Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil

Penyesalan Suami : Dikhianati Karena Tak Kunjung Hamil
Sedang Apa Dia Di Sini?


__ADS_3

Sinar matahari semakin menampakan pesonanya. Dia seolah sedang menunjukan keindahan pada setiap insan di muka bumi.


Sesuai rencana, Kayla akan menemui managernya di sebuah restoran Jepang yang ada di mall. Ia sengaja meminta sopir di kediaman Putra untuk mengantarkannya. Sebagai mertua yang baik, Naila tentu saja mengizinkan agar menantu kesayangan pergi diantar oleh sopir.


"Selama di perjalanan, kamu harus hati-hati. Kalau jalan jangan tergesa-gesa. Ingat, di dalam rahimmu sedang tumbuh cucu kesayangan Mama," nasihat Naila sebelum Kayla keluar rumah. Wanita itu mengusap kandungan Kayla yang kini berusia kurang lebih dua belas minggu atau tiga bulan.


Di usia kandungan tiga bulan, wajah janin sudah dilengkapi mata, hidung dan hidung. Tulang dan otot sudah terbentuk. Kuku pada jari pun sudah mulai tumbuh. Alat kelamin sudah mulai terbentuk tetapi belum berkembang secara sempurna sehingga belum terlihat jelas jenis kelaminnya.


Mendapat perhatian dari seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu mertuanya, Kayla tersenyum bahagia. Ia merasa kehidupannya saat ini benar-benar sempurna. Memiliki suami tampan, kaya raya dan sangat mencintainya merupakan suatu anugerah tersendiri meski ia mendapatkan Mahesa dengan cara merebut sang suami tetapi wanita itu tak peduli. Selama ada rasa cinta di antara mereka, itu sudah lebih cukup untuk membuktikan jika pernikahan itu akan berakhir bahagia.


"Baik, Ma. Aku akan selalu mengingat nasihat Mama. Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu. Bye, Mama." Wanita itu mencium kedua pipi Naila, lalu berjalan berlahan menuju mobil.


Di dalam mobil, sang sopir yang diberikan tanggung jawab untuk mengantar Kayla sedang menatap nyonya muda Putra Adiguna. Pria itu mencuri pandang dari kaca spion.


"Kamu itu digaji untuk mengantarkanku bukan malah mencari kesempatan dalam kesempitan!" hardik Kayla. Ia merasa risih sebab pria itu beberapa kali tertangkap basah sedang melirik ke arahnya lewat spion tengah.


"Sekali lagi kamu tertangkap basah sedang menatap wajahku, aku tidak segan melaporkannya pada Mama dan Mas Mahes agar kamu dipecat sekalian!" ancam wanita itu. Tak ingin mengambil resiko, Kayla berpindah ke kursi penumpang yang kosong.


Merasa telah melakukan kesalahan besar, pria itu segera berkata, "Maafkan saya, Bu Kayla. Bukan maksud untuk berbuat lancang. Hanya saja saya--"


"Diam!" sergah Kayla cepat. Wanita itu tak memberikan kesempatan bagi sang sopir untuk menjelaskan alasannya mengapa dia sedari tadi melirik Kayla dari spion tengah.


"Dasar tidak sopan! Berani-beraninya dia mencuri pandang di saat aku lengah. Andai saja aku memiliki hak untuk mengatur siapa saja yang pantas tuk dipertahankan di rumah itu, sudah kupastikan dia akan keluar dari kediaman Papa Putra," sungut Kayla dengan nada lirih.

__ADS_1


*


*


*


"Halo, Bu Ratna, apa kabar?" Kalimat pertama yang terucap dari bibir mungil milik sang pelakor. Bibir mungil yang dipoles oleh lipstick merah menyala itu bagaikan kelopak bunga mawar yang sedang merekah.


Ratna, manager dari agensi tempat Kayla bernaung seketika mengernyitkan alis kala melihat penampilan anak emasnya terlihat berbeda dari satu bulan lalu. Pipi sedikit chubby serta bobot badan meningkat.


"Halo, Kayla. Kabarku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Lama tidak bertemu kini kamu semakin berisi." Kekeh Ratna seraya memeluk erat anak kesayangannya. Kabar pernikahan siri Kayla dengan Mahesa belum terendus oleh siapa pun kecuali Mona, sang asisten.


Baik Ratna selaku manager maupun bos tempat Kayla bekerja, mereka semua belum mengetahui jikalau saat ini status sang primadona telah berubah menjadi nyonya Mahesa. Bahkan kabar kehamilan wanita itu pun belum diketahui oleh mereka. Sehingga Ratna berpikir mungkin satu bulan belakangan, Kayla sedang khilaf sehingga ia lupa menjalankan program diet yang pernah dilakukan olehnya.


