesa di dalam hati Arumi." Pria itu mengepalkan tangan ke dada.


"Namun, kamu tenang saja. Aku dan istriku akan membantumu asalkan kamu berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang telah diperbuat oleh Mahesa. Sumpah demi apa pun, aku tidak segan menghajarmu apabila kamu sampai melukai hati sahabat istriku."

__ADS_1


"Bagiku, Arumi dan Tante Nyimas sudah seperti saudara. Mereka berdua begitu baik pada keluargaku. Dulu, mendiang Om Zidan banyak membantu Mama di saat kami kesusahan. Meskipun memiliki kakek dan nenek kaya raya tidak menjamin keluargaku hidup layak karena status orang tuaku hanya anak angkat, kami dianggap sebelah mata oleh saudara yang lain."


Sekelebat bayangan saat sang papa masih hidup di dunia terekam jelas dalam memori ingatannya. Bagaimana sikap saudara angkat orang tua Rio ketika mereka datang ke rumah Adiguna di kawasan Bandung. Mereka menatap sinis serta menaruh curiga setiap kali datang berkunjung ke sana.


Awalnya sikap saudara Rio yang ada di Bandung begitu ramah serta menerima papa Rio sebagai bagian dari anggota keluarga Adiguna. Akan tetapi, sejak kedatangan Naila, sikap seluruh anggota keluarga berubah drastis. Mereka selalu memperlakukan orang tua Rio dengan tidak adil. Oleh sebab itu, semenjak kepergian Adiguna serta sang istri, Rio beserta keluarga tidak pernah lagi datang mengunjungi rumah utama di kawasan Bandung.


Melihat wajah Rio murung, Rayyan merasa tak enak hati. Akhirnya ia memberanikan diri membuka suara. "Maafkan aku, Rio bila perkataanku telah mengorek luka lama di hatimu. Sungguh, aku tak bermaksud seperti itu."


Rio mendesaah pelan lalu mematikan rokok miliknya di atas asbak. "Jangan meminta maaf. Aku sama sekali tidak merasa tersinggung oleh ucapanmu barusan."


"Akhir-akhir ini hatiku memang lebih sensitif setiap kali menyinggung persoalan tentang keluarga Om Putra dan membayangkan betapa busuknya hati Tante Naila. Ingin rasanya aku menampar wajah wanita itu karena sudah merusak ikatan kekeluargaan antara kami. Namun, aku tak memiliki hak untuk melakukan itu," ucap Rio lirih.


"Yasudah, ayo ikut bergabung bermain bersama anak-anakku! Siapa tahu, setelah kamu menikahi Arumi, Allah segera memberikan malaikat kecil di dalam rahim wanita itu. Bungkam mulut mereka dengan menaburkan banyak benih di dalam rahim Arumi," goda Rio diikuti suara kekehan.


TBC


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2