"Begini, Kayla. Aku sengaja memintamu datang ke sini karena ada tawaran pemotretan selama kurang lebih lima hari di daerah Puncak Bogor. Dari sekian banyak model yang bekerja di bawah naungan agensiku, hanya kamu yang cocok mengambil pekerjaan ini," ujar Ratna.


"Bergaya di depan kamera dengan berbagai pose, tidakkah kamu merindukan itu semua?" bujuk Ratna seraya menggenggam erat tangan Kayla. "Kamu bisa mendapatkan gaji empat kali lipat dari Mr. Alief jika bersedia mengambil pekerjaan ini."


"Tapi, Bu, aku--"


"Ayolah, Kayla. Ini kesempatan langkah loh. Kapan lagi kamu berpose di depan kamera untuk mempromosikan produk kecantikan merk terkenal negara kita. Selain karirmu sebagai seorang model semakin bersinar, kamu pun akan mendapatkan reward dari sponsor serta Bos kita. Apakah kamu tidak tergiur sedikit pun?"


"Seandainya aku berada di posisimu, sudah kuterima sejak awal tawaran ini tanpa membiarkan mulutku kering akibat terlalu lama mengoceh. Membujukmu agar bersedia menerima pekerjaan ini."

__ADS_1


Kayla tersenyum kecut. Sejujurnya ia amat tertarik dengan pekerjaan yang ditawarkan oleh Ratna. Hanya saja saat ini ia tengah berbadan dua. Terkadang mengalami morning sickness dan moodnya sering berubah-ubah.


Suasana hati Kayla sering berubah-ubah dalam waktu singkat sehingga membuat ia cemas jikalau nanti pihak agensi tahu bahwa wanita itu telah menikah dan bahkan sedang mengandung pewaris tunggal semua harta kekayaan Adiguna. Namun, di sisi lain ia tak tega kalau sampai menolak permintaan Ratna.


Kayla terdiam sejenak. Ia sedang dilema antara menerima tawaran pekerjaan itu atau menolaknya. Sejujurnya, jauh di lubuk hati yang terdalam, wanita itu begitu merindukan saat dia bergaya di depan kamera. Akan tetapi akal sehatnya mengatakan agar ia fokus pada kandungannya sebab kehadiran jabang bayi itu dalam keluarga Putra begitu dinanti oleh seluruh keluarga.


Tak kuasa melihat wajah memelas Ratna, ia menghela napas panjang seraya berkata, "Bisakah aku memikirkan dulu tawaran ini? Aku butuh waktu untuk menimbang-nimbang sebab ini pertama kalinya aku menerima tawaran dari salah satu produk terkenal di kawasan Asia Tenggara.


"Baiklah. Aku akan memberimu waktu untuk memikirkan tawaran ini. Tolong pikirkan secara matang, Kay. Jangan sampai kamu menyesal karena kehilangan kesempatan emas," ujar Ratna sebelum mengakhiri percakapan.


Usai makan siang, Kayla memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di mall tersebut. Kaki jenjang itu keluar masuk beberapa toko yang menjual barang-barang branded. Seulas senyum semakin melebar tatkala melihat tas merk terkenal dipajang di depan etalase.


"Wah ... tas itu begitu indah. Jikalau aku memakainya pasti akan terlihat lebih cantik," gumam Kayla sambil menatap kagum pada benda kecil yang terbuat dari kulit asli. Bola mata wanita itu terus menatap tas slempang warna abu-abu. Bagian tali berwarna kuning keemasan, memberikan kesan mewah dan glamor bagi siapa saja yang memakainya.


Merogoh koncek milyaran rupiah, tas abu-abu itu berhasil dibawa pulang oleh wanita cantik tersebut. Dengan angkuh ia berjalan keluar toko sambil menenteng tas belanjaan.


"Akhirnya, tas keluaran terbaru dari salah satu merk terkenal berhasil aku bawa pulang. Kendatipun limited edition dan harga sedikit mahal tetapi aku sangat puas. Aku yakin, bayi di dalam kandunganku akan merasa bangga karena memiliki Mama yang sangat pandai memilah dan memilih barang-barang mewah," ucap Kayla lirih, kemudian ia melangkah menuruni pintu lift yang ada di sebelah barat. Namun, saat kaki jenjang hendak masuk ke dalam kotak persegi yang terbuat dari besi, wanita itu terkejut akan sosok dua manusia yang tengah duduk mesra di dalam sebuah restoran.


"Sialan! Sedang apa dia di sini?"


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2